Bab Empat Puluh Lima: Membunuh Ibu
Gao Yan menoleh dan mendapati Gao Lianzhi entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka, kini tengah menatap ibu dan anak itu dengan pandangan penuh sindiran.
Begitu melihat Gao Lianzhi, Nyonya Ye langsung menciut seperti tikus yang melihat kucing, sama sekali tak tampak lagi sikap penuh harap akan kasih sayang suami seperti beberapa tahun lalu.
“Mengapa kau memperlakukannya seperti itu? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?” Gao Yan bangkit dari tanah, menatap mata yang datar tanpa suka atau duka itu, bertanya dengan gigi terkatup rapat, “Bukankah dia istri pertamamu? Bukankah aku anak kandungmu?”
“Siapa tahu kau anak haram dari mana. Di keluarga kita tak pernah ada anak bermata merah,” Gao Lianzhi tertawa dingin.
Namun ucapan itu jelas fitnah, sebab wajah Gao Yan dan Gao Lianzhi seperti dicetak dari cetakan yang sama, semua orang bisa melihat kemiripan mereka.
Tatapan ayah dan anak itu saling bertemu, seperti musuh lama yang bertemu kembali, nyaris saja terjadi perkelahian.
Saat itu, para pelayan dan selir rumah sudah berkumpul di depan gerbang halaman kecil, menjulurkan leher untuk menonton keributan. Beberapa selir yang suka bergosip saling berbisik, “Aduh, Nyonya Ye itu kan putri keluarga pedagang, sejak zaman dulu pedagang dianggap hina, siapa tahu sebelum menikah seperti apa kelakuannya.”
Yang lain menimpali, “Iya, siapa tahu si Gao Yan itu sebenarnya hasil hubungan gelapnya sebelum menikah. Sungguh, Tuan kita ini berhati baik, masih mau menanggung ibu dan anak ini di rumah. Kalau aku, sudah kucampakkan mereka ke jalanan sejak lama.”
“Eh, siapa tahu keluarga Ye dulu berbuat dosa apa, tiba-tiba semua toko mereka tutup dalam semalam, Tuan kita sendiri yang memeriksa. Mungkin mereka menyinggung orang yang salah. Sekarang, satu-satunya keluarga mereka yang masih tersisa hanyalah kerabat di istana yang jadi tabib, sisanya sudah jadi pengemis semua! Dulu keluarga mereka adalah yang terkaya di ibu kota, waktu Tuan kita melamar saja sempat dihinakan. Sekarang, lihatlah, malah harus merangkak di kaki keluarga Gao untuk makan.”
Ucapan mereka seolah memang sengaja ditujukan pada tiga orang di halaman, tanpa berusaha mengecilkan suara.
Gao Yan, yang masih muda, mana sanggup menahan penghinaan seperti itu. Ia mengalihkan pandangan dari ayahnya ke para selir yang bergosip di pintu, lalu tanpa ragu mencabut pedang dari pinggangnya dengan cepat, ujung pedang langsung mengarah pada kerumunan yang menonton, “Diam! Kalian semua diam!”
Orang-orang yang berdiri di pintu sedang asik menonton, tiba-tiba diacungi pedang, mereka pun menjerit ketakutan. Bagi mereka, kemarahan Gao Yan yang bermata merah itu tak ada bedanya dengan kegilaan ibunya, Nyonya Ye.
“Kurang ajar! Berani-beraninya mengacungkan pedang di halaman dalam, sungguh tak tahu malu!” Gao Lianzhi membentak, namun ia hanya mundur tanpa berusaha menghentikan, membiarkan Gao Yan mengayunkan pedangnya di depan para pelayan dan selir. Jika diperhatikan dengan saksama, di sudut matanya tampak jelas senyum licik penuh kemenangan.
Nyonya Ye yang semula menciut di balik tumpukan jerami, mendengar ucapan para selir itu bagaikan tersambar petir, ia berdiri dengan tertatih-tatih, tak percaya lalu bertanya, “Kau tadi… bilang apa? Keluarga Ye sudah hancur?”
Tak ada yang berani menjawab, semua meringkuk ketakutan seperti anak ayam. Nyonya Ye dengan pandangan kosong menyingkirkan Gao Yan, menerobos ke arah para selir, membuat mereka menjerit lagi, “Katakan! Apa yang kalian bicarakan barusan? Keluargaku besar dan kaya, mana mungkin lenyap dalam semalam?”
“Aku… aku…” Para selir itu saling berdesakan, tak bisa berkata-kata.
“Aku yang memeriksanya sendiri,” Gao Lianzhi tiba-tiba bergerak, entah kenapa. Ia menarik pergelangan tangan Nyonya Ye, menyeretnya dari kerumunan selir. “Ayahmu benar-benar nekat, berani menyuapku agar adikmu dapat jabatan dan bisa keluar dari status pedagang. Ia meremehkanku, terlalu percaya diri. Aku ini pejabat kerajaan, mana mungkin menerima suap kecil seperti itu? Hmph, sekarang ayahmu yang bodoh itu sudah dikubur, ibumu juga lumpuh. Keluarga Gao masih berbaik hati memberi adikmu sedikit uang untuk menguburkan ibumu, supaya tak jadi beban di jalanan nanti.”
Tersentuh oleh tangan Gao Lianzhi, entah karena takut atau jijik, Nyonya Ye menjerit sekencang-kencangnya, mencoba melepaskan diri hingga akhirnya berhasil. Namun ucapan berikutnya hampir saja membuatnya pingsan.
Sebelum menikah, ayahnya, lelaki tua yang selalu ceria itu, sering berkata agar ia sering pulang ke rumah. Ibunya yang bersuara lantang namun penyayang itu selalu mengelus wajahnya, berkata bila ia mendapat perlakuan buruk di keluarga Gao, pulang saja, mereka kaya dan bisa menghidupinya hingga tua. Adiknya waktu itu masih kecil, mendengar ia hendak menikah saja langsung memeluk kakinya sambil menangis.
Bagaimana mungkin dalam sekejap, ia kehilangan rumah dan keluarga?
Mendadak, Nyonya Ye mengangkat kepala, tatapannya penuh kebencian dan kemarahan pada Gao Lianzhi, “Kau! Kau yang menghancurkan keluargaku! Mengapa ayah dan ibuku harus mati? Aku bahkan… aku bahkan telah menulis surat, memohon mereka menolongku!”
“Surat?” Gao Lianzhi tertawa dingin. “Perempuan gila sudah kumat lagi. Di kamarmu saja tak ada tinta dan pena, pakai apa menulis surat? Pengawal! Kunci perempuan gila ini, jangan sampai kita semua tertular sial.”
Mendengar ucapan ayahnya, Gao Yan merasa ada sesuatu yang janggal, tapi tak tahu pasti apa itu. Ia ingat betul, saat ia masih sangat kecil, ibunya belum sepenuhnya gila, kadang pada hari cerah ia akan merobek kain baju, mencelupkan ranting ke sari bunga liar, lalu menulis sesuatu.
Mungkinkah ibunya benar-benar pernah menulis banyak surat kepada keluarga, namun karena alasan tertentu tak pernah terkirim?
Belum sempat ia memikirkan semuanya, beberapa pelayan sudah berusaha menerobos kerumunan untuk menangkap Nyonya Ye. Namun tiba-tiba Nyonya Ye menjerit begitu keras hingga para pelayan yang hendak menangkapnya pun tertegun ketakutan.
Selesai berteriak, ia menatap satu per satu wajah di sana dengan mata memerah penuh air mata dan dendam. Tiba-tiba ia berbalik, lalu melesat ke arah pedang di tangan Gao Yan.
Untung Gao Yan bergerak cepat, mundur selangkah sehingga Nyonya Ye tak sempat menabrakkan diri ke pedang.
“Bunuh aku, kumohon, bunuh aku sekarang juga…” Nyonya Ye jatuh terduduk, memeluk kaki Gao Yan, memohon dengan pilu.
Gao Yan hanya merasakan kehampaan yang menyakitkan di dadanya. Dulu, ia juga pernah memeluk kaki ibunya, memohon secuil makanan. Kini nasib berputar, ibunya yang bersimpuh di kakinya, memohon ia mengakhiri hidup.
Mungkin merasa Nyonya Ye benar-benar mempermalukan, Gao Lianzhi mengumpat lalu menyeretnya bangun. Begitu disentuh, Nyonya Ye kembali berteriak dan meronta. Gao Yan yang melihat ayahnya memperlakukan ibunya seperti binatang, hatinya makin hancur, kemarahannya pun meledak.
Tiga orang itu pun terlibat pertengkaran hebat. Para pelayan yang mencoba melerai tiba-tiba menjerit, “Ada yang terbunuh! Ada yang terbunuh!”
Orang-orang di gerbang segera menoleh. Para pelayan langsung mundur, dan di tengah mereka, Nyonya Ye yang baru saja meminta mati, kini telah tertusuk pedang panjang menembus dadanya. Darah menetes dari mulutnya, air mata mengalir, tubuhnya lemas tak berdaya, ia telah pergi selamanya.
Dan orang yang memegang pedang itu tak lain adalah Gao Yan.