Bab Seratus Dua Puluh Enam: Kekayaan
Saat berikutnya, kuku-kuku itu menyentuh segel pelindung milik Yu Taisu.
Cahaya keemasan seketika meledak dengan liar, seolah-olah titik sentuh tersebut menjadi medan pertempuran yang sengit. Awalnya, segel itu hanyalah lapisan tipis yang nyaris tak kasat mata, di mana orang harus memperhatikan dengan saksama untuk melihat siluet melengkung di udara. Namun, pada saat ini, segel tersebut menjadi berkilauan, dengan riak demi riak yang menyebar dengan cepat dari titik kontak ke seluruh penjuru pelindung.
Wajah Yu Taisu berubah seketika karena ia akhirnya merasakan apa yang dikatakan Li Qingyan tadi—kekuatan pria itu yang begitu unik.
Ia tidak tahu bagaimana harus menyebut kekuatan itu. Sangat mirip dengan energi spiritual, tetapi jauh lebih buas dan pekat. Begitu menyentuh segel pelindung, kekuatan itu langsung menggerogoti layaknya pemangsa yang rakus. Segel pelindung itu bukanlah lapisan yang sederhana; di dalamnya terdapat banyak perubahan yang mampu menangkis berbagai macam jurus sakti.
Namun, semua perubahan itu pada akhirnya tetap berpijak pada energi spiritual sebagai sumbernya. Sedangkan kekuatan Li Qingyan, dengan cepat mengikis energi spiritualnya sendiri!
Yu Peiyan tidak mampu memahami seluk-beluknya, tetapi melihat fluktuasi pada segel pelindung, ia tahu situasinya mungkin sudah memburuk. Ia mengertakkan gigi dan berbisik, "Nona Yu, jika Anda bisa bertahan selama dua menit, maka setelah ini saya—"
Seolah-olah kalimatnya adalah jarum yang menusuk gelembung sabun.
Terdengar suara dengungan yang sangat halus.
Segel pelindung itu lenyap.
Dua kuku Li Qingyan melesat, menembus bahu Yu Peiyan, dan mengangkatnya ke udara.
Pejabat tinggi Departemen Pertahanan itu ternganga seperti ikan yang sekarat karena kehausan. Tenggorokannya tercekat, tak mampu berkata-kata. Bukan hanya karena rasa sakit yang luar biasa di bahunya, melainkan karena rasa putus asa yang menghancurkan hatinya—bagaimana mungkin... ada orang... yang benar-benar bisa menembus segel pelindung Yu Taisu!?
—Dalam waktu kurang dari dua detik!
"Nona Yu." Sang naga mengangkat Yu Peiyan seolah sedang menjepit seekor serangga, lalu menatap sang kultivator wanita, "Apakah kata-katamu tadi masih berlaku?"
Setelah keheningan yang panjang, Yu Taisu mengembuskan napas perlahan dan mundur selangkah.
"Li Qingyan. Tadi, saat di Taman Taiqing, apakah kau sedang mempermainkanku?"
Sang naga mengembuskan kabut putih dan mengeluarkan tawa rendah, "Aku katakan tidak. Saat itu aku memang bukan lawanmu. Sebenarnya sekarang pun, kau masihlah sosok yang membuatku harus mengerahkan seluruh konsentrasi. Namun, kekuatanku ini mungkin kebetulan bisa meredam kekuatanmu—barangkali jika kita lebih sering berurusan ke depannya, kau akan menemukan cara untuk menghadapiku."
Yu Taisu mengangguk, "Baiklah. Aku kalah. Aku menghormati kekuatanmu, dan aku menyukai keterbukaanmu."
Ia menggigit bibirnya, "Tapi aku tidak rela."
Sang naga menundukkan kepalanya, menatap Yu Peiyan dengan salah satu matanya yang raksasa—di mana pria itu melihat bayangan dirinya sendiri terpantul di sana.
Kacamata terjatuh, rambutnya berantakan. Separuh tubuhnya basah kuyup oleh darah yang menetes ke ujung celananya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya... Ia belum pernah melihat dirinya sendiri yang seperti ini!
Barulah saat ini ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya—sebelumnya ia mengira dirinya sudah cukup takut, namun masih bisa mengendalikan keadaan. Namun, saat berhadapan dengan binatang raksasa ini, untuk pertama kalinya timbul rasa kecil hati yang begitu kuat. Hidup dan matinya dikendalikan oleh orang lain... segala sesuatu tidak lagi berada dalam kendalinya.
Orang-orang itu... mereka yang tewas dalam rencana besarnya semalam...
Apakah mereka juga merasakan hal yang sama?
Pertahanan mental terakhirnya runtuh—mungkin kelak akan dibangun kembali dan menjadi kokoh, tetapi setidaknya untuk saat ini, semuanya telah hancur berantakan.
Sebelum sang naga kembali bersuara, Yu Peiyan mengangkat tangannya yang masih bisa digerakkan. Dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, ia mengambil ponsel dari saku bagian dalam.
"Aku... akan merekamnya sekarang... aku akan merekamnya... semuanya akan kukatakan sesuai keinginanmu... Li Qingyan, membunuhku akan membawa masalah besar... banyak hal yang bisa kita bicarakan..."
"Kalau begitu, mulailah," ujar sang naga.
Yu Peiyan segera memaksakan diri. Dengan keteguhan hati yang bahkan tak ia sangka sendiri, ia menahan rasa sakit yang hebat, hawa dingin di udara, serta kemungkinan adanya mata-mata lain yang mengawasinya—karena saat ini ia memang bisa melihat pasukan militer dan kepolisian dalam jumlah besar sedang berkumpul kembali di kejauhan. Ia membuka ponsel, mengaktifkan mode kamera, lalu mulai merekam dengan pelafalan yang jelas dan logika yang tertata.
Di bawah ancaman kematian dan kekuatan yang tak terduga, ia melakukan tugas itu dengan sangat baik. Hanya dalam dua puluh tiga detik, ia memaparkan dengan jelas sebab dan akibat dari seluruh kejadian yang ia ketahui.
Setelah menyimpan rekaman itu dan menutup ponselnya, dengan gigi terkatup dan suara bergetar ia bertanya, "Sekarang... di mana harus kutaruh benda ini?"
Sang naga mengangkat kaki depannya yang lain. Dua kuku raksasanya menjepit ponsel yang tampak seperti sebutir wijen jika dibandingkan dengan ukurannya—ponsel itu bahkan tidak tergores sedikit pun oleh kuku yang sangat tajam tersebut—lalu memasukkannya ke dalam celah sisik tubuhnya.
Begitu kuku itu terbuka, Yu Peiyan jatuh ke tanah dan langsung pingsan—tampaknya kedua kakinya patah.
Yu Taisu menghela napas panjang tanpa memedulikannya. Ia sama sekali tidak terkejut Li Qingyan tidak membunuhnya. Bukan hanya karena ia merasa Li Qingyan adalah orang yang memegang teguh janji, tetapi ia juga tahu bahwa apa yang dilakukan Li Qingyan kepada Yu Peiyan jauh lebih menyakitkan dan menyiksa daripada sekadar membunuhnya. Terkadang, kematian justru merupakan sebuah kebebasan—bagi seseorang dengan status dan kedudukan seperti Yu Peiyan, siksaan ini kemungkinan besar akan menjadi trauma batin yang menghantuinya seumur hidup.
Yang lebih fatal lagi, hal yang sedang ia lakukan saat ini membuatnya tidak mungkin bisa mengerahkan segala sumber daya untuk membalas dendam kepada Li Qingyan. Ia hanya bisa menelan ludah, menahan amarah, atau "tidur di atas kayu bakar dan menjilat empedu" untuk sementara waktu, hingga ia kelak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan "urusan pribadi" ini.
Proses itu mungkin akan sangat panjang.
Saat itu, sang naga mengalihkan pandangannya ke arah Dumfries, "Tuan Dumfries, kau menjanjikan satu hal padaku namun tidak kau tepati—bagaimana aku harus menghukummu?"
Saat ini akhirnya tiba, dan Dumfries justru tampak merasa lega. Ia tidak mundur seperti Yu Peiyan, melainkan melangkah maju, "Aku berjanji padamu untuk tidak membunuh Yang Tao saat aku menjadi pengajar di kelas pelatihan. Namun, saat aku membunuhnya, aku bukan lagi berstatus sebagai pengajar."
Ia kemudian tertawa kecil, "Itu mungkin bisa disebut sebagai sofisme—Li Qingyan, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan."
Lalu, ia memejamkan matanya.
Sang naga mendongak sedikit, "Apa maksudmu? Membunuhmu? Aku tahu kau seorang ahli nujum, dan sekarang ini mungkin hanyalah salah satu klonmu. Jika aku tidak bisa menghancurkan kotak jiwamu, itu hanya akan melukaimu parah. Apa untungnya bagiku?"
"Lagipula... bisa dibilang aku sudah cukup menindasmu. Yang Tao juga belum benar-benar mati—aku bisa memberimu jalan untuk hidup."
Dumfries tertegun sejenak, lalu perlahan membuka matanya. Ia merasa seolah melihat secercah harapan, "Lalu... apa yang kau inginkan?"
"Lihatlah diriku saat ini, menurutmu apa yang paling kusukai?" Sang naga menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang raksasa dan tajam berkilauan di bawah sinar matahari. Karena gerakan itu, beberapa orang di antara pasukan yang sedang berkumpul dan perlahan merangsek maju di kejauhan mengeluarkan seruan terkejut, namun Li Qingyan tetap mengabaikan pergerakan mereka.
"Tentu saja harta karun. Atau dengan kata lain, uang."
"...Ah?" Dumfries terdiam sejenak, "Uang?"
"Yuan Asia." Sang naga menatap manusia kecil di hadapannya dengan mata raksasanya, "Kudengar Tuan Dumfries adalah seorang bangsawan yang memiliki wilayah kekuasaan—berapa banyak uang yang bisa kau keluarkan untuk meredam amarahku?"
Barulah saat itu Dumfries tersadar. Ia mengembuskan napas panjang, "Aku... biarkan aku berpikir, aku... dana yang bisa kucairkan saat ini ada tiga ratus lima puluh juta Yuan Asia. Jika kau..."
"Aku ingin semuanya," ujar sang naga.