Bab Empat Puluh Sembilan: Setiap Orang Memiliki Kesulitannya Masing-Masing
“……”
Perlahan-lahan ia melepaskan jas. Pakaian luar yang berlumur darah terjatuh ke lantai, menyisakan kemeja putih di dalam. Dengan hati-hati ia mengangkat kemejanya, berusaha semaksimal mungkin agar serat-serat yang robek tidak menempel pada luka.
Proses ini sungguh menyakitkan, luka-luka di tubuhnya sesekali tersentuh hingga ia terengah-engah menahan sakit.
“…Huff…”
Akhirnya ia berhasil melepaskan bajunya. Ia menanggalkan sarung tangan putih yang dipenuhi noda darah, lalu menatap bayangannya di cermin.
Di tubuh telanjangnya, penuh dengan bekas luka yang mengerikan, sisa-sisa cedera lama yang telah ada sejak bertahun-tahun silam. Tubuhnya, seperti tangan yang selalu tersembunyi di balik sarung tangan, sama-sama tak layak untuk dilihat, sama-sama memilukan.
Kini, luka-luka baru kembali terukir di tubuhnya, belasan sayatan menganga, yang terparah membentang dari bahu hingga pinggang, hampir membelah tubuhnya menjadi dua. Semua luka itu hanya merobek daging tanpa mengenai tulang, bukan karena ia beruntung, melainkan karena si penebas terlalu mahir.
Dengan membayar harga tertentu, luka-luka seperti ini dapat sembuh dalam sekejap…
Namun, harga yang telah dibayar tak akan pernah kembali.
Jika syarat untuk menyembuhkan luka fisik adalah menerima luka dalam arti lain, apa gunanya pertukaran semacam itu?
Kutukan bukanlah keajaiban. Ia mengulang prinsip yang telah lama ia pahami dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.
Ia berbalik, hendak menyalakan keran air. Saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Seorang pemuda berambut abu-abu berdiri di ambang pintu, langsung bertatap muka dengannya.
“…Waduh.”
Shi Yu Lian Yi tersenyum pahit.
Ia yakin tadi sudah mengunci pintu, tapi kejadian ini pasti akibat ulah si pedagang informasi.
Gong Sun Ce melangkah masuk tanpa suara, menggunakan kemampuan istimewanya untuk memutar keran air, lalu mengendalikan air panas yang membentuk bola-bola dan membersihkan luka-luka sahabatnya.
Pemuda dari Pulau Nol mengangkat tangan dengan pasrah, “Aduh…baru sebentar berlalu, lukamu sudah sembuh semua, dokter yang hebat.”
“Keahlian medis biasa, kemampuan istimewa kelas satu, biaya pengobatan super mahal—kalau dikombinasikan, mungkin aku layak disebut dokter kelas satu.”
Tadi saat dirinya menjalani perawatan, Shi Yu Lian Yi pasti juga ada di dalam rumah.
Seorang ‘dokter’ tak akan keberatan memperoleh bayaran tambahan, dan Mo Yuan Kai pun tak akan menolak pengobatan. Namun, pemuda yang bersetelan jas itu memilih merawat lukanya sendiri—pasti atas keinginannya sendiri.
Tatapan pemuda berambut abu-abu menyusuri bekas luka di tubuh sahabatnya.
Shi Yu Lian Yi selalu mengenakan setelan jas dan sarung tangan, hampir tidak pernah menampakkan kulit selain wajahnya.
Ia selalu tampak elegan dan berwibawa, seakan tokoh yang keluar dari lukisan.
“Aku sudah sering menyarankan agar kau mencoba operasi kecantikan.”
Setelah membersihkan luka secara kasar, pemuda berambut abu-abu mengambil sebotol alkohol medis, lalu mengendalikan cairan bening tak berwarna itu melayang dari mulut botol dan mulai mendisinfeksi luka.
“Duh sakit… Tidak, itu tidak bisa, efek Hukum Tak Kekal akan berkurang.”
Lalu apa? Apa gunanya kekuatan yang didapat dengan harga semacam itu? Bukankah lebih baik menghapus semua jejak masa lalu, lalu memulai hidup baru dengan tegas?
Pemuda berambut abu-abu mengakui, dalam hatinya pun terselip pemikiran seperti itu. Tapi hal itu tak pantas diucapkan, apalagi malam ini nyawanya sendiri baru saja diselamatkan oleh kemampuan sahabatnya. Setiap orang punya pilihan masing-masing.
Hanya diri sendiri yang benar-benar tahu apa yang terjadi dalam hidupnya, orang lain tak berhak ikut campur, bahkan sahabat paling dekat pun hanya boleh memberi saran, bukan memaksa orang lain menerima pendapatnya.
“Akan terasa agak sakit, tahan sebentar ya.”
Ia menyentuhkan jari ke tubuh sahabatnya, mengisi luka dengan zat putih yang segera menghentikan pendarahan.
“Menurut pengalamanku, sekitar sepuluh menit lagi rasa sakitnya akan berkurang, tapi untuk sembuh total butuh waktu lebih lama, untuk kondisimu mungkin dua-tiga hari.”
“Terima kasih, Gong Sun.”
Shi Yu Lian Yi pun berpikir, kemampuan apa sebenarnya yang digunakan temannya itu?
Zat sekuat itu bisa digunakan untuk menyembuhkan, sungguh aneh, apalagi tidak ada kaitannya dengan telekinesis yang biasa ia gunakan.
Namun, ia merasa tak pantas bertanya langsung, sebagaimana temannya juga tak pernah menanyakan apa yang telah ia lakukan. Semua orang punya rahasia yang tak ingin dibagi.
Setelah selesai menangani luka, Gong Sun Ce menyalakan keran untuk mencuci tangan, membuat suara air memenuhi kamar mandi untuk sejenak.
Keduanya terdiam, hingga akhirnya pemuda berambut abu-abu itu mematikan keran dan berkata, “Aku benar-benar tak bisa memahami Shi Yu Ling.”
“Bagian mana?”
“Semuanya. Alice hanyalah peran yang ia mainkan... Aku sulit meyakinkan diri untuk percaya pada kalimat itu. Setelah jati dirinya terbongkar, memang ucapannya banyak berubah, tapi bukan berarti dia menjadi orang lain.”
Shi Yu Ling masih bereaksi pada candaan dirinya.
Nada bicaranya pun masih sama seperti sebelumnya.
Shi Yu Ling tetap bisa terkesiap heran, seperti wanita muda lajang yang ceroboh.
Rasanya bukan seperti melawan musuh bebuyutan, melainkan seperti melihat sisi lain yang asing dari seorang rekan lama.
Shi Yu Lian Yi berkata, “Memang begitulah sifat Kakak Ling—”
“Tunggu, tunggu… ‘Kakak Ling’ itu panggilan apa?!”
Pemuda dari Pulau Nol memungut sarung tangan kotornya, tampak ragu hendak diapakan, “Kebanyakan anggota keluarga Shi Yu dibesarkan bersama sejak kecil. Kami memang tidak sedarah, tapi karena tumbuh bersama sejak balita, hubungan kami seperti keluarga sungguhan.”
Aku rasa ada andil para peneliti yang sengaja mendorongnya, tambah Shi Yu Lian Yi dalam hati.
Gong Sun Ce teringat pada nama-nama mereka.
Shi Yu Ling, Shi Yu 0.
Shi Yu Lian Yi, Shi Yu 01.
Pemuda berambut abu-abu bergidik, “Aku membayangkan dia memanggilmu ‘adik’, bulu kudukku langsung berdiri!”
“Haha.” Shi Yu Lian Yi mengambil kantong plastik dari lemari kamar mandi, memasukkan pakaian berdarah satu per satu, “Menurutmu sendiri bagaimana ‘Alice’ itu?”
“Dia ya…”
Pemuda itu mengingat obrolan santainya hari ini, lalu menyampaikan pada temannya.
Alice adalah wanita mandiri dan kuat.
Ia tidak terlalu memandang pejabat resmi, bahkan tampak agak memusuhi mereka.
Ia sangat percaya diri akan kemampuannya, sekaligus memiliki rasa tanggung jawab dan keadilan yang sederhana.
Dari banyak hal kecil terlihat ia hidup pas-pasan, namun terus berusaha mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik.
Saat mengamati rumah Gong Sun Ce dan Mo Yuan Kai, ia tak bisa menyembunyikan rasa iri. Pasti ia ingin memiliki rumah sendiri, tak perlu mewah, cukup nyaman.
Ia tidak sematang yang ia perlihatkan, bahkan masih polos bak gadis remaja, merasa cukup jika orang-orang di sekitarnya tidak berbohong, maka ia tak akan tertipu.
Ia suka bertualang, mencintai kebebasan…
Pemuda berkemampuan istimewa itu menutup dengan kata-kata ini.
“Waktu aku mengajaknya naik merpati, dia bilang sangat bahagia. Sepertinya itu bukan kebohongan.”
Saat itu, Alice, juga Shi Yu Ling, benar-benar merasakan kebahagiaan, bukan sandiwara, melainkan perasaan yang tulus.
—“Ini adalah… tidak, mungkin sejak lahir sampai sekarang, saat paling membahagiakan dalam hidupku.”
Saat bertarung dulu, ia pernah berkata tak pernah menyesal.
Kini terasa, itu sebenarnya bohong.
—“Aku sudah menyesal, aku tak seharusnya menyeretmu ke dalam masalah ini.”
—“Kau bisa melupakan semua ini, kembali pada hidupmu sendiri.”
Di atas punggung merpati, wanita itu pernah berkata seperti itu. Saat itu ia sungguh bahagia, sampai-sampai mengurungkan niat memanfaatkan si pemuda istimewa.
Andai saat itu ia menerima saran tersebut, akan seperti apa kelanjutannya?
Ia tak pernah tahu masa depan yang mungkin terjadi, hanya bisa menunggu reaksi sahabatnya usai bercerita.
“Begitu ya.”
Shi Yu Lian Yi menghentikan kegiatannya, “Tahukah kau, Gong Sun? Kecuali beberapa pengecualian, pengguna Hukum Tak Kekal hanya bisa mempelajari satu cerminan hati seumur hidup. Sama seperti orang berkekuatan khusus hanya punya satu kemampuan, bukan tidak bisa, tapi memang tak mungkin.”
Ia teringat bunga di sisi wanita itu.
Narsis cerminan jiwa, serta anggrek biru cerminan batin.
“Shi Yu Ling bisa menggunakan dua jenis Hukum Tak Kekal. Itu yang dilakukan Lembaga Penelitian Shi Yu padanya? Kepribadian ganda... rasanya bukan.”
“Sisi lain dari dirinya sendiri, begitu lebih tepat.” Shi Yu Lian Yi mengikat kantong plastik itu. “Sejak kecil dia sudah bilang padaku, suatu hari harus bisa kabur dari lembaga penelitian. Ia ingin seperti penjelajah dalam cerita, keliling dunia, membeli rumah sendiri, hidup bebas.”
Apakah semua ini sekadar peran yang dimainkan?
Atau, dalam proses itu, perasaan yang terpendam perlahan muncul ke permukaan?
Atau, dalam proses itu, hasrat yang selama ini ditekan akhirnya terwujud?
“Daripada bilang ia memerankan Alice…”
Ia menyimpulkan untuk sahabatnya.
“Lebih tepat dikatakan, Alice adalah sosok yang ia ingin jadi.”
·
Shi Yu Lian Yi menatap kantong plastik dengan bingung.
Pemuda berkemampuan istimewa keluar ruangan, lalu kembali semenit kemudian, membawa kaos anime lengan panjang dan celana jins.
Pemuda dari Pulau Nol memandangi robot gagah yang memenuhi hampir seluruh permukaan kaos, “Jangan, Gong Sun.”
“Ada juga kaos bergambar gadis cantik berbaju renang, semua ini koleksi Mo Yuan Kai yang belum sempat dipakai. Kalau selain itu, kayaknya badanmu tenggelam seperti pakai jubah mandi.”
Shi Yu Lian Yi tersenyum pahit sambil mengenakan pakaian itu, lalu pemuda berambut abu-abu memberikan sepasang sarung tangan karet untuk membersihkan rumah.
“Kejam sekali…”
“Mau tak mau, ya.”
Mereka keluar dari kamar mandi, menyapa si pedagang informasi yang sedang minum cola dan menonton televisi. Shi Yu Lian Yi duduk di kursi kayu di ruang tamu, tampak agak canggung.
Ia sangat memahami perasaan itu. Siapa pun yang muncul di hadapan orang kurang akrab dengan kaos bertuliskan “Pahlawan Baja Tak Terkalahkan!” dan bergambar robot, serta sarung tangan pembersih berwarna merah muda, pasti merasa kikuk.
Mo Yuan Kai mengacungkan jempol pada si pemuda berkaos anime, “Pas banget, kuhadiahkan padamu!”
“Te…terima kasih.”
Suasana jadi makin canggung, Gong Sun Ce memutuskan mengganti topik, “Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Waktu di dekat kedai ramen, aku juga baru sadar ada yang aneh, belum tahu apa yang terjadi. Sejujurnya, aku juga kaget waktu lihat Kakak Ling dan Gong Sun beraksi bersama.”
Shi Yu Lian Yi merapikan kerah bajunya, “Tapi kalau muncul tiba-tiba, bisa-bisa menimbulkan kecurigaan pada ‘Alice’. Aku putuskan untuk mengingatkanmu agar tak bertindak gegabah, menunggu waktu yang tepat baru bergabung dengan kalian sebagai ‘Pendukung Lokal Kota Langit’.”
Jika Shi Yu Lian Yi bergabung di tengah jalan, bagaimana kejadiannya akan berubah?
Sama seperti ia mengenali Shi Yu Ling, ‘Alice’ pun pasti bisa mengenalinya. Dengan bantuan Shi Yu, mengalahkan para pemuja naga akan mudah. Asalkan ia mengungkap identitas teman di tengah jalan, lalu diam-diam bicara dengan kekuatan istimewanya pada Shi Yu Ling, wanita itu pun pasti membatalkan niat memanggil naga…
“Kemudian kita akan melewati malam yang penuh petualangan, menjaga damai kota ini. Setelah itu Nona Alice Aidal pergi dari Kota Langit, Shi Yu Ling tetap buron, jantungku tak perlu lagi dipermainkan begini, dan semua orang hidup tenang?”
Shi Yu Lian Yi tersenyum, “Itu memang rencana bagus. Tapi aku tak menyangka Pak Yan datang kali ini…”
Mereka menoleh ke televisi. Di layar, siaran darurat tentang bencana Giok sedang berlangsung. Reporter di garis depan berseru, “Menurut data terkini, jumlah korban jiwa akibat bencana naga kali ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, adalah 0!” Gambar segera beralih ke pakar yang diwawancara, seorang pria botak berjanggut emas berbicara serius, bencana ini ditangani berbagai negara besar, lembaga lokal Kota Langit merespons aktif, dan usai menggunakan senjata biokimia super rahasia, akhirnya bisa mencapai nol korban jiwa…
Gong Sun Ce ingat itu adalah rektor Universitas Gabungan Tengah. Pedagang informasi mengklik lidahnya, mematikan televisi.
Pemuda gemuk meneguk cola dingin, berkata pada Shi Yu Lian Yi, “Pantas saja. Kau ingin melindungi Gong Sun, ingin melindungi Shi Yu Ling, ingin melindungi Kota Langit, eh, di tengah-tengah Pak Yan datang minta bunuh naga. Akhirnya kau selamatkan Gong Sun dulu, lalu bantu bunuh naga, terakhir selamatkan Shi Yu Ling, hingga dirimu sendiri jadi begini, sungguh… untuk apa repot-repot?”
Pemuda berambut abu-abu melotot, “Hei, kakak, itu urusan pribadi—ah!”
Si kakak menjentikkan jari ke dahinya, si pemuda berkemampuan istimewa menjerit sambil memegangi kepala.
“Urusan pribadi apanya, kalau Shi Yu Lian Yi tak ada, kau sudah mati malam ini, lukamu yang hampir jadi sosis barusan juga dia yang obati. Tahu arti sahabat, kan, Gong Sun? Persahabatan sehidup semati, hal-hal begini boleh ditanya!”
Gong Sun Ce terkapar di sofa sambil merengek, Shi Yu Lian Yi pun tak kuasa menahan tawa.
“Haha. Sebenarnya tak ada apa-apa, aku tadi memang pergi menyelamatkan Kakak Ling, makanya jadi begini.”
Gong Sun Ce melirik malas pada sahabatnya, “Sungguh berat, Shi Yu.”
“Kau juga, Gong Sun.”
Ia mengulurkan tinju, disambut ringan oleh sahabatnya.
Tiba-tiba, pintu rumah diketuk keras berkali-kali oleh tamu yang tidak sabaran. Gong Sun Ce membuka pintu dan mendapati Yan Qi yang tampak kesal bersama Qin Qian Bai yang membawa sebotol sampanye.
Sang pakar dari Kekaisaran masuk dengan mengomel, “Sialan kota modern, tengah malam ada bencana naga, semua restoran malah tutup, keliling-keliling cuma sisa warung kaki lima! Setelah selamatkan dunia, makan malamnya tumisan sederhana, zaman apa ini!”
Gong Sun Ce menggerakkan beberapa kotak makanan ke atas meja makan.
Nona Qin Qian Bai menggoyang-goyangkan botol di tangannya, “Lihat ini, ini sampanye yang dibeli Yan Qi dengan cara menendang pintu toko minuman.”
Pemuda berkemampuan istimewa mengangguk perlahan pada pria paruh baya itu, “Ada yang ingin kau katakan padaku?”
Yan Qi mencibir, “Kau mau dengar apa? Mau ku puji sudah berbuat baik?”
Gong Sun Ce mengepalkan tinju.
“Yan Qi—!!!!”
Dengan amarah yang sudah meluap, ia menghantam wajah si pakar hingga terkapar.
“Dasar bocah kurang ajar!”
Si pakar bangkit sambil mengumpat, lalu bergulat dengan si pemuda istimewa. Mahasiswi itu diam-diam menjegal kakinya, sehingga Yan Qi kembali terjatuh dan kalah dalam pertarungan kecil itu.
Qin Qian Bai pun membuka sampanye.
Buih dan cairan muncrat dari botol dengan suara keras, aroma harumnya menyebar di ruang tamu. Ia berkata datar, “Buka sampanye, ya.”