Bab 34: Mana Air Sumber
Shi Gu duduk di balik meja kasir toko buku, menyeruput teh dengan tenang, memandangi para gadis muda yang satu per satu meninggalkan toko lewat pintu kaca, lalu menggelengkan kepala dengan bosan. Sejak membuka toko buku di tempat ini, pemandangan seperti barusan sudah menjadi hal yang biasa.
Selama ribuan hari sejak kebangkitannya, seiring peningkatan kondisi fisik, Shi Gu secara alami mulai menunjukkan berbagai ciri yang berbeda dari manusia pada umumnya. Meskipun secara penampilan ia masih tampak seperti manusia, tanpa adanya tambahan tangan atau kaki, tubuhnya sama sekali bersih dari parasit; pori-pori kulitnya seolah telah dihaluskan seluruhnya, licin dan rata. Di dalam tubuhnya pun, seluruh koloni mikroba, baik yang menguntungkan maupun berbahaya, telah sepenuhnya disingkirkan; dari atas hingga bawah, hanya ada kehendak Shi Gu sendiri dan sistem kehidupannya yang murni.
Walaupun kondisi ini jelas menyalahi hukum biologi, tapi karena Shi Gu sudah sejak lama meremukkan hukum fisika menjadi debu, membalikkan satu lagi cabang ilmu pengetahuan rasanya bukan hal besar lagi.
Tentu saja, lantaran tubuhnya telah jauh melenceng dari standar manusia, tanpa ia sadari penampilannya telah menjadi salah satu kategori yang sangat mencolok di dunia manusia.
— Gagah tanpa kekar, elok tanpa genit, misterius tak tertebak, bersih tanpa noda...
Segala macam ungkapan yang biasa disematkan pada makhluk-makhluk bak dewa yang turun ke dunia fana, dapat digunakan untuk mendeskripsikannya.
Jadi...
“Ini juga bisa dibilang sebagai produk sampingan dari evolusi, bukan?” Shi Gu memainkan cangkir tehnya dengan jengah. “Tapi apa gunanya? Aku hanya ingin duduk tenang di sini, mencari kemungkinan kemunculan individu luar biasa baru, menciptakan lebih banyak ragam kekuatan luar biasa di dunia ini, yang bukan hanya menguntungkan diriku, tapi juga membuat dunia ini semakin menarik.
“...Bagaimana mungkin aku ingin menjalin hubungan dengan perempuan manusia biasa, yang di setiap pori-porinya saja penuh dengan parasit, kulitnya disesaki tungau, dan di perutnya kotoran tak henti menggeliat?”
Menggelengkan kepala, Shi Gu mengusir pikiran tak berguna itu dari benaknya, lalu mengingat kembali pengalaman beberapa waktu terakhir.
“Sudah belasan hari aku duduk di toko buku ini, bertemu dengan tiga ratus lima puluh satu orang manusia biasa... Tapi sejauh ini, tampaknya belum ada satu pun yang benar-benar menunjukkan potensi untuk berubah secara spiritual. Bahkan jika aku memberikan darah evolusi pada salah satu dari mereka, sepertinya hasilnya pun takkan mengejutkanku.
“Memang, sifat manusia bisa berubah seiring pengalaman, status, atau identitas, tapi bakat bawaan tetap memegang peranan besar. Jika hanya sekadar pengguna kekuatan luar biasa tanpa bisa memadatkan jiwa, memurnikan pikiran, dan tetap berkembang setelah menjadi manusia luar biasa, tanpa kemungkinan melangkah lebih jauh, bukankah itu membosankan?”
Kehadiran Yang Luo sudah membuat standar Shi Gu jadi sangat tinggi. Setidaknya untuk sekarang, sebelum ia memutuskan untuk menyebarkan kekuatan secara massal dan benar-benar mengguncang tatanan masyarakat dengan menjadikan semua orang manusia luar biasa, Shi Gu masih ingin menerapkan “strategi kualitas”.
“Kalau memang tak ada cara lain, aku akan memilih satu dari mereka yang kelihatannya paling ‘berpotensi’, dan lihat sejauh mana ia bisa mengembangkan kekuatan luar biasa,” pikirnya.
Memandang ke arah pintu kaca, tiba-tiba ia menyadari ada seorang gadis muda yang sedang ragu-ragu di depan pintu.
Itu adalah...
***
Gadis itu berdiri di luar, mengintip ke dalam lewat pintu kaca, matanya terus-menerus melirik ke arah rak buku. Begitu menyadari tatapan Shi Gu, sorot matanya yang mengembara itu langsung menegang, rona merah pun merayap di wajahnya.
Shi Gu berjalan menghampiri dan membuka pintu.
“Ah...” Gadis itu berdiri di ambang pintu, canggung dan terlihat sedikit salah tingkah.
Shi Gu menatapnya, lalu berkata, “Seingatku, kau adalah teman dari gadis bernama ‘Lusia’ tadi, bukan? Ada yang bisa kubantu?”
Mizuhara Manami menggeliat malu-malu. “Namaku Mizuhara Manami... itu... barusan waktu aku keluar, aku melihat di rak ada sebuah buku...”
Oh?
“Buku apa?” Shi Gu tersenyum, menunjukkan minat.
“Di rak ketiga, paling kanan... itu...” Gadis itu terbata-bata, menunjuk ke arah rak buku dengan tangan kanannya yang gemetar.
“Masuklah, bicaralah di dalam,” ujar Shi Gu, langsung membuka pintu dan membiarkan Mizuhara Manami masuk ke toko buku.
Gadis itu membungkuk, pelan berkata “Maaf mengganggu”, lalu melangkah masuk. Dengan langkah kecil yang nyaris tak bisa menahan kegembiraannya, ia menuju rak yang dimaksud —
“Wah...” Mizuhara Manami mengambil buku itu dari rak dengan ekspresi seolah baru saja memenangkan undian besar. Namun, ketika jarinya menyentuh punggung buku, dia menoleh pada Shi Gu dan meminta maaf, “Maaf... bolehkah aku memegangnya?”
Shi Gu mengangguk. “Tak masalah, silakan diambil.”
***
Gadis itu menghela napas panjang, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat berterima kasih, lalu meraih buku itu dari rak. Saat membuka halaman pengantar dan daftar isi, ia pun mengeluarkan suara serak penuh haru:
“Benar-benar... benar-benar... benar-benar— ini memang buku ‘Kebijaksanaan Hermes’ karya Kolodin Kasveni... huu, ‘Penjelasan Lengkap Kitab Zamrud’, ‘Tiga Jiwa Agung Alkimia’, ‘Astrologi dan Rune’, ‘Silhouette Para Kudus’... daftar isinya sama persis seperti yang tersebar di internet...”
“Kau tahu tentang buku ini?” tanya Shi Gu yang berdiri di samping, tersenyum pada Mizuhara Manami.
“Tentu saja tahu!” Kali ini, Mizuhara Manami benar-benar lepas dari sikap malu dan gelisah sebelumnya. Tak pernah ia sebersemangat dan seceria ini, suaranya lantang:
“Ini adalah ‘Kebijaksanaan Hermes’ karya Kasveni—diakui sebagai karya paling mendalam dalam memahami pengantar ‘Kitab Zamrud’ di kalangan okultis. Guna meneliti dan mendekatkan diri pada sosok ‘Hermes Trismegistus’, Kasveni menelaah setiap kalimat pengantar ‘Kitab Zamrud’ dalam bahasa Yunani kuno, Latin, dan Mesir Kuno, dan berhasil mengaitkan ‘Thoth’, ‘Hermes’, dan ‘Merkurius’ sebagai tiga sosok agung dalam ranah okultisme.
“Kasveni sendiri juga merupakan salah satu alkemis paling terkenal dalam sejarah. Konon, dalam ‘Kebijaksanaan Hermes’ ini, ia menyatukan seluruh hasil penelitian alkimia dan pemahaman okultismenya tentang ‘Hermes’, bahkan akhirnya memperoleh ‘Roh Abadi Batu Filsuf’. Karena sejarahnya yang begitu kaya, buku ini selalu dianggap sebagai mahakarya tertinggi di bidang okultisme. Sayangnya, buku ini terbit di masa gereja gencar memburu para penyihir, sehingga hanya bisa dicetak sembunyi-sembunyi, dan sekarang jumlahnya tak lebih dari lima eksemplar. Bahkan di internet pun tak ada yang pernah melihat aslinya, sehingga banyak yang mengira buku ini hanya legenda. Tak disangka hari ini aku bisa melihatnya langsung di sini...”
Mizuhara Manami bicara tanpa henti, untuk pertama kalinya ia mendapat kesempatan mencurahkan pengetahuannya tentang okultisme di luar dunia maya. Antusiasme ini membuatnya nyaris melayang kegirangan, apalagi sekarang ia memegang karya okultisme yang selama ini hanya ada dalam legenda. Tumpukan kebahagiaan itu membuat matanya bersinar tajam, tubuhnya panas, napasnya memburu, dan pipinya memerah tak wajar.
Dengan semangat yang luar biasa, Mizuhara Manami mendekat ke arah Shi Gu, bahkan lebih dekat daripada Ryoko sebelumnya. Aroma lembut dari tubuh gadis itu menguar ke hidung Shi Gu.
“Itu... manajer, boleh tahu dari mana Anda mendapatkan buku ini? Apa ada buku okultisme lain? Kenapa Anda mengumpulkan ‘Kebijaksanaan Hermes’ ini? Anda juga tertarik pada okultisme? Serius? Sama sepertiku? Manajer, manajer, manajer?”
Mizuhara Manami menatap lebar-lebar, dan meski terhalang kacamata setebal botol, mata jernihnya tetap tampak berkilau, penuh semangat dan gairah.
Namun, menghadapi gadis yang begitu mendekat, reaksi Shi Gu adalah—
“Maaf... kau berdiri terlalu dekat.”
“Ah—” Mizuhara Manami tertegun, baru sadar ternyata dirinya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Shi Gu, nyaris menempel ke dadanya. Seketika wajahnya memerah, lalu mundur beberapa langkah dengan panik sambil membungkuk pada Shi Gu.
“Maaf, maaf... kalau aku membicarakan hal yang membuatku bersemangat, aku memang suka begini—sumimasen, aku sudah kelewatan!”
Gadis itu membungkuk hampir sembilan puluh derajat, memegang buku di antara kedua tangannya, mengatupkan tangan di depan dada, meminta maaf dengan sangat tulus.
Melihat tingkah Mizuhara Manami, Shi Gu menampilkan ekspresi berpikir, lalu tersenyum tipis.
“Saudari... Manami, dari gayamu, sepertinya kau sangat menyukai bidang okultisme, ya?”