Bab Tujuh Puluh Enam: Memotong Lidahmu
Ucapan perempuan itu belum selesai, Gao Yan tiba-tiba berdiri dan secepat kilat mencekik lehernya, membuat semua kata-kata kasar yang hendak diucapkan Selir Ketigabelas terhenti di tenggorokan. Ia menarik pedang pendek dari pinggangnya dan menyumpalkannya ke dalam mulut Selir Ketigabelas, hampir menggertakkan gigi, berkata, “Jika tidak tahu, jangan sembarangan bicara. Hati-hati, nanti lidahmu kupotong dan kuberikan pada anjing!”
Karena tindakannya itu, orang-orang di ruang tamu kembali menjerit pelan. Wajah marah Gao Yan benar-benar seperti setan. Selir Ketigabelas yang dicekik hampir saja pingsan, mulutnya bergumam tak jelas. Gao Yan menarik pedang pendek dari mulutnya, lalu mengarahkan ujung pedang itu pada setiap wajah yang tampak ketakutan, mengejek, atau penuh rasa ingin tahu, suaranya serak dan mengerikan, “Kalian pun sama. Suka menyebar fitnah. Jika lain kali kudengar kalian membicarakan urusanku, nasib kalian akan sama seperti dia!”
Selesai berkata demikian, ia kembali menyumpalkan pedang itu ke mulut Selir Ketigabelas, lalu menariknya dengan keras. Terdengar jeritan nyaring; sepotong kecil daging basah yang berlumuran darah jatuh dari mulut perempuan itu. Chi Wu memperhatikan, ternyata itu ujung lidah sebesar kuku jari.
Ia menghela napas lega. Syukurlah, Gao Yan masih menyisakan sedikit kewarasan. Hanya ujung lidah yang dipotong. Meski sakit, asal sembuh, perempuan itu masih bisa bicara, hanya saja ucapannya tak akan sejelas dulu.
Selir Ketigabelas belum pernah merasakan sakit seperti itu. Seketika ia menjerit, memegangi mulut dan bergulingan di lantai, lalu pingsan dengan mata terbalik. Chi Wu dengan sigap membuka mulutnya dan menyumpalkan sapu tangan agar ia tak kehilangan terlalu banyak darah.
Gao Yan memungut ujung lidah itu, menatap seisi ruangan, lalu melemparkan potongan berdarah itu ke wajah Selir Kesembilan, si pengadu. Lidah yang licin dan dingin menempel di wajah, membuat Selir Kesembilan menjerit lirih. Ia tak tahan lagi; langsung memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke perutnya.
Keributan itu membuat para perempuan yang tadinya tak berani bernapas karena ketakutan, kini berlarian kacau setelah melihat benda berdarah itu terbang ke hadapan mereka.
Hingga kembali ke paviliun lain, wajah Gao Yan tetap suram. Ia duduk lama di halaman sampai Ting He dan Chi Wu selesai bermain catur, barulah ia masuk ke dalam ruangan dengan langkah gontai.
Ting He melihat tuannya muram, segera bangkit dari tikar dan menghilang, meninggalkan ruang privat bagi dua orang itu.
Ketika suasana benar-benar hening, Gao Yan meraih tangan Chi Wu dan mengusapnya lembut di telapak tangannya, “Tadi, apakah kau ketakutan?”
Chi Wu tertawa pelan, “Apa yang belum pernah kulihat? Bahkan jika kau membedah dada dan hati perempuan itu, aku pun takkan berkedip. Justru kau, memotong lidahnya tanpa banyak bicara, tak takut Kaisar Anjing itu menghukummu?”
“Aku mengurus urusan rumahku sendiri, apa urusannya dengan dia?” Gao Yan mendengus dingin, lalu mendadak menghela napas, seolah seluruh semangatnya menguap, tubuhnya langsung melemah.
Ia bersandar di sandaran kursi, memijat sudut matanya yang lelah, lalu berkata letih, “Menurutmu, apa pendapatmu soal kejadian tadi?”
“Maksudmu soal rumah ini yang katanya berhantu?” Chi Wu memutar bola matanya, mengingat apa yang pernah dikatakan Selir Kelima, lalu menggeleng, “Meski perempuan di sini banyak, tapi suasana rumah terang dan bersih. Saat dibangun pasti memakai jasa ahli feng shui yang baik. Rumah sebagus ini, mustahil ada setan atau hantu.”
“Tapi banyak orang mengaku melihatnya, itu bagaimana penjelasannya?”
“Daripada percaya pada hantu, aku lebih cenderung yakin ada orang yang sengaja berbuat ulah.”
Mendengar itu, Gao Yan menghentikan pijatan di sudut matanya, “Maksudmu, ada yang menyamar jadi hantu untuk menakuti para selir? Untuk apa melakukan itu?”
“Aku pun belum paham. Jika itu perbuatan manusia, kenapa yang ditakuti justru para perempuan yang biasanya tak pernah keluar rumah? Dan kenapa memilih hari kau pulang untuk melakukannya? Ada yang janggal dengan semua ini…”
Gao Yan terdiam sejenak, lalu mengumpulkan biji catur di atas meja satu per satu, suaranya kembali berat, “Mungkin memang dia kembali untuk menuntut nyawaku. Wajar saja, aku yang membuatnya menderita sampai begini. Jika ia ingin menuntut balas, itu tak aneh.”
Setiap kali menyebut ibunya, Gao Yan selalu tenggelam dalam kesedihan. Chi Wu bukan orang yang pandai menghibur; saat ia murung, Chi Wu pun hanya diam dan membantu mengumpulkan biji catur sebagai bentuk kebersamaan.
Meski tak banyak bicara, ia tetap menyimpan semuanya dalam hati. Saat Gao Yan tertidur, ia menempelkan jimat penyamaran pada dirinya sendiri, lalu bersiap-siap berkeliling ke seluruh rumah keluarga Gao yang penuh legenda itu.
Keluarga Gao sangat besar dan makmur, seantero Daxia hampir tak ada keluarga sebesar mereka. Namun, sebesar dan seindah apa pun, di dalamnya tetap ada noda dan dosa yang tumbuh dalam bayang-bayang. Dalam keluarga raksasa ini, bahkan berkembang hukum rimba sendiri: siapa anak yang berhasil membawa kehormatan dan kemakmuran bagi keluarga, dialah yang mendapat perhatian sang tuan besar.
Sayangnya, meski punya banyak anak, hanya Gao Yan dan Gao Ling Jun yang benar-benar menonjol. Gao Ling Jun pun telah menikah dengan keluarga istana, menjadi milik kaisar, sehingga keluarga asalnya tak mendapat imbas keuntungan. Sementara Gao Yan telah lama memutus hubungan dengan keluarga, hartanya pun tak pernah mengalir ke rumah lama.
Chi Wu, dengan jimat penyamaran, berkeliling dari satu paviliun ke paviliun lain. Ia melihat selir-selir yang tak punya anak atau anaknya kurang cerdas bahkan tak berhak duduk di meja makan bersama. Rumah mereka pun reot, makanan sehari-hari begitu sederhana hingga pengemis di jalan pun bisa mengeluh. Dari situ Chi Wu sadar, keluarga Gao yang tampak gemilang di permukaan, sejatinya sudah keropos dari dalam.
Tindakan Gao Yan hari itu memang kelewat batas, tapi sebenarnya ia memang selalu seperti itu, hampir seperti merusak dirinya sendiri. Siapa pun yang menyerangnya, akan ia lawan balik. Hanya Gao Ling Jun yang tahu cara menaklukkan Gao Yan; memakai dirinya sebagai tali, hingga mampu menjinakkan anjing liar ini.
Kejadian itu membuat para selir yang biasanya tak pernah keluar rumah ketakutan setengah mati. Sepanjang jalan, Chi Wu mendengar banyak sekali gosip tentang Gao Yan.
Ada yang bilang Gao Yan adalah titisan Dewa Kematian, matanya menyeramkan, bahkan sejak lahir sudah membunuh bidan yang menolong ibunya. Ada pula yang menuduh ibu kandungnya, Nyonya Ye, perempuan tak bermoral, berselingkuh dengan hantu hingga melahirkan anak setan, membuat kepala keluarga Gao murka sampai akhirnya mengurung ibu dan anak itu di dalam rumah.
Ada pula yang berkata, Nyonya Ye sebenarnya sangat mencintai Gao Yan, hanya saja waktu melahirkan ia kerasukan setan hingga menjadi gila dan sering menyiksa anaknya. Setelah ia meninggal, setan itu pun pergi, dan ia kembali sadar. Ia menunggu Gao Yan setiap hari di rumah keluarga Gao, berharap anaknya pulang. Kini ia muncul kembali, ingin agar anaknya tetap tinggal di sisi ibu selamanya.
Tentu, semua itu hanya gosip yang dibuat perempuan di dalam rumah, meski terdengar nyata dan menarik, tak bisa dijadikan pegangan. Chi Wu hanya menganggapnya hiburan.
Namun, di antara semua rumor itu, ada satu hal yang membuatnya curiga. Ia sudah lama menduga peristiwa “rumah berhantu” ini adalah ulah manusia, tapi belum menemukan alasan mengapa seseorang mau repot-repot menakut-nakuti perempuan di rumah itu. Baru tadi, mendengar bisik-bisik para selir, ia seperti mendapat pencerahan.
Keluarga Gao tampak makmur di luar, padahal sebenarnya sudah nyaris bangkrut. Gao Yan sendiri selalu diliputi bayang-bayang kematian ibunya, begitu pun dengan rumah lama keluarga itu. Jika ada yang sengaja mengarang kisah hantu agar Gao Yan tetap tinggal di rumah dan menghabiskan hartanya di sana, itu adalah hal yang masuk akal.
Lalu, siapa yang bisa merancang siasat sejahat itu?
Chi Wu berpikir sejenak. Sepertinya selama beberapa hari ini ia sudah bertemu hampir semua pengurus dan selir di rumah itu. Hanya satu orang yang mengatasnamakan dirinya untuk memanggil Gao Yan pulang, tetapi sejak awal hingga akhir tak pernah muncul di hadapan siapa pun.
Kepala keluarga Gao, Gao Lianzhi.