Bab 146 Masih Bisa Berbuat Lebih Baik
Dia memanggil dengan nada malu-malu dan pelan, "Shen Bai."
Orang yang dipanggil hanya tersenyum.
Shen Bai dengan terampil menyatukan jemari mereka.
Dengan sedikit tergesa-gesa, ia mendekapnya erat, menempelkan bibirnya yang lembut pada Xi Lan, yang langsung terengah-engah sambil menutup mata.
Pada saat itu, Shen Bai melepaskan ketenangannya, dengan penuh semangat menjelajahi tulang selangka Xi Lan, menghisapnya tanpa ragu.
Seluruh tubuh Xi Lan terasa lemas, seolah-olah ia sedang berjalan di atas awan.
Ia menepuk pelan punggung Shen Bai agar pria itu sedikit memberi jarak.
Dengan nada bicara yang tidak rata, ia berkata, "Ini balas dendam pribadi secara terang-terangan."
Shen Bai tiba-tiba tertawa kecil.
Ia mengelus kontur wajah sisi Xi Lan, menyelipkan rambut-rambut halus ke belakang telinganya.
"Kau membayar utang, aku menagihnya, tidak ada yang namanya balas dendam pribadi."
Xi Lan menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
Ia terkejut oleh nada bicara Shen Bai yang begitu terkesan wajar.
Benar-benar tidak tahu malu.
Xi Lan menggembungkan pipinya, mengangkat jarinya, dan menusuk dada Shen Bai.
"Kau masih sempat membela diri, siapa yang menggigitku ke sana ke mari seperti mengunyah tulang? Sudah kubilang berapa kali, itu sakit."
Mendengar tuduhan atas dosa-dosanya itu, Shen Bai sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan.
Pandangannya turun ke area di atas tulang selangka Xi Lan.
Semuanya adalah jejak yang ia tinggalkan.
Dengan tenang, Shen Bai berkata, "Kau juga mencubitku di banyak tempat, jadi kita
pas."
Mendengar ucapannya yang acuh tak acuh dan seperti preman, Xi Lan mengambil napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat.
Ia dibuat tertawa karena kesal.
Xi Lan mendengus dan berkata, "Aku tidak mau memedulikanmu, aku mau tidur lagi."
"Jangan tidur, sebentar lagi waktunya makan malam."
"Kalau begitu, aku juga tidak mau tinggal bersamamu."
Xi Lan meronta hendak melepaskan diri dari pelukan Shen Bai. Entah disengaja atau tidak, gerakan liuk-liuknya untuk melepaskan diri semakin kuat.
Shen Bai menunduk dalam diam, tetapi tangan yang melingkari pinggang Xi Lan tetap menggenggamnya erat.
Seolah menyadari sesuatu, Xi Lan tertegun selama beberapa detik, lalu tertawa terbahak-bahak.
Melihat dirinya hampir tertawa hingga lemas, ia pun bersandar dengan lembut di bahu Shen Bai.
Shen Bai menatap dengan ekspresi aneh ke arah bahu kanan Xi Lan, di mana tali gaunnya telah merosot turun.
Pemandangan indah yang luas seketika menyerang penglihatan Shen Bai.
Gambaran-gambaran itu melintas begitu saja di benaknya dan sulit dihilangkan.
Membuatnya tak kuasa ingin menjelajahi sisi yang lebih indah lagi.
Telapak tangannya tanpa sadar meremas pinggang Xi Lan, membuatnya mendengis kesakitan.
"Pelan-pelan," gumam Xi Lan sambil mengangkat kelopak matanya sedikit dan mengerucutkan bibir tanda tidak puas.
"Baik."
Istri di dalam pelukannya ini bermanja-manja dengan tubuh yang lemas. Shen Bai yang tadinya berniat membantu merapikan tali bajunya, seketika melupakan segalanya. Ia sedikit mengendurkan genggamannya, mengangkat dagu Xi Lan, lalu mendekat untuk mencium bibirnya.
Kesadarannya melayang di luar kendali, aliran sengatan listrik yang menggelitik mengalir melalui setiap pembuluh darah di tubuhnya.
Kedua belah pihak saling bersaing dalam pertandingan yang penuh gairah dan kelekatan ini.
Dalam kabut kesadaran, Shen Bai merasa dirinya jatuh ke dalam dunia kapas manis.
Sentuhan di telapak tangannya terasa lembut sepenuhnya.
Udara dipenuhi dengan kehangatan yang manis.
Xi Lan membuka matanya yang sayu, melirik Shen Bai dengan manja.
Ia ingin pria itu mengurangi kekuatannya karena cubitannya tadi terasa sakit.
Besok mungkin akan ada bekas memar di mana-mana.
Namun, yang keluar dari bibirnya justru hanya sebuah deheman manja.
Shen Bai merasa terangsang hingga hampir tak sanggup menahan diri, seperti ada bola api yang tersangkut di dadanya, menggantung di tengah-tengah dan terasa sangat menyiksa.
Ia mengangkat tangan untuk menutupi mata Xi Lan, sementara akal sehatnya kabur untuk sesaat.
Rasa destruktif yang kuat itu membuatnya merinding.
Shen Bai memeluk Xi Lan erat-erat. Setelah semuanya mereda, yang tertinggal di lubuk hatinya adalah perasaan hampa yang kehilangan.
Xi Lan juga merasa Shen Bai yang seperti ini sedikit menakutkan, jadi ia membiarkan dirinya dipeluk tanpa bergerak sedikit pun.
Setelah akhirnya mereka berdua berhasil meredakan gelora di dada.
Xi Lan menopang tubuhnya di bahu Shen Bai, membuka matanya lebar-lebar sambil menatapnya dengan senyum penuh arti.
"Shen Bai, hebat juga ya kau, sekarang sudah belajar bermuka dua."
"Terima kasih atas pujiannya, aku bisa melakukannya dengan lebih baik lagi." Shen Bai kembali ke nada bicara normalnya.
Xi Lan menatapnya bolak-balik dengan tatapan penuh arti, lalu memamerkan gigi kecilnya sambil terkekeh pelan.
"Mainkan saja permainanmu sendiri, aku pergi."
Begitu selesai bicara, ia melesat keluar dari pelukan Shen Bai bagaikan belut. Sebelum pergi, ia bahkan tidak lupa membalas dendam pada pria itu.
Ia mencubit Shen Bai dengan kekuatan yang tidak terlalu ringan juga tidak terlalu berat.
Sentuhan itu memicu lonjakan adrenalin Shen Bai, membuat ekspresinya semakin suram dan sekujur tubuhnya menjadi panas.
Menatap punggung Xi Lan yang pergi menjauh, Shen Bai perlahan-lahan menundukkan kepalanya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tak berdaya.
Anggap saja ini akibat ulahnya sendiri.
Tanpa istri yang harum dan lembut di sisinya, Shen Bai sudah kehilangan minat dan merasa malas untuk bergerak.
Ia pun menyandarkan diri di sofa, menatap langit-langit sambil melamun.
Xi Lan benar-benar pergi untuk tidur siang.
Puff yang merasa bosan di lantai satu berlari ke lantai atas untuk mencari mereka.
Ia berlari masuk dengan cepat, mendongak dan mengelilingi rumah kaca dengan pandangan matanya. Mata kucingnya menyiratkan kebingungan, lalu ia mengeong memanggil Shen Bai.
Shen Bai meliriknya sekilas dan berkata pelan, "Mungkin dia kembali ke kamar untuk tidur."
Melihat Xi Lan tidak ditemukan, Puff pun langsung pergi begitu saja.
Ekspresi Shen Bai sempat membeku sesaat, tetapi ia tidak punya tenaga untuk memedulikan Puff.
Untuk makan malam, Shen Bai ingin memasak hidangan besar guna merayakan kembalinya Xi Lan dari perjalanan bisnis.
Baru saja setengah bahan makanan diproses, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Shen Bai menghentikan gerakan pisaunya yang sedang memotong daging, membagi perhatiannya untuk mengamati gerakan di belakangnya.
Tidak lama kemudian, Xi Lan sudah melingkarkan tangannya di pinggang Shen Bai dari belakang.
Kepalanya bersandar di punggung pria itu, menggosok-gosokkannya dengan penuh keintiman.
Ibu dan anak itu memang benar-benar mirip.
Gerakan saat bermanja-manja dengan menggesekkan tubuh pun sama persis.
Xi Lan berkata, "Shen Bai, aku ingin memesan menu."
Shen Bai melirik sepuluh jemari lentiknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Tidak boleh."
"Eh, sebelumnya kau membolehkanku memesan menu, kenapa sekarang jadi pelit sekali."
"Bukan pelit, bahan-bahannya sudah disiapkan. Sayang, malam ini apa pun yang kumasak, itulah yang kau makan, lain kali baru pesan menu."
Xi Lan memeluknya erat-erat, matanya dipenuhi dengan rasa dirugikan.
"Pembohong, waktu itu kau juga memberi harapan palsu padaku, kali ini juga begitu."
Shen Bai menghentikan pekerjaannya, lalu menoleh ke arahnya.
Xi Lan berjinjit, memajukan bibirnya untuk mencuri ciuman di sudut bibir pria itu.
Setelah selesai, ia mulai tertawa terbahak-bahak seperti angsa.
"Sudahlah, jangan mengggangguku," desak Shen Bai.
Jika dilanjutkan lagi, malam ini tidak ada yang bisa makan malam.
"Tidak mau, aku ingin memelukmu sebentar. Shen Bai, kau tahu? Aku sangat merindukanmu. Waktu perjalanan bisnis terasa begitu lambat, setiap hari aku berharap waktu berlalu dengan cepat."
"Aku mengerti perasaan itu."
"Huh?" Xi Lan kebingungan, lalu menjulurkan kepalanya dari balik punggung pria itu.
"Sudahlah, cepat lepaskan aku, saatnya menyalakan kompor dan memasak."
Ucapan yang mirip pengakuan cinta itu membuat Shen Bai merasa malu, sehingga ia secara tidak sadar mengalihkan pembicaraan.
Xi Lan, yang mungkin takut terkena cipratan minyak, segera melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
Ia berdiri diam dan mengawasi dari kejauhan.
"Xi Lan, geser ke sebelah kiri."
"Oh, baik."
Meskipun tidak tahu alasannya, Xi Lan tetap memilih untuk menuruti perkataan Shen Bai.
Terdengar suara desis.
Shen Bai dengan terampil menuangkan potongan daging yang sudah disiapkan ke dalam wajan berminyak.
Aroma pekat bercampur asap masakan melayang ke arah tempat Xi Lan berdiri sebelumnya.
Xi Lan mengerti, ia merasa tersentuh oleh perhatian Shen Bai.
Namun, detik berikutnya, seluruh rasa tersentuh itu hancur berkeping-keping.
"Xi Lan, tolong ambilkan sayur buncis untukku."
Xi Lan menunduk dan mengamati sekelilingnya, lalu menyadari kebenarannya.
Ternyata petunjuk dari Guru Shen tadi hanyalah agar ia melangkah lebih dekat ke meja dapur.
Tujuannya agar lebih mudah membantunya.
Sungguh keterlaluan...