Bab 011: Larangan antara Kakak dan Adik 2
Kakak-adik! Hal semacam ini meski tidak asing bagi Ying Tian di kehidupan sebelumnya, tetap saja sangat jarang terjadi. Apalagi, itu pun hanya sekadar pernah mendengar saja. Namun kini, adegan nyata ini terpampang di depan matanya, meski Ying Tian biasanya tidak terlalu peduli pada urusan duniawi, kali ini ia benar-benar merasa terkejut!
Yang paling utama, meski Ying Tian belum begitu akrab dengan berbagai hal di dunia ini, ia sangat memahami peraturan suku Viking. Hal seperti ini benar-benar dilarang keras. Jika sampai ketahuan, hukumannya hanya satu: digantung di pohon dan dipukul hingga mati!
Lebih dari itu, Ying Ying yang disebut-sebut sebagai jenius dan wanita tercantik suku Viking dalam seratus tahun terakhir, ternyata bersama adik kandungnya sendiri, Ying Feng. Jika berita ini tersebar, pasti akan menimbulkan kehebohan yang belum pernah ada sebelumnya!
Memikirkan hal ini, tiba-tiba muncul ide kejam di benak Ying Tian. Jika ia memberitahu ayah mereka yang menjabat sebagai tetua agung, apakah lelaki tua itu akan mati karena marah?
"Kakak, kau tahu kenapa kepala suku tiba-tiba mengumumkan bahwa seleksi panggung jiwa perang ditunda hingga setengah tahun ke depan?" Sambil berusaha terus memuaskan tubuh Ying Ying yang putih seperti salju, Ying Feng bertanya dengan napas tersengal.
"Sepertinya... sepertinya itu karena beberapa hari lalu Dewa Dupa tiba-tiba menunjukkan keanehan! Aku... aku pun tak tahu pasti apa sebabnya! Ah! Adik baik, lebih kuat lagi!" Ying Ying menjawab dengan terputus-putus, lalu berubah menjadi erangan.
Mendengar jawaban Ying Ying, Ying Feng pun tidak bertanya lagi, malah semakin menggempur dengan kuat.
Seleksi panggung jiwa perang ditunda? Karena Dewa Dupa mengalami keanehan? Ying Tian yang sedang terkejut tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran—apakah itu terjadi karena beberapa hari lalu ia masuk ke dalam Dupa Sembilan Wilayah?
Memikirkan ini, Ying Tian semakin ingin segera pergi ke Dupa Sembilan Wilayah untuk memastikan, dan tidak lagi tertarik menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia perlahan mundur, sambil memikirkan cara membalas dendam kepada Ying Feng.
Baik terhadap Ying Feng maupun ayah mereka sang tetua agung, Ying Tian tidak punya sedikit pun rasa simpati. Terutama terhadap Ying Feng, yang selama ini selalu menjadi musuhnya.
Ying Tian sering dibully oleh Ying Feng; bahkan pada hari ketika jiwa Ying Tian dari kehidupan sebelumnya datang, Ying Tian hampir saja dibunuh oleh Ying Feng. Luka parah itulah yang akhirnya membuat jiwa dari kehidupan sebelumnya berhasil menyatu dengan Ying Tian di dunia ini.
Sudah mengambil tubuh orang lain, ia harus memberi kompensasi. Karena kekuatannya sekarang belum cukup membalas dendam, Ying Tian pun tidak keberatan memakai cara lain!
Namun, bagaimana melakukannya harus dipikirkan matang-matang; kalau tidak, hasilnya mungkin tidak sesuai harapan, bahkan bisa berbalik menimpa dirinya sendiri!
Karena terlalu fokus berpikir, Ying Tian tidak sengaja menginjak ranting kering.
Krak!
Terdengar suara pelan, namun di hutan sunyi ini suara itu terasa sangat jelas.
Wajah Ying Tian langsung berubah drastis, ia tak sempat lagi berpikir, tubuhnya bergerak cepat, energi dalam tubuhnya mengalir ke kaki, lalu ia melompat ke atas pohon besar terdekat, sambil berusaha menyembunyikan keberadaannya.
Ia tidak berani memilih kabur, karena kekuatan Ying Ying sangat besar. Jika ia benar-benar membuat Ying Ying curiga, mengandalkan kecepatannya, kemungkinan besar Ying Tian belum sempat lari jauh langsung dibunuh di tempat. Jadi satu-satunya pilihan adalah bersembunyi di sini.
Kadang-kadang, tempat paling berbahaya justru paling aman!
Kenyataannya, pilihan Ying Tian sangat tepat!
"Siapa di sana?" Suara lembut terdengar dari mulut Ying Ying, lalu sosok putihnya dalam sekejap muncul di bawah pohon tempat Ying Tian tadi berdiri.
Ying Ying kini sudah mengenakan gaun tipis putih! Gaun tipis itu justru membuat tubuhnya semakin tampak indah dan menggoda. Ditambah posisi Ying Tian yang berada tepat di bawahnya, ia dapat melihat dengan jelas dada Ying Ying yang menonjol dengan dua puting merah merekah!
Meski tidak memiliki perasaan apa pun terhadap wanita ini, Ying Tian harus mengakui bahwa wanita tercantik suku Viking ini memang sangat luar biasa!
"Kakak, ada apa?" Saat Ying Tian diam-diam memperhatikan Ying Ying, Ying Feng yang masih terengah-engah datang dengan wajah sedikit kesal dan bingung.
Kekuatan Ying Feng jauh di bawah Ying Ying, apalagi tadi ia sedang dalam keadaan seperti itu, sehingga tidak menyadari keanehan. Keinginannya yang belum tuntas pun membuatnya semakin tidak puas.
"Aneh, aku jelas mendengar suara tadi, apa mungkin salah dengar?" Tidak menghiraukan Ying Feng, Ying Ying terus mengamati sekitar dengan pandangan cemas.
Setelah meneliti sekeliling cukup lama, Ying Ying seperti merasakan sesuatu, tiba-tiba mendongak ke atas!
Melihat gerakan Ying Ying, tubuh Ying Tian langsung terasa seperti disambar petir, seluruh pori-porinya berdiri tegak. Meski ia sudah berkali-kali mengalami bahaya di kehidupan sebelumnya, kali ini ia tetap sangat tegang.
Jika tertangkap oleh Ying Ying, nasibnya hanya satu: kematian!
Dosa besar semacam ini, meski kepala suku Viking selalu punya kasih sayang khusus pada Ying Tian, Ying Ying pasti tak akan melepaskannya!
Energi dalam tubuhnya mulai berputar liar, perlahan terkumpul di kedua lengannya. Di saat sangat berbahaya ini, Ying Tian justru mulai merasa tenang, matanya terus menatap Ying Ying, bersiap untuk bertarung mati-matian jika ketahuan.
"Krauk!" Saat itu, di pohon seberang tiba-tiba terdengar suara burung aneh, lalu suara kepakan sayap, seekor burung besar keluar mendadak!
"Swish!" Tubuh ramping Ying Ying bergerak cepat, sebuah ranting di tanah melesat dengan suara dahsyat ke arah burung tersebut.
Burung itu mengeluarkan suara kesakitan, tubuhnya miring dan ranting itu menembus dadanya, darah muncrat dan burung itu jatuh ke tanah.
"Ternyata cuma seekor binatang berbulu!" Wajah Ying Ying akhirnya kembali tenang, ia segera berbalik dan berkata, "Sudah malam, kita pulang!"
Melihat Ying Ying pergi, sementara hasratnya belum tuntas, Ying Feng merasa sangat kesal, namun tak berani membantah. Ia hanya membenahi pakaiannya, berjalan ke arah bangkai burung, menginjaknya kuat-kuat hingga hancur, lalu mengumpat sebelum pergi.
Setelah dua sosok itu menghilang, Ying Tian di atas pohon akhirnya menghela napas lega, namun punggungnya terasa dingin.
Entah sejak kapan, keringat dingin sudah membasahi seluruh bajunya!
Diam-diam ia bersyukur, namun tidak segera turun dari pohon. Ia memilih menunggu setengah jam lagi, memastikan lingkungan benar-benar aman, baru melompat turun dan bergegas menuju alun-alun.
Tanpa disadari, saat ia meninggalkan tempat itu, dari kejauhan seolah ada sepasang mata yang diam-diam memandang ke arahnya...