Bab Seratus Dua Puluh Sembilan: Sebuah Kisah tentang Makan (Bagian Kedua)
Setelah pendeta berwajah giok itu selesai bicara, sang pemilik kedai wanita tidak kunjung bersuara. Ia hanya menopang dagu sambil menatap lurus ke arah api, membuat sang pendeta yang baru saja menyelesaikan kisahnya merasa gugup dan terus-menerus menggosok kedua tangannya sembari melirik ke arah wanita itu.
Sesaat kemudian, sang pemilik kedai tampak baru meresapi cerita tersebut. Ia mengecap bibir, lalu memunculkan senyum basa-basi di wajahnya, “Ceritanya cukup penuh liku. Pemuda itu hanya sibuk memuaskan perut sendiri hingga melupakan orang tuanya yang juga butuh makan. Setelah ditempa kerasnya hidup, barulah ia teringat pada orang tuanya, namun mendapati mereka sudah lama mati kelaparan. Menarik, cukup menarik.”
Mendengar itu, pendeta berwajah giok tersebut baru bisa bernapas lega. Punggungnya yang semula tegang seketika lemas, ia lalu mengangkat cangkir teh di depannya dan meminumnya sampai habis. Meski tidak berkata apa-apa, raut wajahnya yang bangga terpancar jelas di sudut mata dan alisnya.
Berikutnya, giliran si wanita rubah yang bercerita. Ia menyisir ujung kepang rambutnya dengan genit, lalu berujar dengan suara lembut, “Aku hanyalah seorang perempuan, isi kepalaku hanya soal cinta dan kasih sayang. Namun, ada pepatah yang mengatakan bahwa manusia tidak lepas dari urusan makan dan asmara. Konon, dahulu ada seorang wanita yang berpenampilan biasa saja, namun memiliki keahlian memasak yang luar biasa. Meski hidupnya sederhana, berkat hidangan lezat yang ia buat, ia berhasil menaklukkan hati seorang pria.
Pria itu adalah seorang putra kaya raya. Sejak menikahi wanita tersebut, ia setiap hari tenggelam dalam kehangatan rumah tangga, seolah berada di surga karena selalu dimanjakan dengan makanan yang tak ada habisnya. Meski pria itu tabiatnya suka bermain wanita, karena ia sangat suka makan, ia memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Mereka pun menjalani hari-hari yang manis dan penuh kemesraan. Namun, pria tetaplah pria; seiring bertambahnya usia, ia jadi malas bergerak. Karena terlalu banyak makan, tubuhnya mulai membuncit. Melihat fisiknya yang kian tak terawat, ia mulai merasa muak pada istrinya, lalu jarang pulang ke rumah dan mencari hiburan di luar.
Wanita itu adalah sosok yang unik. Meski suaminya membuangnya seperti sampah dan tak pernah pulang, ia tidak pernah menangis atau membuat keributan, bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Meski tak bicara, ia sudah punya rencana di dalam hati. Mendengar suaminya sering berkeliaran di rumah bordil, ia berusaha keras menciptakan pertemuan kebetulan, lalu mengangkat primadona rumah bordil itu sebagai adik angkat dan menceritakan seluruh kisahnya. Wanita penghibur itu pun punya rasa setia kawan; melihat wanita sebaik itu disia-siakan suaminya, ia setuju untuk bekerja sama menjebak sang pria.
Wanita itu tidak hanya mahir memasak, tapi juga mengerti soal obat-obatan. Ia mengajarkan keahliannya kepada sang penghibur, berpesan agar setiap hari ia mengikuti resep camilan darinya dengan sangat ketat untuk disajikan kepada pria itu. Sementara dirinya sendiri berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tetap memasak hidangan lezat di rumah, menanti suaminya pulang.
Pria itu sangat rakus. Setelah memakan camilan dari sang penghibur, ia masih merasa kurang dan tetap mencari masakan istrinya saat pulang ke rumah. Setelah sebulan makan seperti itu, pria itu tiba-tiba tewas mendadak.”
Saat si rubah mencapai bagian ini, sang pemilik kedai berseru, “Oh?” sambil mengangkat satu alisnya, tampak merasa cerita itu sangat menarik. “Mengapa ia tiba-tiba mati?”
“Tentu saja karena wanita itu menggunakan prinsip makanan yang saling bertolak belakang. Apa pun camilan yang dibuat si penghibur, ia akan memasak hidangan yang khasiatnya berlawanan. Pria itu serakah, hanya punya satu perut tapi ingin menyantap masakan dari dua dapur, tentu saja ia mati keracunan. Setelah diam-diam meracuni suaminya, wanita itu mewarisi seluruh harta kekayaannya, lalu menebus kebebasan sang penghibur, dan mereka berdua pun hidup dengan bebas dan bahagia.”
Begitu si rubah selesai bicara, sang pemilik kedai bertepuk tangan dengan gembira dan tertawa, “Bagus! Aku suka cerita ini! Diawali dengan kisah asmara namun tidak klise, dan akhirnya si wanita serta penghibur itu merebut harta bersama-sama, itu akhir yang cukup baik. Bagus, bagus!”
Mendapat pujian dari sang pemilik kedai, si rubah sangat senang hingga ia lupa menyembunyikan ekornya yang terus bergoyang-goyang dengan bangga, membuat anak anjing hitam di belakangnya terus melompat-lompat untuk mengejarnya.
Chi Wu melihatnya begitu bangga, seolah sudah menganggap *taisui* itu sudah ada dalam genggamannya, membuat matanya menyipit. Cerita yang baru saja disampaikan, termasuk cerita sang pendeta, memberikan kesan yang sangat familiar bagi Chi Wu. Ia menatap mereka berdua kembali, lalu tiba-tiba merasa bergidik.
Ketiga siluman ini, sama sepertinya, bukanlah penduduk asli Daxia, melainkan penjelajah yang datang dari tempat lain! Alasan mengapa cerita mereka terasa familiar adalah karena kisah-kisah itu kurang lebih memiliki versi aslinya di dunia modern.
Namun, situasi saat ini sangat mendesak. Semua orang sedang mati-matian berebut *taisui*, tentu ini bukan saat yang tepat untuk mengenang masa lalu. Maka, Chi Wu menekan rasa penasarannya dan menunggu dengan tenang hingga orang terakhir menyelesaikan kisahnya.
Yang terakhir bercerita adalah anak kecil itu. Ia menggigit potongan daging terakhir di tusuk besi yang dipegangnya, menelannya bulat-bulat, lalu mengusap mulutnya dan tersenyum misterius. “Cerita yang akan kusampaikan berkaitan dengan peperangan. Konon, dahulu kala, dua negara berperang. Kekuatan keduanya seimbang, para prajurit di garis depan terperangkap dalam kebuntuan selama tiga hari tiga malam tanpa hasil. Akhirnya, seorang prajurit tua yang cerdik menemukan cara. Ia mengabaikan larangan dan menyembelih kudanya sendiri di medan perang, lalu memasaknya dengan rempah-rempah yang ia bawa menjadi hidangan kuda tiga rasa. Aromanya, jangankan sekelompok pria yang sudah kelaparan selama tiga hari, bahkan aku sendiri pun tidak sanggup menahan liur. Benar saja, pihak musuh tidak tahan menahan lapar dan akhirnya menyerah. Tanpa perlu mengerahkan satu prajurit pun, mereka memenangkan perang. Peristiwa ajaib seperti ini hanya bisa dilakukan oleh kelezatan makanan.”
Ceritanya sangat singkat, namun entah mengapa sangat disukai sang pemilik kedai. Ia mengangguk dan berkata, “Sungguh peristiwa ajaib yang hanya bisa dilakukan oleh makanan. Ceritamu meskipun singkat, cukup menarik. Bagus, bagus.” Sembari berkata demikian, ia mengarahkan pandangannya ke arah Chi Wu, “Nona Chi, giliranmu. Cerita mereka bertiga semuanya luar biasa, aku penasaran, cerita seperti apa yang sudah kau siapkan untukku?”
Chi Wu tersenyum tipis, dengan tenang ia berkata, “Cerita yang kubawakan hari ini adalah kisah tentang sepasang kakak beradik. Dahulu, ada suatu tempat yang terus-menerus dilanda perang, kehidupan rakyat sangat sengsara. Masyarakat berbondong-bondong meninggalkan rumah untuk mengungsi, bahkan kaum bangsawan pun tidak luput dari nasib buruk perang dan ikut melarikan diri. Anak laki-laki dalam cerita ini adalah salah satunya. Ia mengikuti orang tuanya, membawa adiknya yang masih kecil melarikan diri ke sebuah rumah tua di pedesaan yang terpencil, berniat untuk menetap di sana. Namun siapa sangka, saat tiba, orang tuanya tewas berturut-turut dalam pemboman pesawat, menyisakan mereka berdua yang harus saling bergantung. Akan tetapi, dewa takdir tidak berpihak pada mereka. Sekelompok penjahat menerobos masuk ke rumah itu setelah pemboman. Mereka tidak hanya merampas harta benda yang dibawa si bocah, bahkan karena kelaparan yang luar biasa, mereka berubah menjadi iblis dan mengincar sang adik yang masih kecil. Para penjahat itu menyalakan api dan benar-benar memasak adik kecil itu menjadi semangkuk sup daging yang harum.”