Identitas Terbongkar
Setelah mereka selesai makan bersama, Shi Jingyan menerima telepon dari kantor polisi yang mengabarkan tentang sebuah kasus baru.
Shi Jingyan segera bergegas menuju tempat kejadian, meninggalkan Mu Rou dan Mino bersama.
"Ah-Yan, hati-hati di jalan ya..." pesan Mu Rou.
Kompleks Perumahan Huayang.
Blok B Unit 101, seorang pensiunan petugas polisi ditemukan tewas di dalam rumahnya. Mayatnya baru ditemukan selang waktu yang cukup lama setelah kematiannya.
Para tetangga mencium bau yang tidak biasa dari dalam rumah itu, lalu teringat bahwa sudah lama mereka tidak melihat Kakek Ge keluar untuk berjalan-jalan. Karena ketakutan, mereka segera melapor ke polisi.
Begitu Shi Jingyan tiba di lokasi, Jiang Zhengjin berjalan menghampirinya dan melaporkan, "Korban adalah seorang pensiunan polisi. Putra dan putrinya tinggal di luar negeri sepanjang tahun, dan ia hidup seorang diri sejak istrinya meninggal dunia. Terakhir kali tetangga melihatnya adalah seminggu yang lalu."
Shi Jingyan menahan rasa mual di perutnya dan bertanya, "Seminggu yang lalu?"
Pada saat itu, ponselnya berdering. Sebuah pesan teks masuk dari Q: [Setelah soal ini terjawab, tingkat kesulitannya akan perlahan-lahan meningkat, ya. Mari kita lihat apakah kau bisa melindungi orang-orang di sekitarmu.]
Melihat pesan itu, Shi Jingyan dengan marah meremas ponselnya.
Melihat hal tersebut, Jiang Zhengjin menenangkannya, "Bukankah kita sudah memastikan siapa orang yang kita curigai? Kita akan segera menemukan buktinya. Hari ini Qiangzi dan Chi Ye juga akan kembali dan mengatakan ada petunjuk baru. Mari kita selesaikan dulu urusan di sini, lalu kembali ke kantor untuk berdiskusi bersama."
Shi Jingyan mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, melalui olah TKP, pihak kepolisian mendapatkan petunjuk-petunjuk berikut:
Korban bernama Ge Fa, berusia 68 tahun, tinggal sendirian. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di tempat kejadian, yang untuk sementara menyimpulkan bahwa kejahatan ini dilakukan oleh seseorang yang dikenal korban. Penyebab kematiannya diduga akibat lehernya dijerat dengan seali tali hingga tewas kehabisan napas, dan tali tersebut diletakkan tidak jauh dari posisi korban.
Yue Qiang memasukkan makanan-makanan di atas meja kopi satu per satu ke dalam kantong bukti, lalu membawa semuanya ke kantor polisi untuk diuji di laboratorium.
Shi Jingyan berkata, "Ayo, kita kembali dulu."
Kantor Polisi.
Semua orang duduk di ruang rapat. Shi Jingyan mendengarkan laporan petunjuk yang ditemukan oleh rekan-rekannya. Setelah membuat kesimpulan, ia segera membagi tugas: dua orang bertanggung jawab menyelidiki hubungan sosial Ge Fa, satu orang bertugas memberi tahu anak-anaknya yang berada di luar negeri, dan Wen Xingzhi bertanggung jawab atas autopsi jenazah.
"Ketua," panggil Xiao Zeng sambil mendekat.
Shi Jingyan meneguk air minumnya, lalu mendongak menatapnya, "Hm?"
"Apakah identitas Q sudah ada titik terang? Apakah sudah dipastikan kalau itu Xu Jie?" tanya Xiao Zeng.
Shi Jingyan merasa sedikit bingung mengapa ia menanyakan hal itu, lalu berkata, "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, hanya ingin bertanya saja," jawab Xiao Zeng dengan agak canggung. "Aku pikir, jika ada hal yang bisa kubantu, aku bisa membantu..."
Untuk sesaat, Shi Jingyan tidak berpikir terlalu jauh dan menjawab, "Bisa. Nanti setelah urusan hari ini selesai, Qiangzi dan yang lainnya akan menyampaikan perkembangan kasus di sini. Kalau nanti butuh bantuanmu, kami pasti tidak akan sungkan."
Mendengar itu, Xiao Zeng terus-menerus mengiyakan. Setelah itu, ia tidak tinggal lebih lama dan berbalik kembali ke meja kerjanya.
Melihat punggung Xiao Zeng yang tampak agak sibuk, sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Shi Jingyan. Ia memutar kursinya mendekati Jiang Zhengjin dan berbisik, "Kenapa aku merasa Xiao Zeng bertingkah agak tidak normal?"
Jiang Zhengjin menatap dengan bingung, "Ada apa memangnya? Apa menurutmu dia kebanyakan makan es krim atau bagaimana?"
Shi Jingyan menyahut, "Sembarangan! Maksudku, gerak-geriknya tadi agak janggal." Melihat ekspresi Jiang Zhengjin yang tampak menyimak, ia melanjutkan, "Coba pikirkan, kapan dalam kasus-kasus kita sebelumnya, kita pernah secara khusus meminta bantuannya? Lagi pula, bukankah tugas-tugas ini biasanya diselesaikan atas kesadaran sendiri? Tidak perlu ada yang sengaja menugaskannya. Tapi hari ini dia justru datang kepadaku dan berkata ingin membantu jika ada perkembangan tentang Q, mencari-cari celah untuk menawarkan bantuan. Rasanya seperti..."
"Memancing informasi," sambung Jiang Zhengjin.
"Nah! Betul!" jawab Shi Jingyan.
Jiang Zhengjin merasa agak tidak percaya, "Kamu terlalu sensitif, ya? Xiao Zeng kan mahasiswa universitas, bagaimana mungkin dia menjadi mata-mata di tempat kita? Masa depan yang cerah begitu dibuang hanya untuk menjadi kurir pembawa pesan rahasia?"
"Kau lupa apa metode keahlian utama Q dalam mempengaruhi orang lain?" tanya Shi Jingyan.
Jiang Zhengjin menjawab, "Memanfaatkan sumber daya yang sedang sangat mereka butuhkan saat itu. Misalnya, Yang Qing ingin terkenal sehingga dia bekerja sama dengannya, atau seseorang yang ingin balas dendam diberi sebuah rumah, atau anggota keluarganya ada yang sakit parah dan tidak punya biaya berobat, lalu ditukar dengan sumber daya darinya."
"Benar! Di situlah letaknya," potong Shi Jingyan. "Ingatkah kau, Xiao Zeng sebelumnya mengambil cuti beberapa hari dariku dengan alasan pulang untuk merawat ibunya yang baru saja menjalani operasi? Sebagai seorang mahasiswa, biaya operasi dan pengeluaran pascaoperasi seharusnya bukanlah sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah saat ini. Jadi, dari mana dia mendapatkan uang itu?"
Jiang Zhengjin tetap bersikeras tidak percaya dan berkata, "Bagaimana kalau dia meminjam dari seseorang? Ini urusan pribadinya, dia tidak punya kewajiban untuk menceritakannya padamu, kan?"
Shi Jingyan berkata, "Aku tahu, semua ini baru sebatas dugaanku. Jadi, mari kita coba mengujinya lebih dulu. Jika ternyata bukan dia, aku akan meminta maaf kepadanya."
Sebelumnya, mereka berdua memang sudah bertekad untuk menjebak dan menangkap mata-mata di dalam kepolisian, hanya saja belum ada kesempatan.
Maka, Jiang Zhengjin pun mengangguk, "Baiklah."
Menjelang jam pulang kerja, Jiang Zhengjin dan Shi Jingyan dengan sengaja memperbincangkan hal itu dengan suara agak keras di koridor yang tidak jauh dari meja Xiao Zeng.
Shi Jingyan berkata, "Kau yakin Xu Jie adalah Q?"
Jiang Zhengjin menjawab, "Untuk apa aku berbohong padamu? Tadi aku sengaja memeriksanya, sama sekali tidak salah lagi. Sekarang, kirimkan saja pesan kepadanya dan katakan bahwa kita sudah tahu siapa dia sebenarnya, dia tidak perlu lagi bersandiwara di balik pengubah suara. Lagipula, orang di kantor polisi yang selama ini menjadi pembocor informasinya pasti akan kita tindak tegas."
Xiao Zeng yang tanpa sengaja lewat dan mendengar percakapan itu merasa begitu ketakutan hingga hampir tidak bisa berdiri dengan teguh.
"Ketua, Kak Zheng, aku duluan ya..." kata Xiao Zeng sambil merapatkan ransel di punggungnya.
"Baik, hati-hati di jalan," ucap Jiang Zhengjin.
Setelah Xiao Zeng pergi, Yue Qiang bertanya dengan bingung, "Kenapa Xiao Zeng pulang begitu cepat hari ini?"
Shi Jingyan menjawab, "Entahlah."
Setelah sibuk beberapa saat lagi, Shi Jingyan dan Jiang Zhengjin juga bangkit untuk pulang ke rumah.
"Ayo pulang, sudah jam satu lewat dini hari. Kita lanjutkan besok lagi."
...
Begitu tiba di rumah, Shi Jingyan melihat Mu Rou sudah tertidur di atas sofa. Ia pun berjalan dengan langkah tanpa suara, mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati, lalu membawanya menuju kamar tidur.
Tak lama kemudian, ia mengambil pakaian tidur dan handuk, lalu pergi ke kamar mandi di kamar tempat Mu Rou tidur sebelumnya.
Merasakan hawa dingin di dalam selimut, Mu Rou secara tidak sadar merapat ke sisi Shi Jingyan. Melihat Mu Rou hampir terjatuh ke lantai, Shi Jingyan buru-buru menopangnya, lalu membuka selimut dan berbaring di tempat tidur, mendekap tubuh wanita itu ke dalam pelukannya hingga tertidur pulas.
...
Xu Jie tidak bisa tidur malam itu dan berniat bangkit untuk mengambil sebotol bir dingin dari kulkas.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja makan bergetar. Ia berjalan menghampiri dan mengambilnya, melihat sebuah pesan teks yang bertuliskan: [Identitasmu telah terbongkar, polisi sudah tahu siapa dirimu.]
Xu Jie tertegun sejenak, namun ia dengan cepat bisa menguasai diri dan tersenyum meremehkan.
Sekelompok orang itu, mana mungkin mereka begitu pintar hingga bisa mengetahui identitasku.
Ia pun mengetik balasan pesan dan mengirimkannya kepada Shi Jingyan: [Kudengar kau sudah tahu siapa aku?]
Shi Jingyan yang baru saja tertidur pulas terbangun karena suara getaran ponsel. Ia bangkit dan mengambil ponselnya, lalu mendapati...