Bab Lima Puluh Satu: Kebebasan
Pesta minuman akhirnya usai.
Usai piring dan gelas berserakan, Yan Qi meninggalkan meja penuh sisa makanan, menjadi yang pertama keluar dari ruangan.
Malam ini ia hanya minum dua gelas, wajahnya tampak sedikit mabuk, langkah kakinya pun lebih lambat dari biasanya. Sedikit minuman seperti itu tidak sampai membuatnya tersandung, hanya saja, saat berjalan seorang diri, tak ada lagi yang diajak bicara, entah itu omongan mabuk atau percakapan singkat, tanpa pendengar, semua terasa hambar.
Barangkali karena dampak bencana naga hari ini, atau karena malam sudah larut, selain satpam kelelahan di gerbang kompleks, tak tampak seorang pun di jalan. Ia kembali melangkah beberapa saat, pandangannya tertarik pada iklan terang benderang di halte bus, lalu ia duduk di bangku panjang di bawah papan nama.
Yan Qi memperhatikan bentuk halte, lalu melirik isi iklan.
Iklan elektronik tanpa suara berganti-ganti di atas halte: album baru idola ternama, perekrutan laboratorium universitas, kampanye keselamatan agar berhati-hati menggunakan kekuatan super...
Ia mendengus geli.
"Ganti bungkus, isinya tetap saja sama seperti di luar."
Saat itu, suara langkah berat memecah keheningan. Bayangan besar dan lebar muncul dari gelap dan masuk ke bawah cahaya.
Ia refleks ingin mengambil saputangan untuk mengelap dahi, tapi baru memasukkan tangan ke saku lalu menariknya kembali. Awal Februari udaranya sejuk, bahkan pria setengah baya dengan tubuh gemuk seperti dia pun tak sampai berkeringat hanya berjalan beberapa langkah.
Orang itu mengenakan jubah pejabat ungu yang longgar, di kepalanya terpasang topi kecil pejabat, tak lain adalah Liu Zhongwu dari Distrik Cangshou. Ia menajamkan pandangan, melihat lelaki di bangku itu dengan lingkaran hitam di bawah mata, segera melangkah cepat mendekat dan bertanya dengan cemas, "Tuan Yan, Anda terluka?"
"Udah, nggak usah basa-basi." Yan Qi mengeluarkan sebuah gulungan dan melemparkannya ke arahnya, "Nih, surat dari Kaisar."
Direktur Liu dengan hormat menadahkan kedua tangan, membungkuk menerima gulungan itu, menaruhnya dalam kotak giok, gerakannya cekatan dan hati-hati, seolah sedikit saja terlambat benda itu akan ternoda debu.
Setelah selesai, Liu Zhongwu menghela napas lega.
Ia duduk di samping Yan Qi, dengan tubuh besarnya mendorong lelaki tinggi itu hingga ke ujung bangku, lalu dengan nada yang sangat berbeda dari sebelumnya berkata, "Kena bogem juga ya, bangke?"
Yan Qi tertawa sambil memaki, "Ada titah dipanggil Tuan Yan, nggak ada titah langsung bangke? Lihat nih, muka pejabat gendutmu!"
"Kami para pejabat harus bisa bedain urusan pribadi dan dinas." Pejabat paruh baya itu tenang saja, mengeluarkan sebungkus rokok dan menyodorkan sebatang pada preman di sampingnya.
Yan Qi menolak dengan tangan. Tuan Liu memasukkan rokok ke mulut sendiri, menyalakan api, dan menghembuskan asap putih.
"Ah... Tuan Yan bertindak tegas, menyelamatkan situasi genting, membawa sekelompok orang berbahaya itu memang terpaksa, saya anggap saja nggak lihat. Tapi kenapa pula kau bawa cucu perempuan Kakek Qin..."
Lelaki tinggi itu mengibaskan tangan, mengusir asap dengan kesal.
"Anak muda harus cari pengalaman! Kalau nggak suka, suruh dia sendiri yang datang."
"Saya juga mau, aula upacara dari atas sampai bawah tak satu pun yang bisa digerakkan, siapa yang bisa saya mintai tolong?" Tuan Liu mengeluh, "Sedikit saja bergerak, langsung jadi isu politik internasional. Mereka bilang Kekaisaran Yongguang sengaja memicu bencana naga, saya mau adu argumen dengan siapa?"
"Bodoh, siapa berani nuduh, siapa juga yang bakal kau kutuk mati." Yan Qi menguap, "Gimana hasil penyelidikannya?"
"Kurang bagus, semua orang di Lembaga Penelitian Shi Yu mati, tak ada jejak yang tersisa. Tuan Yan punya pendapat?"
Yan Qi mencibir, "Kalau orang Sekte Tujuh Cahaya yang turun tangan, mungkin masih ada harapan, tapi kumpulan tolol itu mana sanggup menciptakan teknik penyatuan?"
"Morton sudah banyak terbantu berkat utang budi kalian, jadi prosesnya lebih mudah, tapi tetap saja belum bisa mengungkap bagaimana kaca itu bisa jatuh ke tangan naga gila. Pulau Nol selanjutnya makin sulit..."
Yan Qi mengelus dagu, menegaskan, "Pulau Nol bermasalah."
"Nggak ada bukti. Pengguna hukum lokal mereka sedikit, nomor 0 setelah membasmi para gila itu bisa kabur, sangat masuk akal."
"Apa gunanya bukti, suruh Kaisar tekan, kirim orang ke sana! Kali ini sudah dapat pegangan besar, mana bisa mereka menolak!"
Lelaki tinggi itu menepuk bangku, pejabat gendut hanya menggeleng-geleng.
"Kita sudah menangani semua urusan kali ini, sudah banyak yang mulai bicara. Tunggu saja, tunggu momen yang tepat."
Liu Zhongwu menghembuskan asap terakhir, mematikan puntung, lalu berkata, "Masih ada setengah kristal di Pegunungan Ebinos..."
"Itu sudah disepakati dengan Kaisar, simpan buat bahan penelitian dan negosiasi."
"Baik, baik."
Liu Zhongwu tak punya kata, hanya menatap langit malam yang gelap.
Itulah arah kemunculan Naga Kaca.
Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada putus asa, "Kapan semua ini akan berakhir?"
Berbanding terbalik dengan pejabat gemuk di sampingnya, lelaki tinggi itu tampak penuh semangat.
"Sejak Suphebia sampai sekarang, sudah tiga tahun penuh tanpa bencana naga penjara spiritual."
Pejabat gemuk itu menoleh tajam, daging di wajahnya bergetar, "Serius?!"
"Mana ada serius, aku cuma nebak! Tiga tahun mana cukup lihat polanya." Yan Qi mencubit dagunya dan tertawa, "Tapi Yan Qi tak pernah salah tebak."
"Ck, tak usah bicara yang lain, pernyataan itu sih aku percaya..." Liu Zhongwu bangkit sambil bertumpu pada lutut, lelah di wajahnya hilang tergantikan semangat, "Malam ini kau menginap di mana?"
"Sial! Seharian sibuk sampai lupa. Carikan aku hotel paling mewah!"
"Waduh, masih minta hotel mewah. Aku punya vila kecil, langsung saja kau ke sana. Menghadap kepala naga, pemandangannya bagus, ada koki, ada taman, alat tulis lengkap, bebas kau berkreasi..."
Bus malam terakhir datang, berhenti di samping halte, supir mengucek mata.
Barusan dia seperti melihat dua bayangan, satu tinggi satu gemuk, duduk di bangku, tapi saat mendekat, halte itu kosong.
Mungkin tadi lihat hantu, atau mungkin efek bencana naga malam ini bikin berhalusinasi.
Sudah kejadian besar begini, masih saja tak boleh pulang, tempat kerja apa ini.
Supir itu menggerutu dalam hati, seperti biasa, pura-pura tak lihat apa-apa.
Bus menutup pintu dan melaju pergi.
Tak ada penumpang naik, bangku halte pun kosong tanpa siapa pun menunggu.
·
Pukul sebelas empat puluh malam, kediaman Mo Yuankai.
Setelah makan malam seadanya, semua tamu berpamitan satu per satu, Mo Yuankai menolak bantuan mereka, hanya menyisakan pemuda berambut abu-abu untuk membantunya membereskan meja.
Kekuatan super sangat berguna di saat seperti ini, tanpa perlu menggerakkan tangan pun semuanya langsung bersih.
Dua orang itu duduk berdampingan di sofa. Mo Yuankai menekan remote, layar besar di ruang tamu menampilkan gambar aneh.
Gongsun Ce mengenali itu apa, setiap kali ia bermimpi buruk, ia selalu melihat perwujudan keputusasaan yang terpatri dalam ingatan itu.
Sosok bermata satu yang bertengger di atas tujuh menara jam, naga kegelapan yang turun tiga tahun lalu.
Ia mendengar sang kakak berkata, "Semuanya sudah berakhir, Ce."
Naga kegelapan itu telah mati tiga tahun lalu.
Saat itu, naga kaca yang belum terselesaikan juga telah ditebas hari ini.
Tragedi yang dinamai Runtuhnya Kerajaan, peristiwa yang mengubah hidup mereka berdua... baru saja, lebih dari sejam lalu, diakhiri sendiri oleh mereka yang terlibat.
"Aku tak merasa apa-apa," Gongsun Ce berkata pelan, "Sepertinya semua ini seperti mimpi. Setengah hari... serangkaian pertarungan... belum sempat merasa lelah, hanya ikut arus, lalu membunuhnya."
Pedang hitam pun kembali disegel oleh Yan Qi.
Seharusnya takkan ada mimpi buruk lagi setelah ini.
Pemuda berambut abu-abu berkedip, mengulang tanpa sadar, "Sudah berakhir, ya."
"Kau hebat, peristiwa tiga tahun lalu telah usai," Mo Yuankai menepuk bahu adiknya, "Tapi tak semua urusan selesai. Ce, dari dulu sampai sekarang, untuk apa kita bertindak?"
"Untuk menjaga damai dan tenteramnya kota ini..."
Ia melihat Mo Yuankai mengacungkan jempol padanya, sama seperti dulu.
Pemuda berambut abu-abu tersenyum dan bersama temannya berkata, "Dan juga suatu hari, agar semua pengguna kekuatan super bisa keluar dari penjara ini!"
Mo Yuankai menyemangati, "Suatu hari nanti pasti berhasil!"
"Benar, meski seringnya kita justru mencegah orang lain keluar, jadi aku agak sungkan bilang begini di depan orang."
"Mau bagaimana lagi. Kebebasan individu tak boleh melampaui kepentingan umum, kita ini pembela keadilan bukan penjahat."
"Kau pembela keadilan," Gongsun Ce menunjuk si pedagang informasi, lalu menunjuk dirinya, "Aku cuma murid yang bantu-bantu pembela keadilan."
"Dasar, pembela keadilan seberat 115 kilo."
"Kau sekarang seperti anjing laut di akuarium, tiap hari bangga pamer perut ke semua orang, ‘Lihat aku makin gendut’."
"Jaga omonganmu, si kacamata," pedagang informasi itu rebahan di sofa, "Perlu kuantar pulang?"
"Terima kasih, aku bisa pulang sendiri."
·
Setelah berpamitan, Gongsun Ce meninggalkan rumah temannya.
Ia berjalan di jalanan sunyi, mengenang masa lalu, memikirkan percakapan barusan, tentang kebebasan yang mereka dambakan, lalu teringat pada kebebasan yang diinginkan Shi Yu Ling.
Siapa tak menginginkan kebebasan?
Mungkin hanya Yan Qi yang tidak, lelaki itu pasti akan mencibir sambil berkata, semua orang di dunia terikat, hidup hanyalah berjalan dengan tangan dan kaki terbelenggu.
Tapi pemuda itu tak berpandangan seperti itu, sama seperti anak muda lain, ia juga mendambakan hidup tanpa batas... Maka, dalam batas tertentu, ia bisa memahami keinginan perempuan itu.
Saat menyatu dengan naga, saat memperoleh kekuatan luar biasa, benarkah Shi Yu Ling mendapatkan kebebasan yang ia idamkan? Atau...
Ia teringat burung-burung di langit, teringat tawa perempuan itu di atas punggung merpati.
Mungkin manusia mendamba langit karena iri pada kebebasan burung. Tapi burung-burung yang dikagumi manusia di bumi, mungkin juga merindukan kekuatan tangan dan kaki, walau punya sayap untuk terbang, mereka tetap terikat oleh gravitasi yang tak terlihat...
Sama saja. Baik manusia, maupun burung, tetap saja tak sempurna, selalu tak bebas.
Ia tak bisa tidak setuju pada ucapan Yan Qi, namun hal itu justru membuatnya sebal.
"Kepikiran terus, ya!"
Gongsun Ce berbicara pada dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin ia tahu keresahan burung? Bagaimana mungkin ia paham isi hati Shi Yu Ling?
Itu hanya imajinasi kosong, dugaan yang tak berpengaruh pada kenyataan, seperti kata-kata yang sering ia ucapkan, tanpa makna nyata, hanya untuk kepuasan diri.
Meski begitu, ia tak bisa menghentikan pikirannya. Jika saja...
Saat itu, rangsangan visual membuatnya kembali ke dunia nyata.
Tak ada merpati di dunia nyata, tak ada pemburu, hanya seorang gadis berbaju hijau rok kuning, di bawah lampu jalan menatap ponsel.
Qin Qianbai menyimpan ponsel, melambaikan tangan, "Oh."
"Kau sudah dingin begitu, jangan pelit kata-kata."
"Itu suara kaget tak sengaja, aku sedang berpura-pura bertemu secara kebetulan."
"Jangan bercanda, di kota ini, bahkan di dunia, takkan ada pertemuan tak sengaja yang sedingin milikmu."
Nona Qin berjalan mundur di sampingnya. Seakan punya mata di punggung, ia menghindari semua rintangan di jalan.
Beberapa langkah lagi—baginya berarti mundur lagi—di situ ada taman bunga di pinggir jalan, bagaimana ia akan melewatinya? Ia pikir pasti akan menghindar, tapi ternyata gadis itu melompat ringan, berdiri di tepi taman bunga seperti berjalan di atas balok keseimbangan.
Hebat juga. Anak-anak di taman pasti suka padanya, pikirnya.
Gongsun Ce sempat bingung harus bicara apa. Ia benar-benar sangat lelah, membicarakan rinci peristiwa hari ini sama saja dengan menyiksa batin. Lagi pula, meski mereka hanya teman, terlalu banyak membicarakan perempuan lain saat berbincang dengan gadis juga kurang sopan.
Ia baru sadar belum pernah menanyakan alasan gadis itu ikut dalam urusan tersebut. Tanpa ditanya pun tahu pasti gara-gara Yan Qi, tapi kapan ia kenal lelaki itu? Lalu bagaimana Shi Yu Lian juga bisa berkenalan dengan Yan Qi?
Itu semua urusan pribadi yang tak pantas ditanyakan, baru terpikir begitu, nasihat kakaknya langsung terngiang di kepala.
—"Apa itu urusan pribadi... ngerti nggak artinya teman, Ce? Persahabatan sampai mati, tahu!"
Haruskah ia mengubah sikap? Tapi kalau begitu, ia tak bisa lagi menjaga jarak sepihak... karena semakin tahu soal orang lain, berarti juga semakin membuka diri.
Dari sudut pandang itu, ia harus bicara apa?
Gongsun Ce berdeham, "Ehem. Mimpi buruk yang selalu kuceritakan padamu, sebenarnya bukan seperti yang kuceritakan sore tadi."
"Oh."
Setelah pembukaan itu, bicara kalimat berikutnya terasa sangat sulit. Menceritakan masalah diri pada orang lain selalu menimbulkan rasa malu yang aneh.
"Isi mimpi buruk itu yang sebenarnya... kau ingin mendengarnya?"
"Jujur saja, aku tidak begitu tertarik."
Pemuda berambut abu-abu menutup wajahnya.
Inilah yang paling ditakutkan! Hal yang menurut kita penting, ternyata bagi orang lain sama sekali tak berarti. Setelah menyiapkan mental dan menceritakan, ternyata lawan bicara cuma berekspresi 'oh cuma itu toh...', rasa kecewanya sepuluh kali lebih kuat dari kalah bertarung! Yang hancur bukan cuma suasana, tapi juga harga diri yang halus, makanya lebih baik pura-pura bodoh saja, lempar candaan, suasana akan lebih cair!
Harus cepat-cepat bicara sesuatu untuk mengubah suasana... Saat ia berpikir begitu, terdengar suara gadis itu.
"Karena itu mimpi buruk, pasti isinya membuatmu tak nyaman. Kalau Ce merasa sedih mengingatnya, lebih baik tidak diceritakan."
Ia menatap sahabatnya yang melompat turun dari taman bunga, berbalik dan berjalan bersisian dengannya.
Ajaib, perasaannya jadi tenang.
"Tidak separah itu..."
Ia mulai menceritakan mimpinya.
Saat mengisahkan masa lalu, matanya seperti melihat bayangan abu-abu.
Kabut kelabu muncul tanpa suara, melingkari tubuhnya, seolah hendak menariknya kembali ke masa lalu.
Namun, peristiwa hari itu telah berakhir.
Hari ini, ia akhirnya menutup tragedi tiga tahun lalu dengan tangannya sendiri. Pada saat ini, rasa takut di hatinya pun perlahan memudar seiring akhir kenyataan.
Maka ia melangkah melewati kabut, terus berjalan di dunia nyata.
Kabut kelabu itu awalnya masih ada, namun semakin lama ia bercerita, kabut itu makin menipis, akhirnya benar-benar lenyap dari pandangannya tanpa bekas.
"Sampai situ, aku pun terbangun."
Ia menuntaskan ceritanya.
Tanpa kepala dan ekor, hanya sepenggal kejadian dalam peristiwa itu. Ksatria menyerbu naga jahat, dan apa pun yang terjadi setelahnya tak ia lihat dalam mimpi. Kalau ia yang mendengar, pasti akan bertanya-tanya, tidak paham, aneh, di mana sebab dan akibatnya, lalu apa yang terjadi setelahnya... Gongsun Ce pun tersenyum pahit, semua pasti akan berpikir seperti itu.
Jadi, apapun yang ditanyakan lawan bicara, ia siap menjelaskan.
Bahkan tentang pedang pun harus diceritakan, ia sudah bersiap dalam hati.
Pengguna kekuatan super itu menatap sahabatnya.
Qin Qianbai menatap matanya dan bertanya, "Ksatria perempuan itu, pacarmu, Ce?"
"Apa yang kau pikirkan?!"
Gongsun Ce kehilangan kata.
Kenapa setelah mendengar cerita itu, pertanyaan pertama justru itu?! Ini bukan soal suasana, cara berpikirmu benar-benar di luar nalar, Nona!
Pemuda berambut abu-abu menutup wajah dan menghela napas, "Mana mungkin ada yang mau denganku, dia punya pacar! Pacarnya orang hebat, mereka sangat serasi, kalau berdiri berdampingan sudah bikin aku silau. Aku tinggal tunggu kapan mereka nikah, aku siap jadi MC-nya."
"Terdengar seperti ucapan pecundang pihak ketiga yang gagal dalam cinta, ya."
Ia mengetuk kepala sahabatnya.
"Biar gampang kau paham, aku dan mereka berdua, sama seperti aku, Cardesia, dan Shi Yu.
Qin menutupi kepala, "Aku paham sepenuhnya."
Ia mulai percaya, gadis lebih mudah terobsesi pada cinta.
Qin Qianbai terus berjalan bersamanya, seperti ketika mereka pulang sore tadi.
Mereka tak mengambil jalan memutar, sebab mereka memang tinggal di gedung yang sama—ia di kamar 7 lantai 6, tepat di sebelah kamar pengguna kekuatan super itu. Sering bersama bukan karena alasan istimewa, hanya karena bertetangga.
Malam sudah larut, bus terakhir sudah lewat, halte merpati pasti sudah tutup...
Mungkin mereka harus pulang jalan kaki terus seperti ini.
Tapi, toh hari ini sudah sangat melelahkan...
Pengguna kekuatan super itu mengendalikan telekinesis, membuat tubuh mereka berdua melayang ke udara.
Mereka melintasi pohon-pohon di pinggir jalan, melewati gedung-gedung tinggi, hingga naik ke langit malam yang tak terhalang apapun.
Qin Qianbai menahan roknya, menoleh, "Ce, masih cukup kuat?"
"Jujur saja, tidak. Paling lama satu menit kita akan jatuh. Terbang saja selama bisa."
Mungkin satu menit pun terlalu lama.
Empat puluh lima detik, atau jangan-jangan tiga puluh detik lagi sudah jatuh.
Setidaknya lebih cepat daripada jalan kaki.
Mereka tahu, sebentar lagi mereka akan jatuh ke tanah.
Meski begitu, tetap ingin menikmati terbang di malam tanpa bintang.
Merasa angin berhembus di sisi, memandang langit lebih dekat daripada dari tanah.
Sebelum belenggu yang tak terhindarkan itu datang...
Menikmati kebebasan yang singkat, meski akhirnya akan pergi.
(Tamat Buku Pertama)