Bab Seratus Dua Puluh Empat: Ajal yang Mendekat
Kegelapan, masih kegelapan yang sama dan akrab itu.
Chi Wu berjalan dalam kegelapan, mencoba mencari secercah cahaya, sebuah pintu, atau mungkin dirinya yang lain. Namun, apa pun yang ia lakukan, kegelapan itu tidak mau membocorkan sedikit pun informasi, seolah sudah bertekad bulat untuk mengurungnya di sana. Tubuhnya seakan sudah mati, tetapi kesadarannya tetap terjaga. Ia bisa mendengar suara tangisan seseorang, yang semakin jelas seiring ia melangkah maju.
Suara itu seperti kail yang menyentaknya dengan kasar. Suara samar di telinganya tiba-tiba membesar. Dengan linglung, ia membuka mata. Hal pertama yang tampak adalah puncak kepala Li Le yang berambut lebat. Li Le sedang menelungkup di atas tempat tidur, wajahnya terbenam di antara kedua lengannya. Ekspresinya tidak terlihat, tetapi dari bahunya yang gemetar dan isak tangis yang sesekali terdengar, sudah jelas ia sedang menangis.
"Jangan menangis lagi." Chi Wu paling tidak tahan melihatnya seperti ini. Dengan susah payah, ia mengangkat tangan dan mengusap puncak kepala Li Le yang lembut. "Jangan menangis, aku belum mati."
Mendengar suara Chi Wu, Li Le tersentak hebat. Seolah tidak percaya, ia perlahan mengangkat kepalanya. Saat tatapan mereka bertemu dengan mata Chi Wu yang menyimpan senyum, kesedihan yang telah ia tahan selama berhari-hari tak lagi terbendung. Ia mencengkeram tangan Chi Wu dan mendongak sembari menangis tersedu-sedu.
Tangisan ini membuat Chi Wu semakin kewalahan. Ia berjuang untuk bangkit, lalu merangkul punggung gadis itu dan menepuknya dengan lembut. Pada saat yang sama, pintu terbuka dengan suara derit. Gao Yan sepertinya terpancing oleh tangisan pilu Li Le. Ia mendorong pintu dengan keras dan tertegun saat melihat Chi Wu sudah sadar.
"Kau... bagaimana perasaanmu?" Gao Yan melangkah maju beberapa langkah, seolah ingin memeluknya, tetapi terhalang oleh Li Le yang masih menangis tersedu-sedu. Ia berpikir sejenak dan memutuskan untuk membiarkan Li Le meluapkan emosinya terlebih dahulu.
"Sedikit lemah, selain itu tidak ada masalah." Chi Wu menatap Gao Yan dengan senyum sembari tetap menenangkan punggung Li Le. Pria itu tampak sudah lama tidak beristirahat; kedua matanya cekung karena kelelahan, membuat lingkaran hitam di bawah matanya tampak mengerikan. "Tapi apa yang terjadi dengan kalian berdua? Aku masih bernapas, kenapa satu orang menangis seperti di rumah duka dan yang lainnya berjaga seperti sedang menunggu jenazah?"
"Jangan bicara sembarangan! Tidak boleh mengatakan hal-hal yang tidak baik!" Li Le tiba-tiba mendongak dari dekapan Chi Wu, matanya basah oleh air mata. "Tadi aku melihatmu terbaring di tanah, kukira iblis itu telah membunuhmu... Kemudian tabib tua dari jalan belakang datang, dia bilang... dia bilang hidupmu tidak akan lama lagi..."
"Hidupku tidak lama lagi?" Chi Wu semakin bingung. Ia tahu Li Le tidak mungkin bisa menjelaskan semuanya dengan jelas, jadi ia mengalihkan pandangannya kepada Gao Yan. "Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pingsan?"
Gao Yan terbatuk pelan lalu duduk di sisi tempat tidur. "Hari itu setelah kau pingsan, aku tidak berani gegabah memindahkanmu. Di dalam tungku masih ada tumpukan roh, jadi aku hanya bisa menyuruh orang mengirim pesan agar Li Le datang. Dia yang membawa beberapa iblis kecil untuk membawamu ke balai pengobatan, tapi tabib tua itu mengatakan bahwa napasmu lemah dan tubuhmu sudah... sudah menunjukkan tanda-tanda ajal."
Setelah mendengar itu, Chi Wu sedikit menundukkan kepala. Wajahnya tampak serius, entah apa yang sedang ia pikirkan. Gao Yan melirik ekspresinya dan sedang memikirkan kata-kata untuk menghiburnya, namun tak disangka Chi Wu justru mengangkat wajah dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Tapi soal roh-roh itu, apakah sudah ditangani dengan baik?"
"Ya!" Karena menyangkut nyawa orang lain, Li Le buru-buru menyeka air matanya. "Aku sudah mengirim semua roh itu kembali ke tubuh asalnya. Kurasa tidak lama lagi para gadis itu bisa kembali menjalani kehidupan normal. Namun, roh-roh yang sebelumnya diserap oleh pendeta itu sudah kehilangan tubuhnya, jadi mereka tidak bisa hidup kembali. Tapi jangan khawatir, Kakak, aku sudah membacakan mantra kelahiran kembali untuk mereka dan mereka sudah diantar ke alam baka."
"Bagus sekali. Kerjamu sangat rapi, mulai sekarang urusan Paviliun Shiwei kuserahkan padamu." Chi Wu menepuk kepala Li Le dengan nada memuji.
"Kalau aku yang mengurus Paviliun Shiwei, lalu kau mau ke mana?" Li Le kembali menangis. "Jangan-jangan ucapan tabib itu benar? Bahwa ajalmu benar-benar sudah dekat?"
Kata-katanya membuat Gao Yan ikut merasa tegang. Chi Wu melihat kedua orang ini seolah ingin menempel padanya seperti siput. Ia tiba-tiba memanggil Li Le dan mereka berbisik-bisik sejenak. Wajah Li Le tiba-tiba memerah padam. Ia berdiri dari tepi tempat tidur dengan sentakan, menatap Gao Yan seolah ingin menerkamnya, lalu mengangkat gaunnya dan berlari pergi secepat angin.
Setelah mendapat tatapan tajam yang mematikan itu, Gao Yan mengusap hidungnya dengan bingung. "Apa yang kau katakan padanya? Dia terlihat seperti ingin memakan diriku."
Chi Wu memasang telinga sejenak. Setelah mendengar langkah kaki Li Le menjauh, ia tertawa kecil. "Tentu saja aku bilang bahwa penyakit lemah tubuhku ini bukan karena diserang iblis, melainkan karena perbuatanmu."
"Aku?" Gao Yan membelalakkan mata dengan wajah polos. "Apa hubungannya denganku?"
"Tentu saja ada hubungannya. Kalau bukan karena kau yang setiap hari mengajakku bercinta hingga membuatku kelelahan setengah malam, mana mungkin aku menjadi selemah ini?"
Chi Wu tidak pernah bersikap malu-malu seperti wanita di Dinasti Xia pada umumnya. Ia bahkan tidak mengubah raut wajahnya saat mengucapkan kata-kata vulgar tersebut. Sebaliknya, Gao Yan yang tiba-tiba mendengar kata-kata kasar itu di siang bolong, merasa telinganya panas karena malu. Ia menggumam pelan, "Omong kosong, mana ada setiap hari..." Ia menggumam demikian, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia meraih tangan Chi Wu dan bertanya, "Jangan-jangan benar karena terlalu sering melakukannya?"
"Apa yang kau pikirkan!" Chi Wu menekuk satu jari dan mengetuk dahi Gao Yan, membuatnya meringis kecil. Di seluruh Dinasti Xia, selain Gao Lingjun, hanya dia yang berani bercanda begitu bebas dengan Gao Yan. "Jika aku tidak bicara begitu, bagaimana bisa membuatnya tenang? Dia masih kecil, pasti akan terlalu banyak berpikir. Aku takut dia jatuh sakit karena terlalu banyak cemas, jadi aku asal bicara. Bagaimana mungkin kau, rubah tua yang sudah bertahun-tahun hidup, bisa tertipu olehku?"
Gao Yan tidak marah meski dipukul. Ia hanya menunduk lesu sambil menggenggam tangan Chi Wu, terus mengusap jemarinya. Bulu matanya yang panjang membayangkan bayangan kecil di wajahnya. "Jadi maksudmu, kau benar-benar seperti yang dikatakan tabib itu, hidupmu tidak akan lama lagi? Tidak bisa, ucapan satu orang tidak bisa dijadikan patokan. Aku akan segera memanggil tabib istana untuk memeriksa..."
"Tidak perlu." Chi Wu melambaikan tangan seperti mengusir lalat. Ia bersandar malas pada bantal sutra bersulam. Selain wajahnya yang pucat, tidak terlihat keanehan apa pun. "Tubuhku memang sedang tidak sehat belakangan ini, mungkin benar hidupku tidak lama lagi. Tapi kau tidak perlu gugup. Mungkin hukuman langit yang turun tempo hari telah melenyapkan khasiat dari Taisui itu."
"Taisui?" Gao Yan memiringkan kepala, merasa pernah mendengarnya di suatu tempat. Ia berpikir sejenak dan menunjukkan ekspresi seolah baru tersadar. "Pendeta itu mengatakan bahwa kau mendapatkan keabadian karena memakan daging Taisui."
"Bukan keabadian, hanya umur yang sedikit lebih panjang dari orang biasa. Aku menebak mungkin saat hukuman langit turun, umur yang kudapatkan dari memakan Taisui itu ikut terenggut." Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Gao Yan di hadapannya sudah tampak murung dan ingin menghela napas, namun ia kembali menepuk dadanya agar pria itu berhenti. "Jangan sedih, ini bukan masalah besar. Nanti setelah aku pergi ke Mounan, aku akan memakan sepotong lagi."
Gao Yan mengusap tangan Chi Wu, menunduk tanpa suara, hatinya dipenuhi penyesalan yang tak terhingga. Ia membenci dirinya sendiri karena begitu egois. Padahal Chi Wu sudah pernah memberitahunya bahwa manusia dan hantu tidak boleh bersentuhan, namun ia tetap menyimpan harapan dan memeluk ibunya.
Sekarang, ia sendiri sudah melepaskan beban pikirannya dan bisa beraktivitas dengan bebas, tetapi Chi Wu justru menanggung akibatnya karena dirinya, terkena hukuman langit dan menderita tanpa alasan. Memikirkan hal itu, ia ingin menampar dirinya sendiri dua kali.
Pada saat itulah, jendela tiba-tiba berbunyi krak. Seekor burung kecil berbulu abu-abu mendorong jendela dan terbang masuk, lalu hinggap tepat di bahu Gao Yan. Burung itu menyodorkan satu kaki kecilnya ke arah wajah Gao Yan, dan pada kaki kecil itu terikat gulungan kertas kecil.
Gao Yan mengenali burung yang ia latih khusus untuk mengirim pesan rahasia itu. Ia segera melepaskan kertas itu, membukanya, dan menyipitkan mata untuk membacanya. Begitu selesai, seluruh tubuhnya bergetar dan ia menyodorkan kertas itu ke hadapan Chi Wu.
Chi Wu menatapnya lekat-lekat dan melihat tulisan singkat di sana: "Naga sudah ditemukan, lokasinya berada di Xiahe, barat laut Mounan."