Bab 127: Guru Shen Sedang Cemburu
Xilan tersenyum kecut, berusaha melepaskan diri dari Shen Bai. Namun, ia justru dikunci lebih erat oleh pria itu. Xilan sempat ingin memutar bola mata untuk menunjukkan kekesalannya, tetapi ia mengurungkan niatnya saat merasakan ketidakstabilan emosi Shen Bai. Lebih baik jangan mengganggu Pak Guru Shen saat ini. Siapa tahu ia tidak bisa mengendalikannya.
Ia mengira hal itu akan berlangsung lama, namun hanya berselang beberapa menit, Shen Bai melepaskan Xilan. Ia mengambil bantal di sampingnya lalu meletakkannya di atas pangkuan, kemudian membuka ponsel dan masuk ke aplikasi video untuk mencari sebuah film seni.
Dari lubuk hatinya, Xilan sangat mengagumi Shen Bai. Pria itu benar-benar bisa menahan diri. Pandangan Xilan sesekali mencuri lirik ke arah bantal di pangkuan Shen Bai. Dengan rasa penasaran, ia bertanya, "Shen Bai, kau baik-baik saja?"
Ekspresi Shen Bai tidak berbeda dari biasanya, tetap lembut seperti batu giok. "Tidak terlalu baik."
Apa yang dikatakan Shen Bai adalah kejujuran. Awalnya kondisinya tidak terlalu parah, tetapi karena gerakan Xilan yang tidak bisa diam, situasi pun lepas dari kendali Shen Bai.
"Apa kau ingin pergi ke..." Xilan menunjuk secara samar ke arah kamar mandi.
Shen Bai terdiam cukup lama sebelum perlahan menggeleng. "Aku akan menemanimu menonton film."
"Tidak apa-apa jika kita menontonnya nanti setelah kau kembali."
"Tidak perlu."
Shen Bai yang irit bicara telah kembali. Tampaknya ia sedang tidak ingin mengobrol. Xilan tidak membujuknya lagi, dan tentu saja, ia tidak berani berada terlalu dekat dengan Shen Bai. Melihat Xilan menjauh secara sukarela, Shen Bai merasa sedih sekaligus lega. Dibandingkan dengan siksaan menahan gejolak yang menyiksa, menjaga jarak untuk sementara waktu adalah pilihan yang lebih baik.
Xilan: "Shen Bai, bagaimana kalau kita ganti film lain?"
Shen Bai mengangguk dan menjawab dengan datar, "Terserah kau saja."
Setelah itu, Xilan memutar sebuah film animasi. Melihat layar ponsel yang menampilkan karakter beruang, emosi panas Shen Bai perlahan-lahan mereda. Sambil memakan camilan, Xilan berkata, "Apa kau suka menonton kartun? Kualitas gambarnya bagus."
Shen Bai: "Dulu aku suka." Kemudian ia mengerutkan kening dan menambahkan, "Aku pernah menemani anak kecil menonton *BoBoiBoy*."
Dilihat dari sudut pandang orang dewasa, Shen Bai memang tidak suka menonton kartun anak-anak. Daripada melakukan itu, lebih baik ia membaca buku. Umur manusia terbatas, dibatasi oleh waktu dan ruang, sehingga tidak mungkin bisa mengalami semua hal dalam hidup. Membaca karya sastra adalah salah satu cara untuk merasakan berbagai lika-liku kehidupan.
Xilan menoleh, menampilkan senyum lembut dengan mata yang melengkung. "Shen Bai, kau nanti akan menjadi ayah yang hebat."
Shen Bai tidak tahu harus menjawab apa atas pernyataan tegas Xilan itu.
Namun, mendapatkan pujian dari sang istri, bagaimana pun juga Shen Bai akan berusaha keras untuk mewujudkan citra sebagai suami yang baik dan ayah yang hebat. "Terima kasih atas pujian si Bulan Kecil, tapi syarat menjadi ayah yang hebat adalah, kita harus memiliki anak terlebih dahulu."
Sebuah lelucon yang diucapkan dengan serius, hanya Shen Bai yang bisa mengatakannya tanpa mengubah ekspresi dan tidak terlihat berlebihan.
"Hmm, urusan nanti biarlah nanti. Lagipula, memiliki anak itu tidak mudah."
"Meskipun aku tidak terlalu paham, aku akan menghargai pendapatmu." Shen Bai meraih tangan Xilan, bahkan tidak memedulikan film yang sedang diputar.
"Tentu saja, Pak Guru Shen memang paling lembut dan sangat baik kepadaku." Xilan menutup mulutnya dengan tangan yang lain sambil terkikik. Untungnya, Shen Bai adalah orang yang pengertian dan tidak memaksanya.
"Ngomong-ngomong, berandai-andai saja ya, kalau nanti punya anak, kau lebih suka laki-laki atau perempuan?"
Tatapan Shen Bai terus tertuju pada Xilan, tatapan mereka seolah menjadi aliran kesadaran. Ada garis tak terlihat yang menghubungkan mereka. Shen Bai menggunakan imajinasinya, memikirkan asumsi Xilan dengan serius. Ia teringat mimpi buruk yang pernah dialaminya, membuat wajahnya berubah aneh.
Xilan penasaran, ia menatap Shen Bai tanpa berkedip dan menangkap perubahan ekspresi pria itu dengan jelas. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Aku suka versi minimu."
"Hmm, satu laki-laki dan satu perempuan itu yang paling ideal."
Jelas, frekuensi pikiran mereka tidak terhubung. Shen Bai tidak membongkarnya, melainkan mengikuti alur percakapan. Ia mengangguk setuju. Siapa yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan? Xilan selalu saja berubah-ubah pikiran.
"Minumlah agar tenggorokanmu basah." Shen Bai mengambil botol air dan menyodorkannya.
"Aku tidak haus," tolak Xilan yang sedang asyik berbicara. "Setelah sampai di rumah, berapa hari kau akan berada di sana sebelum mulai bekerja?"
"Mungkin satu hari, atau mungkin dua sampai tiga hari." Xilan termenung, mencari jadwal di ingatannya.
"Kalau begitu, mengapa tidak langsung berangkat dari sini saja?" Shen Bai tidak mengerti caranya. Rute yang sangat sederhana, tetapi ia justru ingin menghabiskan waktu untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.
Xilan tersenyum malu-malu, "Aku merindukan Puff, aku ingin sekali memeluknya."
Mengelus bulu kucing sangat ampuh menghilangkan stres. Sudah hampir dua minggu mereka pergi berlibur. Jiwa keibuan Xilan benar-benar sangat merindukan si putra kucing yang dititipkan di rumah orang tuanya.
Shen Bai menyipitkan mata, tersenyum: "Kukira kau ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamaku."
"Shen Bai, kau bahkan cemburu pada anak sendiri." Xilan, yang merasa jahil, melihat Shen Bai yang seolah cemburu. Ia tidak bisa menahan hatinya yang bergetar, lalu mengulurkan tangan dan mencubit pipi pria itu. Ia tertawa gembira.
"Bukan cemburu." Shen Bai sama sekali tidak menganggap Puff sebagai saingan yang setara. Ia hanya ingin agar pandangan Xilan hanya tertuju padanya.
Pikiran itu sangat posesif, namun itulah cerminan isi hati Shen Bai.
"Aku sangat senang, Shen Bai, ini berarti kau semakin peduli padaku." Xilan kembali bermanja-manja, merentangkan tangan dan memeluk Shen Bai. Pria itu menikmati momen tersebut.
Shen Bai menatap Xilan dengan penuh kasih tanpa berkata apa-apa. Tindakannya sangat jujur; ia memeluk pinggang Xilan lebih erat untuk mendekat ke arahnya. Telapak tangannya mengusap punggung Xilan dengan tenang. Kehangatan pun merambat melalui kain pakaian yang berkualitas baik itu.
Xilan bergumam sambil mendorong, namun tidak dengan tenaga penuh, terasa lembut. Malahan, itu lebih mirip seperti menolak namun menginginkan. "Kita masih menonton film, jangan nakal, Shen Bai."
"Tontonlah filmmu." Shen Bai tidak ambil pusing. Ia justru memeluk Xilan lebih erat dan mengubah posisi, membuatnya membelakanginya.
"Aku belum mengemasi barang-barang, lelah sekali, aku tidak ingin bergerak." Xilan bersandar malas di pelukan Shen Bai.
"Kemasi nanti saja, tidak usah terburu-buru."
"Bisakah kau membantuku, Pak Guru Shen?" Xilan mulai merencanakan cara untuk bermalas-malasan.
"Menurutku, lebih baik kau mengemas barang pribadimu sendiri." Di alam bawah sadar Shen Bai, barang pribadi memang lebih pantas dirapikan sendiri.
"Baiklah." Karena tidak mendapatkan tenaga kerja gratis, Xilan sedikit lesu. "Shen Bai, bukankah penerbangan kita besok sore?"
"Ya." Hal ini ia pertimbangkan agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Kakak, bukankah kau harus membelikan hadiah untuk Yiyi?" Xilan tiba-tiba menoleh, tangan lembutnya melingkar di leher Shen Bai. Senyumnya cerah, bibirnya merah dan giginya putih.
"Beli daring saja, repot kalau harus membawanya." Shen Bai menatap lurus ke bibir Xilan. Ekspresinya yang sulit ditebak membuat orang merinding. Xilan justru suka menguji batas kesabaran pria itu. Ia menunduk, mendekat sedikit lagi ke arah Shen Bai.
Tenggorokan Shen Bai bergerak, matanya terpaku pada bibir merah itu. Ia tahu betul betapa lembutnya bibir tersebut. Memikirkan hal lain, Shen Bai mengerutkan kening dengan kesal.
Saat ia memalingkan wajah, Xilan menahan gerakannya agar tidak mengalihkan pandangan.
"Hehe, Kakak jangan malu-malu," ucap Xilan yang di permukaan tampak berani, pemandangan yang biasa terlihat.