Bab 152
"Tentu saja, waktu SD aku terobsesi dengan boneka, jadi aku belajar menjahit dari Mama untuk membuatkan pakaian boneka."
"Kalau begitu, aku serahkan padamu. Seharusnya itu jatuh di sekitar meja, cari saja nanti."
"Baiklah, dijamin beres."
Ada satu hal lagi yang berhasil mengalahkan Shen Bai, Xilan merasa sangat bahagia karenanya.
Jika saja dia tidak kehabisan tenaga, dia pasti sudah menari kegirangan.
Setelah rasa antusiasnya mereda, Xilan menyadari ada yang tidak beres.
Sekilas dilihat, kemeja Shen Bai sudah berkerut tidak keruan akibat ulahnya.
Merasa bersalah, Xilan berpura-pura membantunya merapikan.
Namun, kemeja itu tetap saja kusut.
Dengan wajah memerah, Xilan berbisik, "Bagaimana kalau kamu ganti baju saja?"
Shen Bai mengikuti arah pandangannya ke bawah, seketika dibuat antara tertawa dan menangis.
Di bagian bahunya penuh dengan bekas gigitan gigi Xilan.
Shen Bai menduga dirinya telah diperlakukan seperti sepotong kaki babi panggang oleh wanita itu.
"Mana hadiah yang kamu katakan untukku?"
Shen Bai mengangkat kembali topik yang sudah lama dibuang jauh-jauh dari pikiran Xilan.
Xilan tertegun selama beberapa detik.
Baru setelah ditatap oleh tatapan Shen Bai yang tenang tanpa riak, dia mendadak teringat.
Jika membahas hal ini, dia merasa begitu malu hingga ingin kembali ke masa lalu dan menghajar dirinya sendiri sampai babak belur.
Mengapa tangannya begitu gatal, hobi sekali belanja.
Nah, kan, sekarang kelemahannya berhasil dipegang oleh Shen Bai.
"Kamu sudah tahu ada di mana, masih saja bertanya padaku." Xilan cemberut, merasa malu.
"Aku ingin kamu mengambilkannya untukku."
"Guru Shen akhir-akhir ini semakin manja saja," kata Xilan dengan nada bangga sambil mendongakkan dagunya.
Shen Bai sudah kebal dengan kebiasaannya yang selalu salah menggunakan kata-kata.
"Tidaksemanja kamu."
Memanfaatkan kelenggahannya, Shen Bai dengan cepat mencuri ciuman di bibirnya.
Bagai anak ayam yang mematuk butiran beras, ia melakukannya berulang kali seolah ketagihan.
Aroma Shen Bai mengurung rongga hidungnya, membuat Xilan merasa seperti mabuk kepayang, kepalanya semakin pusing.
Saat pria itu mendekat, meskipun wajahnya masih merona merah, ia tetap dengan patuh menyerahkan bibirnya.
Lama kelamaan, keduanya berpisah dengan penuh keengganan.
Sambil terengah-engah menstabilkan napasnya, Xilan melirik Shen Bai dengan tatapan jengkel.
Tanpa sungkan-sungkan ia menepis tangan Shen Bai yang berpura-pura memijat padahal sebenarnya sedang meraba-raba.
"Aku manja, makanya jangan asal meremas, semuanya jadi sakit, tidak tahu cara menggunakan sedikit tenaga."
Shen Bai berkata dengan suara rendah, "Maaf, bukan disengaja, aku tidak bisa mengendalikannya."
Meskipun itu adalah kata-kata permintaan maaf, namun unsur ketulusannya sangat sedikit.
Setelah berkata demikian, Shen Bai bahkan berpindah tempat, jari-jarinya memijat dengan tekanan yang pas.
"Hmm."
Xilan tetap merasa tidak terbiasa, ia memalingkan wajahnya dengan rona merah di pipi.
Di siang bolong, Shen Bai secara terang-terangan berbuat mesum.
Kulit kepala Xilan terasa mati rasa, bahkan napasnya pun menjadi tidak beraturan.
Shen Bai mendekat dan menggigit daun telinganya, lalu tertawa kecil berkata, "Apakah kamu puas dengan pelayananku? Bagaimanapun ini gratis, tidak puas pun tidak ada cara lain."
Suara yang rendah dan serak, serta napas yang hangat menerpa tepat di telinga Xilan.
Menimbulkan gelombang kepedihan dan gemetar, ia merasa sangat malu.
Matanya menjadi berkaca-kaca, menampilkan rupa yang begitu menyedihkan hingga mengundang iba.
Dia sama sekali tidak menyangka Shen Bai bisa mengucapkan kata-kata mesum dengan eksprasi begitu serius.
"呜, benci, Shen Bai sialan."
Shen Bai ingin memberitahunya bahwa dirinya tidak sialan, namun melihat wajahnya yang bersemu merah padam karena malu, wanita itu tampak ingin mencari tempat untuk bersembunyi.
Pada akhirnya, wanita itu hanya bisa meringkuk di dalam pelukannya, mengangkat tinju yang lembut untuk mendorongnya.
Membayangkan pemandangan tersebut, Shen Bai seketika merasa sangat bersemangat.
Telapak tangannya mengusap dengan lembut.
Menyadari ada yang tidak beres dengan Shen Bai, Xilan membenamkan kepalanya di dada pria itu.
Berbisik pelan, "Shen Bai."
Shen Bai menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, memasang pasang wajah polos.
Bertanya, "Tidak nyaman?"
Sebaliknya, rasanya justru cukup nyaman, hanya saja Xilan merasa malu untuk mengatakannya secara terang-terangan.
Ia hanya membenamkan wajahnya semakin dalam ke dada pria itu.
Tangan kiri Shen Bai melingkari pinggangnya, mengusap sepanjang tulang belakang untuk menghiburnya tanpa suara.
Tangan kanannya masih membantunya memijat, meski sebenarnya tersimpan lebih banyak niat tersembunyi.
Karena malu bercampur marah, Xilan membuka mulutnya dan menggigit bahu pria itu.
Tenaganya lebih kuat daripada biasanya, namun air muka Shen Bai tetap tenang seperti sedia kala.
Ia menurunkan kelopak matanya, diam-diam memerhatikan wanita itu yang tengah merajuk.
Di sudut bibirnya tersungging seulas senyuman lembut.
"Sudah kubilang suruh lepaskan aku, kamu sedang meremas adonan bakso ya? Pakai tenaga sebesar itu."
Tidak bisa mendebat Shen Bai, Xilan terpaksa memanfaatkan situasi untuk melampiaskan kekesalannya.
Baru sekarang ia menyadari sisi genit yang tersembunyi jauh di lubuk hati Shen Bai.
Ck ck... orang tidak bisa dinilai dari penampilannya saja.
Jangan dikira Guru Shen tampak lembut, hemat, dan santun, aslinya dia adalah seorang yang sangat pandai memendam hasrat terselubung.
"Tidak masuk akal sekali, Bulan Kecil, kamu juga menggigitku." Shen Bai tertawa pelan, sengaja mengadu dengan nada dizalimi.
"Lepaskan, pria mesum."
Xilan mencibir lalu melepaskan diri dari tangan jahil Shen Bai.
Ia tidak akan mau berkompromi hanya karena ketampanan Shen Bai.
Orang yang jelas-jelas dirugikan adalah dirinya.
"Setelah kenyang dan menikmati semuanya, kamu malah tidak mau mengakuinya."
"..." Xilan membuka matanya lebar-lebar dengan rasa tak percaya.
Seketika dibuat tercengang oleh kata-kata tak tahu malu dari Shen Bai.
Memangnya apa yang sudah ia perbuat?
"Tahu malu sedikit dong, Guru Shen."
Xilan membalikkan badan untuk memasang kancing, namun begitu mendengar ucapan Shen Bai, ia tidak kuasa menahan diri untuk memutar bola matanya.
"Aku bantu."
"Hih."
Xilan mengabaikan niat baik pria itu.
Setelah selesai mengancingkan bajunya, ia langsung bangkit berdiri dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Hanya menyisakan satu kalimat.
"Cepat kupas buah delima sana."
Bagaimanapun, ia sudah menyatakan rasa terima kasihnya dan telah membayar dengan pengorbanan yang sangat besar.
Jika Shen Bai masih berani bersikap lancang, Xilan pasti akan menghabisinya.
Agar pria itu paham mengapa bunga bisa berwarna merah.
"Jangan marah, lain kali tidak akan begitu lagi."
Sambil memegang buah delima yang besar dan kemerahan di tangannya, Shen Bai berjalan di samping Xilan, berniat mengulurkan tangan untuk menggenggam tangannya.
"Di dalam dadaku terdapat jurang yang luas, lapang dada dan penuh sopan santun, layak dijadikan teladan bagaikan lautan yang menampung seratus sungai, aku tidak akan marah."
Xilan meliriknya dengan tatapan penuh tantangan, memancarkan kesan malas namun angkuh.
Ia berbaring dengan malas di atas sofa.
Shen Bai sempat tertegun sejenak, dadanya seolah meledakkan kembang api yang begitu cemerlang.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada sosok Xilan, bagaikan mata air jernih yang bergemercik mengalir di pegunungan, menyuntikkan sumber kehidupan yang segar ke tanah pegunungan yang kering kerontang.
Pada detik itu, jari-jari Shen Bai bergetar karena diliputi rasa antusias.
Xilan merasa heran dengan reaksinya, lalu mengernyitkan dahi sambil berkata, "Untuk apa terus menatapku."
"Tidak boleh dilihat?" Shen Bai balik bertanya dengan licik.
"Bukan begitu." Xilan merasa sedikit jengkel, lalu mengucapkan kalimat itu dengan kaku.
Alasannya adalah karena tatapan Shen Bai terlalu tajam.
Bagaikan seorang pemburu yang selangkah demi selangkah memasuki wilayah buruannya, dan tanpa diragukan lagi, dialah sang buruan itu.
Sungguh perasaan yang buruk.
"Cepat kupaskan untukku."
Xilan berpura-pura tidak puas, lalu mendorong betis pria itu menggunakan lututnya.
Pada akhirnya ia menambahkan satu kalimat lagi, "Jangan terus menatapku, menyeramkan sekali."
Shen Bai tersenyum acuh tak acuh kepadanya, sebuah senyuman yang penuh dengan makna tersirat.
"Baiklah."
Ternyata dia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak sejalan dengan isi hatinya.
Memiliki kelapangan dada itu benar, namun bagaikan lautan yang menampung seratus sungai itu bohong.
Menggunakan pisau untuk menggores empat bagian, Shen Bai mengupas kulitnya hingga yang tersisa hanyalah bulir-bulir buahnya.
Xilan menatap jemari pria yang bertulang menonjol itu, tatapannya tiba-tiba menjadi dalam.
"Kamu lambat sekali."
"Jangan terburu-buru mengejar kecepatan, makanan yang enak harus dinikmati dengan kesabaran."
Xilan mengulurkan tangan untuk menerima bulir-bulir buah delima yang padat itu, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut untuk dikunyah.
Keduanya terdiam dalam keheningan, entah karena tidak ada yang ingin merusak ketenangan ini.
Seiring dengan gerakan Shen Bai, kecepatan makan Xilan tidak mampu mengimbanginya.
Shen Bai akhirnya memutuskan untuk membungkusnya dengan tisu lalu meletakkannya di atas meja kopi.
Sementara pandangan Xilan kembali terpaku pada tangan pria itu, lalu ia tersenyum tanpa suara.