Bab Ketujuh Puluh Satu: Monyet Berbulu Putih: Aku Tidak Bertindak Terlalu Keras
“Aku mau berkeliling sebentar.”
“Silakan, hati-hati di luar. Aku juga kurang yakin apakah masih ada yang lolos dari penyisiran.”
Sambil Si Penunggang Naga masih asyik membanggakan dirinya di hadapan orang tuanya, Zhu Suihan berpamitan singkat, lalu berjalan-jalan mengitari markas dengan si Susu Peri di atas kepala.
Proses pencairan es cukup mudah, tinggal dipanaskan dengan api saja. Sesekali melihat beberapa penjahat yang masih membeku, orang-orang dari pihak Aliansi malah lebih blak-blakan—langsung memecah es beserta orangnya, lalu dibawa pergi begitu saja.
Mencairkan di tempat? Maaf, itu hanya servis spesial buat Pokémon. Kalian, para biang kerok, jelas tak masuk daftar.
“Masih kurang beku juga, ya. Kenapa nggak pernah ada yang sial sampai lengannya ikut copot pas dicongkel?”
“Paling bagus sih dilakukan di depan penjahat-penjahat lain yang sudah dicairkan, biar pada kapok dan mau jujur.”
Machamp yang lewat sambil mengangkut bongkahan es bersama pelatihnya: Hah?
Ini rekan kerja? Kok nggak kenal, ya? Ganas juga, tipikal yang disukai polisi internasional. Tapi tunggu, di atas kepalanya ada Pokémon imut, di pundaknya tergantung kotak medis dari kamp...
Mahasiswa Akademi Joy yang datang untuk membantu?!
Apa kamu nggak salah pilih sekolah?
Kebanyakan Pokémon tipe hantu hanya suka iseng, tapi yang ini lebih mirip si Lampu Kristal. Eh, bahkan Lampu Kristal pun tak semenakutkan ini! Dia cuma menghisap energi kehidupan, setidaknya nggak menyiksa dari fisik sekaligus mental!
Machamp dan pelatihnya menatap kepergian Zhu Suihan dengan penuh hormat. Tapi penghormatan itu lebih ditujukan kepada Akademi Joy. Keluarga Joy benar-benar layak dijuluki keluarga tabib lintas wilayah, dedikasi seperti ini memang tak mudah ditandingi. Seperti menempatkan seseorang yang berbahaya di akademi dan disegel di sana.
Markas ini meskipun kecil, namun fasilitasnya lengkap. Di permukaan tanah masih tampak bekas ledakan, sisa-sisa logam berserakan dengan goresan yang masih baru.
“Lini produksi juga bisa meledak sendiri, benar-benar granat pecahan ukuran besar.”
Zhu Suihan memungut sebuah suku cadang di pojok, mengamatinya sejenak lalu mengendusnya. Tak ada aroma istimewa, bahan dasarnya semacam logam campuran biasa. Ia juga tak melihat ada yang aneh dari lini produksinya.
Jadi, apa sebenarnya prinsip kerja Bola Gelap itu?
Kalau Bola Mewah itu seperti hotel bintang lima dengan layanan lengkap, jangan-jangan Bola Gelap itu versi mini dari kamar penjara bawah tanah?
“Rasanya nggak perlu serumit itu, tanam saja ilusi era kegelapan di dalamnya, sudah cukup.”
“Susu Peri, coba cari aroma makanan. Kita lihat-lihat makanan para penjahat di sini, siapa tahu ada juga penjahat wanita.”
Zhu Suihan menggenggam Bola Berat, merasa yakin bakal menemukan sesuatu yang menarik di kantin markas Tim Kegelapan. Entah buah beri berkualitas tinggi atau lainnya, pokoknya pasti dapat sesuatu.
Mungkin ini semacam daya tarik antar sesama pecinta makanan, meski alasan terbesarnya adalah Zhu Suihan merasa dirinya memang ditakdirkan menemukan sesuatu.
Tempat seperti ini biasanya diabaikan dalam pembersihan, bisa jadi membawa kejutan tersendiri.
“Kalau mau mencari barang bagus, jangan ke tempat yang sudah dijarah orang lain, kan, Susu Peri?”
“Miluu~”
Susu Peri bak pilot Dewa Naga, menarik rambut kiri Zhu Suihan.
Dapur dan kantinnya sederhana, standar kantin sekolah atau pabrik, hanya saja lebih bersih.
“Tidak seperti bayangan, di sini nggak ada slogan Tim Kegelapan di tiap langkah, atau poster Bola Gelap di mana-mana.”
Zhu Suihan mengintip dari jendela, melihat makanan Tim Kegelapan yang menurutnya tak sebanding dengan masakan kantin Akademinya sendiri.
Satu tendangan membuka pintu belakang dapur, Zhu Suihan langsung mengambil wajan beku, lalu menatap pintu ruang pendingin dengan serius.
Naluri mengatakan, kalau ada benda penting yang disembunyikan di dapur, pasti di ruang pendingin inilah tempatnya.
Gimana caranya keluar? Gampang, Pokémon bisa gali lubang, lantai ruang pendingin sekalipun tetap bisa ditembus asal kekuatan Pokémon cukup.
Ada kemungkinan lain, ruang pendingin ini menyimpan jalan rahasia untuk melarikan diri.
Susu Peri kembali menarik rambut Zhu Suihan.
“Miluu~?”
Butuh aku hiasin kamu dulu, nih?
“Jangan iseng, aku bukan Pokémon, skill hias-menghias nggak mempan buatku. Aku cuma kurang gizi.”
Zhu Suihan menopang dagu sambil berpikir, lalu melirik panel status ruang pendingin di dinding.
Tempat yang dirancang tahan dingin semaksimal mungkin ini, masih punya perangkat elektronik yang berjalan normal di balik dinding.
“Heh, suhu ini nggak bener, biar aku tambah lagi dinginnya.”
Zhu Suihan menurunkan suhu ke titik terendah: “Ini ruang pendingin, bukan vila musim panas. Kalau keluar dari sini tanpa es di badan, nggak malu apa?”
Susu Peri membungkus diri dengan rambut panjang Zhu Suihan, tampak nyaman sekali.
“Miluu~?”
Bukannya kita ke sini cari makanan? Kok jadi nungguin begini...
“Di dalam pasti ada sesuatu yang bisa ditukar makanan enak, seperti langkah-langkah sebelum aku bikin Energy Cube.”
Zhu Suihan bersandar di meja dapur, perlahan-lahan menghancurkan es di wajan dengan ujung jemarinya.
Dia santai, tapi mungkin yang di dalam ruang pendingin tidak begitu.
Sementara itu, orang yang terjebak di dalam ruang pendingin benar-benar bingung, hanya bisa melihat suhu turun terus, tubuhnya pun makin kaku.
Apakah petugas Aliansi sudah pergi? Kok aksinya cepat sekali?
Tapi anjing-anjing pemulung juga nekat, begitu Aliansi mundur mereka langsung masuk.
Pertama, Aliansi nggak bakal menyiksa begini. Kedua, kalau rekan sesama Tim Kegelapan, pasti langsung dibuka pintunya. Jadi, cuma para pemulung abu-abu yang bakal bertindak sekejam ini.
Inilah cara ‘memaksa’ agar dia mau mengungkap semua informasi berharga.
“Sepertinya harus nekat saja.”
Anggota Tim Kegelapan itu menggenggam Bola Gelap miliknya—ini hasil colongan dari gudang markas. Di dalamnya ada Pokémon kuat hasil budidaya labirin hutan di markas, lumayan buat menambah prestasi.
Sebenarnya bola itu rencananya akan dikirim ke markas pusat lewat jalur rahasia.
“Aku andalkan kau. Siapapun di luar sana, tugasmu cuma bikin kekacauan, kasih aku waktu kabur.”
Tak ada yang waras sampai membuat jalan rahasia di dalam ruang pendingin, tapi sebagai staf, dia tahu beberapa jalur keluar darurat.
Kalau memang di luar cuma pemulung, aku masih punya peluang!
Dia menekan tombol darurat—fitur khusus ruang pendingin untuk antisipasi kecelakaan, misal ada yang terkunci di dalam.
Biasanya tombol ini nggak pernah dipakai, atau kalau ruang pendingin tiba-tiba kebuka sendiri, sebaiknya panggil dua pelatih spesialis psikis untuk mengusir hantu.
Kalau mau irit, pelatih spesialis hantu juga lumayan.
Pintu ruang pendingin perlahan terbuka, si bawahan meneguhkan niat. Begitu celah pintu cukup untuk melempar Poké Ball, langsung saja dia lempar!
“Forretress, gunakan Ledakan Be...!”
Boom!
Forretress baru saja keluar dari bola, cahaya ledakan saja belum sempat menyala, langsung dihantam Zhu Suihan dengan Bola Berat, pingsan seketika, membuat pintu ruang pendingin penyok besar.
“Gila juga, situasi begini masih berani buka pintu sendiri. Kirain orang lain nggak waspada?”
Teknik melempar Poké Ball di waktu yang pas memang patut diapresiasi, niatnya untuk menyergap juga sudah benar. Tapi sayang, yang di luar juga bukan orang normal, justru aneh sendiri, suka bereksperimen dengan bola Pokémon.
Dalam tatapan ngeri si bawahan, Zhu Suihan langsung menarik tubuhnya keluar.
“Tunggu, kamu dokter Aliansi, kan? Aku terluka, aku minta pengobatan!”
Bawahan itu melihat kotak medis di samping Zhu Suihan, merasa masih ada harapan.
“Aku bukan dokter Aliansi. Aku mahasiswa Akademi Joy.”
Bawahan itu memandang wajah Zhu Suihan, lalu tertegun.
“Nona Joy... sekarang peraturan sekolahmu membolehkan dokter mewarnai rambut? Kamu operasi plastik juga?”
Mata si bawahan gelap, pemandangan terakhir sebelum pingsan adalah sebilah wajan.
Dia kenal wajan itu, biasa dipakai atasan untuk bikin telur dadar daun bawang. Daun bawangnya hasil panen Farfetch’d yang lezat, telurnya harus dari Chansey, telur Blissey saja tidak dipilih.
Tak disangka, pertemuan pertamanya dengan wajan ini terjadi dengan cara seperti ini.
Plak!
Susu Peri yang berbalut selimut kecil agak gemetar, tapi yakin pelatihnya memang menahan diri, sebab suara hantaman tidak sekeras waktu memukul Forretress tadi.
“Bukan Nona Joy.”
Zhu Suihan melempar begitu saja wajan itu, lalu mengambil dua permen susu hasil olahan susu Miltank dari tungku, satu ia gigit sendiri, satu lagi dilempar ke atas kepala. Susu Peri langsung membuka mulut dan menangkapnya dengan cekatan.
“Aku Tuan Joy.”
Zhu Suihan menyeret si bawahan keluar, sebelumnya sempat memasukkan Forretress ke dalam Bola Gelap.
Sebenarnya, ia ingin mencoba menendang bola itu seperti bola sepak.
“Tapi sudahlah, kasihan juga, sudah dikerjain satu bola, kalau diterusin kurang sopan.”
“Paman Liu, aku dapat satu yang tersisa.”
Paman Liu terkejut, “Ternyata masih ada satu yang lolos?”
Baru saja ia iseng mengingatkan Zhu Suihan, tak disangka benar-benar ada yang belum ditemukan oleh dia maupun Akashi.
Melihat bekas wajan di wajah si bawahan, Paman Liu hanya bisa meringis.
“Kamu apakan dia?”
“Aku traktir dia wajan, sembunyi di ruang pendingin, sudah tahu ketahuan masih mau melawan.”
Zhu Suihan membuka Bola Gelap, “Ini Forretress-nya. Sebelum sempat meledak, sudah aku hantam duluan. Kalau begini, tinggal ditinggal di sini, kan?”
Paman Liu melambaikan tangan pada Delibird, yang segera membawa staf lain. Melihat bekas wajan itu, staf pun dilanda dilema.
“Bagus sekali, adik. Tapi sebaiknya jangan diulangi lagi. Cara-cara seperti ini bisa memicu kebiasaan kekerasan yang kurang baik.”
Zhu Suihan heran, “Aku benar-benar nggak kasar, dia cuma pingsan. Kena wajan di muka saja giginya nggak ada yang copot, itu sudah sangat lembut.”
Staf: ?
Kalau bukan karena Paman Liu selalu mengamati dan sangat menghargai si bocah rambut putih ini, rasanya setelah pulang ke markas, dia pasti akan melaporkan tingkah polah anak ini!