Bab 75: Kakak Senior Ingin Memulai Usaha
Cahaya bulan bagaikan aliran air, membasahi pelataran batu biru dan menyelimuti keempat orang di tepi meja dengan cahaya perak yang lembut. Minuman keras dan makanan yang dipesan terletak di atas meja. Bai Yujing duduk santai di kursi malas, menanyakan perkembangan latihan mereka dan mengingatkan hal-hal yang perlu diperhatikan.
Suasana di tempat itu terasa sangat harmonis.
Liu Shuangling melirik wajah Bai Yujing, diam-diam memahami bahwa tindakan mendadak ini kemungkinan besar karena ia merasa kesepian.
Dulu, ia sendiri pun kadang merasakan hal serupa. Terkadang, sesuatu menyentuh hatinya, membuatnya ingin berbagi perasaan, namun ketika menoleh ke sekeliling, ia sadar tak ada seorang pun yang pantas diajak bicara.
Hanya kesepian yang tak bisa ia lepaskan, terus membayangi hatinya.
Namun, ia termasuk beruntung.
Rasa sepi itu hampir tak pernah lagi mengusik setelah bertemu Bai Yujing.
Namun, di sisi lain, itu juga sebuah ketidakberuntungan.
Karena perasaan itu hanya dimiliki oleh mereka yang cukup kuat.
Saat seseorang menjadi begitu kuat hingga merasa dirinya “berbeda spesies” dengan orang-orang di sekitarnya, kesepian akan selalu mengikuti.
Liu Shuangling hanya bisa menemukan kembali perasaan itu setelah berhasil mengalahkan Bai Yujing.
Tapi untuk mencapai hal tersebut, ia harus segera menuntaskan eksperimennya.
Pikirannya pun melayang jauh.
Bai Yujing menyadari kalau ia tengah melamun, tiba-tiba bertanya, “Bagaimana, apa usahamu belakangan ini membuahkan hasil?”
Liu Shuangling spontan tersadar, genggaman pada gelas minumnya mengencang, tapi ia cepat-cepat bereaksi, tidak sampai memecahkan gelas.
Wajah cantik berbentuk telur angsanya tersenyum, “Ketua, Anda benar-benar selalu memperhatikan gerak-gerik kami.”
“Sungguh menyimpang,”
Tia tanpa ragu mengomentari dengan nada menggoda, pipinya bersemu kemerahan yang memikat.
Ia memang tipe orang yang wajahnya langsung memerah setiap kali minum alkohol, “Ini sudah bisa dikatakan tindak kejahatan, kan? Selalu melacak keberadaan para gadis cantik, kadang mengintip diam-diam. Orang seperti itu di masyarakat biasanya disebut mesum atau penyimpang.”
Suara beningnya yang dipadukan dengan tatapan tak suka, bagi sebagian orang yang punya minat khusus, justru terdengar seperti pujian tertinggi, bukannya hinaan.
Namun jelas, Bai Yujing bukanlah orang dengan kegemaran seperti itu, ia menanggapi dengan sungguh-sungguh, “Aku harap kalian menganggap tindakanku sebagai bentuk perhatian. Sebagai ketua, demi mencegah kalian tersesat, aku harus mengambil sedikit tindakan pencegahan.”
“Tsk.”
Tia mengklik lidah, namun tidak melanjutkan topik itu.
Sejak lama ia sudah menduga kalau Bai Yujing selalu mengawasi mereka, dan saat Zhuying diselamatkan dari bahaya, dugaannya terbukti benar.
Ia pun sudah siap secara mental. Protes barusan hanya untuk meluapkan uneg-uneg.
Kalau terus mempermasalahkan, bisa-bisa nanti dicatat oleh ketua di buku catatannya.
Lagi pula, dalam hal ini memang Bai Yujing tidak bisa dikatakan bersalah.
Tia tahu persis seperti apa dirinya.
Jika Bai Yujing adalah orang benar berhati emas, maka ia sendiri jelas adalah perwujudan dari kehendak gelap.
Tanpa ancaman Bai Yujing yang bisa muncul kapan saja, mungkin ia benar-benar akan mencoba jalan pintas yang berbahaya.
Padahal, sekali mencoba jalan pintas yang salah, bisa-bisa tamat riwayatnya.
Tia memilih diam.
Liu Shuangling tersenyum penuh makna, “Ketua, tenang saja. Cepat atau lambat, aku pasti akan membunuhmu.”
Nada bicaranya lembut, seolah sedang mengundang seseorang untuk minum teh sore, tanpa sedikit pun aura membunuh, tapi cukup membuat bulu kuduk merinding.
Mendengar tekad Liu Shuangling, Bai Yujing tersenyum.
Sejak menyaksikan pertarungan Duyu di arena, ia jadi tertarik pada pertempuran yang menguras seluruh kekuatan dan membakar semangat.
Itu adalah gairah bertarung yang belum pernah ia rasakan.
Selama ini, tak satu pun lawan yang benar-benar mampu melawannya.
Keluhan semacam ini, jika diceritakan pada orang lain, pasti dianggap pamer.
Namun Bai Yujing memang berharap suatu hari bisa bertarung sekuat tenaga.
Ia mengangkat gelas, “Segelas ini, semoga keinginan kalian semua tercapai!”
“Ya.” Liu Shuangling mengangkat gelas membalas.
Zhuying juga mengangkat gelas tanpa ekspresi, hanya saja ia berbeda dari yang lain, gelasnya berisi jus buah.
Ia merasa diremehkan.
Tetapi, di usianya yang baru tujuh belas tahun, ia memang belum boleh minum alkohol.
Ia hanya bisa melirik iri ke arah tiga gelas berisi minuman keras, lalu menenggak habis jus manisnya.
...
Malam semakin larut.
Cahaya bulan menembus pintu geser yang belum tertutup, menerangi ruang tamu yang remang. Sosok Liu Shuangling tiba-tiba muncul di sana.
Ia langsung menuju kamar mandi, menyalakan lampu, seketika cahaya hangat memenuhi ruangan itu.
Ia memutar kran bak mandi, air panas mengalir deras, uap hangat perlahan memenuhi udara.
Liu Shuangling keluar dari kamar mandi, menyalakan lampu ruang tamu dan kamar tidur satu per satu, mengusir gelap dari seluruh ruangan.
Ia lalu masuk ke dapur, mengeluarkan kue dan teh hitam dari lemari.
Makanan yang tadi disantap bersama Bai Yujing di Qingyunmen, begitu masuk ke perut, langsung dilumat habis tanpa sisa.
Itulah sebabnya ia bisa langsung ngemil lagi setelah makan malam.
Kembali ke kamar mandi, air di bak sudah hampir luber, uap hangat memenuhi udara dan embun tipis menutupi cermin.
Ia menutup kran, cepat-cepat menanggalkan pakaiannya, menampakkan kulit bening seputih giok.
Liu Shuangling mengangkat kaki kanannya, perlahan masuk ke dalam bak mandi, air hangat pun perlahan membungkus tubuhnya, menghadirkan kenyamanan yang sulit diungkapkan.
“Haa...” Liu Shuangling menghela napas puas, membenamkan tubuh hingga hanya bahu dan kepala yang tampak di atas air.
Mengingat kembali ucapan bersulang dari Bai Yujing, mata indahnya yang sipit itu sedikit terpejam.
Cepat atau lambat, ia akan menghancurkan seluruh ketenangan dan rasa percaya diri Bai Yujing.
Namun ketika memikirkan itu, tiba-tiba saja muncul rasa hampa yang aneh dalam hatinya.
Jika benar-benar berhasil membunuh Bai Yujing, lalu apa yang harus ia lakukan?
Menguasai dunia?
Liu Shuangling harus jujur, ia sudah kehilangan minat pada hal semacam itu.
Setelah mengalahkan Bai Yujing, ia akan kembali ke kesepian yang tak berujung...
“Apa yang kupikirkan, sih.”
Liu Shuangling menepuk pipinya, mengusir perasaan hampa itu.
Saat ini, yang penting hanyalah menuntaskan eksperimennya.
Mengalahkan Bai Yujing masih sangat jauh dari jangkauan.
Mana mungkin membuka sampanye sebelum pertarungan dimulai?
...
Uap panas di kamar mandi perlahan menghilang, Liu Shuangling bangkit dari bak mandi, tetesan air bening meluncur di kulitnya.
Ia mengeringkan tubuh, menuju kamar tidur untuk mengenakan kaos hitam dan celana longgar, lalu mengambil ponsel, jarinya menari di layar, membuka data warga yang baru saja ia beli.
Tiga puluh ribu data tersusun rapat di layar, layaknya lautan data yang tak berujung.
Menyaring target dari semua data itu jelas butuh waktu yang sangat lama.
Mungkin, sudah saatnya ia membentuk kelompok sendiri?
Liu Shuangling sadar, jika eksperimennya kelak meluas, jumlah jiwa jahat yang ia butuhkan juga akan meningkat, dan menyaring sendiri begini bisa makan waktu tak berkesudahan.
Membentuk kelompok penumpas kejahatan...
Ia merenung sejenak, lalu segera terpikirkan sebuah nama organisasi.
Anggota bisa dicari secara bertahap.
Lagipula, Bai Yujing tahu soal gerak-geriknya tapi tidak mencegah, berarti sudah memberi lampu hijau.
Artinya, ia bisa bertindak lebih berani.