Bab 116: Mesir
Langit biru berpadu dengan lautan biru, menciptakan hamparan cakrawala yang serba biru.
Mendekati Laut Tengah, wilayah Mesir yang dulunya daratan kini telah berubah menjadi perairan. Lautan yang meluas secara liar itu menelan seluruh pesisir Mesir, merangsek masuk dengan cepat ke pedalaman, mengubah tanah yang tadinya gersang menjadi samudra luas.
Tak terhitung banyaknya warga Mesir melarikan diri ke arah pedalaman, menjauh dari lautan yang terus mengganas. Segala sesuatu yang dilalui gelombang laut ditelan bulat-bulat, lalu tenggelam ke dasar samudra atau dicabik-cabik oleh monster laut yang buas.
Beberapa kota telah habis ditelan air. Warga Mesir dilanda kepanikan luar biasa, mereka menyeret keluarga dan membawa barang seadanya, lari terbirit-birit menuju pedalaman. Di daratan, rombongan pengungsi menciptakan kepulan debu yang membubung tinggi, hanya untuk kemudian disapu oleh gelombang laut yang terus mengejar.
Ombak kian mengganas, dan monster-monster laut mulai naik ke daratan, memulai aksi pembantaian mereka. Jumlah korban tak lagi bisa dihitung. Seluruh negara mulai kacau balau. Separuh wilayah Mesir telah lenyap ditelan laut, dan semua orang sibuk menyelamatkan nyawa dalam keputusasaan.
Lari! Harus lari!
Mesir benar-benar telah jatuh ke dalam kekacauan. Ribuan pengungsi bergerak ke selatan. Di dekat Sungai Nil, sekelompok pengungsi tengah berjuang keras melanjutkan perjalanan. Rombongan ini berasal dari sebuah kota kecil di pesisir yang sudah lama tenggelam ke dasar laut akibat perluasan samudra tersebut. Untungnya, karena kota mereka tidak terlalu dekat dengan bibir pantai, mereka sempat mengevakuasi diri saat gelombang pertama mulai mengamuk.
Namun, yang membuat mereka putus asa adalah air laut yang terus meninggi tanpa tanda-tanda akan berhenti. Bencana banjir besar beberapa hari lalu memang serupa, namun kala itu air segera surut, memungkinkan mereka kembali ke kota untuk membangun hidup kembali. Tak disangka, bencana kali ini jauh berbeda.
Gelombang laut terus menelan daratan tanpa henti, dan kecepatannya sama sekali tidak kalah dengan kecepatan lari mereka. Ombak itu terus membayangi di belakang rombongan, melahap segala sesuatu yang dilewatinya. Para pengungsi bahkan bisa melihat garis ombak yang tak berujung tepat di belakang mereka.
Yang lebih menyedihkan, kendaraan yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar. Bus tua itu mogok di pinggir jalan. Semua penumpang turun dengan wajah panik, suasana menjadi riuh dengan teriakan yang membuat sang sopir pening. Sopir itu berdiri di samping bus, menghadapi rentetan pertanyaan, lalu hanya bisa mengangkat bahu sebelum menendang badan bus dengan keras.
Tangki bensin sudah kosong, dia tidak bisa menyulap bahan bakar, lalu apa lagi yang bisa diperbuat? Sepanjang jalan, semua orang melarikan diri ke selatan. Jalanan penuh dengan kendaraan, dan tidak ada setetes pun bensin tersisa; semuanya sudah dijarah orang lain. Mereka bisa sampai sejauh ini pun berkat cadangan bensin yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Namun kini, semuanya benar-benar habis.
Mereka terpaksa meninggalkan kendaraan dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Saat suasana rombongan sedang kacau, tiba-tiba seseorang menjerit sambil menunjuk ke arah belakang dengan wajah ketakutan. Keributan itu seketika hening, semua orang menoleh ke belakang.
Tampak garis ombak yang kian mendekat, kian jelas. Mereka bahkan bisa mendengar suara gemuruh gelombang yang menghantam daratan, serta suara lengkingan monster laut yang samar-samar terdengar.
Itu dia!
Rombongan pengungsi seketika dilanda kepanikan. Tidak ada lagi yang berteriak; semua orang bergegas kembali ke kendaraan untuk mengambil barang-barang mereka, lalu rombongan itu segera bergerak maju dalam diam. Jika tidak pergi sekarang, mereka benar-benar akan terlambat.
Namun, bahkan dengan kendaraan pun mereka tidak mampu menandingi kecepatan gelombang tersebut. Dengan rombongan yang membawa orang tua dan anak kecil, bagaimana mungkin mereka bisa meloloskan diri hanya dengan berjalan kaki?
Rombongan yang tadinya berjalan cepat kini terpaksa berlari, bahkan membuang semua barang bawaan yang berat. Meski begitu, ombak tetap mengejar dengan rapat. Rombongan itu pun akhirnya kehabisan tenaga. Orang tua dan anak-anak tidak sanggup lagi berlari, hanya tersisa para pemuda yang masih memiliki sedikit tenaga, meski napas mereka sudah tersengal-sengal.
Ada orang tua yang dengan tegas melepas tangan anak-anak mereka, menyuruh mereka terus berlari. Ada seorang ayah yang mendekap anaknya erat-erat, berlari sekuat tenaga. Mereka sudah bisa mencium aroma laut yang dibawa gelombang serta mendengar lengkingan monster yang menusuk telinga.
Tak bisa lari lagi.
Suasana putus asa menyelimuti rombongan. Semua orang perlahan berhenti melangkah, menatap gelombang yang sudah tepat di depan mata dengan pandangan kosong. Beberapa wanita mulai terisak. Anak-anak menangis sejadi-jadinya, para pria mengepalkan tinju, dan seorang ayah memeluk istri serta anak-anaknya sambil memejamkan mata.
Debu membubung ke langit, gelombang air menerjang. Percikan ombak telah membasahi tubuh mereka. Mereka bisa merasakan suhu air laut yang dingin itu. Setelah sekian lama melarikan diri, akhirnya saat itu tiba juga. Rombongan itu memejamkan mata rapat-rapat, hanya bayi yang belum mengerti apa-apa yang menangis di pelukan ibunya. Sang ibu membenamkan wajahnya di leher sang anak, air mata membanjiri pipinya.
Mendengar suara ombak di telinga, tubuh banyak orang gemetar tak terkendali. Rasa takut mencengkeram hati setiap orang.
*Bum!*
Sebuah gelombang raksasa menghantam, langsung menggulung seluruh rombongan ke dalam samudra. Semua orang mulai meronta-ronta panik di dalam air. Di bawah permukaan laut, bayangan-bayangan hitam melesat; tak terhitung monster laut berenang menuju rombongan yang jatuh, siap berpesta dengan mangsa yang melimpah.
Meski mereka sudah menyiapkan mental untuk mati, saat kematian benar-benar datang, naluri untuk bertahan hidup membuat mereka meronta, mencoba meraih secercah harapan. Namun, ombak telah menelan segalanya, tidak menyisakan harapan sedikit pun.
Monster-monster laut menyerbu. Mereka yang tidak bisa berenang mulai tenggelam ke dasar. Dalam beberapa menit, mereka akan menjadi mayat yang dingin, dan beberapa menit kemudian, mereka hanya akan menjadi tulang belulang.
Seekor monster laut melengking, matanya yang ganas tertuju pada seseorang yang jatuh di depannya. Orang itu masih berusaha melakukan perlawanan terakhir, berenang di antara gelombang yang bergolak, mencari sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Namun, kesempatan itu sudah hilang. Beberapa monster laut menerjang ke arahnya. Orang itu melihat bayangan di bawah permukaan air, wajahnya penuh teror saat ia meronta dengan liar. Namun, ke mana pun ia memandang, hanya ada samudra luas. Tidak ada tempat untuk lari.
Dia hanya punya satu takdir: kematian.
Dengan rasa tidak rela, ia mengepalkan tinju dan mengapung di permukaan air, bersiap melawan monster yang datang, meski ia tahu apa akhirnya. Tapi ia tidak terima!
Monster itu menerjang. Orang yang jatuh itu berteriak dan mengayunkan tinjunya. Namun, sebelum sempat mengenai sasaran, ia dihantam keras oleh monster lain yang datang dari belakang hingga tubuhnya terlempar. Darah menyembur deras, ia mengerang dalam sakratulmaut.
Beberapa monster datang mendekat, membuka mulut lebar yang dipenuhi taring tajam. Orang itu memuntahkan darah, lalu memejamkan mata dalam keputusasaan.
Monster laut melengking. Tiba-tiba, sebuah bayangan besar muncul di langit.
"Bum!"