Bab Delapan Puluh Enam: Dua Malaikat Penjemput Roh Memaksa Pengakuan dengan Licik
“Jadi kau sendiri tidak yakin, apakah benar kau yang membunuh ibumu?” Setelah mendengarkan penuturan Gao Yan, Chi Wu mengerutkan keningnya.
Gao Yan pun tampak sangat bingung, menggelengkan kepala dengan getir. “Waktu itu suasana begitu kacau, aku sendiri tak tahu kenapa ibuku tertusuk oleh pedangku. Tapi ada satu hal yang bisa kupastikan, aku sama sekali tak berniat membunuh ibuku.”
“Tapi tadi kau sudah mengaku, dan pengakuan seperti itu tak bisa dianggap sebagai bukti.” Berbicara soal bukti, Chi Wu tampak sedikit kesal sambil menggaruk kepalanya. “Kalau memang bukan kau pelakunya, kenapa sebelumnya malah mengakui dan bahkan menulis pengakuan?”
“Aku...” Gao Yan menundukkan kepala, suaranya lirih hampir tak terdengar, “Saat itu kupikir akulah yang menusuk ibu hingga tewas. Aku sudah tak ingin hidup, jadi langsung saja mengaku, hanya berharap segera dihukum mati. Namun kakakku mengurus segalanya di luar, sehingga hukuman matiku dibatalkan.”
Perkataan itu membuat Chi Wu ingin menampar dirinya sendiri. Setelah beberapa hari bersama, ia menyadari Gao Yan mengalami luka batin yang sangat serius. Andaikan di zaman sekarang, pasti sudah dibawa ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Masa kecil yang suram, lembap, dan penuh penderitaan membuat Gao Yan dewasa mengidap kecemasan, gangguan stres pascatrauma, serta kecenderungan merusak diri yang sangat parah.
Berkali-kali Chi Wu mendapati Gao Yan selalu menempatkan dirinya dalam masalah yang sebetulnya tak perlu. Dulu, ia mengira Gao Yan sengaja berpura-pura lemah untuk menipu orang lain. Tapi sekarang, ia sadar itu semua akibat dorongan untuk menyakiti diri sendiri.
Setelah berpikir sejenak, Chi Wu menahan segala keluh kesah yang sia-sia, menopang dagu, lalu tiba-tiba menepukkan tangan. “Benar juga, waktu aku keluar malam, bukankah aku sempat memergoki beberapa pelayan yang sedang membakar kertas sembahyang? Mungkin kita bisa menggali sesuatu dari mereka.”
“Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga. Jangan sampai menunggu terlalu lama, nanti malah muncul masalah baru.” Gao Yan baru saja hendak turun dari ranjang, namun Chi Wu segera menariknya.
Gao Yan menoleh kebingungan, mendapati Chi Wu sedang tersenyum licik. Di bawah cahaya lilin, dua taring tajamnya tampak begitu menggemaskan sekaligus mencurigakan.
“Kalau kita pergi begitu saja, pasti tak akan dapat apa-apa. Tunggu, biar aku dandani kita dulu.”
Tak lama kemudian, bulan telah merayap di pucuk pohon, suara kentongan sudah beberapa kali terdengar, menandakan malam telah larut.
Wang Wu adalah pelayan tua di kediaman Gao. Beberapa hari lalu, ia bersama pelayan tua lain bernama Paman Ding, membakar kertas sembahyang. Hari ini Paman Ding pulang ke rumah untuk melihat cucunya yang baru lahir, sehingga hanya Wang Wu seorang diri di kamar. Siang tadi, kamar itu sempat diganggu makhluk halus, membuat Wang Wu cemas bukan main. Ia pun menenggak sedikit arak untuk menenangkan diri, memastikan pintu terkunci rapat, baru bisa tidur sedikit lega.
Tak disangka, tengah malam ia merasa angin bertiup masuk, membuat tubuhnya menggigil. Ia membuka sedikit matanya, dan langsung terkejut melihat dua sosok berdiri di ujung ranjang.
Wang Wu menjerit keras dan melompat dari ranjang. Dalam cahaya remang bulan yang masuk dari luar, ia melihat dua sosok itu; satu tinggi satu pendek, satu berpakaian hitam, satu berpakaian putih.
Yang berpakaian putih tubuhnya kecil, ramping, wajahnya dipoles putih pucat, di atas topi putih tinggi bertuliskan “Rejeki Datang Saat Bertemu.” Yang berpakaian hitam bertubuh tinggi besar, jika dihitung dengan topinya, tingginya mencapai dua meter lebih. Wajahnya hitam, mata terpejam, pada topi hitamnya tertera tulisan merah “Damai di Seluruh Dunia.”
Baru melihat sebagian dari kedua sosok itu, Wang Wu sudah pingsan tanpa sempat berkata apa-apa, matanya berputar ke atas. Kedua sosok itu tentu saja Chi Wu dan Gao Yan. Karena tubuh Wang Wu gemuk, ketika jatuh ke ranjang terdengar suara berdebam. Gao Yan bergumam, “Suara apa itu?” lalu membuka sedikit matanya.
Alasan ia memejamkan mata adalah karena warna matanya yang berbeda sangat mencolok. Agar Wang Wu yakin mereka adalah Dewa Kematian Hitam dan Putih, Chi Wu pun merancang siasat ini.
“Kukira dia pemberani, racun saja berani diberikannya, tapi berjumpa Dewa Kematian saja sudah tak berdaya,” cibir Chi Wu geli. Ia melompat ke atas ranjang, membalikkan tubuh Wang Wu agar wajahnya menghadap ke atas, supaya tidak mati lemas karena tertutup selimut.
Begitu wajah Wang Wu terlihat, Gao Yan berseru pelan dan segera mendekat untuk mengamati lebih saksama, lalu menghela napas. “Aku kenal dia. Dulu, saat aku hendak minum sup ayam itu, dialah yang menahan tanganku.”
“Kau yakin?”
“Seratus persen. Hal lain mungkin aku bisa lupa, tapi soal makanan, aku selalu ingat dengan jelas,” jawab Gao Yan.
“Andai dia tidak tahu sup ayam itu beracun dan memang harus diberikan pada ibumu, mana mungkin ia mencegah seorang anak kelaparan meminumnya? Huh, di rumah ini, tuannya licik, para pelayannya juga bukan orang baik,” ujar Chi Wu dingin. Ia lalu tanpa ampun menampar wajah Wang Wu berkali-kali dengan tenaga besar, sampai wajah pelayan itu membiru dan akhirnya terbangun dari pingsan.
“Berhenti berpura-pura, Dewa Putih datang menjemput nyawamu!” seru Chi Wu. Melihat Wang Wu masih belum sepenuhnya sadar, ia menamparnya lagi beberapa kali.
Wang Wu terbangun dalam keadaan linglung, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Chi Wu yang sangat pucat. Spontan ia menjerit ketakutan dan merangkak ke sudut tembok, “Jangan ambil nyawaku, aku bahkan belum lima puluh, orang tua dan anak-anakku masih butuh nafkahku. Dewa, tolong ampuni aku!”
“Waktu mencelakakan orang, kenapa tak ingat keluargamu? Sekarang baru mau minta ampun, sudah terlambat! Setelah Nyonya Ye kau bunuh, dia mengadu ke Raja Akhirat. Raja Akhirat murka, memerintahkan kami berdua untuk langsung menyeretmu ke neraka paling bawah, untuk dikuliti dan disiksa!”
“Bukan aku yang membunuhnya! Dewa, sungguh bukan aku!” Wang Wu menangis sesenggukan, tiba-tiba teringat sesuatu dan segera berlutut di kaki Chi Wu sambil menangis, “Aku difitnah, benar-benar difitnah! Mana mungkin aku melakukan itu, jelas-jelas anaknya sendiri yang membunuhnya.”
“Bohong! Penyebab kematiannya tidak usah disebutkan dulu, aku hanya ingin tahu, kenapa dia yang sehat tiba-tiba menjadi gila? Bukankah kau dan Paman Ding yang menaruh obat dalam makanannya hingga ia jadi linglung dan akhirnya gila?” tanya Gao Yan, suaranya sengaja direndahkan. Karena hal ini menyangkut kematian ibunya, ia tak kuasa menahan emosi, sehingga terdengar benar-benar seperti Dewa Kematian Hitam dari alam baka.
Awalnya Wang Wu masih berharap bisa berkelit, tapi mendengar lawan bicaranya tahu segalanya, bahkan menyebutkan nama Paman Ding, ia sadar tak bisa lagi berbohong. Demi menyelamatkan diri, ia pun rela mengkhianati majikannya. “Benar, aku yang menaruh obat itu, tapi semua atas perintah Tuan Besar!”
“Oh?” Chi Wu melirik Gao Yan. Ia sempat ingin bertatapan, namun lupa bahwa Gao Yan sedang memejamkan mata. Ia pun berdeham canggung, lalu bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan yang sebenarnya, mungkin aku bisa pertimbangkan untuk mengampunimu.”
Mendengar ada peluang diampuni, Wang Wu segera berlutut dan berkata sambil menangis, “Sejak Nyonya melahirkan Tuan Muda, Tuan Besar membenci mata merah Tuan Muda yang dianggap sial, lalu menuduh Nyonya berselingkuh dan mengusirnya ke pekarangan belakang. Awalnya Nyonya menangis dan bersikeras tak bersalah, lalu menulis surat cerai dan surat pada keluarga Ye agar menjemputnya pulang. Namun Tuan Besar mencegat surat itu dan sangat marah, lalu memerintahkan aku dan Paman Ding menaruh obat dalam sup Nyonya. Awalnya Nyonya curiga, jadi kami mengganti semua makanan dengan nasi basi, hanya sup ayam yang kami bubuhi obat. Karena Nyonya sebelumnya seorang putri bangsawan, tidak tahan lapar, akhirnya ia makan juga. Setelah sekian lama memakan sup itu, kesadarannya pun mulai kabur dan akhirnya menjadi gila.”