Bab 14 Tinju Panjang Keluarga Hong
Setelah bus melayang memasuki pusat kota cukup jauh, akhirnya berhenti di sebelah sebuah alun-alun. Setelah turun, Dong Fang dan Chu Nan langsung menuju ke tengah alun-alun yang luas itu.
Dari kejauhan, mereka sudah melihat dua gadis muda melambaikan tangan ke arah mereka. Chu Nan menatap lebih saksama, lalu tanpa sadar memuji dalam hati.
Kedua gadis itu tampak berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, seusia dengan Chu Nan dan Dong Fang. Walaupun tak bisa dibilang kecantikan luar biasa, mereka berada di masa muda yang segar dan menawan. Dengan dandanan yang sangat sederhana, mereka sudah tampak seperti dua bunga yang merekah di tengah alun-alun, benar-benar pantas disebut cantik.
Melihat dua gadis itu begitu gembira ketika bertemu Dong Fang, Chu Nan menggelengkan kepala dengan heran.
"Aneh sekali, jangan-jangan penglihatan mereka bermasalah?"
"Hai, Mawar, Melati, perkenalkan, ini sahabatku, Chu Nan." Setelah berbasa-basi sebentar, Dong Fang segera mengenalkan mereka. "Chu Nan, buka matamu lebar-lebar, dua gadis cantik ini adalah teman baik yang sering kuceritakan padamu. Yang ini namanya Mawar, dan yang satu lagi namanya Melati. Nah, kenalanlah dengan mereka."
"Mawar? Melati? Nama yang bagus sekali." Chu Nan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, namun kedua gadis itu malah tertawa geli.
"Kamu Chu Nan?" Gadis bernama Mawar tampak lebih ceria dan berani. Ia menatap Chu Nan penuh rasa ingin tahu, lalu tiba-tiba bertanya, "Hei, apa benar kamu masih perjaka?"
Chu Nan tertegun, lalu segera menoleh ke Dong Fang dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh. Tak perlu ditanya, pasti Dong Fang diam-diam pernah meledek namanya di hadapan dua gadis ini.
Dong Fang sendiri pura-pura tak bersalah, menatap ke langit dengan ekspresi polos.
Chu Nan menatapnya dengan kesal, lalu berbalik ke arah Mawar dan dengan serius menjawab, "Iya, memang. Kenapa? Kamu tidak suka perjaka?"
Mawar dan Melati saling berpandangan, lalu tertawa pelan. Setelah beberapa saat, Mawar menahan tawanya dan berkata genit, "Tenang saja, dibandingkan para lelaki yang hanya memikirkan tidur dengan perempuan, aku justru lebih suka yang masih polos."
Melati tampak lebih kalem, hanya tersenyum tanpa bicara, tetapi tatapannya pada Chu Nan tampak jauh lebih lembut daripada sebelumnya.
Mereka berempat, sama-sama masih muda dan punya minat yang sama dalam ilmu bela diri, dengan cepat langsung akrab. Saat Dong Fang menyebutkan bahwa Chu Nan saat ini hanyalah seorang petarung tingkat awal Badai Tubuh, Mawar dan Melati tidak memandang rendah, justru merasa semakin dekat, sebab mereka berdua pun baru di tingkat awal Badai Tubuh. Dibandingkan Dong Fang yang sudah mencapai tingkat tiga, Chu Nan malah terasa lebih mudah diajak bicara.
Namun, ketika Dong Fang bercerita bahwa kemarin Chu Nan berhasil mengalahkan seorang petarung tingkat lima Badai Tubuh, kedua gadis itu langsung terkejut bukan main.
"Jangan percaya omongan anak ini, aku cuma beruntung saja kemarin. Kalau bertanding lagi, aku pasti kalah," kata Chu Nan buru-buru merendah.
Kemampuan luar biasa Chu Nan dalam mengumpulkan dan menganalisis data sudah ia putuskan sebagai rahasia terpenting yang tak boleh diketahui siapa pun. Maka, demi menutupinya, ia juga tak ingin terlalu banyak menunjukkan kehebatannya.
"Terlalu merendah malah jadi terkesan munafik, lho," kata Mawar sambil manyun. "Chu Nan, Dong Fang nggak mungkin bohong ke kami. Ayo, cerita, bagaimana kamu bisa mengalahkan petarung tingkat lima itu?"
"Betul, ceritakanlah, aku juga penasaran," kali ini Melati pun ikut bertanya.
"Eh..." Chu Nan hanya tertawa mengelak, tak mau menjawab.
Melihat sikapnya, Mawar dan Melati tentu tak mau kalah dan terus mendesak dengan penasaran.
Jarak dari alun-alun ke tempat pertemuan para petarung memang tidak jauh, tapi karena mereka bertiga ribut terus, akhirnya butuh hampir setengah jam untuk sampai ke sana.
Pertemuan para petarung ini diadakan pemerintah Bintang Awan Barat untuk memajukan interaksi di antara para petarung di planet itu, diadakan sebulan sekali. Dengan dukungan pemerintah yang kuat, acara ini telah menjadi ajang terbesar bagi para petarung di Bintang Awan Barat.
Di sini, para petarung tak hanya saling bertukar ilmu bela diri, baik secara terbuka maupun diam-diam, tetapi juga menjual teknik rahasia mereka sendiri. Karena sering kali ada petarung yang terpaksa menjual teknik spesial yang mereka peroleh dengan susah payah, banyak orang datang untuk mencoba peruntungan.
Chu Nan adalah salah satunya.
Karena baru-baru ini dua petarung tingkat bintang, Mu Yutong dan Normanli, datang berkunjung, dan juga karena Kejuaraan Petarung Bintang Awan Barat sudah dekat, suasana bela diri di planet ini menjadi sangat semarak. Tempat pertemuan yang biasanya sudah ramai kini jadi lautan manusia.
Keempat orang itu tiba di tempat acara tepat saat puncak keramaian. Mereka harus berjuang keras untuk bisa masuk.
Begitu masuk, Chu Nan langsung menuju ke zona pertukaran teknik, sementara Dong Fang, Mawar, dan Melati memilih menonton di arena pertarungan. Setelah berdiskusi sebentar, Chu Nan pun pergi sendirian ke zona pertukaran.
Ini adalah kali pertama Chu Nan datang ke tempat ini. Dulu, karena Teknik Sembilan Putaran miliknya baru mencapai tingkat kedua, cadangan tenaganya belum cukup untuk mempelajari teknik lain. Itulah sebabnya dia tak terlalu tertarik pada teknik bela diri.
Namun sekarang, setelah Teknik Sembilan Putaran menembus tingkat ketiga, energi dalam tubuhnya meningkat pesat dan ia mulai mempertimbangkan untuk belajar teknik bela diri.
Ketika masih di akademi, ia pernah mengakses perpustakaan ilmu bela diri lewat jaringan lokal, tapi semua teknik di sana sangat rendah mutunya. Satu-satunya teknik tingkat D pun merupakan yang paling lemah di kelasnya.
Ini memang wajar. Meski di zaman ini seni bela diri berkembang pesat dan berbagai teknik bermunculan, teknik kuat selalu dijaga ketat, jarang sekali bocor ke luar. Teknik Sembilan Putaran saja sudah tergolong pengecualian.
Chu Nan bukan berasal dari keluarga ahli bela diri, juga tak punya guru hebat. Tak heran ia tidak menguasai teknik ampuh apa pun. Datang ke pertemuan ini pun, ia hanya ingin mencoba peruntungan.
Sejak memasuki zona pertukaran, Chu Nan langsung memeriksa setiap teknik yang dipajang di setiap stan dengan seksama.
Harus diakui, nama-nama teknik di sini memang sangat menggoda.
Seperti "Tapak Dewa Pemusnah Langit", "Kesaktian Sumeru", "Tombak Meteor Mengejar Bulan", "Tenaga Menelan Delapan Penjuru"...
Namun, setelah membaca penjelasannya, Chu Nan langsung tertawa geli.
Teknik-teknik yang namanya heboh ini, kalau dinilai, mungkin bahkan tak layak masuk peringkat E. Pantas saja tak ada label tingkatannya, rupanya mereka sadar diri juga.
Chu Nan tidak kecewa. Sejak awal ia sudah tahu hampir mustahil menemukan teknik hebat di sini. Tujuannya hanya mencari teknik yang cocok untuk dirinya sendiri.
Setelah berkeliling lagi, Chu Nan akhirnya berhenti di sebuah stan.
"Jurus Panjang Keluarga Hong?" Ia mengambil buku teknik yang sampulnya sangat sederhana dan kuno. Ini adalah teknik pertama yang namanya tidak terlalu bombastis yang ia lihat sejak tadi.
"Jurus Panjang Keluarga Hong, diciptakan oleh leluhur Keluarga Hong. Terdiri dari tiga jurus dua belas gerakan. Jika dikuasai sempurna, sekali pukul bisa membelah udara, sekali hantam bisa memutus arus sungai, semua itu bukan hal mustahil."
"Hebat juga klaimnya." Chu Nan tersenyum sambil membalik halaman berikutnya, namun senyumnya mendadak lenyap.
Buku ini hanya menjelaskan gerakan pertama dari jurus pertama—Pukulan Menyerbu Sambil Berkuda.
Tak ada penjelasan tulisan yang mendetail, hanya dua gambar. Satu saat memukul, satu saat menarik tangan.
Namun, dua gambar sederhana ini justru mampu memikat perhatian Chu Nan sepenuhnya.