Bab 055: Tak Perlu Takut Meski Difitnah Orang
Bagaimanapun juga, He Yali adalah putri dari keluarga kaya, dan menurutnya hari ini ia sudah cukup merendahkan dirinya. Jika bukan karena di kelas sepuluh ada Mu Qiaoyi, ia sama sekali tak sudi datang sendiri.
“Kalau Su Luo tidak mendaftar, aku juga tidak akan mendaftar.”
Pernyataan itu mengejutkan bukan hanya Su Mingzhu, tapi juga He Yali. Lelaki yang selama ini ia kagumi ternyata sepakat dengan Su Luo. Atas dasar apa? Ia menggenggam pena pencatat nama dengan penuh amarah dalam hati. Namun ia tetap berusaha menjaga sikap anggun, menarik napas dalam-dalam tanpa suara, lalu berkata pelan, “Oh, begitu rupanya.”
Semua orang serempak menatap Su Luo dengan tatapan penuh curiga, sedangkan Su Luo tetap tenang membaca buku, seolah-olah semua yang terjadi tak ada hubungannya dengannya.
He Yali pun maju mendekati Su Luo, berusaha bertanya dengan suara seramah mungkin, “Su Luo, apa kau memang sudah bersepakat dengan Mu Qiaoyi?”
Su Luo tak menjawab, dan itu membuat He Yali makin geram. Ia langsung merampas buku dari tangan Su Luo, membuat Su Luo yang sedang asyik membaca merasa terganggu.
Su Luo mengernyitkan dahi. “Kalau mau bicara, bicaralah. Kenapa mengambil buku orang lain? Apa maksudmu?”
He Yali hampir tertawa karena kesal. Sikap dan nada bicara apa ini? Su Luo hanyalah mantan putri kaya yang keluarganya bangkrut, dan bahkan berasal dari desa. Dulu ia jelek dan kampungan, sekarang pun tetap sama. Dulu makhluk rendahan dari desa, walau sekarang pindah ke kota, tetap saja!
Akhirnya ia tak bisa lagi menahan diri, bahkan di hadapan lelaki pujaan hatinya, ia tak ingin berpura-pura lagi. Dengan suara dingin ia berkata, “Kau pikir kau siapa, bicara padaku dengan nada seperti itu? Aku tak hanya akan mengambil bukumu, aku juga akan membuangnya ke lantai.”
Selesai berkata, ia benar-benar melempar buku Su Luo ke lantai, bahkan menginjaknya dengan kaki.
Melihat itu, Jin Meiyan hendak maju menghentikan, tapi Su Luo segera menarik lengannya. Walau Su Luo tidak terlalu suka dengan Jin Meiyan, namun ia tahu Jin Meiyan sering membantunya menyelesaikan masalah. Lagi pula, sejak Jin Meiyan memutuskan mengikuti Su Luo, ia tahu gadis ini cukup cerdas. Ia tak keberatan jika orang cerdas mau bergabung dengannya.
Su Luo perlahan bangkit dari duduknya, berjalan ke arah He Yali. Barulah He Yali menyadari ternyata Su Luo lebih tinggi darinya. Terutama saat Su Luo berdiri, auranya begitu mendominasi hingga He Yali merasa tertekan dan tanpa sadar melangkah mundur.
“Ambil bukunya.”
Suara Su Luo sedingin es. Bahkan He Yali pun menggigil mendengarnya, walau ia berusaha keras tetap bersikap keras kepala, “Tidak mau. Kalau pun harus diambil, kau ambil sendiri saja.”
Mendengar itu, Su Luo malah tersenyum bukannya marah. Tapi senyuman dingin itu justru semakin menakutkan He Yali. Ia bahkan mulai menyesali perbuatannya tadi.
“Benar-benar tak mau memungutnya?”
Su Luo bertanya lagi. Wajah He Yali mulai pucat, apalagi semua murid kelas sepuluh menatapnya dengan ekspresi menanti pertunjukan. Nada suara He Yali pun melunak, “Kita ini satu sekolah, kenapa harus seperti ini? Aku hanya bertanya, apa kau dan Mu Qiaoyi memang sudah sepakat?”
“Itu bukan urusanmu.”
Jawaban Su Luo kembali membuat He Yali tak bisa berkata-kata. Kini ia benar-benar serba salah, matanya melirik ke arah Su Mingzhu, memberi isyarat agar Su Mingzhu memungut buku itu. Tapi Su Mingzhu pura-pura tidak melihat, menunduk tanpa berkata apa-apa, bahkan tidak membalas tatapannya.
Belum pernah ia menerima penghinaan seperti ini, membuat He Yali nyaris gila karena marah.
“Su Luo, ini kesempatan terakhirmu. Bisakah kau bicara baik-baik denganku? Kalau kau mau minta maaf, aku akan mengambilkan bukumu.”
He Yali bersumpah ini adalah saat terendahnya. Tentu saja, semakin ia merendahkan diri hari ini, semakin ia catat semua dendam itu pada Su Luo, suatu hari pasti akan ia balas dua kali lipat.
“Jadi aku yang harus minta maaf padamu, padahal jelas-jelas kau yang membuang bukuku? Seharusnya kau yang minta maaf padaku.”
Keduanya saling bersitegang, bahkan Jin Meiyan pun bingung harus berbuat apa. Jin Meiyan jelas ingin membantu Su Luo, tapi ia tahu betul kekuatan keluarga He. Jika terus berkonfrontasi, yang akan hancur pastilah mereka.
Saat ia putus asa, Guru Wang tiba-tiba muncul di pintu. Melihat kedua gadis itu saling berhadapan dan He Yali menginjak buku, Guru Wang langsung paham situasinya.
Dari depan pintu, Guru Wang bertanya pada mereka, “Ada apa ini?”
He Yali langsung mengadu, “Guru, tadi saya sedang mencatat peserta lomba matematika, Su Luo merasa dirinya paling pintar jadi menolak mendaftar, bahkan membujuk teman-teman lain agar tidak ikut.”
Selesai bicara, ia tersenyum sinis. Memang benar, walau hanya Mu Qiaoyi dan Jin Meiyan yang tidak ikut mendaftar, tetap saja Su Luo yang disalahkan.
Guru Wang mendengar itu pun pusing, tentu saja ia tidak akan langsung percaya pada satu pihak saja. Ia bertanya pada Su Luo, “Betulkah begitu, Su Luo?”
Su Luo menatap Guru Wang. Ia tahu Guru Wang punya kesan baik padanya, tapi ia tidak yakin Guru Wang benar-benar adil. Maka ia balik bertanya, “Menurut Guru sendiri bagaimana?”
“Ah, menurut saya, kamu tidak akan melakukan hal seperti itu.”
He Yali menggertakkan gigi. Ia sudah menduga bakal begini, lalu bertanya pada teman-teman di sekitar, “Kalian semua tadi lihat sendiri, kan? Mu Qiaoyi juga tidak ikut lomba matematika, bukan?”
Semua memang melihat kejadian itu, sehingga mereka serempak mengangguk. Tapi tak ada yang berani berkomentar lebih, sebab mereka tahu sejak perusahaan keluarga Jin bangkrut, He Yali-lah yang paling berkuasa di sekolah ini. Bahkan meski Kepala Sekolah Jin masih di sana, tetap saja ia hanya kepala sekolah. Sementara keluarga He punya backing dari ibu kota.
Guru Wang makin pusing, lalu bertanya pada Mu Qiaoyi, “Kamu juga tidak mau ikut lomba matematika?”
Mu Qiaoyi menjawab tenang, “Kalau Su Luo tidak ikut, saya juga tidak. Dan bukan karena Su Luo membujuk saya, memang dari awal saya sudah memutuskan begitu.”
Guru Wang gelisah hingga menggaruk-garuk kepala. Kalau dua murid jenius ini tidak ikut, bukankah sekolah jadi rugi besar? Walau dengan nilai mereka sekarang masuk universitas ibu kota bukan masalah, tapi siapa tahu saat ujian nanti ada kejadian tak terduga. Kesempatan mendapat nilai tambahan seperti ini sangat langka.
Ia pun membujuk, “Su Luo, Mu Qiaoyi, ini kesempatan langka. Saya tahu nilai kalian sudah cukup untuk universitas ibu kota, tapi siapa yang menolak nilai lebih tinggi? Saya sangat berharap kalian ikut lomba ini.”
Saat itu Jin Meiyan berkata, “Guru, bukan Su Luo yang tidak mau ikut, tapi He Yali yang menuduh Su Luo menyontek sehingga haknya untuk ikut lomba matematika dicabut.”
Guru Wang terkejut mendengarnya. Murid genius seperti Su Luo malah dituduh menyontek, sungguh tidak masuk akal!
Dengan alis mengernyit, ia berkata, “He Yali, bagaimana bisa kamu memfitnah Su Luo seperti itu?”