Bab 39: Sesuatu yang Diinginkan
Pria yang duduk di kursi utama merasakan secercah kemarahan melintas di lubuk matanya begitu mendengar suara tersebut, namun wajahnya tetap dihiasi senyuman.
"Aku justru ingin segera menyerahkan benda-benda itu kepadamu, hanya saja benda-benda itu tidak mau menurut," ujarnya sambil merentangkan tangan dengan gestur tak berdaya. "Setiap kali aku mendekat, benda-benda itu justru menghajarku."
Duan Yi berjalan ke arah sebuah kursi kosong dan duduk. Ia menyilangkan kakinya, menatap pria di kursi utama itu seolah-olah sedang memandang seekor semut.
"Berhentilah memutarbalikkan fakta di depanku," ucapnya dingin. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja menyimpan benda-benda itu?"
Pria di kursi utama itu tetap tersenyum ramah. "Demi langit dan bumi, aku benar-benar tidak punya niat seperti itu. Kau tahu sendiri, aku hanyalah salah satu orang yang ditugaskan untuk merawat benda-benda ini, aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya..."
Duan Yi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, kilatan senyum sinis terpancar di matanya. "Kuberi waktu dua hari. Jika dalam dua hari kau masih belum menyerahkan benda-benda itu... kau sendiri tahu bagaimana cara dan watakku."
Wajah pria di kursi utama itu sempat menegang sesaat. Ia mengepalkan kedua tangannya yang gemetar. "Tenang saja, tenang saja. Dua hari lagi aku pasti akan menyerahkan benda-benda itu kepadamu."
Duan Yi mencemooh, "Menghabisi nyawamu jauh lebih mudah daripada meremukkan seekor semut."
Meskipun merasa benci setengah mati di dalam hati, pria itu sama sekali tidak berani membantah. Sebagai manusia biasa, bagaimana mungkin ia bisa menandingi seorang kultivator jalur sesat.
"Tenanglah, aku tidak akan pernah melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan."
Entah percaya atau tidak, Duan Yi berkata, "Begitu aku mendapatkan benda-benda itu, aku akan membantumu mewujudkan keinginanmu. Tidakkah kau ingin keinginanmu terwujud?"
Pria di kursi utama itu tentu sangat ingin keinginannya terwujud. Demi mewujudkan keinginan itu, ia bahkan tidak segan-segan bersekongkol dengan kultivator jalur sesat dan melakukan begitu banyak hal di balik layar.
"Aku mengerti."
Duan Yi bangkit berdiri dan meliriknya dengan dingin. "Ingat identitas dan tujuanmu."
Setelah berkata demikian, ia pun pergi.
Pria di kursi utama itu duduk lemas di atas kursi, otaknya berputar dengan sangat cepat. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar bisa memanfaatkan kultivator jalur sesat demi mencapai tujuannya, sekaligus melindungi benda-benda tersebut?
"Pangeran, mengenai masalah di area terlarang...?" tanya sang kepala pelayan dengan hati-hati.
Pria di kursi utama itu mencoba mengumpulkan kembali konsentrasinya. "Ceritakan secara rinci bagaimana situasi di istana kekaisaran saat ini."
Ia harus memahami segala situasi dari berbagai aspek agar bisa membuat susunan rencana terbaik.
Kepala pelayan itu menjawab, "Di istana kekaisaran, tampaknya Putra Mahkota Perempuan telah melakukan sesuatu, tetapi detailnya belum berhasil diselidiki. Namun, ada banyak orang yang tewas di istana, dan seluruh jenazah mereka telah dibakar."
Pria di kursi utama itu memiliki firasat bahwa kedua hal tersebut pasti saling berkaitan, hanya saja untuk saat ini ia belum bisa menebak hubungannya.
Wencheng Di setelah menidurkan putrinya, melangkah keluar ke aula luar.
"Yang Mulia," Fu Yuan membungkuk sambil menyerahkan sebuah berkas dengan kedua tangan. "Ini adalah berkas terperinci mengenai para kerabat kekaisaran yang ditugaskan untuk merawat beberapa benda pusaka tersebut."
Wencheng Di menerima berkas itu dan duduk di kursi untuk membacanya. "Apakah orang-orang ini menunjukkan pergerakan malam ini?"
Selama ini, benda-benda pusaka tersebut memang dipercayakan kepada beberapa kerabat kekaisaran untuk dijaga bersama. Anggota kerabat kekaisaran ini dipilih oleh kaisar terdahulu dan secara berkala akan memasuki istana untuk memeriksa kondisi benda-benda pusaka itu. Aturan yang ditetapkan oleh leluhur ini dibuat karena khawatir keturunan masa depan yang mengelola benda pusaka secara mandiri akan memunculkan niat buruk.
Namun, ternyata tetap saja ada keturunan yang berpikiran menyimpang.
Fu Yuan menjawab, "Untuk sementara belum ada. Mungkin para kerabat kekaisaran itu belum mengetahui tentang kejadian di area terlarang."
Wencheng Di mendengkus pelan. "Tidak mungkin. Insiden sebesar itu terjadi di area terlarang, dalang di baliknya pasti akan mengawasi situasi aku dan area terlarang."
"Jika dugaanku tidak meleset, pihak musuh pasti akan bergerak malam ini, hanya saja kau yang belum berhasil menyelidikinya."
Fu Yuan bertanya, "Yang Mulia, kalau begitu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Wencheng Di melemparkan berkas itu ke atas meja kecil, lalu berkata dengan tenang dan santai, "Apakah hal seperti ini masih perlu diajarin olehku?"
"Tangkap semua kerabat kekaisaran itu. Mengenai bagaimana cara menginterogasi mereka, tidak perlu aku beri tahu lagi, bukan?"
Fu Yuan menerima perintah dan mundur untuk mengurus masalah tersebut.
Malam itu juga, para kerabat kekaisaran itu langsung diseret ke Markas Penyidikan Ketat. Fu Yuan memimpin interogasi secara langsung.
"Selamat malam, keempat Pangeran," ucapnya sambil tersenyum ramah. "Hamba mematuhi titah Yang Mulia untuk datang khusus menginterogasi keempat Pangeran."
Pangeran Liang dan ketiga lainnya saling berpandangan, sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi.
"Kasim Fu Yuan, se... sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Pangeran He yang berbadan sedikit gempal dengan suara gemetar.
"Kami sama sekali tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya!"
Kaisar selama ini dikenal kejam dan tidak pernah mempedulikan reputasi, sehingga ia tidak ragu membunuh siapa pun yang ia inginkan dan memenjarakan siapa saja yang ia kehendaki.
Fu Yuan mengibaskan kemoceng di tangannya, lalu berkata perlahan tanpa terburu-buru, "Keempat Pangeran tentu mengetahui perihal insiden di area terlarang istana."
"Area terlarang istana telah kebobolan, beberapa benda pusaka di dalamnya raib tanpa jejak. Menurut keempat Pangeran, bukankah ini suatu kebetulan yang sangat menarik?"
Keempat Pangeran itu berseru kaget.
"Apa?! Area terlarang kebobolan? Bagaimana mungkin? Bukankah penjagaan di area terlarang sangat ketat, bagaimana bisa kecolongan?"
"Mungkinkah ada masalah dalam hal ini? Tidak ada orang luar yang mengetahui tentang area terlarang, apalagi keberadaan benda-benda pusaka di dalamnya."
"Pantas saja Kaisar ingin menangkap kita di tengah malam begini, ternyata telah terjadi peristiwa besar seperti ini."
Fu Yuan berkata, "Jika keempat Pangeran mengetahui sedikit saja informasi bagian dalam, sebaiknya katakan dengan jujur agar tidak perlu menderita siksaan fisik."
Keempat Pangeran itu langsung meratap dan menyatakan diri mereka tidak bersalah. "Kasim Fu Yuan, kami benar-benar tidak tahu apa-apa tentang masalah ini."
Melihat hal tersebut, Fu Yuan melirik para pengawal wanita yang berjaga di samping. Pengawal wanita itu mengerti dan melangkah maju sambil membawa besi stempel panas.
"Mohon maaf kepada keempat Pangeran, hamba juga hanya menjalankan titah."
Setelah berkata demikian, ia langsung menempelkan besi panas itu ke dada Pangeran He.
"Argh!" Pangeran He menjerit histeris hingga hampir pingsan karena menahan sakit.
Giliran Pangeran Liang dan dua orang lainnya setelah itu. Siksaan yang ada di tempat itu bukan hanya besi panas saja, bahkan besi panas itu hanyalah salah satu hukuman yang paling ringan di antara semuanya.
Keesokan paginya.
Tongtong baru saja selesai sarapan dan bersiap pergi ke Ibu Kota Negara bersama Peng Garuda Emas untuk meletakkan benda-benda pusaka, ketika seekor burung kertas terbang mendekat. Burung kertas itu tampak sangat cemas, berputar-putar mengelilingi Tongtong beberapa kali seolah ingin menuntunnya pergi ke suatu tempat.
"Itu burung surat Guru Ketiga!" Tongtong melompat dari kursi dan menarik tangan Peng Garuda Emas untuk berlari keluar. "Garuda Emas, Guru Ketiga pasti sedang dalam masalah, kita harus pergi membantunya."
Khawatir anak itu terjatuh karena berlari terlalu kencang, Peng Garuda Emas buru-buru memperingatkan, "Pelan-pelan, pelan-pelan."
"Bocah Mo Rufeng itu memiliki kemampuan yang cukup baik dan membawa banyak benda pusaka perlindungan diri, seharusnya dia tidak akan kenapa-kenapa."
Kaki pendek Tongtong berlari dengan sangat cepat, wajah kecilnya dipenuhi kecemasan. "Tidak bisa pelan-pelan. Guru Ketiga sudah dua hari tidak kembali, pasti telah terjadi hal besar."
"Garuda Emas, cepatlah!"