Bab 080: Malam Penyambutan Tetap Mengalahkan Semua Orang
Benar, Su Luo memang sedang memainkan piano. Ia menutup matanya, kedua tangannya menari lincah di atas tuts, melodi yang merdu langsung menenggelamkan suara piano Lu Xueli. Semua orang yang tadinya memusatkan perhatian pada Lu Xueli, kini tak bisa mengalihkan pandangan dari tangan Su Luo.
Mereka menahan napas, menatap gadis itu bermain piano. Bahkan mereka yang pernah menyaksikan konser pianis terkenal pun harus mengakui, permainan piano gadis ini sungguh luar biasa.
Lu Xueli mulai panik saat melihat ini. Tak ada yang lebih tahu dari dirinya tentang kemampuan Su Luo. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam didikan keras orang tuanya, bermain piano selama belasan tahun. Berlatih teknik jari sambil menangis, barulah ia mencapai prestasi seperti sekarang.
Namun, ia justru dengan mudah dikalahkan oleh seorang gadis desa yang tumbuh di kampung. Lebih dari itu, suara piano dan teknik jari Su Luo bahkan melampaui ayahnya sendiri yang terkenal sebagai pianis ternama.
Semakin ia memikirkan hal itu, hatinya makin gelisah. Semakin gelisah, permainan pianonya pun semakin kacau. Hingga akhirnya, jemarinya tak mampu lagi menghasilkan nada, hanya bisa bergetar kaku di atas tuts.
Namun, tak seorang pun di tempat itu menyadari keanehannya. Justru netizen yang menonton siaran langsunglah yang lebih dulu menyadarinya, lalu berulang kali bertanya.
“Bukankah dia putri seorang pianis? Katanya umur lima tahun sudah bisa memainkan sepuluh lagu terkenal, kok sekarang malah begini?”
“Aduh, zaman sekarang memang penuh sensasi. Coba pikir, bisa jadi putri pianis besar mainnya jelek? Kalau tidak dibesar-besarkan, bukankah bikin malu keluarga?”
Seketika, para penonton siaran langsung pun heboh. Fokus penonton pun bergeser, dari menanti penampilan pianis masa depan, menjadi menanti momen memalukan sang pianis.
Seorang mahasiswi terus menjelaskan penampilan kali ini, dan saat memperkenalkan Su Luo, suaranya sengaja dikeraskan, “Ini mahasiswa baru kami, katanya dulu tinggal di desa, baru kelas dua SMA ditemukan keluarganya, sebelumnya tak pernah belajar piano, tapi mainnya luar biasa.”
Langsung saja ada yang membalas di kolom komentar, “Sudah tahu dia dari desa, masih juga disuruh naik panggung? Ini sengaja mau mempermalukan orang, ya?”
Gadis itu pun terdiam sesaat, lalu tersenyum lembut dan melanjutkan, “Saya juga nggak tahu, semua ini urusan panitia. Saya ini cuma mahasiswa biasa, bisa masuk Universitas Ibu Kota karena usaha sendiri, duduk di sini saja sudah sangat bersyukur.”
Namun ada juga yang mengetik dengan marah, “Pasti cuma sensasi. Orang tanpa dasar main piano, mana mungkin bisa sehebat itu? Cari sensasi saja, pengen terkenal sampai segitunya. Dasar nggak tahu malu, kenapa juga cari yang jelek buat sensasi.”
Untungnya, komentar di ruang siaran langsung tak sampai menyesatkan opini. Jumlah penonton yang tadinya hanya ribuan, mendadak melonjak jadi ratusan ribu. Saking ramainya, komentar di bawah platform siaran langsung pun tak terbaca lagi.
Gadis yang menyiarkan itu sendiri tak peduli. Siarannya mendadak banjir penonton, jadi selebgram tinggal menunggu waktu. Nanti, begitu namanya melambung, masuk ke dunia hiburan pun pasti langsung melejit.
Di tengah suasana yang memanas, suara piano mendadak berhenti. Su Luo bangkit dari kursi, tetap dengan wajah dinginnya, lalu berjalan turun panggung.
Tepuk tangan membahana, sementara Lu Xueli hanya bisa berdiri kikuk sendirian di atas panggung.
Lu Xueli menggenggam tangannya erat-erat, menggigit bibir dan berkata, “Tak kusangka Su Luo mainnya sehebat ini, jadi aku tadi berhenti saja. Lagipula aku sudah belajar piano sejak kecil, melihat adik kelas punya kesempatan, sebagai kakak aku tentu ingin membantunya. Terima kasih, Kakak.”
Setelah selesai bicara dan membungkuk, meski semua orang masih bingung, perlahan mereka mulai sadar.
Perkataan Lu Xueli barusan jelas mengada-ada. Tadi waktu naik panggung, ia begitu meremehkan orang lain, tapi begitu ada yang main lebih bagus, malah berdalih membantu?
Bagaimana bisa ada orang tak tahu malu seperti ini?
Semua orang menatap Lu Xueli dengan dingin saat ia turun panggung, raut wajah mereka penuh rasa tak suka. Bahkan Lu Xueli sendiri bisa merasakan tatapan aneh dari sekeliling.
Baru saja duduk, ponselnya bergetar hebat. Melihat layar bertuliskan “Ayah”, seluruh tubuhnya langsung gemetar hebat.
Ia tahu, barusan banyak teman yang menyiarkan langsung acara penyambutan Universitas Ibu Kota, dan ayahnya pasti melihat penampilannya tadi. Sekarang ayah menelponnya, jelas-jelas hendak meluapkan kemarahan!
Ia tak berani mengangkat, tapi juga tak bisa menolak. Tak ingin teman di sebelah mendengar dan menertawakannya, Lu Xueli buru-buru berlari ke luar aula dengan membawa ponsel.
Namun, getaran ponsel itu seperti isyarat kematian. Meski ia berlari sekencang apapun, aula terlalu besar. Akhirnya, mau tak mau ia mengangkat panggilan itu, dan terdengarlah suara ayahnya yang menggelegar.
“Lu Xueli, apa-apaan kamu ini? Hanya main satu lagu di acara penyambutan saja bisa berantakan begitu? Kamu nggak merasa malu? Kalau kamu nggak malu, ayahmu ini malu! Nanti kalau keluar rumah, mukaku harus kutaruh di mana?”
Di dalam aula yang riuh, Lu Xueli hanya bisa menangis tersedu-sedu dimarahi ayahnya. Ia pura-pura tak mendengar dan berkata, “Ayah, aku masih di aula kampus, suaranya nggak jelas, tunggu aku keluar dulu, ya?”
Tak ada suara lagi di ujung sana. Lu Xueli melirik, ayahnya sudah menutup telepon dengan marah.
Ia menggenggam ponsel dan terus berjalan ke luar. Begitu masuk ke toilet, ponsel kembali bergetar.
Kali ini suara ibunya terdengar, “Xueli, ada apa sih denganmu? Apa kamu grogi? Ayahmu memang begitu, sedikit-sedikit langsung marah, kasih tekanan besar ke anak.”
“Bu…” Mendengar suara ibunya, Lu Xueli tak sanggup lagi menahan diri, ia pun menangis tersedu-sedu.
Ibunya menghela napas, lalu melanjutkan, “Tapi ini juga salahmu, kenapa kamu bisa terpeleset seperti itu? Ayahmu sudah membangun reputasi baikmu bertahun-tahun, sekarang hancur cuma dalam beberapa menit. Ayahmu sekarang sangat marah, ibu juga nggak tahu harus menghibur bagaimana, kamu pikirkan sendiri baik-baik, ya.”
Telepon terputus lagi. Bahkan ibu yang paling disayanginya pun tak berpihak padanya, membuat Lu Xueli makin putus asa.
Ia terduduk di kloset, menangis sejadi-jadinya saat tak ada orang di sana. Ia meluapkan semua kepedihan dan kemarahannya.
Di aula, Su Luo duduk di kursinya, dikelilingi tatapan takjub. Siapa sebenarnya gadis ini? Benarkah ia berasal dari desa? Kenapa dia bisa sehebat itu bermain piano?
Beragam pertanyaan memenuhi benak semua orang.
Untungnya, acara selanjutnya tak ada lagi yang menyulitkan Su Luo. Malam penyambutan berjalan normal, dan Su Luo menyaksikan seluruh acara dengan saksama.
Tak disangka, begitu keluar dari aula, jalan Su Luo langsung dihadang beberapa laki-laki dan perempuan.
Su Luo menatap mereka tanpa gentar, lalu berkata, “Acara penyambutan sudah selesai, sepertinya kalian datang terlambat.”
Salah satu laki-laki menjawab, “Tidak terlambat, kami memang tidak ingin menonton acara itu, kami memang datang untuk mencarimu.”
Di antara mereka, berdirilah Lu Xueli yang kini berlinang air mata, dipeluk seorang laki-laki, berdiri paling belakang.
Su Luo tersenyum tipis, lalu berkata dingin, “Jadi ini alasannya.”