Bab 71:
Insiden yang melibatkan Permaisuri Hui hanyalah sebuah selingan kecil. Setelah kejadian itu, Kaisar merasa sedikit bersalah kepada Permaisuri, sehingga ia memanjakannya selama tiga hari penuh.
Baru pada hari keempat, ia pergi mengunjungi selir kesayangannya, Selir Rou, sang kecantikan lembut, dan menghabiskan dua hari bersamanya. Setelah itu, ia pun memilih kartu hijau milik Linglong.
Untuk urusan menemani tidur, Linglong sudah lama bersiap-siap. Bukankah itu hanya urusan begitu saja? Meski belum pernah benar-benar melakukannya, setidaknya ia sudah sering melihat atau mendengarnya.
Sejak saat itu, jika ingin mengejek seseorang yang sangat genit, orang-orang akan berkata, “Kenapa kamu memakai baju tidur milik Pinru?” Meskipun pakaian yang dikenakan tidak benar-benar mencolok, selama ada kesan genit dalam ucapan atau tingkah laku, kalimat itu tetap saja keluar: “Kenapa kamu memakai baju tidur milik Pinru?”
Baju tidur Pinru ini adalah karya eksklusif dari Dewa Penjelajah Waktu, yang memiliki kekuatan ajaib luar biasa. Begitu dikenakan, baju ini dapat menciptakan gelombang pesona buatan yang mampu menarik para pria brengsek. Semakin kuat sifat buruk mereka, semakin dahsyat hawa genit yang terpancar. Pada puncaknya, bahkan jika kau membeli sepuluh kotak pembersih wanita di hari belanja daring terbesar, tetap saja tak mampu menghilangkan bau genitnya. Hampir tak ada pria brengsek yang bisa tahan, sungguh menakutkan!
Bisa dibilang, dengan mengenakan baju tidur Pinru, kau memiliki kemampuan untuk menaklukkan semua pria brengsek di dunia—benar-benar senjata pamungkas penakluk pria.
Namun, keunikan baju tidur Pinru ini terletak pada perbedaan makna 'genit' di zaman dulu dan sekarang. Genit di masa kini mengarah pada perilaku centil, seronok, dan cenderung cabul. Sebaliknya, di masa lampau, genit justru bermakna kebalikan—bukan hal yang hina, bahkan bisa menjadi simbol keanggunan.
Jika bicara soal genit, tak bisa lepas dari sastra klasik. Sastra klasik Tiongkok terbagi menjadi dua aliran: realisme dan romantisme. Realisme berakar pada ‘Nyanyian Negeri’ dalam Kitab Puisi, sedangkan romantisme bermula dari karya Qu Yuan, “Li Sao”, yang keduanya secara bersama dikenal sebagai ‘Feng Sao’ atau ‘angin dan genit’.
Di masa lalu, ‘genit’ adalah jenis karya sastra. Sastrawan dengan semangat romantis disebut ‘pengelana genit’, sementara penyair yang bisa melahirkan bait-bait romantis disebut ‘penyair genit’, seperti Li Bai yang dijuluki Dewa Puisi.
Jadi, ‘aroma genit’ zaman dulu berarti seseorang kaya ilmu dan kemilau dari dalam. Ucapan “Kamu sungguh genit” di masa lalu adalah pujian tertinggi bagi seorang cendekiawan.
Linglong, yang datang dari masa kini ke negeri fiktif masa lalu sambil mengenakan baju tidur Pinru, telah membawa serta dua jenis ‘genit’: yang kuno dan yang modern.
Genit zaman dulu memancar dari penampilan luar—membuat pemakainya tampak cerdas dan berbakat. Di masa ketika “wanita tanpa bakat adalah kebajikan”, perempuan berilmu sungguh langka, laksana tanduk burung phoenix. Itulah sebabnya Li Qingzhao dijuluki ‘Srikandi Puisi Sepanjang Zaman’.
Memang benar adanya, sesuatu yang langka pasti berharga, begitu pula manusia.