Bab 65: Pertarungan dalam Upacara Salam Pagi
Sang Permaisuri Agung melihat semua orang masuk dan memberi salam, lalu tersenyum lembut, “Kaisar baru naik takhta, segalanya serba baru. Melihat kalian berdandan cantik, suasana hatiku pun ikut membaik.”
Sang Permaisuri ikut tertawa, “Kalau bicara soal kecantikan, tak ada seorang pun di istana ini yang bisa menandingi Ibu Suri. Kudengar saat muda, Ibu Suri sudah menyandang gelar wanita tercantik di Dinasti Zhou, tak heran Kaisar Xiao sangat mencintai Ibu Suri.”
Sang Permaisuri Agung menjawab datar, “Itu semua hanyalah kenangan lama. Untuk apa membicarakannya lagi? Wajah muda yang indah sekalipun tak bisa melawan kejamnya waktu. Hanya bisa pasrah melihat tahun-tahun berlalu, menggoreskan kerutan demi kerutan.”
Ia mengangkat tangan, “Sudahlah, jangan berdiri terus. Silakan duduk.”
Semua orang duduk sesuai kedudukannya. Sang Permaisuri Agung terlebih dahulu menanyakan kabar kaisar, menjalankan tradisi kehangatan palsu ala istana belakang, baru kemudian membicarakan urusan istana.
Ia berkata, “Kaisar baru naik takhta, sebagai ibunda kaisar, aku tak bisa tidak memikirkan keturunannya. Permaisuri, tahukah kau keturunan kaisar mana yang paling berharga?”
Permaisuri bangkit dan menjawab, “Menjawab Ibu Suri, selama itu anak kaisar, semuanya sama-sama mulia, tak ternilai harganya. Namun jika harus memilih yang paling mulia, tentulah putra sah dan putra sulung.”
Permaisuri Agung mengangguk, “Dari generasi ke generasi, aturan kekaisaran selalu mementingkan garis utama dan putra sulung. Maka putra sah dan putra sulung adalah yang paling berharga. Tapi masih ada satu lagi yang juga sangat berharga, tahukah kalian siapa?”
Semua menunduk berpikir sejenak. Selir Rou, Tang Xuemian, berkata, “Sepertinya itu adalah anak pertama yang lahir setelah kaisar naik takhta, itu sungguh anak yang agung.”
Sang Permaisuri Agung berkata, “Benar. Putra sah mulia, putra sulung mulia, anak agung pun demikian, semuanya sama-sama mulia. Sekarang kaisar belum punya anak. Jika permaisuri bisa melahirkan anak pertama setelah kaisar naik takhta, maka ia adalah putra sulung, anak agung, sekaligus lahir dari permaisuri—benar-benar putra utama yang paling mulia. Kalau anak itu lahir dari selir, ia tetap menggabungkan status putra sulung dan anak agung, tetap sangat terhormat.”
Ia memandang permaisuri dengan arti mendalam, “Permaisuri, semoga kau tak mengecewakan aku.”
Ucapan Permaisuri Agung ini di permukaan tampak seperti perhatian pada keturunan kaisar dan harapan besar pada permaisuri, tapi sebenarnya ia sedang menanam benih permusuhan untuk permaisuri.
Jika benar permaisuri melahirkan anak kaisar pertama, maka putranya akan menjadi pewaris utama yang tak terbantahkan di Dinasti Zhou, selama anak itu tidak meninggal muda, dialah calon putra mahkota yang sah.
Linglong duduk di bawah, sambil memegang cawan teh, matanya melirik para selir di istana.
Para selir berpangkat rendah masih tampak biasa saja, tapi para selir berpangkat tinggi seperti Selir Hui dan Selir Rou, mata mereka sudah memancarkan sorot dingin.
Prajurit yang tak ingin jadi jenderal, bukan prajurit sejati. Begitu pula, selir yang tak ingin jadi permaisuri agung, bukanlah selir sejati.
Permaisuri adalah istri utama. Walaupun tak punya anak, selama ia kokoh di posisinya, kelak ia tetap bisa menjadi ibunda kaisar dan permaisuri agung. Tapi selir yang ingin mencapai posisi itu, hanya bisa bergantung pada status anak.
Jadi, jika permaisuri punya putra sah dan anak itu putra sulung, maka tak akan ada dua permaisuri agung di masa depan. Para selir pun kehilangan harapan naik pangkat lewat anak.
Permaisuri bukan orang bodoh, tentu ia tahu Permaisuri Agung sedang memanaskan suasana. Ia buru-buru berkata, “Hamba ini kurang beruntung, sudah beberapa tahun menikah dengan kaisar, perut pun belum ada tanda-tanda. Kalaupun suatu hari hamba ini diberi anugerah, belum tentu dikaruniai putra. Sebenarnya, laki-laki atau perempuan sama saja. Jika bisa seperti adik Hui, melahirkan putri kecil yang manis dan disayang kaisar, itu pun sudah sangat membahagiakan.”