Bab 81 Keputusan Terakhir Maodun
Dalam beberapa hari berikutnya, perang masih terus berlanjut. Pasukan yang dipimpin oleh Xiang Yu benar-benar menjadi kekuatan utama, mengejar dan memburu Maodun Shanyu tanpa henti. Sementara itu, pasukan yang dipimpin oleh Wang Jian berperan sebagai kekuatan cadangan, memberikan dukungan bagi Xiang Yu.
Adapun Maodun Shanyu, ia terus-menerus dikejar oleh Xiang Yu hingga harus melarikan diri ke segala penjuru, perlahan-lahan mendekat ke kota raja bangsa Xiongnu. Dalam masa pelarian itu, Maodun Shanyu berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan kembali pasukan, berniat melakukan pertempuran terakhir melawan Xiang Yu. Namun malang, dua ratus ribu prajurit yang sebelumnya ia miliki telah habis tak bersisa.
Seandainya saja dua ratus ribu pasukan itu mampu mengorbankan diri dan menewaskan lima puluh ribu prajurit Xiang Yu, mungkin Maodun Shanyu masih punya secercah harapan untuk bertahan. Namun kini, Xiang Yu hanya kehilangan sekitar sepuluh ribu prajurit, tetap tak terkalahkan, sementara kekuatan Xiongnu telah runtuh!
Sebenarnya, Maodun Shanyu sendiri sangat memahami bahwa bangsa Xiongnu telah berada di ambang kehancuran. Namun ia tetap tidak rela, masih ingin bertarung sekali lagi melawan Xiang Yu. Bangsa Xiongnu terkenal sebagai bangsa yang begitu naik kuda langsung menjadi prajurit, tetapi kini mereka sudah dibuat gentar oleh Xiang Yu, bahkan sekadar melawan pun tak ada yang berani. Kehancuran bangsa Xiongnu sudah di depan mata!
...
Di dalam Suku Mantuo, Maodun Shanyu memimpin seribu sisa pasukannya melarikan diri ke sana. Suku Mantuo juga merupakan salah satu suku besar Xiongnu, para prianya sangat gagah berani, bahkan para wanita pun mampu mengayunkan pedang melengkung untuk menyembelih sapi atau kambing, apalagi membunuh musuh, tentu bukan persoalan.
Namun kini, suku Mantuo yang terkenal gagah perkasa itu hanya tersisa kurang dari seribu orang. Saat Maodun Shanyu dan rombongannya tiba di sana dan melihat segalanya yang kosong melompong, ia pun tertegun.
"Apa yang terjadi di sini? Suku Mantuo setidaknya memiliki sepuluh ribu orang, meski aku sudah membawa pergi dua ribu prajurit terbaiknya, mustahil hanya tersisa segini saja," kata Maodun Shanyu, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hamur dan yang lainnya pun sama bingungnya.
"Kau pergi cari tahu," perintah Maodun Shanyu pada Hamur.
Dengan tubuh yang sudah penuh luka, Hamur turun dari kuda dan mencari seorang wanita Xiongnu untuk menanyai. Tak lama kemudian, Hamur kembali dengan senyum pahit di wajahnya, lalu menghadap Maodun Shanyu dan mendesah, "Yang Mulia, berita kekalahan kita sudah menyebar ke seluruh padang rumput. Dua ratus ribu pasukan musnah tak bersisa, membuat bangsa Xiongnu ketakutan setengah mati. Mereka semua melarikan diri."
Kisah Xiang Yu menewaskan dua ratus ribu Xiongnu telah membuat bangsa itu gentar luar biasa. Mereka lari, tak berani berhadapan langsung dengan Xiang Yu—hal itu pun wajar saja.
"Keparat, semuanya pengecut! Tak berguna!" Maodun Shanyu menggeram penuh amarah.
Tatapan Hamur pada Maodun Shanyu sarat akan perasaan yang rumit. Ia tahu, inilah raja yang punya begitu banyak nyali. Seandainya bukan karena keberadaan Dinasti Qin, mungkin ia sudah membawa bangsa Xiongnu menjadi bangsa yang kuat dan makmur. Namun sungguh disayangkan, Dinasti Qin ibarat gunung yang menindih, menekan Maodun Shanyu hingga tak berdaya.
Setelah meluapkan amarah, Maodun Shanyu menatap sekeliling dan merasa sangat pilu. "Kekaisaran Xiongnu telah sampai di penghujung jalan..."
"Namun, meski harus mati, meski harus punah, aku tetap akan memimpin bangsa Xiongnu untuk melakukan perlawanan terakhir! Akan kugigit satu bagian dari tubuh Dinasti Qin!" serunya penuh tekad.
Mendengar itu, Hamur pun bersemangat, "Benar! Kalau pun harus mati, biarlah kita mati dengan harga diri!"
"Kembali ke kota raja, segera lakukan persiapan!" perintah Maodun Shanyu.
Hamur dan para jendral lainnya segera menjawab, "Siap!"
Maka, pasukan sisa yang laksana anjing kehilangan rumah itu pun melesat secepat angin menuju Kota Touman.
Kota Touman, kota raja bangsa Xiongnu—di sanalah Maodun Shanyu berniat menggigit satu bagian dari Dinasti Qin! Ia telah siap menghadapi kehancuran bangsanya.
...
Waktu berlalu, tiga hari pun terlewati.
Maodun Shanyu akhirnya tiba di Kota Touman, sementara Xiang Yu bersama pasukan pilihan Dinasti Qin sudah mengepung kota itu.
Hampir sembilan puluh ribu prajurit pilihan Qin berdiri di luar Kota Touman, memadati medan hingga tak nampak ujungnya. Semangat mereka berkobar luar biasa. Setiap prajurit Qin berteriak ingin melenyapkan Xiongnu!
Dengan semangat setinggi itu, tentara sekuat itu, Xiang Yu sebagai panglima merasa sangat puas. Ia menunggang kuda, berdiri paling depan, menatap Kota Touman dari kejauhan.
"Prajurit sekalian, lihatlah kota di depan sana!" seru Xiang Yu, "Itulah kota raja Xiongnu, benteng terakhir mereka. Itu adalah simbol keyakinan dan harga diri bangsa Xiongnu!"
"Selama kita merebut kota itu, bangsa Xiongnu akan hancur, mereka akan kehilangan keyakinan, kehilangan kekuatan, menjadi lemah tak berdaya, dan kita bisa melakukan apa saja pada mereka!"
Berdiri di depan dua pasukan besar, keberanian Xiang Yu memuncak. Dengan pedang besi seberat hampir seratus lima puluh kilogram di tangannya, ia mengacungkan ke arah kota raja Xiongnu sambil berteriak, "Selama bertahun-tahun, hanya bangsa Xiongnu yang menjarah Tiongkok, berkali-kali menyerang tanah air kita, menyakiti rakyat kita, merebut pangan kita!"
"Kini, kitalah penyerangnya, dan mereka yang lemah!"
"Kalau mereka memang lemah, maka habisi saja! Balaskan dendam bangsa kita pada Xiongnu, tumpahkan seluruh kebencian kalian kepada mereka!"
Ucapan Xiang Yu membakar semangat sembilan puluh ribu prajurit. Darah mereka mendidih, ingin segera menyerbu kota raja Xiongnu, menghancurkan peradaban dan tanah air mereka!
Ucapan Xiang Yu itu pun diteruskan oleh puluhan prajurit bersuara lantang, hingga terdengar jelas ke atas tembok kota raja Xiongnu.
Di atas tembok, Maodun Shanyu mendengar semuanya dan wajahnya menjadi sehitam arang. Hamur tampak lesu, para prajurit Xiongnu pun menundukkan kepala. Mereka tahu, nasib mereka hanyalah kehancuran.
"Sungguh keterlaluan! Xiang Yu berani menyebut kita lemah!" Maodun Shanyu murka, wajahnya gelap penuh dendam. Selama ini, hanya bangsa Xiongnu yang menertawakan bangsa Tiongkok sebagai lemah, tak pernah mereka diejek seperti itu.
Namun hari ini, Dinasti Qin benar-benar berhasil mempermalukan bangsa Xiongnu sebagai bangsa lemah.
Hati Maodun Shanyu terasa remuk, tatapannya pada Xiang Yu di bawah kota hampir memercikkan api kebencian. Ia membenci Xiang Yu, benar-benar membencinya!
Melihat tak ada jawaban dari atas tembok, Xiang Yu pun terkekeh, "Sampaikan pesanku, bilang bangsa Xiongnu itu pengecut, diejek lemah saja tak berani membalas!"
Puluhan prajurit bersuara lantang pun maju ke depan, berteriak keras ke arah tembok, "Panglima kami bilang kalian pengecut! Diejek lemah saja masih tak berani membalas!"
Mereka berteriak tiga kali, suaranya menggema membelah udara, hampir membuat Maodun Shanyu muntah darah karena murka.
Saat itu, seorang wakil panglima bergegas datang dan memberi hormat pada Xiang Yu, "Panglima, para prajurit sudah tak sabar ingin menyerbu kota, membakar, menjarah, dan membantai. Kami..."
Xiang Yu tertawa keras, "Suruh mereka bersabar sebentar lagi."
"Mengapa?" tanya sang wakil panglima heran.
Bukankah sudah berada di depan gerbang kota? Kenapa harus menunggu? Langsung saja serbu!
"Ini kota raja Xiongnu, simbol kehancuran mereka. Mereka pasti akan bertahan mati-matian. Pasukan kita sudah kehabisan perbekalan, tunggu sampai logistik dari Wang Jian tiba, makan dan minum sampai kenyang, lalu kita serbu!"
Xiang Yu bersandar santai pada punggung kudanya.
Karena sudah terlalu jauh masuk ke padang rumput, jalur logistik pun terputus. Kini mereka harus menunggu Wang Jian mengirimkan perbekalan. Lagi pula, tidak perlu terburu-buru menyerang. Biarkan mereka tenggelam dalam ketakutan, hancurkan semangat juang mereka, dan saat waktunya tiba, serangan kita pasti akan menghancurkan Kota Touman dalam satu gebrakan!