Bab Tiga Puluh Satu: Rompi Antipeluru
Seminggu kemudian, titah kekaisaran pun tiba.
Xu Yingxu kini telah dipromosikan menjadi Jenderal Penakluk Kedua, namun tetap bertugas di Prefektur Datong, dan pasukan garnisun yang semula hanya satu batalion kini boleh bertambah menjadi tiga. Sementara itu, titah untuk Zhu Gui cukup menarik; ia hanya mendapat pujian secukupnya tanpa ada ganjaran nyata apa pun.
Hal ini membuat para pejabat pengiring dari Prefektur Datong, terutama Zhang Mao, benar-benar kebingungan. Ia sulit menebak maksud dari titah tersebut, tetapi melihat sikap Pangeran Dai, tampaknya ia pun tidak terlalu memusingkannya.
Zhu Gui kembali harus mengeluarkan banyak biaya demi mengantar pergi kasim pembawa titah, sekaligus menjamu pejabat dan pedagang yang datang ke Prefektur Datong untuk memberikan selamat. Namun, kali ini ia tetap meminta pengurus rumah tangga yang menyambut para tamu, sedangkan dirinya sendiri menunggang kuda menuju perbukitan belakang untuk meninjau latihan pasukan garnisun.
Tampak kuda-kuda perkasa menderu di dalam arena, membangkitkan debu yang mengepul tinggi. Lalu terdengar suara letupan senapan, disusul suara batu-batu yang remuk. Dua puluh sasaran telah disiapkan, dan kali ini sepuluh peluru tepat mengenai sasaran.
Setengah bulan lalu, prestasi seperti ini hanya bisa dicapai oleh para pengawal pribadi Zhu Gui. Namun kini, para prajurit lain pun sudah mampu menembak dengan hasil serupa di atas kuda.
Zhu Gui sendiri tidak heran. Dalam dua pekan terakhir, ia telah menghabiskan banyak sekali nilai pengalaman hanya untuk membeli amunisi, hampir sebanding dengan harga membeli pengalaman itu sendiri. Namun, hasil latihan kali ini benar-benar membuatnya puas.
Hanya saja, matanya tertuju pada sisi lain arena, di mana seorang sosok menunggang kuda hitam membuat keningnya berkerut. Berbeda dengan prajurit lain yang menggunakan senapan sumbu, sosok itu justru membawa dua pistol di tangannya.
Lebih dari itu, di hadapannya berdiri sepuluh patok kayu, bukan hanya satu. Terdengar suara tembakan bertubi-tubi, dan sepuluh batu di atasnya berjatuhan serempak, meski ada satu peluru yang meleset dan hanya mengenai tepi target.
Sekonyong-konyong terdengar suara nyaring seorang gadis, “Sekali lagi!”
Beberapa prajurit segera berlari dan menata ulang batu-batu di atas patok. Zhu Gui berdeham, dan sosok di atas kuda itu akhirnya menoleh.
“Sudah selesai urusanmu? Mau tanding lagi denganku?” tanya Xu Miaoqing begitu melihat Zhu Gui, lalu melompat turun dari kuda dan melangkah mendekatinya.
“Ehem, sudahlah untuk hari ini. Kudengar kakakmu baru saja naik pangkat jadi Jenderal Penakluk Kedua. Bagaimana kalau kita ucapkan selamat padanya?” cepat-cepat Zhu Gui mengalihkan pembicaraan.
Bertanding dengannya? Mana mungkin! Putri dari keluarga militer jelas bukan lawan sembarangan; bakatnya di atas kuda membuat Zhu Gui hanya bisa mengaku kalah.
“Apa yang perlu dirayakan? Hanya gajinya saja yang bertambah,” jawab Xu Miaoqing, memandang remeh soal jabatan.
“Tidak hanya itu, sekarang ia boleh memimpin tiga batalion garnisun,” ujar Zhu Gui.
“Apa? Tidak adil! Aku juga ingin memimpin pasukan. Semua gara-gara kamu, waktu melawan Mongol tempo hari aku pun berjasa, tapi kenapa kamu tidak mencantumkan namaku? Kalau tidak, mungkin aku sudah jadi jenderal wanita sekarang!” Xu Miaoqing melotot ke arahnya.
Jenderal wanita? Kau kira jadi jenderal itu mudah? Tapi kalau ayahnya bersedia bicara di hadapan Kaisar Zhu Yuanzhang, bukan tidak mungkin. Namun mana bisa Zhu Gui membiarkan istrinya jadi jenderal? Itu akan membuatnya tampak tidak berguna sebagai seorang pangeran.
Dalam hati, ia sudah menolak kemungkinan itu.
“Salahku, salahku. Aku akan memberimu sesuatu yang baru sebagai ganti, oke?” ujarnya dengan nada membujuk anak kecil.
Padahal usia mereka berdua masih sangat muda, belum menginjak dewasa.
“Apa itu? Mana? Cepat kasih aku!” Begitu mendengar ada mainan baru, mata Xu Miaoqing langsung berbinar. Ia menggenggam dua pistolnya, lalu menarik lengan Zhu Gui dengan bersemangat.
Zhu Gui menghela napas, lalu mengeluarkan sesuatu berwarna hitam legam seperti baju dalam dari sakunya.
Xu Miaoqing langsung tertegun melihatnya. Ia melirik ke sekitar, memastikan para prajurit lain masih sibuk berlatih, baru kemudian sedikit lega. Namun ia tetap menarik Zhu Gui ke samping, mencubit lengan bagian dalamnya dan bertanya dingin, “Buat apa kamu kasih aku ini?”
“Eh, jangan cubit, ini untuk melindungimu,” Zhu Gui buru-buru menahan tangan Xu Miaoqing yang mencubitnya, kulitnya terasa halus.
“Melindungiku? Ini dipakai di badan, ya?” tanya Xu Miaoqing curiga.
“Iya.”
“Di dalam baju?”
“Iya.”
“Berani-beraninya kamu bilang ini untuk melindungiku. Dasar mesum, bodoh!” Xu Miaoqing mengangkat tangan, hendak memukul, namun wajahnya merona malu.
“Eh, jangan salah paham. Ini rompi antipeluru, bisa melindungimu dari panah dan peluru. Tapi tentu saja tidak bisa melindungi seluruh tubuh, dan juga tidak bisa menahan meriam,” jelas Zhu Gui, yang tidak tahu Xu Miaoqing salah paham.
“Rompi antipeluru?” Xu Miaoqing baru mengerti setelah mendengar penjelasannya, meski pipinya makin merah.
“Dasar bodoh.”
“Apa lagi salahku?” Zhu Gui mengeluh.
Mereka lalu menguji rompi antipeluru itu, mengikatnya pada patok kayu dan meminta para pengawal menembakinya secara bergiliran. Setelah setiap tembakan, mereka memeriksa kerusakan pada rompi itu.
Hasilnya, satu bagian bisa menahan tiga tembakan senapan sumbu secara beruntun, dan secara keseluruhan mampu menahan dua puluh peluru. Meski tidak sekuat rompi antipeluru modern, hasilnya sudah sangat luar biasa. Selain itu, bahan rompi ini sangat tipis dan ringan, sehingga tidak tampak mencolok bila dipakai.
“Kenapa tiba-tiba kamu kasih aku barang sebagus ini?” tanya Xu Miaoqing senang sambil memeluk rompi satunya.
Wajah Zhu Gui menjadi serius.
“Tidak ada apa-apa, hanya saja, setelah kekuatan senjata api milik istana kita mulai diketahui orang, aku khawatir dalam waktu dekat banyak pihak akan berlomba-lomba mengembangkan senjata api. Aku tidak ingin kau sampai terluka.”
Ini memang masalah turunan yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya.
Tiga hari lalu, seorang utusan rahasia dari Nanjing, mengaku sebagai utusan Pangeran Yan, diam-diam mengunjungi kediaman Pangeran Dai. Ia secara terbuka menyampaikan ketertarikan Pangeran Yan terhadap senjata api baru milik Zhu Gui, dan berharap Zhu Gui bersedia memberikan beberapa contoh.
Setelah berpikir matang, Zhu Gui memutuskan untuk memberikan dua pucuk senapan sumbu. Namun hal ini tetap membuat hatinya tidak tenang.
Ia tahu betul bahwa senapan sumbu hasil sistem tidak bisa dibongkar atau ditiru. Kalau bisa, ia pun sudah lama memproduksinya sendiri, bukan menukar dengan nilai pengalaman di toko sistem. Namun, tidak berarti para perajin tidak bisa terinspirasi dari senapan itu dan mempercepat kemajuan senjata api.
Dalam sejarah, peran senjata api di medan perang pada masa Dinasti Ming sangat terbatas. Zhu Gui tidak tahu apakah kehadirannya akan mengubah jalannya sejarah terlalu drastis. Hal lain masih bisa diterima, tetapi Pemberontakan Jingnan sama sekali tidak boleh berubah. Jika tidak, semua usahanya selama ini akan sia-sia.
Xu Miaoqing, yang tidak tahu kekhawatiran Zhu Gui, masih tenggelam dalam kebahagiaan menerima hadiah darinya.
Saat itu juga, seorang pelayan istana yang dikawal prajurit mendekat.
“Pangeran, utusan dari Pangeran Yan datang lagi.”
Datang lagi? Begitu tidak sabarkah Pangeran Yan?
“Kita kembali ke istana,” kata Zhu Gui pada Xu Miaoqing.
“Baik,” jawab Xu Miaoqing. Kali ini ia tidak membantah Zhu Gui.