Bab 51: Bisa Menjebak Orang
Ini cerita yang cukup panjang. Shen Bai menjelaskan secara singkat kepada Xi Lan.
“Kalau dugaanku benar, mereka akhirnya bersama. Lain kali kamu bisa minta Li Su mentraktir makan.”
Bukan karena kurang satu kali makan, Xi Lan ingin menggeleng. Tak disangka, Shen Bai menambahkan, “Kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini.”
Ide yang bagus. Xi Lan mengacungkan jempol, memberikan pujian untuk Shen Bai.
Waktu itu, Su Su pernah menjebaknya, dan utangnya belum terbalas.
Hehehe...
Shen Bai bertanya, “Kapan acara makannya?”
Xi Lan melihat pesan, lalu berkata, “Hari Selasa, akhir pekan ini mereka akan bertemu orang tua.”
Shen Bai hanya menggumam, lalu kembali menunduk membaca buku.
Mengingat sahabatnya telah menemukan kebahagiaan, sementara dirinya masih jauh dari harapan, Xi Lan jadi merasa murung.
Melirik Shen Bai di sampingnya yang keras kepala seperti kayu, ia jadi makin kesal, sampai merasa nyeri di ginjal.
Lebih baik tidak melihatnya.
Xi Lan menunduk bermain ponsel.
Tampaknya Shen Bai yang paling serius membaca, ternyata sedang melamun.
Sudah berakhir bahagia? Walau jalannya tidak cepat, perjalanan mereka cukup lama juga.
Wang Ge itu memang cukup beruntung.
Memikirkan status pernikahannya sendiri, Shen Bai kembali menghela napas untuk kesekian kalinya.
Tuhan memang suka bercanda.
Dulu dia tak peduli dengan masa lalu cinta Xi Lan, tapi setelah benar-benar peduli padanya, dia juga penasaran dengan masa lalunya.
Shen Bai bukan tipe yang suka menyalahkan nasib.
Dia ingin tahu siapa lelaki brengsek itu.
Mungkin ini saat yang tepat untuk mencari tahu.
Mencari tahu dari siapa? Tentu saja dari Wang Ge.
Semoga dia cukup tangguh.
Jarum jam berputar berkali-kali, langit perlahan-lahan menjadi gelap...
Saat ponselnya kehabisan baterai, Xi Lan mulai mencari kabel charger.
Tidak ketemu.
Gaduhnya mengganggu Shen Bai yang sedang membaca.
Ia melepas kacamata, menutup buku.
“Xi Lan, kamu sedang apa?”
Xi Lan memberi isyarat minta maaf.
Dia benar-benar menyesal mengganggu waktu belajar Guru Shen.
Shen Bai melambaikan tangan, tak masalah.
“Aku cari kabel charger,” kata Xi Lan.
Shen Bai melihat sekeliling, cukup terkejut dengan tingkah Xi Lan.
Bagaimana sebenarnya cara kerja otaknya?
Shen Bai menunjuk ke arah selimut AC yang tergulung.
“Itu di sebelah kirimu.”
Xi Lan menoleh ke kiri.
Jelas terlihat, padahal tadi ia sudah mencari setengah hari dan seolah buta.
Xi Lan benar-benar berterima kasih pada Shen Bai.
Ucapan terima kasih yang terlalu dibuat-buat, sampai-sampai Guru Shen merasa muak.
Akhirnya ponselnya hidup lagi.
Tak ingin menonton drama, Xi Lan hanya ingin ada teman mengobrol.
Ia duduk bersila, tapi merasa kurang nyaman, lalu mengganti posisi dengan duduk berlutut.
Shen Bai terkejut, lalu tersenyum penuh arti.
“Tak perlu memberi hormat sebesar itu.”
Xi Lan memutar bola matanya ke atas.
Mungkin gerakannya terlalu berlebihan, sampai Shen Bai khawatir matanya tak bisa kembali normal.
Dengan malas Xi Lan berkata, “Shen Bai, aku ingin makan hotpot yang pedas, dan ingin minum teh susu dingin.”
Shen Bai terdiam.
Menunggu tujuannya.
“Jadi, ayo kita pesan makanan online.”
Dengan nada ragu, Shen Bai tidak setuju.
“Kamu yakin bisa makan semuanya sekarang?”
Tidak.
Xi Lan tetap antusias.
“Hotpot-nya yang kaldu bening saja, dan teh susunya suhu ruangan.”
Shen Bai sama sekali tidak tergoda. “Aku tidak mau makan.”
Sudah makan malam, kalau makan lagi, malam ini pasti kekenyangan sampai susah tidur.
Maksudnya jelas.
Kalau mau makan, pesan sendiri saja.
Tapi hotpot memang lebih seru kalau ramai-ramai.
Xi Lan langsung kehilangan semangat.
Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya.
Ia tersenyum licik.
...
Setengah jam kemudian.
Sambil makan, Xi Lan menyuruh-nyuruh Shen Bai.
“Shen Bai, bakso udang dan babat, taruh di kaldu jamur.”
Sebagai asisten, Shen Bai seperti boneka wayang, diatur sesuka hati oleh Xi Lan.
Sekarang dia hanyalah alat pencelup makanan yang tak punya perasaan.
Xi Lan makan sampai berkeringat.
Untung sebelumnya dia sudah mengikat rambut menjadi sanggul.
“Shen Bai, tolong ambilkan dua tisu.”
Shen Bai, tanpa lelah, langsung memberikan satu bungkus tisu.
Hotpot mendidih, uap memenuhi ruangan.
Wajah Xi Lan tertutup uap panas.
Sekilas, Shen Bai seperti melihat Xi Lan memutar bola matanya.
Hanya sekilas.
Mungkin saja dia salah lihat.
“Terima kasih,” kata Xi Lan dengan suara lembut.
“Shen Bai, makanlah juga. Ini enak sekali, kuah pedasnya lebih mantap.”
Shen Bai yang tidak lapar hanya menggeleng.
Dia tidak mau begadang karena kekenyangan.
Sambil bermain ponsel, Shen Bai tetap membantu Xi Lan mencelupkan makanan.
Secara fisik dia jadi alat, tapi pikirannya tetap bebas.
Xi Lan meletakkan sumpit, lalu berlari kecil ke arah dapur dengan ceria.
Saat hendak melangkah masuk ke dapur, ia tiba-tiba berhenti.
Tubuh bagian atas terhuyung ke depan karena inersia.
Xi Lan cepat-cepat berpegangan pada pintu dapur.
Tubuhnya membentuk lengkungan seperti udang.
Andai Shen Bai melihatnya, pasti akan mengagumi kelenturannya.
Xi Lan berseru, “Shen Bai, aku boleh masuk dapur untuk ambil sesuatu?”
Shen Bai menoleh, heran.
Seingatnya, ia hanya melarang Xi Lan memasak, bukan melarang mengambil sesuatu di dapur.
Walau tidak menjawab, Xi Lan sudah merasa diizinkan.
Ia melangkah kecil ke arah kulkas.
Membuka freezer.
Mengambil teh susu yang sudah diidam-idamkannya.
Plak.
Untuk teh susu milik Shen Bai, Xi Lan tidak mengambilnya.
Dia cukup baik hati.
Waktu memesan pun, dia tidak lupa memesan untuk Guru Shen.
Shen Bai mengerutkan dahi.
Gula tiga puluh persen, benar.
Tapi siapa yang bisa menjelaskan padanya, kenapa teh susu yang tertulis suhu ruangan malah jadi es?
Shen Bai tersenyum tipis, lalu berkata datar, “Xi Lan.”
Di balik nada datar, ada ketidakwajaran.
Pantas saja waktu mau membayar, Xi Lan tiba-tiba ingin menambah topping.
Ketahuan, ia pun terpaksa mengubah pesanan dari es menjadi suhu ruangan.
Disangka sudah selesai.
Ternyata setelah pesanan datang, Xi Lan diam-diam menyimpan teh susu ke dalam kulkas.
Makanya ia tadi bertanya boleh masuk dapur atau tidak.
Padahal sebenarnya diam-diam sudah menyelinap.
Baru saja memasukkan sedotan, Xi Lan langsung gemetar mendengar panggilannya.
Ia tertawa kikuk. “Aku bisa jelaskan, hehe...”
Shen Bai meletakkan ponsel dan sumpit, mengangguk tanpa bicara, menunggu penjelasannya.
Xi Lan menelan ludah diam-diam.
Dia sama sekali belum menyiapkan alasan, jadi bicaranya terbata-bata.
Matanya melirik ke kiri dan ke kanan.
Guru Shen yang tampak tenang, justru membuat Xi Lan merasa ciut.
Ia buru-buru mendorong teh susu menjauh dari dirinya.
Melihat wajah Shen Bai agak melunak, barulah Xi Lan mulai bicara.
“Teh susunya bilang, dia kepanasan...”
Baru dengar kalimat pembuka saja, Shen Bai sudah tahu itu omong kosong, dia langsung memotong.
“Jadi, karena kamu baik hati, kamu membantu menurunkan suhunya?”
Xi Lan mengangguk semangat.
Betul, betul sekali.
Shen Bai melanjutkan, “Kalau begitu, karena kamu sangat baik, jangan diminum. Nanti dia sakit.”
Ucapannya tulus dan meyakinkan, sulit untuk dibantah.
Xi Lan pura-pura bimbang, berkedip-kedip polos.
“Tapi teh susunya bilang, dia ingin bersatu denganku, jadi satu darah daging.”
Shen Bai: “……”
Alasanmu nyaris saja membuatku percaya.
Xi Lan bersumpah, mengangkat tiga jari.
“Aku minum sedikit saja.”
Shen Bai kembali terdiam.
Sungguh, nona muda ini bahkan tidak tulus saat bersumpah.
Sulit dipercaya.
Shen Bai mengetuk meja dua kali, tidak terlalu keras.
Maksudnya jelas.
Kalau mau makan hotpot, harus menyerahkan teh susu.
Xi Lan menjerit, “Guru Shen, janganlah.”
Suaranya pilu dan penuh penderitaan.
Orang yang tidak tahu pasti mengira Shen Bai sedang menyiksanya.
Shen Bai menggertakkan gigi, menahan kesal.