Ayan, jangan-jangan kamu sedang cemburu?
“Ada apa?” tanya Mu Rou.
Shi Jingyan tidak menjawab, ia hanya memeluk Mu Rou cukup lama sebelum perlahan melepaskannya. Ia menggandeng Mu Rou duduk di tepi sofa, lalu mengeluarkan jimat keselamatan yang selalu dibawanya dari saku bagian dalam.
Mu Rou tertegun sejenak dan bertanya, “Kamu memang selalu membawanya setiap hari?”
Shi Jingyan menjawab, “Kamu sudah bersusah payah mendapatkannya untukku, tentu saja aku harus selalu membawanya.”
Dulu, sebelum tahu betapa beratnya perjalanan Mu Rou demi mendapatkan jimat itu untuknya, Shi Jingyan hanya membawa jimat itu sebagai pengingat akan dirinya. Kini, ia baru menyadari betapa berharganya benda itu.
Barulah Mu Rou mengerti mengapa tadi Shi Jingyan sempat dipanggil oleh Shen Qianyi; rupanya untuk memberitahukan asal-usul jimat tersebut.
“Sebenarnya tidak juga…”
Belum selesai Mu Rou bicara, Shi Jingyan sudah lebih dulu menyingkap celana panjangnya, menatap sisa lebam samar di lututnya. Mu Rou refleks menutupi, “Sudah tidak sakit lagi…”
***
Kantor polisi.
Shi Jingyan memanggil ibu Zhu Ye, Zhang Qiong, karena kasusnya sudah tuntas dan penyebab kematian Zhu Ye pun terungkap.
“Overdosis narkoba…” Zhang Qiong tampak tak percaya, “Bagaimana mungkin Ye-ye menggunakan narkoba?”
“Suamimu juga pernah menggunakan narkoba, dan penyebab kematiannya juga bunuh diri,” ujar Shi Jingyan.
Sekonyong-konyong Zhang Qiong merasa dunia runtuh. Ia tak bisa membayangkan, juga tak mengerti, sebesar apa dendam dan sakit hati ayah dan anak itu hingga memilih menggunakan narkoba dan akhirnya menjemput maut.
“Ibu.” Saat itu, Zhu Dong muncul tidak jauh dari belakang Zhang Qiong.
Zhang Qiong berbalik, hendak kembali mengucapkan, “Dongdong, ibu sekarang hanya punya kamu…” Namun Zhu Dong memotongnya.
Ia berkata, “Mulai sekarang, lebih baik kita tidak berhubungan lagi…”
Begitu selesai bicara, dua garis air mata langsung mengalir di pipi Zhu Dong.
Mendengar itu, Zhang Qiong langsung limbung dan menangis keras, tak habis pikir, “Kenapa? Kenapa kamu juga mau meninggalkan ibu?”
“Karena aku tidak ingin seperti kakak dan ayah, berakhir di tempat dingin itu…” kata Zhu Dong, “Andai bukan karena ibu, kakak pasti tetap jadi gadis yang ceria dan manis, masuk universitas yang sama dengan pemuda yang ia suka, lalu berjalan bersama dari seragam sekolah hingga gaun pengantin. Kalau bukan karena ibu, ayah pasti tetap jadi sosok hangat dan penuh senyum, suami yang menyayangi istrinya. Kalau bukan karena ibu, Kak Zhang Qin juga tidak akan menempuh jalan yang salah, harga dirinya hancur oleh ibu, ibu memisahkan dia dan kakak secara paksa… Semua ini karena ibu, semuanya berubah… semuanya berubah!”
Keterpurukan Zhu Dong akhirnya membuat Zhang Qiong sadar betapa fatal kesalahannya.
Ia menatap anaknya dengan kosong, seolah tak mengenali putranya sendiri.
***
Sebelum Zhang Qin diserahkan ke pengadilan, ia berkata pada Shi Jingyan:
“Andai saja waktu itu aku menemaninya lebih lama, mungkin kejadian itu takkan terjadi.”
Namun, di dunia ini, tak pernah ada ‘andai’.
Shi Jingyan menepuk pundaknya tanpa berkata apa-apa.
***
Malamnya, semua orang berkumpul makan malam di sebuah bar. Awalnya Shi Jingyan ingin mengajak Mu Rou, tapi Mu Rou bilang masih harus lembur, sedang mengoreksi tugas di kantor.
“Nanti kalau sudah selesai, telepon aku. Aku jemput ke sekolah,” ujar Shi Jingyan.
Mu Rou mengangguk, senyum bahagia tak mampu ia sembunyikan, “Baik.”
Di bar itu, setelah tahu Shi Jingyan sudah tak sendiri lagi, teman-temannya langsung bersorak meminta Shi Jingyan mentraktir.
Shi Jingyan yang sedang gembira pun dengan mudah menyanggupi.
Kepala Wang bahkan tak percaya, diam-diam beberapa kali menanyakan kepastian, “Yan, kamu yakin benar sudah punya pacar?” Ia bahkan sempat ingin menjodohkan Shi Jingyan!
Akhirnya Shi Jingyan bercanda, “Pak Kepala, Bapak meragukan kemampuan saya?”
Kepala Wang sempat terpaku. Shi Jingyan yang seperti ini, jarang ia lihat.
“Lalu kenapa kamu tidak ajak dia ke sini, biar aku lihat?” lanjut Kepala Wang.
Shi Jingyan terkekeh, “Kalau begitu, Pak Kepala harus kasih angpao pada Mumu, ya?”
“Tentu! Pasti kukasih!” Kepala Wang menepuk dada, yakin sekali dengan ucapannya.
Saat itu, Jiang Zhengjin menyela, “Pak Kepala, Bapak sembunyiin uang lagi, ya?”
Semua orang tertawa.
Kepala Wang tertawa lepas, mengangkat gelas, “Kalau begitu, aku tunggu undangan pernikahanmu. Cepatlah! Lihat, anak Zhengjin saja sudah masuk SD…”
Shi Jingyan hanya bisa tersenyum masam.
***
Di kantor sekolah.
Mu Rou sedang sibuk menunduk mengoreksi tugas.
“Bu Mu, belum pulang juga?” tanya Xu Jie sambil membereskan barang-barangnya.
Mu Rou tanpa menoleh menjawab, “Masih sebentar lagi. Pak Xu juga masih ada urusan?”
Xu Jie mengangguk, “Hari ini aku juga tes, jadi sekalian koreksi.”
“Wah, sama-sama capek, ya…”
Xu Jie tersenyum, “Sama-sama.”
Setelah berkata begitu, ia berhenti membereskan barang, mengambil setumpuk buku dan mulai mengoreksi.
Di tengah acara makan malam, ponsel Shi Jingyan bergetar. Ia melihat ke layar, sebuah pesan masuk dari Q:
[Jangan lengah. Ujianku belum selesai…]
Shi Jingyan langsung menelepon, tapi hanya terdengar nada sibuk.
Tak lama, Q mengirim pesan lagi: [Bagaimana bisa kamu tenang membiarkan dia sendirian?]
Sekejap firasat buruk menyergap Shi Jingyan. Ia meletakkan sumpit dan segera bergegas ke sekolah.
“Halo, kamu mau ke mana?” teriak Jiang Zhengjin.
Shi Jingyan tak sempat menjelaskan, langsung menyalakan motor dan melesat pergi.
***
Setelah selesai mengoreksi tugas, Mu Rou meregangkan badan, lalu menoleh ke belakang, ternyata Xu Jie juga belum pulang.
Tatapan mereka bertemu, membuat Mu Rou merasakan hawa dingin. Ia tersenyum canggung, “Pak Xu, belum pulang juga?”
“Sebentar lagi,” Xu Jie menjawab dengan ramah.
Mu Rou mengangguk, dalam hati merasa kebetulan.
Baru saja ia hendak menelepon Shi Jingyan, tiba-tiba Shi Jingyan muncul di pintu kantor dengan wajah cemas, menatap Mu Rou.
Mu Rou terkejut, “Lho, kok kamu ke sini? Bukannya sedang makan bersama teman-teman?”
“Sudah selesai,” jawab Shi Jingyan, langsung masuk dan berdiri di samping Mu Rou, matanya waspada menatap Xu Jie di belakangnya.
Tadi, tatapan Xu Jie pada Mu Rou sempat ia lihat. Tatapan itu seperti pemburu yang menemukan mangsanya, membuat Shi Jingyan tak bisa tidak waspada.
Begitu Shi Jingyan muncul, Xu Jie pun langsung bersikap wajar. Tapi ia tak tahu, pada saat itu, Shi Jingyan sudah menaruh curiga padanya.
Shi Jingyan lalu menyapa, “Pak Xu juga lembur, ya?”
Xu Jie mengangguk tenang, “Iya.”
Mu Rou agak heran, bertanya, “Kalian…?”
“Tidak kenal,” jawab keduanya bersamaan.
Mu Rou mengerti, “Aku tahu.”
Xu Jie tersenyum ramah, “Bu Mu, saya pulang dulu, ya.”
“Baik, hati-hati. Sampai jumpa.”
Di perjalanan pulang, semakin lama Shi Jingyan semakin merasa ada yang janggal.
Pesan kedua dari Q tadi terngiang di pikirannya: [Bagaimana kamu bisa tenang membiarkan dia sendirian?]
Bagaimana Q bisa tahu Mu Rou tadi seorang diri?
“Ada apa? Sepertinya kamu banyak pikiran…” Mu Rou merasa Shi Jingyan tidak seperti biasanya, lalu bertanya.
Shi Jingyan terdiam. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Mumu.”
“Ya?”
“Itu Pak Xu, kamu dekat dengannya?”
Mu Rou menggeleng, “Tidak juga. Kami dulu satu kampus, pernah beberapa kali makan bersama.”
“Oh,” jawab Shi Jingyan.
Mu Rou lalu tersenyum, “Yan, jangan-jangan kamu cemburu, ya?”