Bab Delapan Puluh Dua: Kisah Masa Lalu Gao Yan
“Hati itu ibarat wajah, karena itu harus dirawat dengan sungguh-sungguh. Jika wajah sehari saja tak dirawat, debu dan kotoran akan menodainya; bila hati sehari saja tak memikirkan kebaikan, keburukan dan kejahatan akan merasukinya. Semua orang tahu merawat wajah, tapi melupakan merawat hati, sungguh menyesatkan.”
Seorang wanita duduk di depan meja rias dengan rambut tergerai, menatap cermin yang telah pecah, menyisir rambutnya yang kusut dan kering dengan sisir kayu yang sudah patah giginya. Senyum tipis dan samar terukir di wajahnya, tampak puas menatap wajah yang pucat dan layu di dalam cermin, seolah dirinya masih menjadi putri kedua keluarga Ye yang paling disayang.
Sementara itu, Gao Yan yang baru berusia tujuh tahun sudah empat hari tidak makan dan minum. Beberapa hari lalu, ia dihajar habis-habisan oleh wanita itu, dada dan perutnya sangat sakit, kemungkinan beberapa tulang rusuknya patah. Saking laparnya, ia sampai memasukkan tanah di bawah kasur dan bajunya sendiri ke mulut, tapi benda-benda itu tentu saja tak bisa mengenyangkan. Berapa pun pakaian usang dan tanah yang ia makan, tetap saja rasa lapar membuatnya gelisah.
Melihat kondisinya yang makin parah, naluri bertahan hidup membuatnya melupakan rasa takut. Saat ibunya masih sibuk menata rambut, ia perlahan menyusuri dinding, berjalan mengendap-ngendap menuju pintu keluar.
Ketika sampai di bawah jendela, tiba-tiba sebuah tangan membuka jendela dan menyodorkan semangkuk sup.
Sup itu adalah sup ayam panas yang mengepul, dengan beberapa helai daging ayam mengapung di atasnya. Sup ini selalu dikirim setiap hari, konon khusus untuk menguatkan tubuh Nyonya Ye. Gao Yan tak mengerti, kenapa mereka hanya bisa makan sisa-sisa makanan, tapi sup ayam itu selalu muncul di jendela setiap hari. Namun, saking laparnya, ia tak sempat memikirkan risiko jika ibunya tahu ia minum sup itu. Melihat Nyonya Ye masih asyik menyisir rambut, ia pun memberanikan diri, mengulurkan tangan hendak mengambil mangkuk itu.
Namun, sebelum ia sempat mengangkat mangkuk tersebut dengan mantap, tiba-tiba tangan besar dari luar jendela mencengkeram pergelangan tangannya.
Gao Yan terkejut setengah mati. Ia mendongak dan melihat seorang pria berpakaian pelayan sedang menunduk, menatapnya dengan senyum sinis. “Ini sup penambah tenaga untuk perempuan. Lelaki yang meminumnya, darahnya akan mengucur dari tujuh lubang di wajah.”
Suara pria itu tidak keras, tapi nadanya menyeramkan, membuat bulu kuduk Gao Yan yang masih kecil berdiri. Pandangan pria itu berbeda dengan tatapan benci ibunya—ada ejekan dan candaan di matanya. Gao Yan merasa malu, ia menarik kedua kakinya yang kotor dan telanjang, membetulkan pakaiannya, lalu dengan berat hati meletakkan kembali sup ayam itu.
Belum sempat ia kembali ke sudutnya, suara lantunan ajaran perempuan dari depan meja rias tiba-tiba terhenti. Kursi kayu pun melayang ke arahnya, menghantam kepalanya hingga pandangannya gelap dan tubuhnya ambruk ke lantai.
“Aduh, gila benar perempuan ini!” Pelayan yang mengantarkan makanan juga kaget, buru-buru menutup jendela dan lari terbirit-birit meninggalkan halaman.
“Anak pembawa sial, berani-beraninya mau minum supku!” Nyonya Ye mendekat dengan marah, menendang Gao Yan yang baru saja bangun hingga tersungkur kembali, lalu menginjak dadanya dan merebut sup dari jendela, menghabiskannya dalam sekali teguk.
Ia minum dengan terburu-buru, sup menetes dari sudut bibirnya, mengenai kulit Gao Yan yang telanjang. Gao Yan segera menjilat sisa sup yang menetes itu dengan jari, lalu mengisapnya berkali-kali, menghela napas puas.
Wangi sekali, ternyata inilah rasa sup ayam.
Tentu saja gerak-geriknya tak luput dari perhatian Nyonya Ye. Melihat Gao Yan mengisap jarinya dengan lahap, ia kembali menendang kepala anak itu. “Biar kau mati kelaparan!”
“Ibu... aku lapar...” Gao Yan akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Ia masih bocah tujuh tahun, dalam kelaparan semua harga dirinya hilang. Ia memeluk kaki Nyonya Ye erat-erat, menangis dengan suara lirih, “Ibu, tolong beri aku sesuap nasi saja... aku tak akan membuat Ibu marah lagi...”
Tiba-tiba dipeluk anaknya sendiri, kulit bersentuhan, Nyonya Ye langsung menggigil, menjerit seperti dirasuki binatang berbisa.
Sambil berteriak, ia memecahkan mangkuk porselen, mengambil pecahan tajamnya dan menusukkannya ke tubuh Gao Yan. “Anak pembawa sial! Mati saja! Mengapa kau lahir ke dunia ini! Cepat mati!”
Pecahan porselen yang tajam menembus kulit dan daging, lalu dicabut lagi, diganti ke tempat lain dan ditusukkan kembali. Mula-mula Gao Yan masih bisa menjerit, tapi lama-lama rasa sakit itu hilang, digantikan kehangatan yang mengalir di punggungnya—bukan hanya darah, tapi juga nyawanya.
Darah mengalir makin deras. Gao Yan akhirnya tak kuat lagi, pelukannya terlepas dari kaki Nyonya Ye dan tubuhnya roboh ke lantai. Nyonya Ye pun tampak lelah, melempar pecahan porselen dan duduk terpuruk.
Matanya kosong sejenak, lalu senyum samar kembali terukir di wajahnya, seolah ia kembali ke masa mudanya di rumah keluarga Ye. Ia mendongak, bermonolog pada kekosongan, manja seperti gadis kecil, “Ibu, aku ingin menikah dengan Lianzhi. Jangan lihat dia sekarang keluarganya susah, tapi dia cerdas dan berilmu. Tahun depan pasti lulus ujian negara dan jadi pejabat tinggi! Tak apa kalau dia miskin, aku kan kaya. Ibu, siapkan mas kawin paling mewah untukku. Kalau Lianzhi sudah jadi pejabat, keluarga kita akan lepas dari status pedagang!”
Ia sering berhalusinasi seperti ini, mengira dirinya masih di rumah keluarga Ye, suka berbicara sendiri pada udara kosong.
Gao Yan terbaring di lantai dingin, terengah-engah. Meski masih kecil, ia sadar tubuhnya terlalu lemah. Kalau terus begini, ia tak akan bertahan hidup sampai esok pagi. Maka, saat Nyonya Ye kembali tenggelam dalam kegilaannya, ia merangkak bangkit, menyelinap melewati pagar kayu yang menutup halaman, dan keluar ke jalanan gang gelap.
Inilah kali pertama ia keluar dari halaman yang telah mengurungnya selama tujuh tahun. Hujan deras mengguyur, jalanan sepi tanpa satu pun orang.
Hujan membasahi punggung Gao Yan, membasahi luka-lukanya dan mengembalikan rasa sakit yang sempat hilang. Perutnya kosong, ia berlari sempoyongan tanpa tujuan di bawah hujan, darah menetes dari punggungnya, mekar seperti bunga di genangan air.
Dulu, ia sangat ingin kabur dari halaman yang seperti neraka itu. Tapi saat benar-benar keluar, ia malah kebingungan, tak tahu harus ke mana. Dunia luar hanyalah halaman yang lebih besar, dan di rumah megah ini, ia laksana perahu kecil yang hanyut, tak tahu di mana dermaga untuk bersandar.
Ia berlari seperti lalat tanpa kepala di bawah hujan, lalu menabrak seseorang. Tubuhnya yang kurus dan luka-luka membuatnya terjatuh sendiri ke genangan air, meski ia yang menabrak orang itu.
Luka di tubuhnya tersengat hujan, membuatnya nyeri tak tertahankan. Ia yang tumbuh di halaman itu selalu mengira orang luar sama jahatnya dengan ibunya. Takut dipukuli, ia menahan sakit, berusaha bangkit, dan berniat meminta maaf dengan suara lirih.
Namun, tiba-tiba di atas kepalanya muncul bayangan, melindunginya dari derasnya hujan.
Gao Yan tertegun, mendongak, dan langsung bertatapan dengan sepasang mata bening tanpa suka atau duka.
Yang berdiri di depannya adalah seorang gadis muda yang jelita. Ia mengenakan gaun sutra warna merah muda, rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan mutiara dan zamrud. Sepanjang hidupnya, Gao Yan belum pernah melihat perempuan seindah itu, hingga ia mengira yang di depannya adalah bidadari dari langit.
Namun, bidadari itu lalu mengeluarkan bungkusan kertas minyak yang penuh berisi kue-kue cantik yang belum pernah ia lihat. Gadis itu menyodorkan kue-kue itu ke depan Gao Yan, tapi saat ia mengulurkan tangan, gadis itu menarik kembali tangannya, tersenyum manis, “Namaku Gao Lingjun, aku kakakmu. Kalau kamu makan kue ini, berarti kamu berutang budi padaku. Mulai sekarang, apapun yang aku suruh, kamu harus lakukan, dan selain aku, kamu tak boleh dekat dengan siapa pun lagi. Setuju?”
Gao Yan yang matanya hanya tertuju pada kue-kue itu, tertegun sesaat mendengar ucapan gadis itu, lalu menjawab parau, “Setuju!”
Gao Lingjun mengangguk puas, mengulurkan tangan, dan Gao Yan langsung merebut bungkusan itu, melahapnya dengan rakus hingga kertas minyaknya pun ikut dimakan.
Tak ia sadari, di saat ia asyik makan, Gao Lingjun yang berdiri di depannya tersenyum licik, lalu menutup wajahnya dengan lengan baju, menahan rasa jijik sambil mengernyitkan dahi.