Bab 054: Olimpiade Matematika? Maaf, Aku Tidak Berminat
Setelah mengucapkan kalimat itu, gadis tersebut kembali menoleh ke arah Kim Meiyan dan berkata, "Nona Kim, sebaiknya kau jangan ikut campur dalam masalah ini. Kita semua tahu kau cucu kepala sekolah, juga baru saja pindah dari sekolah menengah atas ternama di Ibukota Kekaisaran, tentu saja nilai belajarmu tidak buruk. Tapi jika kau bergaul dengan orang seperti dia, kau juga akan ikut-ikutan dijauhi."
Kim Meiyan mengepalkan tinjunya erat-erat. Ia menatap gadis di depannya. Ia memang tidak mengenal gadis itu, tapi dari sikapnya yang begitu arogan, jelas dia bukan orang biasa.
Setelah berkata demikian, gadis itu mendekat ke sisi Kim Meiyan dan berbisik pelan, "Nona Kim, tidak peduli apakah Su Luo benar-benar curang atau tidak, bukankah menurutmu kehilangan satu pesaing, baik untukmu maupun untukku, adalah hal yang menguntungkan?"
Kim Meiyan menatapnya marah. Saat ia hendak meluapkan emosi, Su Mingzhu buru-buru mendekat dan berbisik, "Meiyan, apa yang dikatakan Yali memang benar. Sebaiknya kita ikuti saja keputusan sekolah."
Setelah berkata demikian, ia berusaha menarik tangan Kim Meiyan. Satu sisi, ia ingin mengambil hati He Yali, di sisi lain, ia juga bermaksud menahan mereka sebelum terjadi perselisihan antara Kim Meiyan dan He Yali. Dengan begitu, jika nanti Kim Meiyan mengetahui siapa sebenarnya He Yali, ia tidak akan menyesal karena tidak mencegahnya—benar-benar tidak ada ruginya.
Namun Kim Meiyan sama sekali tidak menghiraukannya, malah menepis tangannya dan berkata, "Aku harus ikut campur urusan ini. Kalau lomba matematika ini diadakan oleh Universitas Ibukota Kekaisaran untuk seluruh siswa SMA di negeri ini, berarti perlombaan ini adil untuk semua orang. Kenapa harus menuduh Su Luo berbuat curang? Hari ini aku akan berdiri di pihaknya."
"Bagus, sangat bagus. Sepertinya kau benar-benar tidak paham situasi." He Yali bertepuk tangan sambil tersenyum sinis, lalu mendekat dan berbisik di telinga Kim Meiyan, "Sepertinya kau tidak tahu apa-apa. Beberapa pamanmu sudah bangkrut, dan perusahaan kecil ayahmu itu, tanpa penopang kuat, menurutmu siapa lagi yang akan takut padamu?"
Kim Meiyan kembali terperangah. Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa dia tahu semua hal ini? Memang sudah banyak yang tahu pamannya bangkrut, tapi perusahaan ayahnya...
Kim Meiyan tampak bingung dan marah, semua itu tak luput dari pandangan He Yali. Kini ia semakin yakin kalau gadis kaya yang baru kembali dari Ibukota Kekaisaran ini sama sekali tidak tahu siapa dirinya. Maka ia kembali berbisik, "Aku bisa memberimu kesempatan untuk memilih: berteman denganku, atau tetap berpihak pada teman sebangkumu itu."
Kim Meiyan hendak membalas, tapi He Yali buru-buru memotong, "Jangan buru-buru menjawab. Mingzhu, jelaskan pada Nona Kim alasannya."
"Baik." Mendengar namanya disebut oleh He Yali, Su Mingzhu sangat senang. Ia berkata, "Meiyan, inilah He Yali, putri tunggal keluarga He, pemilik Grup He di Ibukota Kekaisaran. Kau pasti pernah mendengarnya, bukan?"
"Apa!" Kim Meiyan hampir tak percaya dengan pendengarannya. Gadis arogan di depannya itu ternyata pewaris Grup He dari Ibukota Kekaisaran?
Keluarga Kim, Keluarga Bai, Keluarga Su, bahkan Keluarga Mu yang misterius, meski termasuk jajaran atas di Kota Awan, tetap saja Grup He dari Ibukota Kekaisaran adalah puncak yang tak terjangkau bagi mereka. Apalagi, di balik Grup He ada jejaring kekuasaan yang sangat rumit. Konon, Grup He bisa begitu berjaya di Ibukota Kekaisaran karena keluarga mereka punya sandaran yang jauh lebih kuat di sana.
Meskipun Grup He tidak berpengaruh besar di Ibukota Kekaisaran, di Kota Awan sendiri, meski biasanya tak banyak bicara, mereka justru paling ditakuti oleh grup lain. Menyinggung orang-orang Grup He, sama saja menggali kubur sendiri.
Melihat ekspresi Kim Meiyan, He Yali sangat puas. Inilah hasil yang ia harapkan. Ia pun sedikit mengangkat dagu, lalu berkata dengan angkuh, "Bagaimana? Apa keputusanmu sekarang? Katakan pilihanmu."
Kim Meiyan sempat melirik Su Luo di sampingnya. Gadis itu tetap tenang membaca buku, seolah semua yang terjadi di sekelilingnya tak ada kaitan dengan dirinya. Kim Meiyan menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan. Ia sangat paham satu hal: sekali ia membuat pilihan, ia tidak akan mudah goyah. Terutama dalam memilih sikap.
Jika ia tidak tegas, bukan hanya akan dibenci rekan, tapi juga diremehkan lawan. Sebagai putri Keluarga Kim, ia tidak akan membiarkan fitnah seperti ini terjadi. Terlebih lagi, ada aura dari Su Luo yang membuatnya benar-benar yakin—ia percaya tak akan salah jika berdiri di pihaknya.
Karena itu, Kim Meiyan berkata, "Apa lagi yang perlu dipilih? Tentu saja aku memilih Su Luo. Sejak awal aku sudah memutuskan untuk berdiri di pihaknya, jadi sekarang ataupun nanti, aku akan tetap di pihaknya."
Su Mingzhu sudah tanpa sadar bergeser berdiri di belakang He Yali. Mendengar ucapan Kim Meiyan, ia benar-benar terkejut.
Menurutnya, insiden di pesta ulang tahun pun hanya bisa terselesaikan karena Bai Mo ada di sana. Tapi Bai Mo bagaimanapun juga hanya tokoh lokal di Kota Awan, tetap saja tidak sebanding dengan Grup He. Lagi pula, jika nanti mereka kuliah di Universitas Ibukota Kekaisaran, meski keluarga Su dan Kim tetap berjaya, jaraknya terlalu jauh. Kalau ada apa-apa, tetap saja harus mengandalkan keluarga He.
Oleh sebab itu, ia pikir Kim Meiyan pasti sudah gila.
"Meiyan, Yali benar-benar pintar, selalu jadi juara di kelas 20," bisiknya mengingatkan, tapi ini juga peringatan terakhir darinya.
Kim Meiyan menatap Su Mingzhu sekilas. Ia tahu Su Mingzhu tidak suka Su Luo, jadi wajar jika berdiri di pihak He Yali. Namun, bagaimana pun juga, menurutnya itu hanya cari masalah.
"Baik, aku juga menghormati keputusanmu," kata He Yali sambil tersenyum, lalu tiba-tiba menghapus senyumnya dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya, "Ingat baik-baik, selain Su Luo yang tidak ingin mengikuti lomba matematika ini, Nona Kim Meiyan juga tidak ingin ikut. Coret nama Nona Kim dari daftar."
Setelah berkata demikian, ia melangkah perlahan menuju Mu Qiaoyi.
Lelaki tampan dan pendiam ini adalah pusat perhatian semua siswi di sekolah. Ia sudah memperhatikannya sejak pertama masuk sekolah ini. Kini ia berjalan ke arah Mu Qiaoyi dan berkata lembut, "Qiaoyi, biar aku daftarkan namamu, ya? Kalau kau ikut, pasti bisa meraih juara pertama. Nanti kita bisa kuliah di universitas yang sama."
Nada suara He Yali dibuat semanis mungkin, bahkan ia sudah membayangkan berbagai kisah romantis di masa depan. Misalnya, nanti mereka kuliah bersama, mengambil jurusan yang sama, lalu membaca buku di bawah pohon sakura terkenal di Universitas Ibukota Kekaisaran—betapa indahnya.
Namun kenyataan justru memberikan tamparan keras.
Sebab Mu Qiaoyi di depannya berkata, "Tidak tertarik."
"Apa?" He Yali mengira ia salah dengar. Mu Qiaoyi mengatakan ia tidak tertarik dengan lomba matematika? Padahal ini impian banyak orang. Bukan hanya siswa yang mampu menembus tiga besar, bahkan yang tak punya kemampuan pun pasti mengidamkan kesempatan itu.
"Kau tuli? Kataku, lomba matematika, aku tidak tertarik."
Duar—
Bagi He Yali, kata-kata Mu Qiaoyi seperti petir di siang bolong. Ia bahkan sempat mengira pemuda itu sudah gila. Namun teringat rumor di sekolah yang mengatakan Su Luo menyukai Mu Qiaoyi, apalagi hari ini Su Luo tidak mendaftar dan Mu Qiaoyi juga menyatakan tak tertarik, ia semakin yakin dengan dugaannya.
Ia pun berkata, "Mu Qiaoyi, kalau kau tidak mendaftar, Pak Wang pasti sangat kecewa. Aku tetap akan daftarkan namamu. Suatu saat nanti kau pasti akan berterima kasih padaku."