Bab 074: Pertanyaan yang Sulit Dijawab
Laki-laki di samping yang tadi mencoba menghantam piring makan dengan tinjunya langsung mengangguk keras mendengar ucapan itu.
Han Zeyu seketika bercucuran keringat dingin.
Kalau memang piring itu tadi benar-benar dilempar oleh gadis ini, lalu dia itu apa? Monster?
Su Luo menatap kedua orang itu dan berkata, “Selain itu, ada trik lain lagi?”
Begitu selesai bicara, ia melepaskan tangannya. Piring makan yang diremas hingga penyok olehnya jatuh ke lantai dengan suara keras.
Barulah orang-orang sadar, yang dipegang Su Luo memang piring makan, bukan tisu atau apapun.
Han Yuze walau ketakutan, tetap memaksakan diri berdiri di situ.
Ia mengejek, “Kau hanya punya tenaga kasar. Benar-benar anak kampung. Universitas Ibu Kota tidak pernah menjadi tempat bagi sampah. Kalau kau tahu diri, pergi saja. Kantin ini bukan tempat untuk orang sepertimu.”
“Oh ya? Kalau begitu, aku mau tanya, ada seekor beruang jatuh dari pohon setinggi dua puluh meter dalam dua detik. Apa warna bulu beruang itu?”
Semua orang terpana.
Bukankah ini pertanyaan konyol? Siapa yang mau repot-repot mengajukan soal seperti itu?
Saat Wang Xiaomei hendak memarahi Su Luo, Han Yuze justru berdeham percaya diri.
Melihat itu, Wang Xiaomei langsung sadar Han Yuze tahu jawabannya.
Han Yuze membersihkan tenggorokannya, merapikan dasi di leher. Harus diakui, pertanyaan itu memang sulit, tapi… ia pernah menemukannya.
Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Dari pertanyaan tadi, beruang jatuh dari pohon dua puluh meter dalam dua detik. Berdasarkan rumus h=1/2gt², percepatan gravitasi di situ lebih dari 9,8. Fisika mengajarkan, gravitasi terbesar hanya ada di kutub-kutub bumi. Artinya, beruang itu hanya mungkin berada di kutub utara atau selatan. Di kutub selatan hanya ada penguin, tidak ada beruang. Jadi, beruang itu pasti di kutub utara. Zoologi mengajarkan, beruang kutub bulunya putih. Jadi, jawaban akhirnya: bulu beruang itu putih.”
Begitu Han Yuze selesai bicara, terdengar tepuk tangan membahana di sekeliling.
“Cuma anak kampung, berani-beraninya pakai soal beginian buat menjatuhkan kakak Yuze kita, malah mempermalukan diri sendiri.”
“Kakak Yuze memang hebat, soal sesulit itu pun bisa dijawab.”
“Benar, kakak Yuze memang salah satu dari empat dewa kampus, sekarang si anak kampung itu malah dipermalukan.”
Suara-suara pujian bersahut-sahutan, membuat Han Yuze semakin jumawa.
Bahkan Kim Meiyan pun menahan napas cemas.
Bisa mengajukan soal seperti itu berarti Su Luo sendiri merasa itu pertanyaan sulit, tapi kakak Yuze malah dengan mudah menjawabnya.
Wang Xiaomei tersenyum sinis, “Bicara tanpa pikir panjang. Kakak Yuze itu juara sains tahun lalu, kau siapa sampai berani mengujinya? Lain kali saja, ya.”
Setelah berkata begitu, ia langsung memeluk lengan Han Yuze dan manja berkata, “Kakak Yuze, lihat deh, dia masih belum puas.”
“Kalau belum puas, biar dia tahu apa artinya tunduk.”
Han Yuze perlahan menepis tangan Wang Xiaomei, kembali mendekat satu langkah, tak sengaja menendang piring yang dilempar Su Luo ke lantai.
Melihat piring remuk itu, Han Yuze tak berani lagi mendekat.
Para gadis lain ramai berteriak, “Sudah di ujung tanduk, cepat minta maaf pada kakak Yuze!”
“Iya, berlutut dan minta maaf, mungkin kakak Yuze masih mau memaafkanmu.”
Su Luo dengan tenang berkata, “Sayang sekali, jawabanmu salah.”
!!!
Semua mata langsung tertuju pada Su Luo.
Lalu, terdengar suara tertawa meremehkan, “Dia gila ya? Berani-beraninya bilang jawaban kakak Yuze salah. Apa kami budeg?”
Disusul suara tawa laki-laki lain, “Dasar anak kampung, pasti nemu soal itu entah dari mana, merasa keren, lalu tanya ke kakak Yuze kita.”
Wang Xiaomei mengangkat alis, nada malas, “Sayang sekali, niat menjatuhkan orang malah berbalik ke dirinya sendiri.”
Su Luo tetap bicara dengan tenang, “Maaf, ini memang salah. Aku hanya ingin tanya, di kutub utara ada pohon? Beruang kutub bisa manjat pohon?”
Bumm—
Orang-orang seperti ditampar keras. Benar juga, di kutub utara ada pohon? Tidak ada pohon di sana.
Ada yang protes, “Kau curang, sengaja cari masalah, kan? Ini kan soal matematika, bukan kejadian nyata.”
Wajah Wang Xiaomei pun memerah karena malu. Jika soalnya memang salah dan pujaan hatinya tetap menjawab, bukankah itu berarti dia bodoh?
Han Yuze pun cemas tak karuan, tak menyangka karena gugup tadi ia tak sadar masalah itu.
Soal yang pernah ia lihat seharusnya tentang beruang jatuh dari ketinggian, bukan dari pohon.
Kini kedua tangannya mengepal keras, tak bisa menahan diri.
Akhirnya ia menggertakkan gigi, “Kau curang!”
Su Luo tersenyum datar, “Salah soal itu wajar, justru yang lancar-lancar menjawab itu mencurigakan, bukan begitu kakak Yuze? Dalam ujian sungguhan, kalau soal salah, bukan berarti kamu boleh menulis jawaban salah.”
“Kamu!”
Han Yuze menggenggam tinju lebih erat, tak terkendali langsung mencengkeram bahu Su Luo, tak menyangka gadis itu tiba-tiba meledak dengan kekuatan dahsyat dan melemparkannya dengan teknik bantingan.
Begitu cepat dan kuat, bahkan ia tak sempat bereaksi, tubuhnya serasa remuk dihantam lantai.
“Maaf, itu tadi bela diri.”
Su Luo menepuk tangan, berkata dingin, “Seumur hidupku, aku paling benci orang yang menyentuh bahuku.”
Nada bicara yang dingin menusuk membuat semua orang bahkan tak berani bernapas.
Padahal, kakak Yuze bukan cuma pintar dan tampan, tapi juga sabuk hitam taekwondo tingkat delapan, kenapa bisa dikalahkan dengan mudah oleh gadis tak dikenal?
“Apa yang kalian lakukan? Kenapa berkerumun di sini?”
Suara berwibawa terdengar, semua orang menoleh ke arah itu. Kepala sekolah Liu muncul di hadapan mereka, semua langsung lega dan menyapa, “Selamat siang, Pak Kepala Sekolah.”
Nada kepala sekolah datar, tapi melihat Su Luo berdiri dan Han Yuze tergeletak di lantai, ia langsung mengernyit, “Han Yuze, kenapa kau terbaring di lantai? Tak peduli citra diri, ya?”
Han Yuze pun sadar, buru-buru bangun, sangat malu, apalagi dilihat banyak orang, ia dipermalukan oleh gadis kecil seperti itu.
Karena itu, tatapannya pada Su Luo penuh kemarahan.
Wang Xiaomei buru-buru berkata, “Pak Kepala Sekolah Liu, gadis ini membuat keributan dan memukul orang. Tadi kakak Yuze tidak sengaja dijatuhkan olehnya.”
Han Yuze lega mendengar kata “tidak sengaja”, tanpa peduli harga diri berkata, “Benar, Pak Kepala Sekolah, mahasiswa baru ini tidak layak dipertahankan. Untung saja saya yang kena, badan saya kuat, kalau gadis lain pasti sudah celaka.”