Pengumuman Peluncuran dan Keterangan Cuti
Buku ini akan mulai terbit pada tanggal 1 Desember, sepertinya sekitar pukul 12 siang. Itu awal bulan, jadi seharusnya kalian masih punya simpanan uang, kan? Nantinya mohon dukungan dengan pembelian perdana, ya. Semoga pencapaian buku ini bisa lebih baik daripada “Iblis Dalam Hati”, karena sekarang aku sudah menjadi penulis penuh waktu, bahkan masih ingin membeli sebuah pulau kecil untuk membangun rumah.
Hari ini aku ingin izin tidak menulis. Beberapa hari belakangan, karena pergantian musim, rinitis alergiku kambuh lagi. Kepala sakit, mata berair, rongga hidung dan mulut sama-sama sariawan, bicara pun terasa tidak nyaman. Akibatnya, pikiranku jadi buntu, naskah cadangan yang sudah aku simpan selama empat hari pun habis semua, dan hari ini otakku masih belum jernih sehingga tidak bisa menulis. Sebenarnya aku tahu harus menulis apa, tapi karena sebentar lagi akan memasuki puncak cerita yang pertama, aku khawatir tulisanku jadi hancur—ibaratnya seperti kalau kita ingin makan makanan favorit, pasti harus cuci muka dan tangan dulu, menyiapkan peralatan makan, dan menikmatinya dengan tenang.
Sebenarnya, dua bab terakhir ini saja aku kurang puas, karena menulisnya dalam kondisi stamina tidak sampai empat puluh persen.
Mungkin rinitis ku ini adalah karma. Dulu waktu SD, teman sebangkuku suka mengupil. Aku pulang mengeluh pada ibuku, lalu beliau bilang, “Jangan suka membicarakan orang, nanti kamu juga bisa pilek.” Eh, ternyata benar juga (input metode Sogou juga lucu, istilah “satu kata jadi kenyataan” saja tidak bisa otomatis keluar).
Waktu kelas satu SMA, pernah suatu musim dingin aku kena flu. Saat itu dengar kabar *** kena flu tapi tidak minum obat, aku pikir aku juga tidak usah minum. Soalnya aku memang tidak suka minum obat, dan air matang di rumah pun baunya seperti kaporit. Akhirnya setelah dua minggu, aku kena rinitis. Jadi, kalau kalian flu, wajib minum obat.
Saat SMA, aku juga pernah ke rumah sakit untuk membakar bagian hidung dengan laser. Dokternya bilang tidak sakit dan tidak perlu bius, lalu menyuruhku duduk di kursi dan mulai membakar. Sampai-sampai aku meremukkan kursinya.
Berbagai ramuan tradisional dari kalian, akan kucoba semuanya.
Dunia dalam buku ini adalah dunia lama milik Dokter Li.
Paket belanjaan saat Harbolnas-ku masih ada satu yang belum sampai.
Hari ini cuacanya cukup baik, sore tadi aku jalan-jalan ke taman, beli beberapa jeruk dan pisang.
Suasana jadi sepi.
Sampai di sini saja, ya.
Pengumuman terbit dan penjelasan izin untuk “Rencana Perburuan Dewa” sedang diproses, mohon tunggu sebentar. Setelah konten diperbarui, silakan segarkan halaman untuk mendapatkan pembaruan terbaru!