Bab Seratus Dua Puluh Delapan: Sepanci Telur Teh
Qin Manyun mengikuti Li Nianfan dengan tenang.
Mencari kesempatan yang tepat, ia pun angkat bicara, "Bolehkan saya bertanya, Tuan Li, apakah Anda bertemu dengan seorang pemuda di Penginapan Xianke?"
Li Nianfan mengangguk, "Memang benar, ada apa?"
Qin Manyun berkata dengan sedikit gugup, "Sejujurnya, Tuan Li, kunjungan saya kali ini adalah untuk menemui kakak perempuan pemuda tersebut. Mereka merasa tercerahkan setelah mendengar pandangan Anda tentang Perjalanan ke Barat, sehingga mereka sangat ingin datang berkunjung."
"Ternyata mereka adalah kakak beradik penggemar Perjalanan ke Barat."
Li Nianfan tersenyum. Pantas saja pemuda itu pergi terburu-buru, ternyata ia tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kakaknya. Omong-omong, ia bahkan mendapatkan seuntai batu roh dari pemuda itu.
Ia berkata santai, "Tentu saja boleh, bawa saja mereka kemari. Jika datang lebih awal, saya bahkan bisa menjamu kalian sarapan."
"Baik." Qin Manyun tidak bisa menahan kegembiraannya. "Saya akan segera memberitahu mereka."
Setelah berkata demikian, ia segera memacu cahaya terbangnya dan pergi dengan tergesa-gesa.
Keesokan harinya.
Langit mulai terang.
Tiga berkas cahaya terbang melesat keluar dari Lembah Qingyun menuju Penginapan Xianke.
Sambil berjalan, Gu Ziyao berkata dengan penuh rasa syukur, "Adik Manyun, terima kasih banyak. Bukan hanya bersedia memperkenalkanku pada sang ahli, tetapi juga memberikan kesempatan berharga ini padaku."
Di tangannya, ia membawa kotak panjang berisi gaun sutra tipis berwarna putih.
"Ini adalah keberuntunganmu sendiri. Dalam waktu singkat, aku tidak memiliki kemampuan untuk mencari pakaian pusaka berkualitas tinggi," ujar Qin Manyun mencoba bersikap tenang, padahal dalam hatinya ia menghela napas panjang.
Mungkinkah pakaian yang dimaksud oleh sang ahli hanyalah pakaian biasa? Setidaknya itu haruslah sebuah benda pusaka!
Pakaian yang merupakan artefak spiritual dapat dikategorikan sebagai alat pertahanan, namun merupakan barang mewah di dunia kultivasi. Meskipun bahannya berkualitas tinggi, fungsinya sangat terbatas. Sangat disayangkan jika bahan yang seharusnya bisa digunakan untuk membuat artefak kuat justru hanya dipakai untuk membuat pakaian yang indah.
Kebanyakan orang akan memilih kekuatan daripada keindahan, terlebih lagi pakaian terbagi menjadi model pria dan wanita, sehingga tingkat kepraktisannya jauh lebih rendah. Kecuali jika seseorang tidak punya pekerjaan lain, jarang ada yang mau membuat pakaian sebagai artefak.
Pakaian berkualitas tinggi bahkan jarang ditemukan di Istana Dao Linxian, dan ia sendiri sudah pernah mengenakannya. Karena ini adalah hadiah untuk Nona Daji, tentu saja ia tidak bisa memberikan pakaian yang pernah ia pakai.
Tak disangka, Lembah Qingyun begitu kaya raya. Gu Ziyao kebetulan memiliki beberapa pakaian pusaka berkualitas tinggi yang baru saja dibuat oleh orang lain.
Ketiganya berjalan hingga tiba di depan Penginapan Xianke. Qin Manyun berpesan dengan nada serius, "Ingat, jangan lupakan pantangan sang ahli yang sudah kuberitahukan sebelumnya. Pastikan untuk tetap tenang dan menjaga pikiran. Jika sampai membuat sang ahli tidak senang, itu bukanlah masalah sepele."
Gu Ziyao mengangguk, "Tenang saja, kami mengerti."
Memasuki penginapan, mereka menaiki tangga selangkah demi selangkah, semakin mendekati kamar Li Nianfan. Jarak yang pendek itu terasa sangat panjang; mereka bahkan bisa mendengar detak jantung masing-masing, dan rasa gugup tampak jelas di wajah mereka.
Saat datang, kakak beradik Gu Ziyao merasa telah melakukan persiapan matang. Namun, saat semakin dekat, mereka menyadari bahwa semua persiapan itu tidak ada gunanya; rasa gugup tetap saja melanda. Ini adalah ketakutan sekaligus penantian saat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui.
Tanpa disadari, ketiganya telah sampai di depan pintu kamar Li Nianfan. Qin Manyun menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu tiga kali.
"Masuklah."
Suara Li Nianfan terdengar dari dalam, diikuti bunyi derit pintu terbuka.
"Tuan, kita bertemu lagi. Kemarin saya terburu-buru hingga lupa memperkenalkan diri. Nama saya Gu Ziyu, dan ini kakak saya, Gu Ziyao." Gu Ziyu segera menyampaikan apa yang telah diajarkan kakaknya.
"Halo, saya Li Nianfan. Silakan masuk." Li Nianfan menatap ketiganya dan tersenyum. Ia mengenal Qin Manyun dan Gu Ziyu. Wanita satunya jelas adalah kakak Gu Ziyu. Tak disangka, pemuda yang bersemangat dan ceroboh itu memiliki kakak perempuan yang begitu anggun dan cantik.
Ketiganya berkata serempak, "Maaf mengganggu."
Begitu masuk ke dalam kamar, mereka bertiga gemetar. Aroma harum yang pekat masuk ke hidung mereka, meresap hingga ke otak, membuat mereka merasa sangat segar.
Mengikuti arah aroma tersebut, mereka melihat sebuah panci kecil di atas meja makan. Suara air mendidih terdengar dari dalamnya, dan kepulan asap wangi membubung tinggi, membawa aroma yang luar biasa. Di sampingnya, Daji sedang menata peralatan makan dan mengangguk ke arah mereka.
Kamar di Penginapan Xianke sangat luas, sehingga lima orang di dalam ruang tamu pun tidak terasa sesak.
"Silakan duduk." Li Nianfan mengundang mereka duduk di meja makan.
Begitu mendekat, aroma itu menjadi semakin kuat, langsung menyerbu hidung dan mulut mereka. Rasa nyaman menyelimuti, namun di saat yang sama, rasa lapar di perut mereka bangkit dan mulai memprotes.
Wajah ketiganya menegang. Mereka bisa merasakan perut mereka bergejolak, sehingga mereka segera mengerahkan energi spiritual ke dalam perut tanpa pikir panjang. Mereka melakukan ini hanya untuk menahan agar perut mereka tidak berbunyi.
Sudah bertahun-tahun, sejak mulai berkultivasi, mereka tidak pernah merasakan lapar lagi. Tak disangka, hari ini mereka merasakannya kembali. Mungkin kalian tidak percaya, tapi mereka harus menggunakan seluruh energi spiritual hanya untuk menahan suara perut mereka.
Hanya saja... baunya sangat harum, benar-benar luar biasa.
Meskipun sudah diperingatkan oleh Qin Manyun, aroma ini tetap melampaui ekspektasi Gu Ziyao dan Gu Ziyu. Terutama Gu Ziyu, ia teringat saat pertama kali bertemu Li Nianfan. Dulu, ia menganggap komentar Li Nianfan tentang makanan sebagai lelucon dan menganggapnya sebagai orang udik yang sok tahu. Sekarang, ia baru sadar bahwa orang itulah yang benar-benar hebat, sementara dirinyalah si udik yang sombong.
Aroma ini saja sudah cukup untuk mengalahkan makanan apa pun di Penginapan Xianke. Bahkan jika hanya diletakkan begitu saja untuk dicium, banyak orang pasti akan rela berebut mendapatkannya.
Ketiganya dengan penasaran menatap ke dalam panci yang mengepulkan uap panas.
Di dalam panci, terdapat beberapa butir telur yang bergoyang-goyang mengikuti gelembung air mendidih. Warna telur telah berubah menjadi cokelat tua, kulitnya retak-retak, dan air di dalam panci yang berwarna senada terus meresap melalui celah-celah kulit telur tersebut.
Selain telur dan air, di dalam panci juga terdapat bumbu, seperti daun rempah, namun yang paling banyak adalah daun teh. Daun-daun teh itu tersebar di sekeliling telur, bergerak-gerak mengikuti air yang mendidih.
Ini... telur teh?
Semua orang tentu tidak asing dengan makanan ini, hampir semua orang mengenalnya. Tapi, telur teh bisa seharum ini?
Kakak beradik Gu Ziyao hanya merasa heran, namun pupil mata Qin Manyun menyusut tajam. Kulit kepalanya terasa akan meledak, dan kejutan yang luar biasa menghantamnya!
Daun teh itu... bukankah itu teh yang membantunya mencapai pencerahan waktu itu?!