Bagian 14: Prajurit Sakti yang Menembus pada Bulan Pertama
Siapa sangka, Bulu Merah memelototi Qin Guyue lalu membantah, “Siapa bilang kalau tidak tidur berarti tidak bisa beristirahat?” Belum sempat Qin Guyue bicara, ia sudah melanjutkan, “Aku akan mengajarkanmu satu metode meditasi. Efek istirahatnya hampir sama dengan tidur, hanya saja otot-otot tubuhmu akan tetap tegang, tidak menjadi lemas. Dengan demikian, hasil latihanmu dalam sehari akan setara dengan tiga sampai lima hari latihan orang biasa.”
Mendengar itu, Qin Guyue mengerutkan dahi dan bertanya, “Jangan-jangan leluhur keluarga Qin yang kau maksud juga memakai metode ini, mulai berlatih usia tiga puluh, lalu lima tahun naik tingkat menjadi Ahli Bela Diri?”
Bulu Merah kembali menggerakkan jari tengahnya, “Bukan, karena metode meditasi ini memang diciptakan olehnya. Hanya saja, para keturunan keluarga Qin setelahnya selalu berlatih bela diri secara bertahap, tak ada lagi yang seperti dia, yang baru belajar di usia tiga puluh. Jadi metode ini tidak diwariskan. Tapi, sekarang kau yang beruntung mendapatkannya...”
Qin Guyue memandang Bulu Merah di sampingnya, berpikir sejenak, lalu bertanya, “Kalau begitu, apakah aku juga bisa menembus tingkat Ahli Bela Diri dalam lima tahun?”
Bulu Merah mengangkat bahu, “Itu aku tidak tahu. Tapi jika kau tekun dan konsisten, kurasa menembus tingkat Prajurit dalam sebulan bukanlah hal mustahil!”
“Apa? Naik tingkat Prajurit dalam sebulan!” Qin Guyue begitu terkejut sampai mulutnya menganga.
“Itu hal yang wajar,” jawab Bulu Merah kalem, mengambil cermin di samping ranjang, lalu menata rambutnya sambil santai berkata, “Bukan saja kau, bahkan seekor keledai pun, kalau berlatih dengan cara yang kuajarkan, dalam sebulan aku bisa membuatnya menembus tingkat Prajurit...”
“Kau tidak sedang membohongiku, kan?” tanya Qin Guyue dengan nada agak mengiba. Namun, gadis berpakaian merah itu membusungkan dada, sedikit tersinggung, “Kalau aku bohong, terserah kau mau apa!”
Tanpa sadar, pandangan Qin Guyue tertuju pada dada Bulu Merah yang penuh itu. Ia menelan ludah dan mengangguk, “Baik, itu kata-katamu sendiri...”
Sebulan berikutnya, hidup Qin Guyue bisa dirangkum dengan sederhana: memukul batang kayu, makan, meditasi... berulang-ulang. Ia merasa dirinya seperti gasing yang berputar tanpa henti. Saat paling santai dalam sehari hanyalah ketika makan. Ia ingat pernah ada seorang petualang berkata, “Saat paling bahagia manusia adalah ketika makan, karena saat itu kau bisa menikmati daging makhluk lain sepuasnya.” Kini ia benar-benar memahami makna kalimat itu. Dulu, makan porsi sepuluh orang seorang diri adalah hal mustahil baginya. Namun kini, para pelayan sudah terbiasa membawa hidangan setinggi gunung kecil ke dalam, dan mengeluarkan piring-piring kosong setelahnya.
Untunglah semua daging yang dimakannya itu tidak menumpuk di wajah atau perut, melainkan tersebar merata di tubuhnya, berubah menjadi otot-otot yang padat. Bobot tubuhnya pun bertambah sepertiga. Dulu, satu pukulan hanya bisa meninggalkan bekas di batang kayu. Kini, sedikit saja lengah, batang kayu itu bisa patah. Qin Guyue pun mulai mempertimbangkan untuk mengganti batang kayu itu dengan pilar batu.
Walau dipaksa meditasi oleh Bulu Merah Sang Iblis Wanita dan tidak tidur membuatnya sangat tidak nyaman, namun setelah seharian berlatih, duduk bermeditasi semalam penuh dengan metode yang diajarkan Bulu Merah jelas terasa manfaatnya. Ia merasakan kepekaannya semakin meningkat setiap hari. Hanya saja, dibanding kekuatan fisik, kekuatan mental Qin Guyue yang sudah cukup kuat tidak menunjukkan perubahan yang terlalu mencolok.
Untungnya, sebelumnya Qin Guyue telah membaca banyak buku bela diri di perpustakaan keluarga Qin, bahkan pernah membimbing Qin Aofeng menembus tingkat Prajurit. Ia tahu tahap awal berlatih bela diri adalah tahap membangun fondasi—yang paling membosankan dan menjemukan. Ia telah menyiapkan mental. Kalau orang lain seusia enam belas tahun, jangankan sebulan, seminggu pun belum tentu kuat.
Akhirnya, pada suatu senja setelah sebulan berlalu, seorang pelayan membawakan sebuah busur untuk Tuan Muda keluarga Qin. Busur itu terbuat dari kayu cemara pilihan, punggung busurnya berwarna abu-abu muda dengan aroma minyak pinus, dan talinya dari urat sapi terbaik. Tak diragukan lagi, busur itu memiliki kekuatan satu pikul.
Bulu Merah menatap busur itu, lalu menoleh pada Qin Guyue sambil tersenyum, “Coba saja, lihat apakah aku membohongimu!”
Qin Guyue mengangguk, melangkah maju, memegang busur cemara itu, merasakan kasar permukaan punggung busur di telapak tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tiba-tiba, tangan kiri menggenggam busur, tangan kanan menarik tali.
“Pletak!” Suara tali busur putus itu terdengar nyaring, seperti petir di tengah malam. Busur cemara berkekuatan satu pikul itu ternyata langsung patah ditariknya.
Bahkan Qin Guyue sendiri tampak terkejut dengan kekuatan lengannya. Bulu Merah justru tidak lagi tersenyum, lalu berkata, “Busur satu pikul bisa kau patahkan, jelas kekuatanmu lebih dari satu pikul. Sekarang kau sudah menembus tingkat Prajurit. Untung saja kau sedikit lebih cerdas dari keledai.”
Qin Guyue menatap Bulu Merah lama-lama, sampai gadis itu merasa risih, barulah ia bergumam, “Kenapa aku merasa kau sedang menghinaku?”
Bulu Merah hanya tertawa cekikikan, tidak menjawab lagi.
Kini setelah menembus tingkat Prajurit, Qin Guyue boleh mulai belajar teknik bela diri. Ia teringat, Qin Aofeng yang dilatih langsung oleh Qin Zhantian selama empat tahun penuh baru bisa menembus tingkat Prajurit. Sedangkan ia, hanya sebulan memukul batang kayu dan bermeditasi setiap malam sudah mencapai itu.
Tentu, bisa juga karena tubuh Qin Aofeng belum sepenuhnya berkembang, tenaga dan stamina kurang, sehingga butuh waktu lebih lama. Sedangkan Qin Guyue sudah berusia enam belas tahun, jadi menembus tingkat Prajurit setelah latihan ibarat air mengalir di tempat rendah.
Bulu Merah lalu menggambar satu set teknik bela diri paling dasar dari “Kitab Agung Permulaan” di atas kertas untuk Qin Guyue. Walau disebut dasar, ada lebih dari dua puluh lembar, setiap lembar berisi minimal lima gambar, lengkap dengan tanda titik-titik akupuntur dan posisi penting yang ditulis rapi dengan tulisan kecil. Sangat detail dan teliti.
Qin Guyue memegang tumpukan kertas yang masih beraroma tinta itu, membacanya dengan saksama sebelum bertanya pada Bulu Merah, “Apa nama teknik ini? Kenapa mirip sekali dengan bab Kekuatan dari ‘Tujuh Keunggulan Senjata dan Perang’ milik ayahku?” Ia heran, “Padahal ‘Tujuh Keunggulan Senjata dan Perang’ itu ilmu dalam, kan?” Ia ingat, karya Qin Zhantian itu adalah ilmu dalam, dipakai untuk meningkatkan tingkat, masuk kategori ‘tubuh’, dan masih harus dipelajari lagi teknik keluarga Qin sebagai penerapannya, kalau tidak, tidak punya daya tempur.
Tak disangka, Bulu Merah terkekeh lalu berkata, “Bukankah ‘Tujuh Keunggulan Senjata dan Perang’ itu terbagi menjadi: Kekuatan, Tubuh, Pertempuran, Senjata, Bela Diri, Hati, dan Jalan?”
Qin Guyue sempat bingung, lalu teringat Bulu Merah pernah berkata bahwa semua ilmu bela diri keluarga Qin bersumber dari “Kitab Agung Permulaan”. Ia pun mengangguk perlahan, “Sepertinya ayahku memang terinspirasi dari ‘Kitab Agung Permulaan’ saat menciptakan ilmu dalam itu.”
Bulu Merah tersenyum, “Bukan bermaksud merendahkan ayahmu, tapi itu bukan terinspirasi, melainkan menyalin! ‘Kitab Agung Permulaan’ memang terbagi menjadi tujuh bagian: Kekuatan, Tubuh, Pertempuran, Senjata, Bela Diri, Hati, dan Jalan. Jalan seorang pendekar memang harus membina kekuatan dulu, lalu mengembangkan kemampuan tubuh, kemudian membiasakan diri dengan pertempuran, setelah itu belajar menggunakan dan menghadapi senjata, barulah mendalami teknik, menggali hati seorang pendekar, dan akhirnya menemukan jalan sendiri. Di situlah seseorang menjadi master bela diri, ahli tingkat bintang! Tapi berbeda dengan ‘Tujuh Keunggulan Senjata dan Perang’, di ‘Kitab Agung Permulaan’ setiap bagian bukan hanya ilmu dalam, tapi juga teknik bertarung. Bisa digunakan sebagai ilmu dalam, juga bisa langsung untuk bertarung! Seperti yang baru saja kugambarkan padamu, itu adalah ‘Mematahkan Gunung’ di bagian Kekuatan, terinspirasi dari kekuatan meninju yang bisa membelah batu.”
Mendengar penjelasan Bulu Merah, Qin Guyue langsung paham. Jika demikian, “Kitab Agung Permulaan” jelas jauh melampaui “Tujuh Keunggulan Senjata dan Perang”. Bahkan, jika ia punya Bulu Merah sebagai pembimbing dan “Kitab Agung Permulaan” di tangan, nilainya lebih tinggi daripada sepuluh Qin Aofeng yang diajar oleh Qin Zhantian!
Namun, ia justru mengernyit dan buru-buru bertanya pada Bulu Merah, “Jadi, ‘Kitab Agung Permulaan’ hanya bisa membuat seseorang menjadi ahli tingkat bintang, dan tak bisa melampaui itu?”
Bulu Merah pura-pura marah, lalu mencubit kaki Qin Guyue, “Kau ini, kenapa serakah sekali! Menjadi ahli tingkat bintang saja sudah cukup untuk membuatmu terkenal dan dihormati, baik di istana maupun di luar, kau bisa hidup bebas. Masih belum puas? Di atas tingkat bintang, mana bisa lagi mengandalkan hal eksternal? Hanya bergantung pada pemahaman dan keberuntungan diri sendiri. Kalau satu kitab saja bisa membuat seseorang menjadi ahli tingkat dua atau tiga bintang, bukankah semua ahli tingkat bintang akan bermunculan? Sedangkan kau...” Bulu Merah kembali mencubit kaki Qin Guyue lebih keras, “Baru saja menembus tingkat Prajurit, langsung bermimpi jadi ahli tingkat bintang, kau pikir kau ini siapa?”
Mereka pun terus mengobrol tanpa terasa, hingga malam pun larut. Karena keesokan harinya Qin Guyue masih harus menjalankan rutinitas latihan, ia tidak boleh lengah hanya karena sudah menembus tingkat Prajurit. Bulu Merah pun segera menyuruh Qin Guyue bermeditasi untuk beristirahat. Begitu ia duduk bersila, napasnya yang tadinya kacau perlahan menjadi teratur, tanda ia sudah masuk ke dalam meditasi. Bulu Merah pun berubah menjadi kabut putih samar, lalu melayang masuk ke gelang kaca di tangan kanan Qin Guyue.
Namun, kali ini saat bermeditasi, Qin Guyue merasa pikirannya tidak lagi mengantuk seperti sebelumnya, melainkan sangat jernih, bahkan lebih jernih daripada ketika ia terjaga.
Meski matanya tak terbuka, ia bisa merasakan semua benda di dalam ruangan dengan jelas, seolah-olah ada banyak tangan tak kasatmata yang meraba ke segala penjuru, menyentuh segala sesuatu, lalu mengirimkan informasi itu ke dalam benaknya!