Bab 031 Dompet Itu Pasti Kau Curi, kan?

Identitas Sang Jenius Tak Lagi Bisa Disembunyikan Melukis Embun Biru 2513kata 2026-02-09 00:50:12

“Plak!”

Wajah Su Jiajia langsung menerima tamparan keras dari Wang Bozhen. “Diam! Aku tidak mengizinkanmu bicara sembarangan!”

Wang Bozhen menatap Su Luo yang berdiri di hadapannya dengan penuh kecemasan. Gadis SMA ini membawa aura misterius yang tidak ia pahami. Saat pertama kali melihatnya, ia sudah terintimidasi oleh pesona gadis itu, sementara keponakannya yang bodoh ini sama sekali tidak menyadari apapun, benar-benar mencari masalah sendiri.

Sudut bibir Su Luo terangkat tipis. Ia menatap Wang Bozhen dan bertanya, “Direktur Wang, inikah keponakan yang kau banggakan itu?”

Rasa takut Wang Bozhen semakin menjadi. Kedua kakinya gemetar, ia menunduk dan berkata gugup, “Maaf, Nona Besar, aku akan segera mengusirnya. Ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah sakit ini lagi.”

Su Jiajia semakin terkejut. Pamannya baru saja menamparnya, dan sekarang mengatakan ia tak boleh lagi datang ke rumah sakit. Apakah pamannya sudah gila?

“Paman, jangan tertipu olehnya. Dia itu hanya gadis kampung, sungguh. Hanya saja akhir-akhir ini dia dekat dengan orang kaya. Paman…”

“Bawa dia pergi.”

Wang Bozhen khawatir masalah akan makin runyam, ia segera melambaikan tangan memerintahkan satpam untuk membawa Su Jiajia. Namun, ternyata para pengawal pribadi Su Luo bergerak lebih cepat, mereka langsung menangkap Su Jiajia dan melemparkannya ke dalam lift.

Wang Bozhen memandangnya dengan sedih, namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menyalahkan keponakannya sendiri yang tak tahu diri.

Namun, ketika ia kembali melihat Su Luo, hatinya kembali diliputi kegelisahan. Nona Besar itu masih tampak tidak senang.

Ia buru-buru membungkuk dalam-dalam, “Nona Besar, tenanglah. Akan segera aku siapkan perawat terbaik untuk merawat Nyonya Tua.”

Su Luo tidak ingin terlalu banyak orang mengganggu istirahat neneknya, ia melambaikan tangan, “Tak perlu. Lakukan saja tugasmu. Aku hanya ingin orang-orang yang tidak kusukai tak lagi muncul di hadapanku seperti lalat.”

Mendengar itu, Wang Bozhen melirik beberapa orang yang ada di ruangan. Jelas, yang dimaksud Nona Besar sebagai ‘lalat’ adalah tiga orang itu.

Ia pun melambaikan tangan, “Tuan dan Nyonya Su, kalian mau pergi sendiri, atau perlu aku bantu?”

Wang Yanli membelalakkan mata, “Direktur Wang, kita ini masih keluarga. Masa seorang direktur sepertimu takut pada seorang gadis kecil?”

Su Taisheng tak tahan lagi, ia merendahkan suara, “Direktur Wang, sebenarnya apa yang terjadi?”

Terhadap putri kandung yang baru ditemukan ini, satu-satunya ikatan yang ia rasakan hanyalah hubungan darah yang nyaris tak berarti.

Direktur Wang menoleh sekilas pada Su Luo yang tengah berjalan ke arah kamar rawat, lalu berbisik, “Maaf, aku tidak bisa menjelaskan. Intinya, memiliki putri seperti itu adalah berkah, perlakukan dia dengan baik.”

Ia pernah melihat sendiri bagaimana gadis kecil itu mampu membengkokkan batang besi dengan tangan kosong, juga bagaimana ia membeli sebuah perusahaan dalam hitungan menit. Tentu saja ia tak berani mencari masalah lagi.

Kini, ketika Nona Besar bahkan tak memberitahu orang tuanya sendiri, mana mungkin ia berani bicara sembarangan? Jika sampai membuatnya marah, tamatlah riwayatnya.

Su Taisheng dan Wang Yanli saling memandang, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, keadaan sudah sedemikian rupa, mereka pun memilih pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Begitu masuk lift, Wang Yanli tak henti-hentinya mengomel, “Sudah kubilang, jangan datang ke sini menjenguk gadis tak tahu terima kasih itu…”

“Diamlah.”

Su Taisheng pun marah, dan setelah berkata begitu, ia membawa Wang Yanli turun dari lift.

Su Luo melangkah masuk ke kamar rawat. Ia memandang neneknya yang tampak sangat lemah di atas ranjang, lalu menggenggam tangan sang nenek dengan lembut.

Gerakan kecil itu membangunkan sang nenek. Ia membuka mata dan menatap Su Luo, “Xiao Luo, kenapa kau masih di sini?”

Nenek mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, mendapati ruangan yang berbeda dan tampak mewah. Ia langsung tahu, biaya kamar ini pasti mahal. Namun rasa khawatirnya mengalahkan segalanya, ia berusaha bangkit, “Xiao Luo, nenek sudah sehat. Tak ada lagi yang sakit. Nenek mau pulang sekarang juga.”

Su Luo menahan neneknya agar tetap berbaring, lalu berbisik lembut, “Nenek, jangan khawatir. Di sini rawat inapnya gratis.”

Mendengar itu, emosi nenek sedikit tenang. Mata tuanya yang cekung menatap Su Luo, “Benarkah gratis?”

Su Luo mengangguk, “Betul, Nek. Direktur rumah sakit ini teman baik ayah. Kalau kami sakit, kami selalu ke sini, tak perlu bayar.”

Bagi orang miskin, berobat itu berat—itulah kenyataan zaman sekarang.

Su Luo kembali menyelimuti neneknya dengan hati-hati.

Bai Mo masuk dari luar, “Xiao Luo.”

Su Luo berdiri, mengangguk pada Bai Mo. Ia tahu Bai Mo datang pasti ada urusan penting.

Lalu ia menoleh pada neneknya, “Nenek, infusmu hampir habis. Nanti kalau cairannya sudah mau habis, tekan saja tombol ini, nanti perawat akan datang membantu melepas jarum. Aku keluar sebentar, akan segera kembali.”

Mendengar itu, nenek merasa lebih tenang. Ia memandang cucunya yang pergi dengan bangga, merasa cucunya kini benar-benar sudah berhasil dan bisa hidup lebih baik.

Mengingat masa-masa bersama cucunya dulu, air mata pun mengalir tanpa terasa. Melihat cairan infus hampir habis, nenek menekan bel. Tak lama, seorang perawat masuk ke kamar.

Melihat nenek tua berpakaian lusuh itu, ekspresi sang perawat seketika berubah. Ia mendekat dan berkata, “Ini masih banyak kok. Kalau nanti benar-benar habis, matikan saja ini, lalu panggil aku lagi.”

Bagi perawat itu, seorang nenek tua miskin yang hanya memakai pakaian tambalan bisa dirawat di tempat seperti ini saja sudah ajaib.

Tapi memang, akhir-akhir ini direktur rumah sakit suka berbuat baik. Baru-baru ini saja ia membawa seorang gelandangan dari jalanan untuk dirawat, sekarang menolong nenek tua gelandangan juga bukan hal aneh.

Nenek itu melihat perawatnya enggan melayani, tapi ia pun tak mengerti bagaimana cara mematikan infus. Ia bertanya, “Nona perawat, tombolnya di mana? Bisa tunjukkan padaku?”

Perawat itu sebenarnya hendak pergi, tapi nenek tua itu terus bertanya, membuatnya kesal. Ia pun meninggikan suara, “Nenek, kalau tak punya uang, jangan sok-sokan infus segala. Masa ini saja tak tahu? Lihat, ini, di sini!”

Saat ia menarik-narik selang, tangannya mengenai jarum, dan darah pun langsung mengalir balik ke selang infus.

Perawat itu jadi panik, buru-buru mencabut jarum.

“Tak apa, tak apa,” kata nenek itu menenangkan.

Namun, perawat itu malah semakin tidak sabar, “Aku tahu tak apa, darah segini tak bikin orang mati. Tak perlu kau ajari aku.”

Tapi ketika matanya melirik ke meja samping ranjang, ia melihat ada dompet tebal. Jika ia tidak salah, di dalamnya penuh uang seratusan ribu.

Andai uang itu jadi miliknya…

Perawat itu berkata, “Ranjangmu berantakan sekali, aku bantu rapiin, ya.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil dompet itu.

Melihat dompet cucunya diambil, nenek itu langsung keberatan, “Tolong letakkan dompet itu, itu… itu milik cucuku.”

“Cucumu?” Perawat itu mendengus, “Orang sepertimu mana mungkin punya dompet sebagus ini? Pasti hasil curian, kan?”

“Bukan, sungguh bukan. Itu milik cucuku, kembalikan…”

Nenek itu berusaha mengambil kembali, tapi perawat itu malah mundur beberapa langkah. Ia berkata dengan sinis, “Jelas-jelas hasil curian. Dasar tua-tua tak tahu malu, berhenti berpura-pura!”