Bab Lima Puluh Dua: Merancang Sebuah Perangkap
Hidangan pesta sangat mewah, beberapa orang bersulang sambil bercanda dan tertawa, seolah-olah melupakan bahwa masih ada siluman yang mengacau di dalam istana.
Di tengah perjamuan, Ling Jun bertanya pada Chi Wu apakah ada cara untuk merawat tubuh, dan Chi Wu pun dengan senang hati membagikan ilmunya. Tentu saja, rahasia semacam itu harus dibicarakan tanpa kehadiran dayang dan pelayan istana. Para pelayan perempuan dan laki-laki berdiri menunduk di luar, tiba-tiba terdengar suara teriakan marah seorang wanita dari dalam ruangan, disusul suara sesuatu yang dilempar dan pecah di lantai.
“Kurang ajar! Benar-benar cari mati!” Suara gaduh terdengar dari dalam, tampaknya Ling Jun sangat marah: “Kupikir kau benar-benar punya keahlian, ternyata cuma penipu! Aku masih muda dan sehat, mana mungkin hidupku akan pendek? Pergi, keluar dari sini!”
Tak lama kemudian, Chi Wu keluar dengan rambut terurai, menutupi wajah dan menunduk sambil berjalan tergesa-gesa, tampak seperti baru saja dipermalukan oleh Ling Jun.
Semua pelayan di luar berbisik di belakangnya, bahkan ada yang terang-terangan merasa senang melihatnya menderita. Tiba-tiba Ling Jun kembali berteriak dari dalam istana: “Mana orang-orang itu? Sudah mati semua?”
Barulah mereka tersadar, buru-buru menunduk masuk ke dalam istana, membersihkan meja pesta yang sudah porak-poranda. Meskipun begitu, mereka tetap tidak luput dari nasib buruk. Ling Jun hanya mendengus dingin, suaranya sinis dan tajam: “Kalian benar-benar sudah tidak menghormatiku sebagai Selir Agung. Bahkan urusan di istanaku pun kalian kerjakan dengan asal, harus menunggu aku memerintah baru bergerak. Apa sebentar lagi kalian mau injak kepalaku dan buang air di situ?”
Begitu ia berkata demikian, para pelayan ketakutan sampai meletakkan segala pekerjaan, merunduk di lantai sambil berseru tak berani melawan.
Namun Ling Jun tampaknya benar-benar kesal oleh sang pendeta wanita itu, benar-benar ingin melampiaskan kemarahannya pada mereka. Ia berdiri tinggi, memandang para pelayan yang gemetar ketakutan di bawahnya tanpa sedikit pun rasa iba. “Bawa semua, tampar dua puluh kali, selesai tetap harus kerja seperti biasa!”
Para pelayan ketakutan, memohon ampun sejadi-jadinya, tapi air mata mereka tak mampu melunakkan hati keras sang penguasa. Ling Jun hari ini benar-benar sangat kesal, bahkan adik laki-laki kesayangannya pun tampak menjengkelkan di matanya. Ia mengambil cangkir kristal di sampingnya dan melemparkannya ke arah Gao Yan sambil membentak: “Tak berguna! Seharian hanya tahu bergaul dengan orang-orang tak berguna, kau juga pergi sana!”
Gao Yan yang sudah dewasa pun hanya bisa menunduk dan keluar dari istana tanpa berani berkata apa-apa.
Di luar, bulan terang dan bintang jarang, di tanah berlutut banyak pelayan yang saling menampar, dan suara ratapan memenuhi halaman kecil itu.
Gao Yan berdiri di serambi, dengan penuh minat memperhatikan mereka saling menampar. Setelah menyaksikan sejenak dan merasa bosan, ia mengibaskan lengan bajunya dan pergi keluar melalui pintu utama.
Tanpa disangka, begitu keluar dari istana, ia bersembunyi di balik batu hias berbentuk burung dan bunga, memasang telinga untuk mendengarkan gerak-gerik di halaman kecil itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangis pelan seorang gadis muda: “Pendeta itu membuat nyonya murka, apa hubungannya dengan kami? Kenapa kami yang jadi sasaran amarahnya?”
Suara lain yang lebih tua menenangkan: “Tapi tadi kita memang tak masuk ke dalam, kalau sudah lalai, dihukum pun tak apa.”
“Tapi waktu itu di serambi bukan aku yang bertugas, kenapa aku juga harus dihukum! Dia itu manusia, kami ini juga manusia, kenapa kami diperlakukan seperti bukan manusia?”
Ucapan itu membuat pelayan yang lebih tua ketakutan, terdengar suara kain berdesir, tampaknya ia buru-buru membekap mulut si muda: “Astaga, jangan bicara sembarangan! Kalau sampai nyonya dengar, kita berdua bisa kehilangan kepala!”
Terdengar lagi suara kain bergesekan, sepertinya si muda berusaha melepaskan diri, lalu menggerutu pelan dengan penuh dendam: “Kalau manusia diperlakukan seperti ini, mati pun pantas.”
Ucapannya sangat lirih, tapi jelas terdengar oleh Gao Yan yang punya pendengaran tajam. Ia menyipitkan mata, lalu memanjat pohon saat tak ada yang memperhatikan, memanfaatkan rimbunnya daun untuk mengamati para pelayan di halaman.
Menjelang larut malam, bahkan para penjaga pun terlelap, pintu samping halaman berderit terbuka. Seorang pelayan perempuan berbaju merah muda masuk, melihat sekeliling dengan hati-hati, lalu menyelinap ke kamar tidur Selir Agung.
Gao Yan menyeringai diam-diam, lalu menirukan suara burung dengan bibirnya. Tak lama, dari atap kamar juga terdengar suara burung serupa, tampaknya sudah ada orang yang berjaga di sana.
Pelayan itu tidak tahu apa-apa, tenggelam dalam kegembiraan membalas dendam, ia berjalan perlahan ke jendela kamar Ling Jun. Cahaya bulan menyorot dari jendela, memperlihatkan wajah letih yang penuh dendam. Pelayan itu menyeringai kejam, menunduk menatap Ling Jun yang sedang tidur, perlahan mengangkat jarum perak di tangannya.
Saat jarum akan menusuk ke kulit, tiba-tiba cahaya lilin di sekeliling bergetar, lalu terdengar suara lembut di belakang pelayan itu: “Wahai nona muda, sungguh kejam caramu!”
Pelayan itu terkejut, berbalik, dan mendapati wajah tersenyum licik seperti rubah.
“Kau... kau pendeta itu?” Melihat wajah itu, pelayan itu kaget, bagaimana bisa pendeta wanita yang tadi diusir kini berada di kamar Selir Agung?
Untungnya ia cukup cerdas, meski ketakutan masih bisa mengubah arah jarum peraknya dan melemparkannya ke arah Chi Wu. Di saat Chi Wu menangkis, ia buru-buru lari keluar.
Anehnya, Chi Wu hanya menghindar sambil tersenyum santai melangkah ke arah pintu, tampak tenang seolah tanpa beban.
Pelayan itu merasa aneh, belum sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara genteng di atap berderak, lalu sosok berpakaian ungu melompat turun, kedua lututnya yang sekeras besi menindih bahu pelayan itu, membuatnya menjerit kesakitan, dan mereka berdua terguling di anak tangga panjang.
Saat Gao Yan turun dari pohon, ia melihat pelayan itu berusaha melarikan diri, sementara Li Le dengan santai menarik diri dari tubuhnya, lalu menghunus pedang panjang ke lehernya: “Mau lari? Mau lari ke mana?”
“Kirain Chi Wu yang menangkap, ternyata kau, Li Le?” Gao Yan tertawa dan mengacungkan jempol: “Kehebatanmu, sepuluh pengawal Kota Yin Dong pun tak sebanding denganmu!”
“Hmph, cuma anak bawang, tak pantas membuat guru turun tangan!” Di puji begitu, dagu Li Le hampir saja menengadah ke langit: “Untung guru punya ide tukar peran, Selir Agung pura-pura marah, aku berpura-pura menjadi guru dan diusir, sementara guru menyamar sebagai aku untuk menjaga Selir Agung. Si bodoh itu ternyata benar-benar terpancing.”
“Tidak, dia tidak sebodoh itu. Kalau benar bodoh, mana mungkin sudah mencelakakan banyak orang tanpa ketahuan.” Saat itu Chi Wu juga keluar dari istana, ia dan Gao Yan sama-sama berjongkok di depan pelayan perempuan itu, mengangkat dagunya dengan kipas lipat di tangan: “Tapi hari ini dia dipukul tanpa sebab, dendamnya menutup akal sehat, sehingga kembali berbuat nekat.”