Bab 19: Air Suci dan Minuman Bersoda?
Singkatnya, hari itu suasana istana penuh dengan kegembiraan. Setelah semua urusan diatur dengan baik, Kaisar Pertama baru mengumumkan penutupan sidang. Seusai sidang, Kaisar Pertama bersama Meng Tian, Wang Jian, dan beberapa pejabat lainnya pergi ke taman istana.
Di taman itu, Kaisar Pertama mencabut sendiri hamparan bunga hingga bersih. Dalam pandangan Kaisar, seindah apapun bunga, nilainya tidak sebanding dengan bibit kentang! Ia tidak mengumumkannya di sidang, melainkan ingin menanamnya sendiri terlebih dahulu untuk melihat hasilnya.
"Paduka, bunga-bunga ini harum, mengapa dicabut?" tanya Tu Sui heran.
Sebenarnya Kaisar tidak mengundang Tu Sui, namun ia memaksa ikut, sehingga dengan tebal muka ia menyusup ke rombongan menuju taman istana.
"Aku hendak menanam benda ajaib," ujar Kaisar Zheng dengan hati-hati mengeluarkan bibit kentang dari lengan bajunya.
Xiao Mengzi yang belum pernah melihat, kini menatap lebar-lebar penuh keheranan, "Benarkah hanya dengan ini, hasilnya bisa tiga ribu kati per hektar? Seperti mimpi saja."
"Ucapan sang guru tak mungkin keliru," jawab Kaisar Zheng sambil tersenyum.
Tu Sui sangat terkejut.
"Apa? Tiga ribu kati? Hanya dengan bibit kecil ini bisa menghasilkan sebanyak itu?"
Keterkejutannya mengundang cibiran dari Meng Tian, "Kenapa harus teriak? Dasar kampungan, tampak sekali kau belum pernah melihat dunia. Ini hadiah dari dewa, apa yang aneh?"
Hadiah dari dewa, ditambah hasil tiga ribu kati per hektar. Meski hanya seorang jenderal, Tu Sui sangat paham arti hasil sebesar itu: pasukannya tak akan pernah kelaparan lagi!
Sekejap, ia begitu bersemangat. Mengabaikan sindiran Meng Tian, ia segera berkata, "Paduka, izinkan hamba membantu menggali dengan pedang!"
"Tidak perlu, aku ingin menggali sendiri dengan tangan, agar menunjukkan ketulusanku kepada sang guru," jawab Kaisar Zheng seraya menggeleng. Ia lantas berjongkok, dan mulai menggali lubang untuk kentang itu dengan tangannya sendiri.
Melihat sang Kaisar turun tangan, para pejabat pun tidak mau kalah. Dalam waktu singkat, belasan tangan bekerjasama menggali hingga terbentuk lubang besar.
Kaisar Zheng tersenyum puas, dengan khidmat meletakkan bibit kentang ke dalam lubang, lalu menimbunnya dengan tanah, menyiram, dan memberi pupuk.
Membayangkan panen tiga ribu kati per hektar, Kaisar Zheng penuh harap, "Semoga sebelum pasukan berangkat menaklukkan Xiongnu, kentang ini sudah dapat disebarluaskan, sehingga pasukan tak kekurangan logistik."
"Benar, waktu penyerangan ke Xiongnu kira-kira awal tahun depan. Semoga sebelum itu, senjata modao dan kentang sudah dapat dilengkapi untuk para prajurit," ujar Wang Jian dengan serius.
Kaisar Zheng mengangguk, "Pastikan awal tahun depan, kentang dan modao sudah tersebar luas!"
Para pejabat serempak menyambut perintah, "Siap."
Kaisar Zheng mengangguk mantap. Penyerangan ke Xiongnu adalah strategi besar. Masalah Enam Negara diyakini akan tuntas lewat tiga dekrit yang telah dikeluarkan, sehingga ia bisa fokus menaklukkan Xiongnu di utara.
Semua persiapan telah rampung. Pasukan harus bergerak sebelum awal tahun depan, sementara waktu tersisa hanya sedikit lebih dari tiga bulan.
Setelah merenung sejenak, Kaisar Zheng seperti teringat sesuatu, dan mengeluarkan benda lain dari lengan bajunya.
Benda itu sempit di atas dan lebar di bawah, berisi cairan berwarna coklat. Pada permukaannya tertulis empat aksara: Minuman Segar Cola!
"Apa ini, Paduka?"
"Aneh, bentuknya tak biasa."
"Aku belum pernah melihat benda semacam ini."
Saat menerima hadiah, perhatian semua orang tertuju pada kentang ajaib, sehingga tak seorang pun memperhatikan botol cola itu. Maka, ketika Kaisar Zheng mengeluarkannya, semua pun merasa heran.
Saat Tu Sui dan yang lain penuh rasa ingin tahu, Kaisar Zheng tersenyum, "Ini hadiah kedua dari sang guru untukku."
Feng Quji bertanya ragu, "Paduka, apa nama benda ini?"
"Menurut sang guru, ini disebut cola, atau air bahagia bagi kaum rebahan," jawab Kaisar Zheng.
"Air bahagia kaum rebahan? Apa itu?" Mata Tu Sui memancarkan rasa ingin tahu menatap botol cola itu, ia yakin pemberian dewa pasti luar biasa.
Satu bibit saja bisa menghasilkan tiga ribu kati, apalagi cairan dalam botol ini, pasti lebih ajaib.
"Mungkin semacam air dewa, sebab benda pemberian dewa selalu istimewa," kata Kaisar Zheng.
Para pejabat pun setuju, pemberian dewa pasti yang terbaik.
Feng Quji segera menyanjung, "Paduka, jika ini air dewa, sudah sewajarnya Anda yang mencicipi terlebih dahulu."
Kaisar Zheng memegang botol cola sambil mengernyit, "Tapi, bagaimana membukanya?"
Tidak ada bagian yang terlihat bisa dibuka, hanya terlihat cairan di dalamnya bergoyang.
Xiao Mengzi tak sabar, "Tak usah pusing, Paduka, biar saya buka dengan pedang."
Dengan pedang, pasti bisa dibuka.
Setelah mendapat izin, Meng Tian menghunus pedang, mengarahkannya ke bagian atas botol cola, dan perlahan mengirisnya.
Karena berisi soda, cola itu pun menyembur keluar dan membasahi wajah Meng Tian.
Meng Tian tertegun, lalu menjilat bibirnya. Seketika matanya berbinar, "Paduka, manis rasanya."
Sambil berkata, ia menyerahkan cola itu dengan hormat.
Melihat ekspresi terkejut Meng Tian, Kaisar Zheng segera mengambil dan menyesap sedikit.
Hanya sedikit saja.
Cairan yang menyegarkan itu meluncur di lidah, menjelajahi rongga mulut, seolah-olah langsung membangkitkan seluruh sel pengecap.
Sssst—
Sensasinya membuat tubuh Kaisar Zheng bergetar hebat.
Belum pernah ia meminum sesuatu yang begitu lezat dan menggugah, kenikmatannya seakan menembus ke otak.
Benar-benar luar biasa.
Mata Kaisar Zheng bersinar, "Pantas saja disebut air dewa, sungguh luar biasa, terlalu enak! Lain kali harus minta dua botol lagi dari sang guru!"
Ekspresi Kaisar Zheng cukup menjelaskan betapa enaknya air dewa itu. Para pejabat pun menatap penuh harap dan iri.
Kaisar Zheng tertawa, "Lebih baik berbagi kesenangan daripada menikmatinya sendiri. Kalian semua, mari kita nikmati bersama! Ambilkan mangkuk!"
Kaisar Zheng memang tidak pelit, ia rela berbagi dengan mereka.
Mendengar perintah itu, beberapa pelayan kecil segera berlari mengambil mangkuk.
Sambil menunggu, Kaisar Zheng diam-diam menyesap dua kali lagi—kalau terlambat, keburu habis… Melihat mata para pejabat seperti Meng Tian, Tu Sui, Fusu yang berbinar, ia segera meneguk beberapa kali lagi demi kepuasan pribadi.
Tak lama kemudian, mangkuk-mangkuk pun dibagikan.
Semua mendapat bagian air dewa itu.
Begitu masuk ke kerongkongan, mata Meng Tian, Wang Jian, dan yang lain langsung bersinar. Bahkan beberapa pelayan kecil di samping mereka menelan ludah berkali-kali, tampak jelas tergoda.
"Kalau nanti ke sana lagi, aku pasti minta dua botol lagi sama dewa!" seru Xiao Mengzi.
Tu Sui berkata, "Belum pernah aku minum cola yang seenak dan seunik ini."
"Terima kasih Paduka, terima kasih kepada dewa!" ujar Feng Quji.
Fusu bertanya, "Ayahanda, masih ada? Anakanda ingin menambah sedikit lagi..."