Bab Ke Tujuh Puluh Dua: Nenek Lengan Air
Meskipun Gao Yan berbicara dengan lembut kepada Chi Wu, sikap itu hanya ditunjukkan pada dirinya seorang. Begitu tatapannya beralih dari Chi Wu, wajahnya langsung berubah menjadi sedingin es, hampir bisa dikatakan ia masuk ke dalam ruangan dengan aura yang mengintimidasi.
Chi Wu bertukar pandang dengan Ting He, yang kemudian memasang ekspresi “habislah kita”. Keduanya pun mengikuti di belakang Gao Yan dengan langkah hati-hati.
Begitu mereka tiba di ruang depan, tampak seorang wanita berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, seolah tengah mengamati perabotan teh di atas meja. Mendengar ada orang masuk, wanita itu tetap diam, seolah tak peduli. Barulah saat Ting He membungkuk di hadapannya dan berkata bahwa Tuan Muda dan Nyonya sudah datang, ia perlahan memutar kepalanya.
“Yan Er, kau sudah tumbuh tinggi,” ucap wanita itu. Sekilas terdengar seperti basa-basi, namun suaranya datar, bagai sedang membicarakan batu yang biasa ditemukan di pinggir jalan.
Chi Wu mengintip dari belakang Gao Yan dan mendapati bahwa yang berbicara adalah seorang wanita yang sangat kurus, berdiri di tengah ruangan layaknya sebatang galah tua. Wajahnya panjang seperti keledai, dan saat berbicara, bibirnya terbalik, seolah ada sesuatu yang bau di bawah hidungnya.
“Nenek Lengan Air,” mata Gao Yan menyipit, suaranya pun sama datarnya, “kau juga sudah tua.”
Nenek itu mendengus, entah karena marah atau memang tidak peduli. Matanya yang keruh menatap Gao Yan beberapa saat, lalu beralih ke Chi Wu. “Jadi ini perempuan pasar yang kau nikahi?”
Belum sempat Gao Yan bicara, Nenek Lengan Air sudah melompat lincah ke depan Chi Wu, persis seperti ranting pohon yang tumbuh kaki. Ia mengitari Chi Wu, sambil mengecap-ngecap bibir menilai, “Tangannya halus tanpa kapalan, jelas tak bisa mengurus rumah. Pinggangnya ramping, kurang keberuntungan. Panggulnya sempit, pasti susah punya anak. Tsk, tsk, tsk...”
Mendengar ia menilai Chi Wu seolah sedang memilih hewan ternak, Gao Yan tak bisa lagi menahan amarah dan hampir meledak di tempat. Namun Chi Wu segera mengangkat tangan menahannya, dengan senyum penuh arti di wajahnya, mengisyaratkan agar Gao Yan tak perlu tersulut emosi oleh orang rendahan seperti itu.
Sementara itu, Nenek Lengan Air masih saja mengoceh, hingga akhirnya ia bertanya, “Kudengar dari majikanku, pekerjaanmu membasmi siluman dan menangkap hantu?”
“Benar sekali,” jawab Chi Wu dengan senyum penuh teka-teki yang tak berubah dari wajahnya.
“Bukan keluarga terhormat juga, ya sudahlah. Dengan kemampuannya, ia memang hanya bisa mendapat istri seperti kau,” kata Nenek Lengan Air, memandang Gao Yan lalu Chi Wu dengan jijik.
“Betul, pekerjaanku memang tak layak dibanggakan, tapi pernikahan kami adalah titah langsung dari Kaisar. Kalau kau berkata seperti itu, berarti merendahkan nama Kaisar juga,” ujar Chi Wu, sambil menahan Gao Yan yang hendak melayangkan tamparan, tetap tersenyum ceria. “Aku beritahu padamu, aku tak hanya pandai menangkap siluman, tapi juga piawai membaca wajah. Begitu masuk, aku lihat nasibmu suram, dahi gelap, pertanda hidupmu penuh penderitaan. Bibir tebal namun tak pernah menjaga ucapan, sebentar lagi pasti bibirmu akan bisulan. Kalau makin parah, kau tak bisa makan, dan akhirnya kelaparan sampai mati.”
“Kau berani mengutukku, dasar anak kurang ajar!” Bagi orang tua seperti Nenek Lengan Air, ucapan semacam itu adalah tabu terbesar. Ia langsung murka, melayangkan dua tangan kurusnya seperti ranting kering ingin menampar wajah Chi Wu.
Namun Chi Wu tetap tenang, berdiri tegap dengan senyum di bibir. Saat dua tangan itu nyaris menyentuh wajahnya, sosok tinggi besar tiba-tiba melompat ke depan, melindunginya sepenuhnya.
Ternyata Chi Wu telah melepas tangan yang menahan Gao Yan, sehingga tanpa halangan, Gao Yan langsung bergerak layaknya anjing penjaga, melindungi Chi Wu di belakangnya.
“Cukup!!” teriak Gao Yan, menahan tangan kering Nenek Lengan Air dengan gerakan secepat kilat, menahan amarahnya seraya menggeram, “Kau boleh hina aku, tapi jangan pernah coba-coba menghina istriku! Jangan lupa, ini rumahku, aku tak akan biarkan kau berbuat semaumu!”
Nenek Lengan Air tak menyangka Gao Yan akan melawannya. Ia tertegun, tak bisa berkata apa-apa, hanya ternganga beberapa saat sebelum akhirnya mendengus kesal dan menarik tangannya dari genggaman Gao Yan. Ia kemudian berdeham, “Tuan Besar Gao dengar kau sudah menikah, ia ingin kau membawa istrimu pulang agar bisa melihatnya.”
“Tidak mungkin,” tegas Gao Yan. “Aku sudah memutuskan hubungan dengan keluarga itu.”
“Tapi ayahmu sangat merindukanmu hingga jatuh sakit, hampir tak bisa bertahan hidup.”
Mendengar itu, Gao Yan tertawa dingin. “Kalau mati, biar saja. Apa urusanku? Dulu saat aku disiksa habis-habisan di belakang rumah oleh perempuan itu, dia juga membiarkanku, tak peduli apakah aku hidup atau mati.”
“Wah, dasar anak durhaka!” Nenek Lengan Air memang sudah menduga Gao Yan akan berkata begitu. Ia mengacungkan jarinya ke kepala Gao Yan. “Dulu kau membunuh ibumu sendiri, aku sudah tahu kau tak berhati. Tuan Besar sudah sakit tiga atau empat tahun, berapa banyak surat yang ia kirim padamu, tak satupun kau balas. Sekarang dia sakit sampai tak bisa menghadiri sidang, Kaisar bahkan sudah mengutus orang ke rumah dan menanyakan apakah kau pernah menjenguk ayahmu. Menurutku, kau harus segera pulang dan laporkan pada Kaisar, biar beliau tahu betapa tak punya hati dan tak berbakti dirimu! Biar jabatanmu dicopot, lalu dijebloskan ke penjara supaya keras kepalamu itu bisa dilunakkan!”
“Kau!” Ucapan nenek itu tajam, setiap kata membangkitkan luka lama di hati Gao Yan. Kenangan pahit itu membanjiri benaknya, membuatnya hampir tak bisa bernapas, ia hanya bisa menahan dada dan terengah-engah.
Melihat Gao Yan menderita begitu, Chi Wu menyadari ia sedang mengalami gangguan stres pascatrauma seperti yang dikenal orang zaman sekarang. Hatinya pun terenyuh, ia segera menepuk-nepuk punggung Gao Yan dengan lembut sambil berseru keras, “Pengawal! Usir perempuan jalang ini dari sini! Mulai sekarang, siapa pun orang Gao yang datang, pukul saja sampai kapok!”
Begitu kata-katanya selesai, beberapa lelaki bertubuh kekar langsung masuk dengan wajah garang. Mereka adalah pelayan terhandal di kediaman Pangeran Jing, selain Ting He, merekalah yang sehari-hari melayani Gao Yan. Gao Yan selalu memperlakukan mereka dengan baik, hingga para pelayan sangat menghormatinya. Kini majikan mereka dihina, mereka sudah lama menahan emosi, dan begitu mendapat perintah dari Chi Wu, masing-masing segera bersiap, bahkan ingin menampar nenek itu berulang kali sebelum membuangnya keluar.
Nenek Lengan Air yang tadi begitu sombong, kini gemetar ketakutan, mundur perlahan, “Aku... aku ini kepala rumah tangga Gao, berani coba sentuh aku?!”
“Kepala rumah tangga?” Chi Wu tertawa sinis, “Bukan cuma kepala rumah tangga, majikanmu sendiri pun kalau datang ke sini tetap akan kutampar dua kali! Jangan dengarkan ocehannya, hajar saja lalu buang keluar, jangan sampai mengotori rumah kita.”
“Siap!” jawab para pelayan serempak. Ada yang mengambil pentungan, ada yang melipat lengan baju, memperlihatkan telapak tangan besar dan kasar, berjalan mendekati nenek itu sambil menyeringai.
Melihat hal itu, Nenek Lengan Air langsung lemas, jatuh terduduk di lantai, tak bisa bergerak lagi.
Ketika beberapa pelayan yang berjalan cepat hendak menendang nenek itu, Gao Yan akhirnya sudah lebih tenang, kembali berdiri tegak seperti biasa, dan berkata datar, “Tunggu, jangan pukul dulu. Kalau memang ayahku sakit, besok aku akan pulang sebentar, guna menunaikan bakti.”