Bab Empat Puluh Tujuh: Sarang Naga dan Gua Macan
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, Gao Yan sudah memacu kuda kembali ke ibu kota kekaisaran, melaporkan kepada Kaisar bahwa ia ingin mengundang Chi Wu ke istana untuk menaklukkan siluman.
Song Ai pada awalnya enggan menyetujui. Ia merasa aneh, sebab jika bahkan petugas istana yang berwenang dalam urusan gaib saja tak mampu mengatasi siluman itu, bagaimana mungkin seorang perempuan dari kalangan rakyat biasa bisa menaklukkannya? Namun, ia segera berpikir ulang. Jika siluman itu membunuh habis seluruh selir di istananya, bukankah ia sendiri yang akan menjadi korban berikutnya? Maka ia pun memutuskan untuk mencoba peruntungan dan mengizinkan Chi Wu masuk istana menghadap.
Sebagai bentuk penghormatan, Song Ai secara khusus menahan para pejabat di aula seusai sidang pagi, ingin bersama mereka menyaksikan seperti apa rupanya sang dewi kecil dari kalangan rakyat ini.
Sekitar pukul sembilan, suara nyaring pelayan istana menggema di depan aula, “Menghadirkan Chi Wu dari Kota Dingin beserta muridnya, Chi Li Le, untuk menghadap.”
Tak lama kemudian, tampak dua perempuan berjalan beriringan menuruni tangga-tangga yang menjulang bertingkat, lalu melangkah melewati ambang pintu.
Gao Yan saat itu begitu tegang hingga jantungnya seakan meloncat ke kerongkongan. Ia sangat paham watak Chi Wu yang liar dan tak pernah terikat aturan. Ia takut Chi Wu akan menyinggung perasaan Song Ai yang terkenal pendendam, juga khawatir jika Song Ai mengetahui hubungan mereka, ia akan mencari-cari kesalahan dan mempersulit Chi Wu.
Saat para pejabat sibuk berbisik satu sama lain, Gao Yan melirik ke arah dua perempuan itu dan terkejut mendapati wajah yang begitu familiar—mereka adalah Chi Wu dan Li Le.
Ia sedikit tercengang. Selama ini, ia hanya tahu Chi Wu memiliki kemampuan dan kesaktian luar biasa, namun tak pernah terpikir dari mana ia belajar semua itu, atau berasal dari aliran mana. Saat inilah ia sadar bahwa pengenalannya terhadap Chi Wu sangat dangkal, sebatas nama unik dan paras yang memesona.
Ketika Chi Wu berpapasan dengannya, perempuan itu sama sekali tak melirik ke arahnya, hanya melangkah bersama Li Le melewati para pejabat, lalu memberi salam dari kejauhan kepada orang yang duduk di singgasana: “Hamba, Chi Wu bersama murid hamba, Li Le, mengucapkan doa panjang umur dan kemakmuran bagi Paduka.”
“Kau yang bernama Chi Wu?” Song Ai menatap sang pendeta perempuan dari atas ke bawah. “Kau masih sangat muda, bahkan seorang perempuan, bagaimana mungkin bisa menaklukkan siluman?”
“Dalam urusan menaklukkan siluman, usia dan jenis kelamin bukanlah halangan. Siapa pun yang memiliki kemampuan, bisa melakukannya,” jawab Chi Wu dengan senyum tenang.
Song Ai mendengar jawabannya yang lancar dan tegas, menyadari bahwa perempuan ini bukan orang sembarangan. Ia pun waspada, “Kau diundang oleh Pangeran Jing. Apakah ada hubungan khusus antara kalian?”
“Setibanya Pangeran Jing di wilayah barunya, ia langsung terjerat kasus pembunuhan. Hamba membantu Kepala Polisi Xie Wuyang membersihkan namanya dari tuduhan. Setelah itu, hamba juga membantu mengungkap kasus mayat terapung di danau dan kasus siluman burung yang menguliti korbannya. Karena itu, Pangeran Jing tahu kemampuan hamba, lalu merekomendasikan hamba kepada Paduka,” jelas Chi Wu tanpa berbelit.
Song Ai tak menemukan cela dalam penjelasannya, lalu memerintahkan para pejabat beranjak keluar, menyisakan dirinya, Gao Yan, Chi Wu, Li Le, dan seorang pendeta muda di aula.
Song Ai menatap pendeta muda itu dengan makna tertentu. Pendeta itu mengangguk ringan, lalu memberi salam kepada Chi Wu. “Saya, Pei Jiaxu, Wakil Kepala Pengawas Langit, ingin menanyakan, dari aliran mana Anda berasal?”
“Dari aliran mana pun saya berasal, rasanya tak ada hubungannya dengan kemampuan menangkap siluman, bukan?” Chi Wu menatap pria yang mengaku bernama Pei Jiaxu itu, merasa seakan pernah bertemu dengannya. Ia menyipitkan mata, perlahan berkata, “Rasanya wajah Anda tak asing. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Kita sama-sama pendeta, tentu ada perasaan saling mengenal. Barangkali pernah bertemu dalam pertemuan antaraliran,” Pei Jiaxu tersenyum tanpa perubahan ekspresi, mengalihkan topik, “Sudahkah Anda mendengar soal gangguan siluman di istana?”
“Kemarin, Pangeran Jing sudah menceritakan masalah itu.”
“Menurutmu, bagaimana?”
“Para selir istana tewas secara misterius, namun para pelayan lain sama sekali tak terluka. Para korban pun mati dengan cara mengenaskan. Menurut saya, ini kemungkinan besar karena dendam pribadi.”
“Dendam pribadi?” Song Ai terkejut, “Maksudmu, pelakunya manusia?”
“Susah untuk dipastikan. Kadang-kadang, batas antara manusia dan siluman hanya setipis niat. Satu niat baik, siluman bisa menjadi manusia, satu niat jahat, manusia pun bisa menjadi siluman. Bisa jadi pelaku membunuh dengan sihir, atau dendam yang menumpuk selama bertahun-tahun berubah menjadi siluman untuk membalas dendam atas nama majikannya. Namun yang pasti, pelaku sangat membenci para selir, sehingga tega membunuh dengan cara sekejam itu.”
Gao Yan menatap Chi Wu lekat-lekat. Hari ini, Chi Wu tampak seperti pendeta dengan aura agung, segala keangkuhannya tersembunyi. Siapa pun tak akan menyangka bahwa sehari-hari ia begitu liar dan terang-terangan. Mendengar jawaban Chi Wu yang tenang, Gao Yan pun sedikit lega.
“Kalau begitu, tinggallah di istana dan selidiki kasus ini bersama Pei Jiaxu,” ujar Song Ai. Ia bangkit dari singgasana, mendekati Gao Yan dan menepuk bahunya dengan gaya bersahabat, “Kau juga tetap di istana. Sejak Jun’er menikah dengan keluarga kerajaan, kalian jarang bertemu. Ia mungkin tak pernah mengeluh, tapi aku tahu ia sebenarnya sangat merindukanmu. Gunakan kesempatan ini untuk lebih sering menemaninya.”
“Baik, Paduka,” jawab Gao Yan sambil memberi hormat.
Song Ai tersenyum, melangkah beberapa langkah lalu tiba-tiba berbalik, “Masalah ini menyangkut garis keturunan kerajaan. Chi Wu, kau harus segera menaklukkan siluman itu. Jika masih ada selir yang tewas, kau dan murid kecilmu itu tak akan bisa keluar dari istana dengan selamat.”
Mendengar ancaman dingin itu, wajah Chi Wu tetap tak berubah, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Begitu Song Ai pergi, Li Le di sisi Chi Wu langsung menghela napas lega, kedua tangannya bergerak mengipasi wajahnya, “Astaga, menakutkan sekali. Dulu aku pikir orang biasa saja, mana ada yang namanya wibawa keluarga kerajaan. Tapi setelah melihat sendiri hari ini, tanpa ia bicara pun, kakiku langsung gemetar. Kalau sampai dia bicara padaku, mungkin aku langsung pingsan.”
Ucapannya membuat semua orang di aula tertawa. Melihat semua orang tertawa, Li Le baru sadar bahwa selain guru dan Gao Yan, di aula itu masih ada Pei Jiaxu yang menurutnya mengganggu. Ia memperhatikan wajah pendeta itu dengan penuh rasa ingin tahu, namun tiba-tiba Pei Jiaxu balik menatapnya, “Adik kecil, kenapa menatapku begitu?”
Li Le memang selalu blak-blakan. Ia pun menjawab dengan polos, “Aku melihat Kakak Pendeta ini rupawan, tapi bercak merah di wajahmu merusak ketampananmu. Sungguh sayang sekali. Bolehkah aku tahu, adakah kisah di balik bercak itu?”
Gao Yan tercekat mendengarnya. Kemarin ia hanya mengingatkan Chi Wu, lupa bahwa Li Le juga punya mulut yang tajam. Pei Jiaxu baru saja menjabat, Gao Yan tak tahu wataknya, takut kalau gara-gara pertanyaan itu ia tersinggung dan kelak mempersulit mereka.
Wajah Pei Jiaxu memang sedikit berubah, namun Chi Wu tetap tersenyum misterius tanpa sepatah kata. Gao Yan pun melangkah maju, memberi hormat kepada Pei Jiaxu, “Li Le memang bicara tanpa pikir, jika ia menyinggung Anda, mohon maklumilah karena ia masih muda dan polos.”
“Pangeran Jing terlalu sungkan. Orang yang menempuh jalan spiritual tak memedulikan penampilan luar, mana mungkin terganggu oleh omongan orang lain,” kata Pei Jiaxu, lalu tersenyum ramah seolah menyayangi, “Adik kecil ingin tahu itu wajar. Jangan khawatir, bercak ini memang sudah ada sejak lahir, tak akan menular.”
Li Le sadar telah berkata salah. Melihat Gao Yan yang biasanya sombong rela membela dirinya di hadapan pejabat kecil, ia pun merasa malu dan dengan terbuka meminta maaf kepada Pei Jiaxu.
Dari awal hingga akhir, Chi Wu hanya diam memperhatikan Pei Jiaxu. Sejak pria itu menoleh, Chi Wu merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, perasaan itu bukan sekadar deja vu, melainkan rasa janggal—seperti apel yang tak seharusnya tumbuh di ladang semangka, Pei Jiaxu pun seolah tak seharusnya muncul di hadapan para pejabat.
Sebelum Chi Wu sempat mengingat di mana ia pernah bertemu pria itu, dari luar aula terdengar keributan. Seorang pelayan istana berbaju putih berlari tergopoh-gopoh masuk, berteriak dengan suara tajam, “Celaka! Permaisuri telah kerasukan dan pingsan!”