Bab 144: Air Kotor Tidak Bisa Disiramkan
Linglong berkata dengan wajah serius, "Hamba juga merasa ini sangat tidak masuk akal, itulah sebabnya hamba bergegas datang ke sini untuk melapor kepada Baginda, dan memohon agar Baginda berkenan menegakkan keadilan bagi Nona Mei."
Kaisar mendesak, "Selir Li, dari mana kamu mendengar desas-desus semacam itu?"
Linglong menjawab, "Dari mana lagi hamba bisa mendengarnya, sekarang desas-desus itu telah menyebar ke seluruh istana. Siapa pun yang bertanya akan mendengarkan beberapa versi cerita, yang bahkan jauh lebih dramatis daripada pertunjukan di atas panggung."
Nona Mei tidak dapat menahan diri lagi, ia bersimpuh di lantai, menarik ujung jubah naga Kaisar sambil menangis, "Baginda, mohon katakan pada Selir, apakah anak hamba benar-benar siluman yang berjenis kelamin tidak jelas?"
Kaisar berkata dengan tegas, "Tentu saja bukan, bagaimana mungkin anak kita menjadi siluman? Kabar angin itu sama sekali tidak berdasar dan tidak layak dipercaya, lebih baik kamu jaga kesehatanmu dengan baik."
Nona Mei meratap, "Tetapi, berita di luar sana terdengar begitu nyata dengan berbagai detail yang sangat jelas, seolah-olah mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Selir tidak punya pilihan selain mempercayainya. Ternyata yang dilahirkan oleh Selir benar-benar seekor siluman, untuk apa lagi Selir hidup di dunia ini, lebih baik mati saja."
Keributan dengan tangisan dan ancaman bunuh diri yang bertubi-tubi itu membuat Kaisar merasa muak, wajahnya menjadi sangat suram.
Memanfaatkan kesempatan itu, Linglong berkata, "Sebenarnya siapa yang menyebarkan desas-desus ini? Bahkan hamba yang membantu mengurus urusan enam istana pun tidak mengetahui kondisi persalinan Nona Mei, bagaimana orang itu bisa mengetahuinya?"
Mendengar hal itu, Kaisar perlahan membalikkan tubuhnya, pandangannya jatuh kepada Permaisuri dan Sun Bin, lalu berkata dengan dingin, "Hari di mana Nona Mei melahirkan, hanya ada Aku, Permaisuri, Sun Bin, serta tabib dan bidan yang membantu proses persalinan yang melihat bayi itu. Setelah anak itu meninggal, Aku menghukum mati tabib dan bidan tersebut karena dianggap lalai hingga menyebabkan kematian pangeran. Sekarang, satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Aku dan kalian berdua. Aku tidak mungkin menceritakannya kepada orang lain, apakah salah satu dari kalian yang telah membocorkannya?"
Permaisuri, yang ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, buru-buru berkata, "Tidak, Baginda. Masalah ini menyangkut kehormatan keluarga kekaisaran, bagaimana mungkin hamba yang berkedudukan sebagai Permaisuri berani membocorkannya sedikit pun."
Sun Bin juga menimpali, "Baginda, Hamba sangat tahu betapa besar masalah ini. Sekalipun Hamba diberi seratus nyali, Hamba tidak akan pernah berani mengatakannya!"
Kaisar berkata dengan dingin, "Masalah ini pasti sengaja disebarkan oleh seseorang untuk mengacaukan ketenteraman istana belakang. Aku sama sekali tidak akan membiarkan orang yang berniat jahat seperti itu berkeliaran. Sun Bin, segera selidiki masalah ini dan cari tahu siapa orang bodoh yang berani berbuat nekat. Begitu tertangkap, apa pun identitasnya, Aku tidak akan mengampuninya."
Dengan tubuh gemetar ketakutan, Sun Bin buru-buru bersujud dan berkata, "Baik, mohon Baginda tenang. Hamba pasti akan menyelidiki masalah ini hingga tuntas dan tidak akan membiarkan orang licik semacam itu berbuat semena-semena di istana belakang."
Masalah ini sebenarnya bermula dari kelengahan Sun Bin yang keceplosan bicara saat mabuk, yang kemudian dimanfaatkan oleh Linglong untuk memperkeruh keadaan hingga menjadi sebesar ini.
Demi membersihkan namanya, Sun Bin tentu saja tidak mau terseret dan berniat mencari kambing hitam untuk menanggung kesalahan tersebut.
Secara diam-diam, Permaisuri memanggil Sun Bin untuk berdiskusi guna melihat apakah ia bisa menimpakan kesalahan besar ini kepada Linglong, sehingga meskipun ada Ibu Suri yang menjadi pelindungnya, Linglong tetap harus menanggung akibat yang berat.
Tanpa disadari oleh mereka, Linglong telah lama mewaspadai siasat tersebut. Pada hari Nona Mei melahirkan, dengan alasan Ibu Suri sedang sakit, ia pergi ke Istana Cining untuk melayani dan merawat di hadapan Kaisar. Selama waktu itu, ia tidak pernah menginjakkan kaki ke Istana Yanxi, apalagi berhubungan dengan para pelayan di sana, sehingga ia berhasil membersihkan dirinya sepenuhnya.
Sekalipun Sun Bin berniat untuk mengotori namanya, ia tidak akan bisa menemukan celah untuk melakukannya.