Babak Enam Puluh Delapan: Menjenguk
Jing Taihe bukanlah seseorang yang pandai berbicara, setidaknya di hadapan Hua Xiaomai. Karena ia jarang berkata-kata, saat baru tiba di Desa Pisau Api, Hua Xiaomai sempat merasa canggung, khawatir kalau-kalau kehadirannya tak disambut baik olehnya.
Namun, justru orang yang hampir tak pernah berbincang dengannya itu, diam-diam membuatkan serangkaian peralatan dapur lengkap untuknya. Hal ini sungguh...
Mungkin merasa canggung karena tatapan penuh cahaya dari mata Hua Xiaomai, Jing Taihe tersenyum lalu mengusap tengkuknya, “Sebenarnya, barang-barang seperti ini kalau dibeli di toko luar dengan dua keping uang juga cukup, tapi buatan sendiri pasti lebih kokoh, dan kalau ada yang kurang pas bisa langsung diperbaiki. Aku jarang membuatkan orang lain peralatan masak, jadi tak tahu hasilnya bagaimana. Coba kau angkat dulu, kalau rasanya kurang nyaman, akan aku perbaiki lagi.”
Hua Xiaomai benar-benar mengangkat dan memeriksa semua wajan itu, lalu menggenggam spatula dan mengayunkannya dua kali, setelah itu tersenyum sambil mengangguk kuat-kuat, “Tidak terlalu berat ataupun ringan, pas sekali digenggam, pasti makanan yang dimasak dengan peralatan ini akan terasa istimewa. Kakak ipar... belakangan ini kau sangat sibuk, masih sempat membuatkan aku semua ini, terima kasih sudah merepotkanmu.”
“Itu bukan apa-apa,” Jing Taihe mengibas tangan dengan malu-malu, “Aku hanya berpikir, kau baru saja mau memulai usaha, pasti banyak kebutuhan yang harus dibeli, jadi apa yang bisa dihemat, ya dihemat saja. Semua ini aku buat di waktu senggang, tak terlalu menguras tenaga.”
Padahal akhir-akhir ini ia memang sangat lelah, sampai jenggot tipis di dagunya pun tak sempat dicukur, namun tetap saja berkata demikian. Hua Xiaomai, selain merasa tak enak hati, juga diliputi perasaan haru yang menyesakkan. Setelah terdiam lama, ia akhirnya berkata pelan, “Kakak ipar, terima kasih.”
Ia tahu, ucapan “terima kasih” itu terdengar sangat sederhana, tapi selain itu, apalagi yang bisa ia katakan?
Jing Taihe tersenyum tipis, “Kita keluarga sendiri, tak perlu basa-basi. Oh iya, kau kenal dengan Sun Dasheng, bukan? Dia banyak kenalan, pandai bicara, paling jago tawar-menawar. Aku titip padanya untuk membelikan tungku arang dan meja kursi kayu, mungkin satu dua hari ini akan diantar. Nanti aku pinjam gerobak, kita bawa semua barang itu pulang.”
Hua Xiaomai mengangguk ringan, “Baik.”
“Sudah, hari ini aku hanya ingin kau cek, kalau sudah cocok aku pun tenang. Bukankah kau juga mau menjenguk adik keluarga Guan? Pergilah, aku juga harus kembali bekerja,” ujar Jing Taihe sambil tersenyum.
Hua Xiaomai mengiyakan, lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah, mengambil kotak makan yang diletakkan di atas meja.
Saat hendak melangkah keluar dari bengkel pandai besi, ia menoleh sebentar.
Jing Taihe sudah melepas baju luarnya, duduk di samping tungku dan memompa alat pengipas. Angin masuk ke tungku, api melonjak tinggi, memantulkan cahaya merah di wajahnya.
...
Sampai melangkah di jalan desa, Hua Xiaomai masih terlarut dalam perasaannya.
Pasangan suami istri Hua Erniang dan Jing Taihe, satu keras di mulut tapi lembut di hati, satunya lagi jujur dan baik hati. Hidup bersama mereka bukan hanya menghindarkan dari banyak masalah yang menyebalkan, tapi juga sering membuatnya merasa bahagia dan tenteram.
Jadi, bukankah ia benar-benar orang yang sangat beruntung?
Sampai di depan halaman keluarga Guan, Hua Xiaomai berhenti sejenak, mengintip ke dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk dua kali di pintu halaman yang terbuka.
Dari dalam rumah utama segera terdengar suara menyahut, lalu ibu Guan Rong berjalan cepat keluar, “Siapa di sana?”
Hua Xiaomai tersenyum cerah padanya, “Bibi, ini aku. Kudengar Kak Rong sudah sakit beberapa hari, aku datang menjenguk, bagaimana keadaannya sekarang?”
“Oh, adik dari keluarga Hua rupanya!” Ibu Guan Rong tersenyum lebar begitu melihatnya, “Anak kami, Rong, dua hari ini sudah agak baikan. Beberapa hari lalu demamnya tinggi sampai linglung, hampir saja membuatku ketakutan! Terima kasih ya masih ingat padanya, ayo masuk, kemarin aku baru beli jeruk, manis sekali, akan kuambilkan untukmu.”
“Tak perlu repot, Bibi,” Hua Xiaomai buru-buru menahannya, “Aku hanya ingin melihat Kak Rong, berbincang sebentar dengannya. Sudah sepuluh hari lebih ia tak bisa keluar rumah, pasti bosan sekali. Sekarang ia sudah bangun?”
“Baru saja bangun, ada di kamar, tapi masih belum bisa turun dari tempat tidur. Kau mau menemaninya bicara, pasti ia senang.” Ibu Guan Rong menunjuk ke pintu kamar di sisi kiri, “Aku ambilkan air untukmu dulu, ya.”
Ia pun bergegas ke dapur.
Hua Xiaomai berjalan ke depan pintu kamar, mengetuk pelan, lalu mendorong pintu masuk. Begitu masuk, ia langsung melihat Guan Rong bersandar lemah di kepala ranjang, menyambutnya dengan senyum lesu.
Baru lebih dari dua minggu tak bertemu, tubuhnya tampak jauh lebih kurus, rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat pasi, bahkan bibirnya pun nyaris tak berwarna.
Seluruh ruangan dipenuhi aroma jamu yang menyengat, mungkin takut ia masuk angin, semua jendela tertutup rapat tanpa celah, membuat kamar terasa pengap.
“Begitu kau masuk, aku langsung mendengar suaramu,” Guan Rong batuk dua kali, lalu tersenyum serak, “Kupikir kau sudah melupakanku!”
“Mana mungkin?” Hua Xiaomai buru-buru bersikap serius, “Sebenarnya aku sudah ingin menjengukmu dari dulu, tapi dengar dari kakak ipar, kau sedang demam tinggi. Pasti keluargamu juga sangat repot waktu itu, aku datang bukan membantu, malah bisa menambah beban, jadi aku menahan diri menunggu dua hari lagi—masa iya aku setega itu tidak mempedulikanmu!”
“Aku hanya bercanda, kenapa kau malah serius!” Guan Rong tersenyum, matanya menyipit, lalu menepuk tempat di sebelahnya, “Meski aku sakit parah, ini bukan penyakit menular kok, ke sinilah duduk di sampingku!”
Hua Xiaomai menurut, berjalan mendekat, lalu mengeluarkan semangkuk air rebusan daun loquat dari kotak makan dan menyodorkannya, “Dengar-dengar asma-mu kambuh lagi, jadi aku rebuskan air daun loquat dengan gula batu. Ini resep dari kampung halamanku, memang bukan obat, tapi lumayan untuk meredakan batuk dan sesak napas. Rasanya mungkin kurang enak, tapi demi kesehatan, kau harus minum juga. Nanti akan kuajarkan cara membuatnya pada Bibi, sebelum tidur setiap malam minumlah semangkuk, pasti tubuhmu lebih nyaman.”
Guan Rong sangat terharu, segera meminum lebih dari setengah mangkuk, lalu menggenggam jari Hua Xiaomai erat-erat, “Xiaomai, kau benar-benar baik padaku, sampai begitu perhatian pada sakitku. Aku sudah terbaring di tempat tidur lebih dari dua minggu, dan kau yang pertama datang menjengukku!”
“Kenapa harus sungkan begitu?” Hua Xiaomai tersenyum dan mengedipkan mata, “Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau bisa sakit separah ini?”
Guan Rong menghela napas panjang, menundukkan kepala, “Penyakit asmaku selalu kambuh setiap musim semi dan gugur, aku sudah terbiasa, bukan hal besar. Tapi demam ini murni karena kelalaianku sendiri. Malam-malam aku tak bisa tidur, duduk melamun tanpa mengenakan baju hangat, akhirnya masuk angin, sakit bertambah parah, besok paginya tak sanggup bangun. Andai aku terus sakit, ibuku pasti makin khawatir...”
Malam-malam tak tidur dan duduk melamun? Jangan-jangan ada sesuatu yang dipikirkan?
Hua Xiaomai diam-diam menduga, tapi tak bertanya lebih jauh, hanya menepuk tangan Guan Rong, “Iya, yang paling khawatir padamu pasti ibumu. Aku tadi lihat, beliau pun tampak lebih kurus.”
Guan Rong mengangguk pelan, lalu tersenyum, “Akhir-akhir ini kau sibuk apa? Semua bumbu sudah selesai dibuat? Sebelumnya aku sempat berpikir, ingin mengajakmu pergi makan es campur Bu Sun, ternyata aku sakit, semuanya tertunda. Sekarang Bu Sun pasti sudah pindah ke desa lain, benar?”
Soal rencana jualan makanan, karena belum benar-benar dimulai, Hua Xiaomai sebenarnya tak ingin buru-buru mengumumkan. Namun hari ini, setelah melihat Jing Taihe membuatkan peralatan masak yang begitu baik, hatinya sangat gembira, ia pun tak tahan untuk tak berbagi, tanpa berpikir langsung berkata sambil tersenyum lebar, “Bu Sun memang sudah tak ada di sini, tapi nanti kalau kau ingin makan sesuatu di malam hari, tak usah khawatir tak ada tempat.”
Ia mendekat sedikit, lalu berbisik, “Aku berencana berjualan makanan di desa.”
“Kau...” Guan Rong langsung membelalakkan mata, tubuhnya pun langsung duduk tegak. Karena bangun terlalu cepat, ia langsung sesak napas, membuat Hua Xiaomai buru-buru menepuk punggungnya, “Jangan buru-buru, pelan-pelan saja!”
Wajah Guan Rong langsung memerah, ia segera menghabiskan sisa air daun loquat, lalu menata napas, “Kau mau jualan makanan di desa?”
“Iya,” Hua Xiaomai mengangguk, “Aku sudah membujuk kakak keduaku lama sekali, sampai mulutku kering, akhirnya dia setuju juga. Kakak ipar pun sudah selesai membuat semua peralatan, kapan saja bisa mulai jualan. Jadi, kau harus cepat sembuh, aku ingin kau jadi pelanggan pertamaku!”
“Wah, selamat ya! Semua orang di desa, tua muda lelaki perempuan, tahu kau pandai memasak, begitu buka lapak pasti ramai pembeli,” Guan Rong ikut tersenyum, “Tapi, kau mau jual apa?”
“Awalnya aku akan jual mi dulu, kalau laris, baru kutambah makanan dan lauk lainnya, lalu...” Hua Xiaomai mulai bercerita semangat sekali, sampai baru sadar Guan Rong tampak sedikit melamun, ia pun menepuk pundaknya, “Kak Rong?”
“Oh...” Guan Rong baru tersadar, tersenyum agak pahit, “Bagus sekali, kau lebih muda dariku, tapi sudah bisa membantu keluarga, tak seperti aku, hanya membuat orang tua khawatir. Tenang saja, kalau kau buka lapak, aku pasti jadi pelanggan pertama. Kalau kau berani menipuku, aku tak mau bayar!”
Hua Xiaomai tertawa dan mengiyakan, lalu menemaninya berbincang sebentar. Melihat Guan Rong mulai lelah, ia pun pamit pulang. Setelah mengajari ibu Guan Rong cara membuat air daun loquat, ia beranjak pulang ke arah barat desa.
Dua hari kemudian, Sun Dasheng membelikan tungku dan meja kursi untuk berjualan, Jing Taihe meminjam gerobak dan mengangkut semua perlengkapan ke halaman kecil keluarga Jing. Setelah itu, Hua Xiaomai mengajak Erniang pergi ke kota untuk membeli beberapa set mangkuk dan piring bermotif sederhana dan bersih.
“Semua... sudah siap, kan?” Malam itu, menatap perlengkapan yang tersusun rapi di halaman, Erniang tak tahan menggosok-gosok tangannya, agak gugup melirik Hua Xiaomai.
“Ya,” Hua Xiaomai juga merasa berdebar, menatap mata kakak keduanya, “Besok, kita bisa mulai berjualan.”
ps: Terima kasih pada w Chuanfu atas hadiah jimat keselamatannya~