Bab Empat Belas: Hari Akhir Para Pekerja
Sore itu, dengan hati penuh rasa syukur, Yang Luo memanggul ransel berisi hasil laboratorium dan surat diagnosis, lalu berangkat ke kantornya.
Ia menaiki tangga dan memasuki bilik kerjanya yang sudah sangat dikenalnya. Namun, saat hampir tiba di meja kerjanya sendiri, ia tiba-tiba menyadari ada beberapa hal yang berbeda.
...Ada apa ini?
Tikus komputernya tampak tidak berada di posisi biasanya, sudut monitor juga sedikit berubah, kabel-kabel di stopkontak terasa asing, seolah-olah baru saja diubah. Namun yang paling mencolok, di sebelah meja kerjanya yang biasanya kosong, kini duduk seorang pria paruh baya berkepala botak.
Yang Luo berdiri di samping mejanya, entah mengapa hatinya terasa diliputi oleh bayang-bayang samar yang tidak menyenangkan.
Belum lama ia termangu, ketua tim yang sedang berbicara dengan beberapa staf perencana mengenai dokumen kebutuhan proyek, melihat kehadirannya dan segera menghampiri.
"Ah, Luo, kau sudah datang," sapa ketua tim dengan senyum yang sama ramahnya seperti hari-hari sebelumnya, seketika menghapus kegelisahan di hati Yang Luo.
"Kau sudah di kantor, letakkan saja ranselmu. Silakan ke ruang rapat nomor lima, sebentar lagi aku dan bagian SDM akan menemuimu."
Yang Luo mengangguk, menandakan ia mengerti, namun kedua kakinya belum juga bergerak.
"Itu..." katanya ragu, mengarahkan dagunya ke pria paruh baya di sebelah meja.
"Dia pegawai baru, ya?"
"Oh—" Ketua tim melirik ke arah yang dimaksud, tersenyum seolah tak ada beban.
"Itu tenaga kerja yang kami ajukan ke pusat. Proyek sedang di masa genting, jadi saat kau tak bisa hadir, ada orang lain yang menggantikan."
"Dari pusat, ya..." Perasaan Yang Luo sedikit lebih ringan.
Ia memaksakan senyum pada ketua tim, meletakkan ranselnya di atas meja, lalu berbalik menuju ruang rapat nomor lima.
...
Ia menarik kursi dan duduk, menunggu ketua tim dan pihak SDM datang.
Ruang rapat nomor lima bukanlah tempat asing baginya. Setiap rapat mingguan tim server atau saat membahas kenaikan gaji dan tunjangan dengan SDM, ia selalu datang ke sini.
Tiga tahun di sini membuatnya sangat akrab dengan setiap sudut ruangan ini. Namun entah mengapa, memandangi langit-langit putih dan lampu neon yang terang, hari ini ia justru merasakan kepanikan yang asing.
...Apakah karena suasana hatiku berubah?
Ia tertawa getir.
Saat itulah, pintu ruang rapat terbuka perlahan tanpa suara. Ketua tim dan staf SDM masuk, membuat Yang Luo seketika mengatur duduknya, bersikap serius di hadapan mereka.
"Ah, Luo, tak perlu setegang itu."
Ketua tim tersenyum seperti biasa. Namun staf SDM di sampingnya, wajahnya dingin tanpa ekspresi.
Yang Luo mengenalnya, namanya Huang Cheng, setiap tahun selalu menyapanya dengan senyum lebar untuk memberi selamat atas kenaikan gaji, atau kabar bonus tahunan yang menyenangkan—hubungan mereka dirasanya cukup baik.
Namun hari ini, ekspresi Huang Cheng sangat berbeda. Di tangannya tergenggam dua berkas tebal entah berisi apa.
"...Oh, baiklah."
Sempat terpaku sesaat, namun Yang Luo segera sadar dan mengangguk.
Sementara itu, ketua tim dan Huang Cheng duduk di depannya. Ketua tim mengambil satu berkas tebal dari tangan Huang Cheng dan meletakkannya di hadapan Yang Luo.
"Nah, Luo, bacalah dengan baik... Kami harap kau bersedia menerima syarat-syarat di dalamnya."
Ketua tim berkata sambil tersenyum.
Menerima?
Kata-kata itu terdengar aneh di telinga Yang Luo, sebuah firasat buruk langsung mencuat dalam hatinya.
Dengan tangan kaku ia mengambil berkas itu, membalik lembar demi lembar. Semakin ke bawah jumlah kata semakin sedikit, namun kecepatannya membaca justru semakin lambat.
Tubuh Yang Luo bergetar ringan.
Namun guncangan di hatinya bak letusan gunung api.
Lama ia terdiam, lalu menatap dua orang di depannya dengan mata berapi-api—
"...Perusahaan akan memecatku?!"
"Bukan hanya dipecat, mereka juga ingin aku mengundurkan diri dengan sukarela, dan hanya memberi kompensasi lima juta?!"
Amarahnya membuncah hingga dadanya terasa perih, nyeri yang belakangan ini kerap ia rasakan di sekitar jantung kembali muncul, tapi kali ini ia tak lagi peduli. Yang ia inginkan hanya meluapkan seluruh kemarahannya kepada dua orang di hadapannya!
Namun baik ketua tim maupun Huang Cheng, menghadapi ledakan amarahnya, tak menunjukkan keterkejutan sedikit pun, seolah sudah menduga reaksi itu.
Keduanya saling bertatapan. Huang Cheng memberi isyarat menulis kepada ketua tim, namun ketua tim menggeleng, membuat wajah Huang Cheng tampak lebih santai.
"Yang Luo—"
Huang Cheng menoleh, berbicara pada Yang Luo dengan suara dingin tanpa kehangatan,
"Aku bicara terus terang saja, sekarang kau menderita sarkoma jantung, itu tumor ganas, tidak ada harapan sembuh, dan kau jelas tak mungkin kembali bekerja. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kau terima solusi menguntungkan kedua pihak. Lima juta yang diberikan perusahaan murni demi rasa kemanusiaan, kalau kau tak ambil, kau tak akan dapat sepeser pun..."
"Sialan kau dan lima jutamu!"
Yang Luo membentak Huang Cheng dengan mata merah menyala, meski rasa sakit di dadanya makin menjadi, ia tak peduli.
"Gajiku tiga puluh juta sebulan, delapan tahun kerja dengan rumus N+1 harusnya dapat dua ratus tujuh puluh juta lebih, apalagi tumor ini muncul gara-gara aku selalu lembur tiap minggu, dan kalian cuma kasih lima juta?! Hati nurani kalian sudah dimakan anjing?!"
"N+1, heh..." Huang Cheng tersenyum sinis.
Ketua tim di sampingnya tetap tersenyum ramah, lalu menjelaskan pada Yang Luo,
"Soal N+1 itu... Kau kan karyawan lama, harusnya paham, industri game sedang lesu akhir-akhir ini.
"Keuntungan perusahaan tahun ini turun, kalau kami harus bayar N+1, dua ratus tujuh puluh juta, itu menggerus laba proyek, bonus tahunan tim server bisa turun kelas.
"Kau sudah tiga tahun di tim server, harusnya bisa mempertimbangkan posisi semua orang.
"Dan kalau kau menolak, kami bisa menempatkanmu di posisi kosong tanpa pekerjaan, bayar satu dua juta sebulan, setahun kemudian bayar pesangon N+1 hanya sekitar sepuluh juta—kalau pun kau sengaja ingin mati di kantor, selama bukan kematian akibat kerja, tak akan diakui sebagai kecelakaan kerja, paham?"
Ketua tim berkata lembut sambil tersenyum, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Yang Luo merasa senyuman itu sangat asing.
Menahan sakit di dada, terengah-engah, Yang Luo bertanya balik,
"...Aku tak pernah bermasalah dalam bekerja, apa alasan kalian memindahkanku? Jangan kira aku tak tahu hukum tenaga kerja..."
Dua orang di depannya saling bertatapan lagi, senyum mereka membuat hati Yang Luo makin membeku.
"Soal itu..."
Ketua tim mengambil satu berkas tipis dari Huang Cheng, tapi belum sempat diletakkan di meja, Yang Luo sudah lebih dulu merebutnya.
Begitu melihat isinya, Yang Luo seolah disambar petir.
"Catatan Mangkir Kerja Karyawan Yang Luo:
Tahun 2020
3 Mei, setengah hari.
17 Mei, satu hari.
11 Juni, satu hari.
...
Tahun 2021
7 Februari, satu hari.
19 April, setengah hari.
...
Tahun 2022
1 Mei, satu hari.
...
17—21 Mei, lima hari berturut-turut.
Tiga tahun terakhir tercatat sering mangkir, kinerja tidak memenuhi syarat."
Catatan ini...
Catatan mangkir ini...
"...Itu semua waktu cuti tahunan yang aku ajukan, aku bahkan minta kau ajukan lewat sistem internal..."
Pandangan Yang Luo mulai gelap.
Dengan susah payah ia mengalihkan pandangan ke ketua tim yang masih tersenyum santai, mengangkat tangan seolah tak bersalah.
"Soal itu... rekaman di sistem internal bisa dihapus, tapi catatan absen tetap ada. Lagi pula kau tak punya rekaman suara atau video sebagai bukti, kan?
"Jadi, bukankah sekarang ada bukti 'tidak layak' bekerja? Makanya aku sarankan, lebih baik segera setujui pengunduran diri. Lima juta akan segera cair, jadi kau bisa cepat berobat, hidup lebih lama setahun dua tahun, haha..."
Kata-kata selanjutnya tak lagi terdengar.
Saat itu juga, darah menyerbu kepala, nyeri di jantung melampaui batas, membuat Yang Luo tak lagi mampu bertahan, semua suara menghilang.
Dalam detik terakhir sebelum kesadarannya hilang, yang tersisa hanyalah amarah dan dendam yang membara.
"Kalian... Bajingan!"