Kesalahpahaman
Orang yang menelepon itu ternyata ibu dari Mu Rou.
“Qian Yi itu sangat sibuk, aku juga belum tahu apakah dia punya waktu atau tidak!” jawab Mu Rou.
Saat itu, mereka berdua sedang melintasi sebuah jembatan besar. Angin sore dari sungai membuat rambut Mu Rou sedikit berantakan; ia mengangkat tangan untuk merapikan rambutnya, lalu menoleh ke arah Shi Jin Yan, “Akhir-akhir ini aku juga mungkin tidak punya waktu, akhir pekan ini aku harus pindah rumah.”
Ketika Shi Jin Yan mendengar Mu Rou menyebut nama “Qian Yi”, hatinya seolah tertusuk sesuatu. Sepertinya orang bernama Qian Yi itu sangat dekat dengannya, apakah dia laki-laki?
Tak lama kemudian, ia mendengar Mu Rou berkata lagi, “Soal urusan anak laki-laki, mana aku tahu?”
Perasaan tidak enak pun muncul di hati Shi Jin Yan.
Jangan-jangan, dia sudah punya pacar?
“Tidak usah, barang-barangku tidak banyak, tidak perlu dia membantuku.”
Saat itu, Shi Jin Yan samar-samar mendengar suara ibu Mu Rou di telepon berkata, “Anak laki-laki itu memang harus lebih banyak kerja fisik, memangnya kenapa…” Nada suaranya mirip calon ibu mertua yang sedang mengeluh tentang calon menantunya.
Mu Rou hanya tersenyum, “Nanti saja kita bicarakan lagi.”
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya ibu Mu Rou menutup telepon dengan berat hati.
“Padahal sangat ingin mengobrol dengan putrinya, tapi tetap saja berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa,” ujar ayah Mu Rou dengan perasaan sayang sekaligus sedikit mengeluh pada istrinya.
“Mu Mu sudah dewasa, saatnya mandiri, kita tidak bisa terus menerus menjadikan anak sebagai pusat hidup kita. Dia juga punya kehidupannya sendiri.” Dalam mendidik Mu Rou, ibunya memang selalu tahu cara yang tepat.
Karena kepribadian kedua orang tuanya sangat berbeda, maka karakter mereka berpadu dalam diri Mu Rou secara unik. Kemandirian, keanggunan, dan kelembutan ibunya, serta kebebasan dan keceriaan ayahnya, membuat Mu Rou disukai banyak orang sejak kecil.
“Kamu ini…”
“Hmm? Hati-hati.” Mu Rou menarik lengan Shi Jin Yan, “Nyaris saja menabrak pohon.”
Shi Jin Yan mengangkat kepala, lalu menyimpan ponselnya dengan sedikit canggung.
“Jangan main ponsel sambil jalan,” pesan Mu Rou.
Walau nada bicaranya lembut, tapi gayanya benar-benar seperti guru sedang menasihati murid SD.
Shi Jin Yan samar-samar bisa membayangkan bagaimana Mu Rou di sekolah saat menghadapi murid-muridnya.
Dengan rendah hati, Shi Jin Yan menerima teguran dari ‘Bu Guru Mu’, “Baik, lain kali tidak akan terjadi lagi.”
Padahal, ini kali pertama ia membuka ponsel sambil berjalan, dan kebetulan hampir menabrak pohon.
Mendengar itu, Mu Rou tak kuasa menahan helaan napas, “Andai saja murid-muridku punya kesadaran sepertimu, pasti menyenangkan.”
Shi Jin Yan bertanya, “Kenapa? Mereka nakal?”
Mu Rou tampak putus asa, “Bukan cuma nakal, rasanya seperti tidak bisa diajak bicara sama sekali.”
“Galak saja. Kalau nggak mempan, ya jewer,” kata Shi Jin Yan, lalu teringat jangan-jangan membuat Mu Rou takut, “Bukankah waktu kecil kita juga begitu? Anak bandel mana yang tidak pernah kena rotan guru?”
Mu Rou menggeleng, masih tampak pusing, “Sekarang zamannya sudah beda, guru tidak boleh memukul murid. Bahkan, banyak orang tua yang menganggap guru itu seperti pelayan…”
Shi Jin Yan terkejut, “Serius begitu?”
“Contohnya saja hari ini…” Mu Rou terhenti, enggan membicarakan hal itu lebih jauh.
Namun Shi Jin Yan segera menyadari ketidaknyamanan Mu Rou, “Hari ini ada apa?”
Karena Mu Rou tak langsung menjawab, ia bertanya lagi, “Ada orang tua yang cari masalah?”
Mu Rou berpikir sejenak, lalu akhirnya menceritakan semuanya pada Shi Jin Yan...
Kejadiannya begini: karena baru saja tahun ajaran baru dimulai, dan Mu Rou juga sempat mengambil cuti beberapa waktu, ia pun belum terlalu hafal semua murid di kelas. Hari ini, menjelang jam pulang, ada seorang murid yang tidak sengaja terjatuh sehingga benjol di dahinya.
Sambil menangis, murid itu mendatangi Mu Rou dan bilang kalau dia jatuh sendiri.
Mu Rou segera membawa murid itu ke UKS, melakukan penanganan sederhana, lalu buru-buru kembali ke kelas untuk mengatur kepulangan murid-murid.
Setelah semua anak berbaris rapi, Mu Rou memanggil murid itu dan menenangkan, “Bukankah Bu Guru sudah bilang, setiap kali istirahat kita harus bermain dengan hati-hati?”
Si kecil itu mengangguk.
“Kamu kan sakit, pasti sakit sekali, Bu Guru juga sedih, orang tua di rumah juga pasti sedih, benar?”
Si kecil itu kembali mengangguk.
“Jadi, lain kali harus hati-hati ya! Bu Guru tidak mau kamu jatuh lagi seperti ini, setuju?” Mu Rou mengelus kepala murid itu.
Si kecil menangis pelan, tapi tetap mengangguk.
“Baik, sekarang masuk barisan, kita siap pulang.”
Tak lama kemudian, ketika ibunya datang menjemput, si kecil yang tadinya sudah berhenti menangis kembali menangis keras dan berlari memeluk ibunya, “Mama, ada yang dorong aku sampai jatuh…”
Setelah hampir semua murid dijemput, ibu dari murid itu mendatangi Mu Rou dengan nada tajam, “Ini kenapa? Jelaskan pada saya. Kenapa ada yang memukul anak saya dan Anda tidak tahu?”
Saat itu masih ada beberapa murid yang belum dijemput, suasana di depan gerbang sekolah sangat ramai. Mu Rou tidak punya tenaga untuk meladeni orang tua itu, ia memilih tetap fokus pada murid-murid yang belum dijemput.
Secara singkat ia menjelaskan, “Menjelang pulang, dia tidak sengaja jatuh, saya langsung membawanya ke UKS, karena kejadiannya saat istirahat, saya tidak melihat…”
Belum selesai bicara, si ibu langsung memotong, “Apa? Tidak lihat? Hanya bilang tidak lihat begitu saja sudah cukup?”
Suaranya cukup keras hingga banyak orang tua lain dan guru-guru yang mendengar.
Ini pertama kalinya Mu Rou mengalami kejadian seperti itu, ia pun menahan kesal dan berkata, “Begini saja, Bu. Silakan menunggu dulu, setelah semua anak dijemput baru saya jelaskan lebih rinci, boleh?”
Barulah si ibu itu diam, menunggu di samping sambil menggandeng anaknya.
Sekitar lima menit kemudian, karena Mu Rou belum selesai mengantar anak-anak, ibu itu tidak sabar lalu mendatangi Mu Rou lagi.
Saat itu, si anak berkata, “Mama, aku mau ke toilet.”
“Sekarang anak saya mau ke toilet, saya bawa pulang dulu, tapi urusan ini belum selesai, hari ini Anda harus kasih penjelasan pada saya.”
Belum sempat Mu Rou menjawab, si ibu langsung pergi.
Mu Rou pun hanya bisa diam.
“Jadi sekarang dia masih terus-menerus menelepon dan mengirimi pesan padamu?” tanya Shi Jin Yan, mendengar deretan notifikasi pesan di ponsel Mu Rou.
Mu Rou mengangguk, “Aku malas meladeninya.”
“Pertama, kamu bisa bilang padanya, di kelas ada empat puluh murid, guru tidak mungkin 24 jam mengawasi satu per satu, apalagi kejadiannya pas mau pulang.
Kedua, sebagai guru, kamu sudah melakukan tugasmu, langsung membawa anak ke UKS dan menenangkannya. Walaupun belum sempat menghubungi orang tua, karena jam pulang sudah tiba, itu bisa dimaklumi.
Ketiga, orang tua juga harus paham kerja guru. Anak baru masuk kelas satu, masih adaptasi, jadi selain guru yang membantu di sekolah, orang tua juga perlu menjelaskan bahwa kehidupan SD berbeda dengan TK.
Keempat, yang paling penting, anak harus diberi tahu untuk tidak berbohong. Jangan di depan guru bilang satu hal, di depan orang tua bilang lain. Kalau memang benar ada yang mendorong, besok undang orang tua murid itu ke sekolah, kita selesaikan bersama. Kalau ternyata dia jatuh sendiri, harus diberi teguran keras. Besok tinggal cek CCTV saja, semua akan jelas.”
Penjelasan Shi Jin Yan sangat logis, membuat Mu Rou langsung merasa lebih tenang. Ia memuji, “Tuan Shi, kamu hebat sekali, kenapa tidak jadi guru saja?”
Shi Jin Yan tersenyum, “Aku lebih cocok jadi polisi, menangkap orang jahat.”
Mu Rou penasaran, “Kenapa kamu memilih jadi polisi kriminal?”
Shi Jin Yan menjawab dengan serius, “Karena menurutku, itulah hal paling bermakna yang bisa kulakukan.”
Mu Rou tidak terlalu paham, tapi melihat ekspresinya, sepertinya ada pengalaman khusus, jadi ia tidak bertanya lagi.
“Kamu sendiri, kenapa memilih jadi guru?” tanya Shi Jin Yan.
Mu Rou menjawab, “Karena aku suka anak-anak.”
“Tapi barusan kamu bilang mereka bikin pusing?”
“Memang kadang bikin pusing, tapi lebih sering mereka lucu. Setiap kali melihat mereka manis, aku jadi lupa sama kenakalan mereka sebelumnya…”
Shi Jin Yan tertawa, “Kamu hebat juga menghibur dirimu sendiri.”
“Mungkin memang begitu.” Mu Rou menatapnya sambil tersenyum.
Sikapnya yang tidak suka mempermasalahkan sesuatu membuatnya tampak seperti anak kecil yang polos.
Saat itu, telepon dari orang tua murid tadi kembali masuk.
Kali ini, Mu Rou mengangkat telepon dan menggunakan cara yang diajarkan Shi Jin Yan, namun nada bicaranya kini tegas dan penuh pendirian.
“Kalau benar seperti yang dikatakan Jiaxin, didorong anak lain, besok kami undang orang tua anak itu ke sekolah, kita bicarakan bersama, kita cek CCTV.”
Mendengar itu, si ibu terdengar agak ragu, “Saya tahu, Bu Guru harus mengurus empat puluh murid, tidak mungkin bisa mengawasi semuanya. Jiaxin juga sudah bilang dia baik-baik saja, jadi saya tidak mempermasalahkan lagi. Maaf sudah mengganggu malam-malam begini, terima kasih.”
Namun Mu Rou menegaskan, “Saya sudah minta izin ke bagian sekolah untuk cek rekaman CCTV, jadi besok Ibu tetap harus datang ke sekolah, kita selesaikan masalah ini.”
Melihat itu, sudut bibir Shi Jin Yan terangkat.
Mu Mu yang satu ini, ternyata cukup nakal juga...
Sesampainya di rumah, Shi Jin Yan baru membuka ponselnya dan menemukan banyak pesan dari Jiang Zheng Jin. Setelah membaca, hanya satu yang perlu diperhatikan.
Jiang Zheng Jin: [Tentu saja lihat saja linimasa WeChat-nya. Kalau benar dia sudah punya pacar, pasti akan memamerkan di media sosial.]
Shi Jin Yan langsung membuka linimasa Mu Rou...
Mu Rou: Selamat ulang tahun untuk bintang ulang tahun hari ini! [emoji hati]