Jilid Pertama Bab 21 Taruhkan Nyawamu
Saat itu, Paman Zhang yang pincang kembali duduk dengan bersusah payah. Ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Kemudian, ia menoleh ke arah Yin Ying dengan tatapan mata yang lekat. Yin Ying merasa sedikit cemas dan bersembunyi di balik punggungku. Aku segera memperkenalkan bahwa inilah Yin Ying yang pernah kuceritakan padanya. Paman Zhang tersenyum tipis. Namun, wajahnya yang penuh bekas cacar ditambah dengan raut wajahnya yang tampak sakit membuat senyumnya terlihat seperti seringai hantu. Wajah Yin Ying langsung memucat.
"Kita bicara di luar saja," ujar Paman Zhang sambil memukul dadanya, lalu menatap ke arah pintu kamar.
Rasa khawatir di hatiku tidak kunjung reda. Aku membawa Yin Ying keluar dari kamar menuju ruang tengah. Yin Ying menepuk-nepuk dadanya yang sesak, lalu bertanya dengan hati-hati, "Apa yang dimuntahkan Paman Zhang tadi? Apa tidak sebaiknya diperiksa ke rumah sakit?"
Aku tidak segera menjawab. Tiba-tiba Paman Zhang keluar dari kamar. Ia tersenyum dan berkata, "Tidak perlu ke rumah sakit, hanya sakit ringan, besok pagi juga sembuh." Namun, wajahnya tetap terlihat pucat pasi. Yin Ying merespons dengan senyum sopan, tetapi dahinya masih dibanjiri keringat. Jelas sekali ia masih merasa takut pada Paman Zhang.
"Honghe, aku mau pergi sebentar. Temani pacarmu ini. Ingat, sebaiknya dia sudah pergi sebelum hari gelap," kata Paman Zhang. Setelah itu, ia memukul dadanya lagi dan berjalan tertatih-tatih keluar rumah.
Aku berniat memanggilnya, namun entah sejak kapan, Yin Ying menarik bajuku. Ia tampak sangat ketakutan, kuku jarinya bahkan mencengkeram kulitku. Hal itu membuatku urung memanggilnya dan tidak jadi mengejarnya. Paman Zhang pun segera menghilang dari pandanganku.
"Apakah Paman Zhang-mu... selalu seseram ini?" tanya Yin Ying lagi dengan raut wajah yang canggung. Aku hanya bisa tersenyum getir sambil menggaruk kepala, mengatakan bahwa biasanya dia baik-baik saja.
Peringatan Paman Zhang membuat hatiku berdebar kencang. Setelah ragu sejenak, aku berkata pada Yin Ying, "Yin Ying, bagaimana kalau aku mengantarmu pergi saja? Nanti setelah urusanku selesai, aku akan mencarimu dan meminta maaf."
Yin Ying tampak ragu untuk bicara, namun akhirnya ia mengangguk sambil mengatupkan bibir. "Aku bisa pergi ke terminal sendiri... Sebaiknya kamu periksa keadaan Paman Zhang-mu..." Yin Ying tiba-tiba berjinjit dan mencium bibirku dengan lembut. Sentuhan yang lunak itu membuatku terpaku. Meski kami sudah lama menjalin kasih, kami selalu menjaga batasan.
Keluarga Yin Ying sangat keras dalam mendidik, dan aku sendiri selalu merasa bahwa pekerjaanku sebagai pengurus jenazah membuatku tidak berani melangkah lebih jauh karena takut hubungan kami tidak akan berakhir baik. Ini adalah kali pertama kami melakukan kontak fisik sedekat itu.
Saat aku tersadar, Yin Ying sudah berjalan keluar. Aku segera mengejarnya dan menggenggam tangannya, bersikeras ingin mengantarnya ke terminal. Namun, dengan wajah memerah, Yin Ying melepaskan genggamanku. Ia memintaku untuk tidak bertindak gegabah. Ia merasa kondisi fisik Paman Zhang tidak beres; bagaimana mungkin seseorang yang batuk separah itu bisa baik-baik saja? Ia mendesakku untuk segera menyusulnya dan membawanya ke rumah sakit. Ia juga berjanji tidak marah lagi dan akan menungguku saat aku sudah tidak sibuk.
Kata-katanya membuatku semakin khawatir pada Paman Zhang. Selain itu, pengakuannya bahwa ia tidak marah lagi membuat beban di hatiku sedikit terangkat. Aku tidak lagi bersikeras mengantarnya, namun aku berulang kali berpesan agar ia segera meninggalkan kota ini. Paman Zhang tidak pernah berbohong; jika ia bilang kota ini sudah tidak aman, maka itu pasti benar. Yin Ying setuju, ia memelukku sekali lagi sebelum bergegas pergi.
Tak lama, sosoknya menghilang. Aku segera menelepon Paman Zhang untuk menanyakan keberadaannya. Namun, yang mengangkat telepon itu bukanlah Paman Zhang, melainkan seorang wanita. Suara wanita itu terdengar lembut, ia mengatakan bahwa Paman Zhang sedang menjalani terapi kerokan dan bertanya ada apa.
Aku terdiam. Dari suaranya saja, aku langsung tahu bahwa itu adalah janda yang sering menjadi bahan gosip di kota ini. Paman Zhang memang sering menghabiskan waktu di rumah janda itu. Tapi, setelah hampir kehabisan napas tadi, dia malah pergi ke tempat janda itu?! Aku tidak bisa berkata apa-apa dan langsung mematikan telepon.
Sesampainya di rumah, aku merasa tidak tenang. Dalam keadaan genting seperti ini, Paman Zhang masih sempat-sempatnya menemui kekasihnya. Setelah mondar-mandir sebentar, aku memutuskan untuk masuk kembali ke kamar Paman Zhang. Aku ingin melihat gumpalan daging berbau busuk yang ia muntahkan tadi. Namun, lantai sudah bersih. Sepertinya Paman Zhang sudah membersihkannya sebelum keluar tadi. Aku mencoba mencarinya di tempat sampah, tetapi tidak ada apa-apa. Ke mana daging itu pergi? Dan bagaimana mungkin Paman Zhang memakan benda seperti itu?
Saat aku sedang berpikir, terdengar langkah kaki halus dan suara tongkat yang menyentuh lantai dari ruang tengah. Aku segera berbalik dan keluar dari kamar. Begitu sampai di ruang tengah, aku melihat seseorang berdiri di sana.
Seorang lelaki tua berumur sekitar enam puluh tahun dengan tinggi seratus enam puluh sentimeter. Wajahnya berbentuk kotak, punggungnya sedikit bungkuk, dan kerutan di wajahnya sangat dalam. Namun, penampilannya sangat bersih dan rapi. Di tangan kanannya, ia memegang tongkat bambu dengan sehelai kain yang bertuliskan: "Sepuluh Tanda Wajah Menentukan Masa Lalu dan Depan, Lima Kitab Bumi Meracik Nasib Buruk dan Baik."
Begitu melihatnya, aku merasa tatapan matanya sangat familier. Sesaat kemudian, tubuhku gemetar. Aku yakin belum pernah bertemu dengannya! Namun, dia adalah peramal tua yang dilihat Yin Ying di depan pintu tadi! Dia juga orang yang memberiku nama dan meramalkan bahwa Paman Zhang akan menghadapi malapetaka besar di usia enam puluh dua tahun!
Napas menjadi sesak. Lelaki tua itu mengangguk dan memanggil namaku dengan suara parau. "Jiang Honghe." Telapak tanganku berkeringat dingin, aku segera menjawabnya. Lelaki tua itu menatapku dari atas ke bawah, lalu mengetukkan tongkatnya ke lantai. Ia memicingkan mata dan berkata, "Waktunya telah dipercepat. Katakan pada Paman Zhang, takdir memang sulit dilawan."
"Mandilah dan ganti pakaian, tunggulah ajal menjemput." Wajahku berubah drastis. Apakah maksud lelaki tua ini bahwa Paman Zhang akan segera mati?! Aku marah besar, melangkah maju, dan mencengkeram pergelangan tangannya! Dengan mata melotot, aku membentak, "Kau bicara omong kosong!"
Lelaki tua itu tersenyum kecut dan berkata, "Melawan takdir! Jika berhasil, bisa hidup dengan menanggung malu; jika gagal, mati tanpa tempat untuk dikuburkan."
Ia mengentakkan tangannya, membuat pergelangan tanganku mati rasa hingga aku terpaksa melepaskannya. Ia melanjutkan dengan suara pelan, "Apakah kamu ingin mempertaruhkan nyawamu yang baru saja dimulai demi seseorang yang sudah hampir mati?"
Amarahku memuncak. Sambil menggertakkan gigi, aku berkata, "Paman Zhang tidak akan mati! Waktunya belum tiba, bahkan jika dipercepat pun, dia tidak akan mati! Jika tidak bisa membantu, jangan malah membawa nasib buruk! Pergi dari sini!" Aku menunjuk ke arah pintu dan mengusirnya tanpa basa-basi.
Bukannya aku tidak menghormati peramal tua ini, bagaimanapun dia yang memberiku nama. Namun, dia terus-menerus mengatakan bahwa Paman Zhang akan mati, bagaimana mungkin aku bisa menyambutnya dengan ramah? Yang membuatku semakin tidak nyaman adalah, meskipun aku sudah memarahinya, dia tidak beranjak pergi. Bahkan, dia terus menatapku sambil tersenyum. Orang normal biasanya akan pergi setelah tertawa, tetapi senyumnya yang terus-menerus itu justru membuat bulu kudukku berdiri.