132 Sesak Napas
Mereka berdua pun terlelap dalam keadaan hati yang penuh dengan pikiran yang menggantung.
Pagi harinya, Mu Rou terbangun dalam dekapan yang hangat. Saat ia membuka mata, Shi Jin-yan masih terlelap. Ia bergerak dengan hati-hati, namun Shi Jin-yan justru mempererat pelukannya dan bergumam dengan suara parau, "Mu Mu, jangan bergerak... biarkan aku memelukmu sebentar lagi..."
Mu Rou pun kembali diam.
Namun, justru di saat seperti ini, ia malah tidak bisa tidur lagi. Mu Rou merenung sejenak, pandangannya tak kuasa lepas dari sosok Shi Jin-yan. Dari sudut pandangnya, garis rahang Shi Jin-yan tampak tegas, kulitnya yang cerah, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, bahkan alisnya pun terlihat begitu sempurna.
Benar saja, pria ini sungguh seperti tokoh utama dalam komik.
Mu Rou merasa ingin menyentuhnya untuk memuaskan rasa penasarannya. Mengapa selama ini ia tidak pernah menyadari betapa tampannya pria itu? Saat jemarinya hendak menyentuh bulu mata Shi Jin-yan, terdengar suara pria itu di dekat telinganya, "Apa yang ingin kau sentuh?"
Mu Rou segera menarik tangannya, membenamkan wajah di dada Shi Jin-yan, dan berpura-pura tidur.
Shi Jin-yan tertawa kecil; suaranya rendah dan begitu memikat. Satu tangannya mendekap Mu Rou lebih erat, sementara tangan lainnya menarik tangan wanita itu dan menempelkannya di wajahnya sendiri. Dengan nada memanjakan, ia berbisik, "Kalau mau menyentuh, sentuh saja."
Mu Rou membatin, *Tidak, tidak boleh menyentuh. Harus tenang, harus jaga gengsi!*
Akibatnya, Shi Jin-yan tidak merasakan gerakan apa pun untuk waktu yang lama.
"Ada apa?" Shi Jin-yan menunduk dan tertawa, "Malu?"
Mu Rou tetap memejamkan mata dan tidak menjawab, seolah dengan begitu Shi Jin-yan akan mengira ia masih tertidur.
"Kalau begitu, bolehkah aku yang menyentuh?" tanya Shi Jin-yan sembari menyelipkan tangannya ke balik pakaiannya...
Jantung Mu Rou seakan hendak copot, tubuhnya menegang kaku, bahkan ia tidak berani bernapas dengan lega. Shi Jin-yan yang melihat reaksi itu pun tak kuasa menahan tawa. Mendengar tawa lepas pria itu, Mu Rou merasa malu. Ia memukul dada Shi Jin-yan sekali, lalu berseru ingin bangun dari tempat tidur.
"Jangan, jangan... aku salah, aku minta maaf..." Shi Jin-yan memeluk erat Mu Rou, tidak membiarkannya beranjak.
Di tengah aksi saling bercanda, Shi Jin-yan tanpa sengaja menekan tubuh Mu Rou ke balik selimut, mengunci kedua tangannya dengan erat. Posisi mereka yang saling berhimpitan membuat suasana di dalam kamar perlahan berubah.
Shi Jin-yan terdiam, menatap Mu Rou lekat-lekat. Setelah beberapa saat, Mu Rou merasa malu dan membuang muka. Tepat saat ia menoleh, Shi Jin-yan melihat tulang selangka yang indah di balik lehernya.
Tanpa sadar, Shi Jin-yan menelan ludah. Ia mendekat dan menghirup aroma tubuh wanita itu yang begitu memikat sukma.
"Mu Mu..." gumamnya dengan kesadaran yang mulai goyah.
Mu Rou menoleh kembali menatapnya, dan dalam sekejap, pandangannya menjadi gelap. Ciuman Shi Jin-yan terasa hangat dan mendesak. Tak lama kemudian, napas Mu Rou mulai tersengal, wajahnya memerah padam. Karena kekurangan oksigen, ia secara naluriah mendorong pria itu, namun dorongan itu justru membuat pelukan Shi Jin-yan semakin erat. Mu Rou pun mulai merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"...A-Yan..." suara Mu Rou terdengar lembut dan manis, ia memohon dengan suara lirih, "Aku... aku tidak bisa bernapas..."
Shi Jin-yan menghentikan gerakannya, menatap Mu Rou dengan lembut sambil terengah-engah, "Maafkan aku, Sayang..."
Belum sempat Mu Rou mengatur napasnya, Shi Jin-yan kembali menciumnya.
***
Desa Xu.
Xu Jie membawa Huang Chun-mei ke klinik desa untuk membeli koyo antimo. Pemilik klinik bertanya dengan rasa penasaran, "Chun-mei, mau pergi jauh ya?"
Huang Chun-mei menjawab dengan rasa bangga yang tak bisa disembunyikan, "Ya, pergi ke tempat anakku untuk merayakan tahun baru."
"Bagus sekali! Putramu sudah sukses, sekarang waktunya menikmati hidup di kota!" dokter desa itu tersenyum tulus, "Oh iya, bagaimana dengan Pak Xu? Kenapa belum terlihat pulang?"
Mendengar itu, raut wajah Huang Chun-mei berubah seketika. Dengan terbata-bata ia menjawab, "Entahlah, belakangan ini dia tidak pernah menampakkan diri."
Karena semua orang tahu betapa menderitanya hidup Huang Chun-mei, dokter desa itu mengira kepanikan wanita tersebut disebabkan oleh rasa takut akan suaminya. Bagaimanapun, jika pria itu kembali, sudah pasti ia akan mendapat siksaan lagi.
"Tidak pulang pun tidak apa-apa, pergilah ke kota bersama anakmu agar bisa merayakan tahun baru dengan tenang." Dokter itu menyerahkan koyo kepada Xu Jie. Xu Jie menerimanya, mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu membawa ibunya pulang.
Sepanjang jalan, para ibu-ibu yang mendengar kabar bahwa Huang Chun-mei hendak pindah ke kota bersama anaknya untuk merayakan tahun baru, menatapnya dengan penuh iri. Sesekali mereka berseru, "Chun-mei, sekarang kamu bisa menikmati hidup tenang!"
"Benar sekali! Anak yang dibesarkan dengan susah payah akhirnya bisa berbakti padamu..."
Mendengar pujian tetangga, bukan hanya Huang Chun-mei, bahkan Xu Jie pun merasa bangga. Di luar sana, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sekolah, ia hanyalah sosok biasa yang tak terlihat di tengah keramaian—seperti peran figuran dalam sebuah naskah. Namun di sini, ia bisa menuai banyak kekaguman dan pujian.
Manusia selalu memiliki rasa angkuh. Di tempat ini, harga diri Xu Jie terpenuhi, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum pada para ibu-ibu itu.
"Bukankah baru saja selesai merenovasi rumah? Mengapa harus pergi ke kota lagi?" tanya salah seorang wanita.
Senyum Xu Jie mendadak kaku. Saat ibunya menatapnya dengan tatapan memohon bantuan, Xu Jie menjelaskan, "Baru saja selesai direnovasi, masih mengandung zat kimia berbahaya, jadi untuk sementara belum bisa ditempati."
"Oh begitu! Aku tahu, aku tahu!" jawab seorang gadis yang pernah bekerja di kota, "Dulu saat aku jadi asisten rumah tangga di kota, rumah majikanku juga ada rumah baru yang baru direnovasi. Katanya berbahaya bagi kesehatan, jadi harus dibuka jendelanya untuk sirkulasi udara selama setahun sebelum bisa ditinggali!"
Berkat konfirmasi gadis itu, Xu Jie diam-diam merasa lega.
"Orang kota memang sangat teliti ya!" ujar Bibi Wang kepada temannya, "Kalau begitu Chun-mei, pergilah ke kota dengan anakmu untuk merayakan tahun baru. Nanti kalau Pak Xu pulang, biar dia kesal sendiri!"
Semua orang pun tertawa setuju. Hanya raut wajah Huang Chun-mei yang terlihat sedikit aneh. Setelah mereka pergi, para wanita itu kembali bergosip.
"Aduh, anak Chun-mei itu memang serba bisa, tapi wajahnya itu, sepertinya akan sulit mencari istri," ujar salah satu wanita dengan nada sok tahu.
"Apa maksudmu? Dia punya uang dan pekerjaan tetap, kenapa sulit cari istri?" sanggah wanita lain yang tidak percaya.
"Wajahnya terlihat seperti orang yang bernasib malang, tidak punya masa depan cerah..."
"Itu hanya takhayul, anak muda zaman sekarang tidak percaya hal seperti itu..."
Segala gunjingan itu terdengar jelas oleh Xu Jie. Ia melirik sekilas ke arah para wanita yang sedang bergosip itu, sementara pikirannya mulai merancang sesuatu dalam diam.
Tak lama kemudian, ibu dan anak itu sampai di rumah, membereskan barang bawaan, dan memulai perjalanan menuju kota.
"Xiao Jie..." Huang Chun-mei masih merasa khawatir, "Apakah melakukan ini benar-benar tidak apa-apa?"
Xu Jie menepuk tangan ibunya untuk menenangkan, "Bu, percayalah padaku."
Huang Chun-mei mengangguk. Sampai tahap ini, ia hanya bisa mempercayai anaknya.
"Setelah sampai nanti, lupakan semua yang ada di sini. Kita akan memulai hidup baru, ya?" tanya Xu Jie.
Huang Chun-mei mengangguk, harapan akan kehidupan yang lebih baik kembali menyala di hatinya.