Bab 90: Tiba-tiba Muncul Pengganggu di Tengah Jalan
Shen Bai tertegun, bungkam sejenak. Ia salah bicara.
“Bunganya benar-benar indah,” puji Xi Lan sambil mengangguk kagum.
“Untukmu,” kata Shen Bai.
Meski bunga itu tak digunakan sesuai niat awalnya, Shen Bai sedikit kecewa. Namun, saat melihat senyum cerah Xi Lan, semua kekesalan itu sirna begitu saja.
Mereka masing-masing memegang seikat bunga.
Setelah berkata demikian, Shen Bai justru bingung harus memberikan yang mana.
Semua bunga itu memiliki makna yang indah.
“Wah! Terima kasih, Shen Bai. Aku sangat suka,” Xi Lan benar-benar terkejut menerima bunga dari Shen Bai.
Pasalnya, belakangan ini sel-sel romantis guru Shen seolah menghilang entah kemana, berubah total. Ia sibuk saja berdebat tanpa henti.
“Ayo pilih satu yang paling kamu suka,” ujar Shen Bai.
“Kirain semuanya punyaku?” Xi Lan membuka matanya sedikit lebih lebar, tak percaya.
“Semuanya memang milikmu, tapi pilihlah seikat yang paling kamu suka,” jawab Shen Bai, setengah geli, setengah pasrah.
Bulan kecil yang rakus ini memang menggemaskan.
“Letakkan mawar biru di meja makan, dan bunga lili di meja kopi, ya?” saran Xi Lan.
“Aku ikut saja,” balas Shen Bai.
“Shen Bai, cepat cuci tangan. Kita siapkan makan malam,” kata Xi Lan sambil terkikik.
“Itu makanan pesan antar yang kamu pilih,” ujar Shen Bai.
Saat melewati meja makan, ia melihat hidangan makan malam diterangi cahaya lilin. Makanan tersaji dengan indah, aroma dan warnanya menggoda. Tak heran, nona muda itu memang penuh inovasi.
“Yah, kamu tahu sendiri, aku ini tipe yang nggak bisa masak. Mana berani menyajikan masakan aneh buat guru Shen,” Xi Lan berkata sambil menata vas bunga, bahkan memutar sudutnya agar lebih pas.
Sempurna.
Shen Bai pun merasa tenang, sebab ia tahu betul karakter nona muda ini. Yang ia takutkan, kalau-kalau Xi Lan tiba-tiba semangat dan melanggar janji, lalu mulai bereksperimen dengan dapur.
Shen Bai tak berani membayangkan akibatnya.
Xi Lan melambaikan tangan, tak sedikit pun merasa canggung. Manusia harus berani menghadapi kekurangannya sendiri.
Ia menyuruh Shen Bai segera mencuci tangan, karena perutnya sudah lapar.
Baru sampai di pintu dapur, Shen Bai tiba-tiba berhenti melangkah.
Ia menarik napas dalam-dalam. “Xi Lan.”
Di luar, malam cerah diterangi rembulan, cahaya bulan putih mengalir lembut melalui kaca jendela, menciptakan suasana indah yang tenang.
Di atas meja dapur, tampak seikat besar mawar merah.
Bunga itu segar dan memikat, warnanya mencolok dan indah.
Shen Bai memperkirakan jumlahnya.
Barangkali ini adalah buket sembilan puluh sembilan bunga yang sempat ia inginkan tapi tak punya alasan untuk membelinya.
Saat itu, kekhawatiran samar yang tadinya mengganggunya akhirnya menemukan jawabannya.
Seolah semua jelas dan nyata, hanya saja ia baru menyadarinya sekarang.
Xi Lan tiba-tiba muncul di belakangnya, menunjuk mawar merah itu dan tersenyum, “Shen Bai, kali ini bukan beli satu gratis satu, lho.”
Ia tak menipu Shen Bai, memang sengaja membeli bunga itu untuk mengungkapkan perasaannya.
Xi Lan sudah membayangkan berbagai kemungkinan hasil. Namun, menerima bunga dari Shen Bai adalah sesuatu di luar dugaannya.
Shen Bai menatapnya serius, bertanya dengan suara mantap, “Kau benar-benar membelinya untukku?”
Shen Bai pura-pura bertanya, padahal nada bicaranya jelas penuh kepastian.
“Iya, kamu suka?” Xi Lan tersenyum manis, jemari di belakang punggungnya saling menggenggam erat, menandakan betapa gugupnya ia.
Suara Shen Bai serak, dengan nada rendah ia menjawab, “Suka.”
Ia tidak bertanya kenapa Xi Lan memberinya bunga.
Jawabannya sudah jelas.
Tinggal menembus lapisan tipis di antara mereka.
Tiba-tiba, Shen Bai merasa gugup.
“Xi Lan...”
Tiba-tiba suara getaran ponsel memotong kalimat Shen Bai.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, di layar muncul nama “Merpati”.
Ekspresi Shen Bai datar, ia tidak menggubris, langsung memutus panggilan itu.
Lalu kembali menatap Xi Lan.
“Xi Lan, aku...”
Ponsel di atas meja dapur kembali bergetar, kejadian ini membuat Shen Bai seperti tersambar petir.
Dalam hati ia ingin sekali membelah diri dan langsung menghajar Wang Ge.
Urusan sebesar ini mana bisa ditunda-tunda, paham, tidak?
Ia memutus sambungan sekali lagi.
Mumpung suasana masih mendukung, ia ingin segera menuntaskan semuanya.
“Aku...”
Layar ponsel di meja kembali menyala.
Seolah kalau tidak diangkat, telepon itu takkan berhenti berdering.
Xi Lan pun mulai merasa suasana jadi canggung akibat gangguan itu.
Sambil tersenyum ia berkata, “Angkat saja dulu teleponnya, siapa tahu ada hal penting.”
Padahal ia sangat menanti apa yang akan dikatakan Shen Bai.
Sayangnya, cuaca tak mendukung.
Shen Bai menahan diri agar tidak terlihat frustrasi, berusaha tetap tersenyum lembut.
Ia menundukkan kepala sedikit, namun sorot matanya tajam menusuk.
Dengan tangan kaku, ia menjawab panggilan itu.
Berbalik ke arah jendela, satu tangan di saku.
Nada suaranya tetap biasa, tetapi tatapannya dingin menatap tanaman hijau di luar.
“Semoga saja memang ada urusan penting.”
Orang di seberang telepon terdiam, tak menyangka akan disambut dengan ketidaksenangan.
Wang Ge tak ambil pusing, malah tertawa, “Bai, cepatlah bukakan pintu untukku dan Susu. Sudah sekian lama kami pencet bel, tapi kok nggak dibukain.”
Ekspresi Shen Bai berubah.
Astaga!
Kalau ia tak salah ingat, pasangan pengantin baru ini seharusnya sedang bulan madu.
“Susu dapat pekerjaan mendadak, jadi kami batal bulan madu. Tapi malam ini, di hari Qixi, kami masih ingat menemui kalian. Kami setia kawan, kan? Kejutan, kan?”
Shen Bai menarik napas dalam-dalam, berulang kali mengingatkan diri, “Dia itu sahabatku.”
Bukan kejutan, malah bikin kaget.
Kenapa sih, malam Qixi yang bagus-bagus begini, tidak bisa dinikmati berdua saja?
Harus juga bertamu.
“Baiklah.”
Tanpa menunggu Wang Ge berkata lagi, Shen Bai yang hampir kena serangan jantung karena kesal itu langsung mematikan telepon.
“Ada apa?” tanya Xi Lan yang merasa aura Shen Bai berubah, mengira ada hal serius yang terjadi.
“Wang Ge dan istrinya datang, mereka di depan pintu.”
“Apa?” Xi Lan tampak sama terkejutnya.
Bedanya, ia tidak marah.
Shen Bai mencuci tangannya di wastafel, lalu menoleh dan mengangkat alis, “Ayo, kita sambut tamu jauh.”
Ia sengaja menekankan kata-kata itu, membuat Xi Lan cemas kalau-kalau Shen Bai benar-benar akan “memakan” tamu tak diundang itu.
Saat melewati Xi Lan, Shen Bai mengelus kepala gadis itu dengan lembut, kemudian mulai menenangkan, “Lain kali kita lanjutkan.”
Benar-benar waktu dan tempat sudah tepat, hanya saja orangnya tidak mendukung.
Setelah berkata begitu, ia memasukkan kedua tangan ke saku, berjalan santai ke arah pintu, dan sebelum memutar gagang pintu, ia menarik napas dalam-dalam.
Sret!
Pintu terbuka. Ia menatap ke depan, bertemu dengan senyum lebar Wang Ge yang seperti anak tuan tanah.
Shen Bai menyipitkan mata, senyumnya licik dan penuh maksud tersembunyi.
“Selamat datang.”
Wang Ge sampai tertegun, aura gelap Shen Bai seolah membawa musik pengiring dari alam lain.
Ditambah ruang tamu di belakangnya yang remang-remang, situasinya seperti ruang kremasi saja.
Wang Ge tiba-tiba merasa ingin mundur.
Baru sekarang ia sadar, nada kesal dan tidak sabar Shen Bai di telepon tadi bukan tanpa sebab.
Sepertinya kunjungan mereka benar-benar tidak pada waktunya.
Xi Lan mengintip dari belakang Shen Bai, bertanya heran, “Kenapa kalian belum masuk?”
Bukankah bisa dibicarakan di dalam?
Shen Bai tersenyum tipis, “Silakan masuk.”
Sambil berkata begitu, ia menyalakan lampu ruang tamu dan mempersilakan mereka.
Li Su awalnya tak paham cara menjamu Shen Bai yang seperti itu.
Sampai ia melihat makan malam di atas meja dengan lilin dan bunga.
Baru ia sadar.
Mereka mengganggu momen pengakuan seseorang.
Akhirnya ia paham.
Berbeda dengan Wang Ge yang cuek, Li Su memberi isyarat minta maaf pada Shen Bai lewat tatapan mata.
Wang Ge berkata, “Bai, Ming benar-benar pandai menyimpan rahasia. Kalau bukan hari ini aku dapat undangan, aku tidak pernah tahu dia akan menikah.”
Shen Bai hanya mengangguk datar.
Saat ini, ia benar-benar tidak ingin bicara dengan Wang Ge.
Sakit hati rasanya.
Xi Lan sangat senang sahabatnya datang berkunjung.
Ia begitu bersemangat ingin segera berbagi kabar bahagia dengan sahabatnya.
Dengan antusias, Xi Lan bertanya, “Susu, kalian sudah makan malam?”
Li Su mencari-cari alasan untuk segera pergi, memberi ruang bagi mereka sebagai permintaan maaf.
Namun Wang Ge malah buru-buru berkata, “Belum, kalian keberatan menambah dua piring dan sendok lagi, bukan?”