Bab 5: Mengundang Guru Shen Melihat Bintang
"Terima kasih atas pujiannya, juga terima kasih atas pengakuan dari Guru Shen." Xilan menoleh dan melihat wajah Shen Bai yang sebentar pucat sebentar memerah, entah karena malu atau marah, lalu tersenyum samar penuh makna.
"…Sama-sama," jawab Shen Bai dengan getir, hampir ingin menangis. Dia tidak merasa pernah mengatakan apa pun.
Xilan tahu kapan harus berhenti, meski melihat Shen Bai kalah bicara sangatlah menghibur, namun jika terlalu sering mengusik, ia khawatir akan ada balasan di kemudian hari.
Siapa suruh Shen Bai pandai memasak, kalau sudah kecanduan makanan orang, jadi tak enak hati juga.
"Aku kembali ke kamar dulu, mungkin akan tinggal beberapa hari lagi," ucap Xilan. Kalimat pertama sebagai salam perpisahan, yang kedua khusus ditujukan pada Shen Bai.
Shen Bai hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, menatap kepergian Xilan menaiki tangga.
Namun, Chen Zhong justru merasa aneh. Dia mendorong siku Shen Bai dengan sikap penuh arti, lalu tersenyum lebar, "Eh, jangan sungkan, kalian baru saja berjumpa lagi, rasanya seperti pengantin baru. Wanita itu, semuanya suka berkata tidak sesuai hati, bujuk saja pasti luluh."
"Kau begitu berpengalaman?" tanya Shen Bai ingin tahu.
"Tidak juga." Chen Zhong menggaruk hidung, sama sekali tak merasa malu.
"Kakak ipar cantik dan berhati baik, pasti tak akan menyalahkanmu."
"..." Itu bukan membujuk, tapi malah menyerahkan diri.
Saat awal masuk SMP, Shen Bai pernah menyaksikan sendiri Xilan mengacung-acungkan sapu, mengejar para pembuat onar dari kelas sebelah hingga pontang-panting.
Tegas dan penuh wibawa.
Pengalaman itu meninggalkan trauma bagi para remaja.
Sayangnya, kemudian yang dikejar justru Shen Bai sendiri.
Celakanya, tak ada satu pun temannya yang mau berbagi penderitaan, malah sebaliknya, mereka membawa bangku kecil dan asyik menonton sambil makan kuaci.
Bisa dibilang, aksi kejar-kejaran itu dari ujung jalan ke ujung lainnya.
Shen Bai malas menjelaskan, akhirnya hanya asal mengarang alasan.
Tak disangka, kelalaiannya hari ini justru membawa kebaikan.
Bima sakti membentang di angkasa, malam panjang belum berakhir.
Shen Bai selesai merapikan sebagian berkas, lalu dengan letih bersandar di kursi rotan, memijat-mijat jari yang terasa pegal.
Tirai jendela di balkon belum tertutup, angin malam membawa aroma segar bunga dan dedaunan, samar-samar terdengar suara burung dari pucuk pohon.
Shen Bai berdiri, melangkah ke balkon. Hamparan bintang menari di langit, keindahan malam itu seketika menghapus lelah di tubuhnya.
"Guru Shen, belum tidur juga?" suara lembut menyapa.
Shen Bai menoleh, mendapati Xilan berdiri di balkon, mengenakan piyama bergambar kartun, bersandar di pagar dengan satu tangan menopang dagu, menatapnya dengan senyum manis.
Sepasang matanya hitam pekat, terang bagaikan cahaya bulan, sinar bintang seolah berkumpul di dalamnya, memantulkan bayangan Shen Bai sendiri, membuatnya sesaat merasa sedang bermimpi.
"Kau juga belum tidur," sahut Shen Bai, tertegun beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan dengan canggung.
"Aku memang suka begadang, itu biasa. Tapi kau…"
"Aku kenapa? Apa aku tak boleh begadang juga?" Shen Bai tersenyum pasrah.
Toh usianya baru dua puluh enam, bukan empat puluh atau lima puluh tahun.
Kenapa semua orang selalu salah paham soal dirinya?
"Menurutku, kau yang paling berubah. Dulu muda… eh, sekarang jauh lebih tenang dan dewasa. Bagaimana ya, seperti anggur, makin lama makin nikmat, pesonamu semakin kuat," kata Xilan.
Xilan memang tidak suka mengikat rambut, sedangkan rambut terurai mudah berantakan tertiup angin. Jadi ia sering menyelipkan helai-helai rambut ke telinga, tampak santai namun memancarkan daya tarik tersendiri.
Shen Bai mengira semua itu karena Xilan memang cantik.
Kecantikan memang selalu menyejukkan hati.
Komentar Xilan membuat Shen Bai tertawa, sesuatu yang jarang terjadi.
"Baru kali ini aku dengar kau memuji aku."
Xilan terdiam, menatapnya beberapa detik tanpa bersuara, lalu menengadah menatap langit bertabur bintang.
Berkilauan, begitu dekat namun juga terasa jauh.
"Hari ini terima kasih, kalau tidak, aku pun tak tahu harus jelaskan bagaimana," ujar Shen Bai, meniru Xilan menatap bintang dan mengagumi bulan.
"Itu sudah kewajiban, hal kecil saja," balas Xilan datar.
Jawaban Xilan yang datar entah kenapa membuat hati Shen Bai terasa hampa, perasaan yang sudah lama tak ia alami sejak kuliah.
Kemudian Shen Bai merenungi hubungannya dengan Xilan, bisa akur tanpa bertengkar saja sudah termasuk anugerah.
"Aku bawa teleskop, mau lihat bintang bersama?" Xilan menoleh, tersenyum cerah sambil menawarkan.
Shen Bai terdiam lagi, tanpa sadar melirik jam tangan, tepat pukul 22.00.
Dalam benaknya, ia ragu memilih antara tidur atau menemani Xilan.
Beberapa detik kemudian, Shen Bai mengangguk, menjawab lembut, "Hm."
Demi usaha damai yang dilakukan Xilan, ia rela mengorbankan waktu tidurnya.
Bukan karena ingin begadang.
Xilan pun merasa canggung. Sebenarnya ia hanya sekadar basa-basi karena suasana sedang baik, tak menyangka Shen Bai akan mengiyakan.
Terpaksa Xilan memberanikan diri masuk ke kamar untuk mengambil teleskop.
Saat ia kembali, Shen Bai sudah duduk di tempat semula.
"?"
Shen Bai mengangkat alis, mengisyaratkan agar Xilan melihat ke pagar setinggi dada itu.
Xilan terdiam. Baiklah, memang kaki Guru Shen panjang.
"Lihat, itu yang membentuk huruf 'M' adalah rasi Perseus, di sebelah barat ada Cassiopeia dan Andromeda, sekarang belum begitu jelas, nanti musim gugur akan lebih mudah ditemukan…"
Jarak mereka begitu dekat, hingga Shen Bai bisa merasakan hangatnya Xilan meski hanya dipisahkan udara. Tanpa sadar ia menoleh, menatap bibir mungil Xilan yang bergerak-gerak.
Suara Xilan lembut mengalun di telinga.
Xilan jarang berdandan, dari dekat kulitnya tampak sangat indah.
"Pegang, kenapa malah melamun?" Xilan menatap heran padanya.
"Ah, iya!" sahut Shen Bai tergagap.
Xilan merasa Shen Bai tampaknya tidak begitu tertarik pada rasi bintang, jadi ia tidak melanjutkan penjelasan.
Shen Bai memang selalu memperhatikan perasaan orang lain, seperti hari ini, Xilan yakin kalau ia tidak bicara, Shen Bai pasti tak akan pernah menyebutkan status mereka.
Ia paham, Shen Bai memikirkan masa depan, jika suatu saat mereka berpisah, bertemu teman yang tahu urusan mereka pasti canggung.
"Shen Bai, sudah malam, pulang dan tidur saja," ujar Xilan.
Shen Bai melirik arlojinya, baru lima belas menit berlalu.
Melihat sikap Xilan yang tegas, Shen Bai mengangguk, lalu berdiri, melangkah panjang kembali ke balkon kamarnya.
Saat ia berbalik hendak mengucapkan selamat malam—
Yang ia temui hanya balkon kosong dan angin malam...
Uh... wanita memang aneh.
Shen Bai kembali ke kamar tanpa tahu alasan Xilan, padahal tadi mengajaknya melihat bintang, belum lama sudah menyuruhnya pergi.
Rasanya ia tidak salah bicara.
Sampai hendak tidur, Shen Bai masih tak mengerti.
Begitu bangun pagi, ia sudah lupa semuanya.
Shen Bai dan Chen Zhong sibuk keluar masuk rumah keluarga-keluarga terpandang dan bersejarah, mengumpulkan data dan catatan, meski lelah tapi hasilnya sangat memuaskan.
Saat makan malam, entah bagaimana pembicaraan mereka akhirnya membahas soal Xilan.
"Istrimu ke mana? Tak kelihatan dari tadi."
"Sibuk," Shen Bai cepat-cepat menaruh makanan ke mangkuk Chen Zhong, menjawab sekenanya.
"Kau belum berhasil membujuk istrimu ya?"
"...."
"Saat kuliah lidahmu itu licin sekali, loh."
Shen Bai hampir tersedak, buru-buru membuka tutup botol air mineral dan teguk dalam-dalam.
Malu! Malu!
"Tadi malam kalian berdua di bawah bulan purnama..." Chen Zhong mengedipkan mata, tertawa-tawa.
Shen Bai memutar bola mata, malas menanggapi.
"Bisa nggak sih, jangan cabul begitu, kau kan orang terdidik."
"Eh, Shen Bai, kau ini pikirannya sempit. Kalau sudah jatuh hati, kadang tak bisa ditahan."
"Benar kata pepatah, cinta tak tahu kapan bermula, makin dalam makin tak terelakkan, yang hidup bisa mati, yang mati bisa hidup kembali," ujar Chen Zhong sambil menepuk-nepuk meja, penuh misteri.
Shen Bai hanya mendorong sepiring lauk ke arahnya, tersenyum tanpa berkata apa-apa.