Bab Seratus Empat Puluh Satu: Saatnya Memberontak!
Malam itu, Kota Yindong tidak berbeda dari biasanya. Bulan telah berada di pucuk-pucuk pepohonan. Karena jam malam telah diberlakukan, setiap rumah menutup pintu rapat-rapat dan tak seorang pun keluar, meski sesekali terdengar suara tawa dari balik daun-daun pintu yang tertutup.
Pemimpin pasukan Pengawal Kekaisaran adalah seorang pria berwajah persegi. Saat ini wajahnya begitu muram seakan-akan air pahit hendak menetes darinya. Beberapa hari sebelumnya ia baru saja naik pangkat. Sepatutnya itu merupakan kabar menggembirakan, tetapi setelah mengetahui bahwa tugas pertamanya adalah menggeledah dan menyita kediaman Pangeran Jing, ia tak lagi mampu bersuka cita.
Sungguh kebetulan yang ironis. Pada hari ketika identitas Chi Wu dibongkar oleh Pei Jiaxu dan Gao Yan mencungkil mata seseorang di tempat, dialah kepala pengawal yang bertugas. Kemudian, ketika perintah kekaisaran untuk menikahkan mereka disampaikan di Kota Yindong, dialah pula yang menghadang jalan Chi Wu dan menempelkan pedang ke leher Li Le. Kegilaan Gao Yan dan kesaktian Chi Wu telah ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Membawa pasukan kali ini, jika dikatakan dengan halus, merupakan tugas pertama setelah kenaikan pangkat; jika dikatakan terus terang, itu sama saja dengan pergi menjemput maut. Jika kedua suami istri itu bergabung, bahkan Raja Neraka pun akan dibuat pusing untuk beberapa lama. Dengan hanya mengandalkan kedudukannya sebagai komandan kecil Pengawal Kekaisaran, bagaimana mungkin ia mampu menandingi mereka?
Pria berwajah persegi itu lebih rela kehilangan jabatan daripada berhadapan dengan pasangan suami istri tersebut. Namun, pengepungan kali ini merupakan perintah Kaisar. Berani menentang titah berarti kepalanya akan melayang.
Karena hasilnya sama-sama kematian, lebih baik ia bertaruh sekali. Ia mendengar bahwa Pangeran Jing membawa permaisurinya bermain ke wilayah perbatasan. Jika beruntung dan mereka kebetulan tidak berada di kediaman, mungkin ia masih bisa bertahan hidup.
Dengan secercah harapan seperti itu, sang komandan berwajah persegi melambaikan tangan kepada anak buahnya.
“Bagi pasukan menjadi dua kelompok. Satu kelompok ikut denganku menggeledah kediaman Pangeran Jing, sementara kelompok lain menyisir Kota Yindong. Pastikan seluruh pengawal rahasia Pangeran Jing di tempat ini dibantai.”
“Siap!”
Begitu perintah diberikan, para prajurit segera terbagi menjadi dua kelompok. Sang komandan berwajah persegi mengencangkan zirahnya. Dengan prinsip lebih cepat selesai berarti lebih cepat pulang, ia menggenggam pedang dan bergegas menuju kediaman Pangeran Jing bersama anak buahnya.
Namun, baru setengah perjalanan, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat dari arah timur kota, seolah-olah sebongkah batu raksasa menghantam tanah atau sebuah pabrik mesiu meledak.
Para pemuda dalam pasukan itu tersentak kaget. Salah seorang dari mereka memberanikan diri mendekat dan bertanya, “Komandan, apa yang terjadi?”
“Sepertinya kabar tentang Gao Yan yang memelihara pengawal rahasia bukan sekadar rumor.”
Sang komandan berwajah persegi menoleh ke arah ledakan, sementara kerutan di keningnya semakin dalam.
“Kalau begitu... apakah kita perlu melihatnya?” tanya prajurit muda itu sambil mengamati raut wajah atasannya.
“Tidak perlu. Dengan keributan sebesar itu, kemungkinan besar mereka sudah celaka. Jika kita datang dengan gegabah, kita hanya akan menyerahkan diri ke dalam perangkap. Sudahlah, kita lanjutkan perjalanan.”
Sepanjang sisa perjalanan, semua orang memasang wajah muram, seolah-olah mereka bukan hendak menggeledah sebuah kediaman, melainkan sedang menapaki jalan menuju alam baka. Bahkan sebelum tiba di gerbang kediaman Pangeran Jing, mereka telah melihat Chi Wu bersandar di sana dari kejauhan.
Mereka tetap terlambat selangkah.
Sang komandan menghela napas. Begitu melihat wajah wanita itu yang memancarkan aura siluman, kepalanya langsung terasa berdenyut. Namun, saat ini tidak ada pilihan lain. Ia hanya dapat menguatkan hati, melangkah maju, lalu memberi hormat kepada Chi Wu.
“Salam, Permaisuri Pangeran Jing.”
“Oh, Kepala Pengawal Yin. Aku masih mengingatmu.”
Chi Wu tersenyum dan berjalan mendekat. Dengan gerakan seolah tanpa sengaja, kipas lipat di tangannya menepuk-nepuk bahu pria itu.
“Ah, tidak tepat. Sekarang kau bukan lagi Kepala Pengawal Yin, melainkan Komandan Yin. Kalau begitu, Komandan Yin, apa yang kaulakukan di kediaman Pangeran Jing tengah malam begini?”
“Sekarang adalah waktu jam malam. Kalau boleh bertanya, apa yang dilakukan Permaisuri Pangeran Jing di sini pada saat seperti ini?”
Chi Wu terkekeh pelan. Kipas gioknya bergeser dari bahu sang komandan ke dadanya, meninggalkan goresan panjang pada zirah keras itu.
“Komandan Yin, apa maksud ucapanmu? Kediaman Pangeran Jing adalah rumahku. Apa salahnya menikmati cahaya bulan di depan rumah sendiri? Lagi pula, aku hanya berdiri di ambang pintu dan bahkan tidak menginjak jalan. Atas dasar apa kau mengatakan aku melanggar jam malam?”
Kepala Komandan Yin selalu pusing menghadapi lidah tajam Chi Wu. Saat ini ia tidak berminat berdebat dengannya, sehingga kembali mengepalkan tangan memberi hormat.
“Permaisuri Pangeran Jing, kali ini aku datang atas perintah Paduka Kaisar untuk menyelidiki secara menyeluruh perkara Pangeran Jing yang diduga memelihara pengawal rahasia secara pribadi. Mohon beri kami jalan agar aku dan saudara-saudaraku dapat masuk untuk memeriksa sebentar. Jika Pangeran Jing memang tidak berniat memberontak, setelah pemeriksaan selesai aku dapat mengembalikan nama baiknya.”
Sambil berkata demikian, ia hendak melewati Chi Wu. Namun, Chi Wu mengulurkan tangan dan dengan santai menghalanginya. Komandan Yin sama sekali tidak menyangka wanita itu berani menghentikannya di hadapan seluruh prajurit. Ia pun menatap Chi Wu dengan sedikit terperangah.
Senyum khas seperti rubah masih menghiasi wajah Chi Wu. Sudut bibirnya melengkung membentuk ejekan. Meski tersenyum, sepasang matanya yang menyipit dipenuhi niat membunuh yang tajam.
“Nama baik apanya? Bukankah kaisar tua bangka itu sudah memerintahkanmu sejak awal untuk melaporkan bahwa Pangeran Jing memberontak, apa pun hasil pemeriksaanmu?”
Chi Wu menatap Komandan Yin sambil tersenyum tipis. Tiba-tiba ia melompat mundur dan berseru pelan,
“Bunuh!”
Pada detik berikutnya, separuh tubuh seseorang muncul dari atas gerbang. Komandan Yin secara naluriah mendongak. Di atas tembok, Gao Yan telah memasang anak panah pada busurnya. Wajahnya yang biasanya sudah tampak garang kini terlihat jauh lebih dingin dan mematikan. Baru saja Komandan Yin mendongak, Gao Yan langsung melepaskan tali busur. Anak panah melesat dan mengarah lurus ke wajahnya.
Namun, Komandan Yin bagaimanapun juga berasal dari pasukan pengawal istana. Ia hanya sempat tertegun sesaat sebelum segera bereaksi. Ketika anak panah itu melesat, ia secara naluriah memiringkan tubuh. Anak panah tersebut hanya menggores pipinya, meninggalkan luka berdarah yang tidak terlalu dalam, tetapi juga tidak dangkal.
Pemuda di belakangnya, sayangnya, tidak seberuntung itu. Tanpa tubuh Komandan Yin sebagai pelindung, sebuah anak panah menembus tenggorokannya. Dengan wajah menahan sakit, ia mengangkat tangan, berusaha mencabut anak panah yang menancap di lehernya. Namun, sebelum tangannya terangkat sepenuhnya, tenaganya telah lenyap. Ia jatuh ke tanah dan tidak pernah bangkit lagi.
Pada saat yang sama, kepala-kepala manusia bermunculan di atas tembok tinggi. Mereka semua mengenakan pakaian dan topi hitam, wajah tertutup kain hitam, sementara busur mereka telah terentang dan anak panah diarahkan kepada para prajurit di bawah.
“Bentuk barisan! Cepat, bentuk barisan!”
Komandan Yin menjadi orang pertama yang tersadar. Sambil mendorong para prajurit di belakangnya agar mundur, ia berteriak sekuat tenaga hingga suaranya serak.
Para Pengawal Kekaisaran lainnya segera mematuhi perintah. Di tengah gerakan berputar dan berpindah, mereka membentuk susunan pertahanan yang rapat. Perisai-perisai saling bertaut, sementara tombak-tombak tegak menjulang seperti hutan.
Para pengawal rahasia melepaskan tiga gelombang anak panah. Namun, Pengawal Kekaisaran telah terlatih dengan baik dan perisai mereka pun berkualitas tinggi, sehingga hujan anak panah itu hanya memberikan sedikit hasil. Bersembunyi di balik perisai, Komandan Yin mengawasi para pengawal rahasia yang memasang busur di balik tembok. Anak panah mereka pasti akan habis pada waktunya. Begitu mereka kehabisan amunisi, ia dapat memerintahkan anak buahnya untuk melakukan serangan balik.
Namun, tepat pada saat itu, sebuah bayangan hitam melompat turun dari atap dan menerjang barisan Pengawal Kekaisaran seperti kucing liar yang lincah.
Bayangan itu tak lain adalah Ting He, yang mengenakan pakaian tempur. Di tangannya terayun sepasang pedang pendek. Dalam kilatan cahaya pedang, beberapa leher tertebas dengan mudah.
Barisan Pengawal Kekaisaran akhirnya memiliki celah. Mereka menjerit lirih seperti melihat hantu dan berusaha melakukan serangan balasan. Namun, gerakan Ting He terlalu cepat. Dengan kemampuan penglihatan pas-pasan para Pengawal Kekaisaran, mereka sama sekali tidak mampu menangkap bayangannya.
Ketika Ting He berperan sebagai malaikat maut dan mengamuk di tengah barisan Pengawal Kekaisaran, para pengawal rahasia dari berbagai ibu kota lain pun berdatangan dari segala penjuru. Melihat keadaan tersebut, mereka tidak lagi peduli apakah wajah mereka tertutup atau tidak. Mereka segera meraih senjata dan menerjang ke dalam pertempuran.
Pertarungan berlangsung hampir setengah jam. Gao Yan dan Chi Wu tidak ikut turun tangan. Mereka hanya menghadapi sekelompok Pengawal Kekaisaran biasa—belum pantas bagi mereka berdua untuk bertindak.