Bab Dua Belas: Yang Luo
Malam sudah larut.
Namun, cahaya di ruang kerja masih terang benderang.
Ketika Yang Luo mengusap matanya dan bangkit dari tempat duduknya, ia baru menyadari setelah melirik sekeliling bahwa sebagian besar rekan kerja sudah pulang.
“Lembur lagi sampai larut malam…” gumamnya pada diri sendiri.
Ketua tim di sebelahnya, yang sedang asyik bermain gim di komputer, melihat Yang Luo berdiri, melepas headset dari kepalanya, dan sambil tetap menatap layar, berkata, “Pekerjaanmu sudah selesai?”
“Sudah, semua dokumen sudah aku lampirkan, kode juga tidak muncul error, besok pagi biar tim perencana mengecek hasilnya,” jawab Yang Luo.
“Bagus, kamu memang jago, Luo-ge,” Ketua tim mengacungkan jempol sambil tersenyum.
“Ah, semua kerangka juga kamu yang buat, aku hanya mengisi bagian-bagian yang sudah ada,” Yang Luo membalas pujian itu dengan tawaan ringan. Setelah saling melempar pujian, ia membereskan barang-barangnya dengan wajah penuh senyum, bersiap untuk pulang. Namun, saat ia sedang merapikan tas, tiba-tiba dadanya terasa perih menusuk.
“Sial…”
Ia memegang dadanya sambil mengernyitkan dahi.
“Ada apa?” Ketua tim menoleh sebentar dari layar, lalu bertanya santai.
“Tak apa… cuma dada agak nyeri, belakangan memang sering begini, mungkin karena sering tidur larut malam,” jawab Yang Luo.
“Mending periksa ke dokter deh,” saran ketua tim.
“Beli obat di apotek juga cukup…” awalnya begitu, tapi rasa sakit di dada yang makin menjadi membuat Yang Luo mengubah pikirannya.
“Baiklah, besok pagi aku ke rumah sakit saja. Tolong bantu ajukan cuti lewat internal, ya.”
“Siap, gampang,” Ketua tim mengisyaratkan tanda OK dan kembali mengenakan headsetnya. Sebelum tenggelam lagi dalam permainannya, ia masih sempat menyemangati, “Periksa kesehatan benar-benar ya, jaga diri baik-baik.”
Yang Luo menggeleng pelan, lalu memanggul ranselnya, meninggalkan ruang kerja, turun ke lantai satu, dan keluar dari gedung.
Sudah jam tiga dini hari. Angin malam yang dingin menyapu wajahnya, dan mungkin karena udara dingin itu, rasa sakit di dadanya perlahan menghilang.
“Perlu nggak ya, kabari ketua tim, batalkan cuti besok, lalu balik ke kantor saja?” Begitu rasa sakit lenyap, ia langsung menyesal. Walaupun di perusahaan besar ini ia punya belasan hari cuti tahunan dan jarang dipakai, pada akhir tahun jatah cuti itu bisa diuangkan, jadi rasanya seperti mengorbankan uang sendiri untuk periksa ke rumah sakit… Agak berat juga.
Namun, mengingat cuti sudah diajukan dan akhir-akhir ini nyeri di dada makin sering, siapa tahu memang gejala penyakit, Yang Luo akhirnya mengurungkan niat untuk membatalkan cuti.
“Besok tetap pergi periksa saja… Lagipula, kalau sudah tahu penyebabnya dan dapat obat, ke depannya bisa bekerja lebih baik dan cari uang lagi.”
Ia menoleh, memandang gedung kantor. Di puncak dinding luar gedung, dua huruf besar bertuliskan “Sheng Yi” bersinar terang di tengah dinginnya malam, memantulkan cahaya yang jelas di matanya.
Itulah nama perusahaannya kini.
Sheng Yi—perusahaan gim kelas atas di negeri ini, omzet dan laba tahunannya mencapai lebih dari sepuluh miliar. Sejak lulus dari jurusan telekomunikasi, ia langsung bekerja di perusahaan ini, bergabung di tim server, dan kini sudah delapan tahun berlalu.
Delapan tahun, lebih lama dari masa ia sekolah. Perusahaan ini sudah seperti rumah keduanya.
Menurut Yang Luo, Sheng Yi juga tempat yang sangat manusiawi. Seusai lulus, pelatihan rekrutmen kampus sangat terstruktur, para mentor sabar membimbing, dan rekan-rekan yang masuk bersama menjadi sahabat akrab.
Setelah pelatihan, ia bersama beberapa teman dekat masuk ke satu tim proyek yang belum rilis, dan bekerja di sana selama lima tahun. Meski akhirnya proyek itu gagal karena masalah lisensi, perusahaan menilai kemampuan dan sikap Yang Luo baik, jadi ia tidak dipecat, bahkan dialihkan ke proyek lain yang sudah berjalan dan sukses, menjadi anggota tim server, dan kini sudah tiga tahun berlalu.
Meskipun di tim itu ia yang paling tua, sedangkan ketua tim masih baru dua tahun lulus, hubungan mereka tetap baik. Bahkan, ketua tim dan yang lain memanggilnya “Luo-ge” dengan penuh rasa hormat, membuat hatinya senang tiap kali mendengar panggilan itu.
Yang paling penting, sejak masuk proyek baru, penghasilannya pun bertambah pesat. Tak hanya bonus bulanan, gaji pokoknya sudah menembus 30 juta per bulan. Di kota Qingxia yang hampir setara kota besar, ia termasuk dalam lima persen kelompok berpenghasilan tertinggi.
Bagi Yang Luo, yang berasal dari keluarga petani miskin di desa, mendapat perlakuan seperti ini dari perusahaan tentu membuatnya sangat berterima kasih.
“Aku sudah membelikan rumah untuk orang tua di kota asal. Sudah menetap di Qingxia, beli apartemen seratus meter persegi di pinggiran kota—walau uang muka membuat seluruh tabungan ludes, dan cicilan bulanan mencapai lima belas juta… Tapi selama bekerja sungguh-sungguh dan seminggu lembur satu-dua hari, cicilan tetap bisa tercover, bahkan masih bisa menabung. Nanti, beli rumah lagi di Qingxia, pindahkan orang tua ke sini, beberapa tahun ke depan cari pasangan, menikah, punya anak, biar anakku lahir dengan kehidupan yang jauh lebih baik dan ruang tumbuh lebih luas—hahaha, hidupku bisa dibilang sempurna.”
Sampai ia memesan taksi perusahaan, naik mobil gratis untuk karyawan lembur, dan tiba di rumah, senyumnya masih belum hilang.
Membayangkan masa depan, hatinya dipenuhi kebahagiaan.
Namun, setelah tiba di rumah, rebah di ranjang sempit kontrakan, nyeri di dadanya kembali terasa, memutus lamunan indahnya.
“Ah…”
Yang Luo mengerucutkan bibir, tampak sedikit kesal.
“Kenapa sakit lagi…”
Rasa sakit itu membangkitkan kenangan buruk.
Saat itu proyek sebelumnya gagal dirilis, banyak karyawan dipecat. Teman dekat yang dulu masuk tim bersamanya gagal dipindah ke proyek lain, terpaksa keluar, lalu berubah jadi pemarah dan sinis, tiap hari mengajak Yang Luo mencaci Sheng Yi.
“Perusahaan sialan… pesangon cuma N, nggak sampai N+1. Bahkan bilang ‘kalau mau gugat ke pengadilan kami layani!’—”
“Sialan, aku lawan saja mereka!”
“Luo, kamu masih kerja di sini, hati-hati saja, nanti kalau nggak dibutuhkan, Sheng Yi pasti juga bakal menendangmu…”
Ucapannya penuh energi negatif, membuat Yang Luo tak tahan mendengarnya.
Karena harus setiap hari mendengar keluhan itu, Yang Luo pun perlahan menjauh dari temannya.
Ia juga merasa temannya itu iri karena dirinya berhasil dipindahkan ke proyek lain, sementara dia tidak. Jadi, ia jadi sinis.
Kenyataan membuktikan penilaian Yang Luo benar.
Orang itu, setelah keluar, tidak tinggal diam. Tak hanya menggugat perusahaan, ia juga membocorkan sejumlah masalah internal hingga perusahaan rugi besar dan reputasi tercoreng.
Meski begitu, orang itu akhirnya juga dimusuhi perusahaan. Konon, Sheng Yi lewat “Aliansi Kepercayaan Besar” melarangnya bekerja di perusahaan game manapun, membuatnya ditolak semua perusahaan besar. Kini, ia benar-benar lenyap entah ke mana.
Bagi Yang Luo, sikap temannya itu sungguh tak masuk akal.
Untuk apa?
Toh, paling-paling hanya dapat pesangon beberapa bulan gaji, lebih baik segera mencari kerja baru, jaga hubungan baik dengan perusahaan lama, agar rekam jejak tetap bagus. Mengapa harus berakhir dengan pertikaian seperti itu?
Soal ucapannya, “Nanti kalau kamu tak berguna, Sheng Yi pasti juga akan menendangmu…” Yang Luo tak pernah ambil pusing.
Selama ia terus belajar dan meningkatkan kemampuan, mana mungkin jadi tak berguna?
Lagi pula, perusahaan sebaik Sheng Yi, pasti akan memperlakukan karyawan senior dengan baik, bukan?
Dengan begitu, rasa sakit di dadanya perlahan surut.
Karena hari ini terlalu lelah, ia bahkan tak sanggup mandi. Ia pun berbaring dengan pakaian lengkap di bawah selimut, siap terlelap.
Dalam kesadaran yang mulai mengabur, antara mimpi dan sadar, Yang Luo bergumam pelan, seolah menjawab temannya dulu,
“Kalau kamu tak pernah menganggap perusahaan sebagai rumah… bagaimana mungkin perusahaan menganggapmu keluarga…”