Bab 133: Guru yang Sulit Dimintai Tolong
Mendengar hal itu, mata Li Nan seketika berbinar.
Sebelumnya, saat ia diperas oleh orang-orang itu, ia sudah meminta Xue Ting untuk mencarikannya guru bela diri yang hebat. Baginya, memiliki kemampuan bela diri setidaknya bisa membuatnya melindungi diri saat menghadapi bahaya. Setelah kejadian yang menimpa Shao Xiaotao kemarin, keyakinan Li Nan akan hal itu semakin kuat. Jika saat itu ia bisa bela diri, ia tidak akan dipermalukan oleh Lei Hao dan kawan-kawan, bahkan tidak akan sampai kalah melawan pria gemuk yang tidak seberapa itu. Oleh karena itu, saat Xue Ting menyinggung hal ini, Li Nan langsung tertarik.
"Bagaimana, apakah sudah ditemukan?" tanya Li Nan terburu-buru.
"Sebenarnya, setelah saya menyampaikan kebutuhan Anda kepada pihak keluarga, banyak praktisi bela diri yang bersedia mengajukan diri. Namun, kakek Anda menolak mereka semua."
"Apa?" Li Nan tertegun. "Mengapa begitu?"
"Menurut pendapat saya, maksud kakek Anda adalah para praktisi bela diri biasa itu tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk mengajar Anda," jawab Xue Ting dengan nada pasrah.
"Oh," Li Nan tidak menyangka alasannya seperti itu. "Lalu, apa maksud kakek sekarang?"
"Saya juga kurang begitu paham. Tuan Chen hanya berpesan agar Anda menghubunginya langsung."
"Baiklah, nanti saya akan meneleponnya."
Saat hendak menutup telepon, Li Nan teringat sesuatu. "Oh ya, Xue Ting, apakah Anda pernah mendengar tentang Grup Fenghuo?"
"Ya, saya tahu sedikit. Kabarnya mereka cukup lumayan di Kota Naga," jawab Xue Ting santai. "Mengapa? Apakah Grup Fenghuo menyinggung Anda?"
"Begini, keluarga seorang teman saya sepertinya sedang ada masalah dengan Grup Fenghuo." Li Nan lalu menceritakan secara singkat permasalahan keluarga Luo Wanqiong kepada Xue Ting.
Sebenarnya Li Nan tidak berniat khusus untuk membantu Luo Wanqiong. Hubungan mereka belum sedekat itu; mereka baru makan bersama dua kali. Ia tidak ingin mengerahkan pengaruh keluarganya hanya untuk melawan grup yang cukup kuat demi orang seperti Luo Wanqiong. Namun, karena Xue Ting sedang menelepon, ia sekadar menyebutkannya saja.
"Begitu rupanya. Jika Tuan Muda ingin membantu teman Anda, saya bisa memerintahkan orang untuk melakukannya sekarang juga," ujar Xue Ting dengan nada ringan. Li Nan merasa, bagi asistennya ini, segala sesuatu tampak begitu mudah.
"Jika terlalu merepotkan, tidak usah saja," sahut Li Nan.
"Sangat mudah," kata Xue Ting enteng. "Lagi pula, bukankah Anda meminta saya untuk mencari proyek investasi yang cocok? Saya sudah mengamati Grup Fenghuo ini beberapa waktu. Prospeknya cukup bagus, layak untuk diinvestasikan."
"Begitu ya. Baiklah, kalau begitu saya serahkan urusan ini kepada Anda."
Karena tindakan terhadap Grup Fenghuo tidak hanya membantu keluarga Luo Wanqiong keluar dari krisis, tetapi juga mendatangkan investasi yang menguntungkan bagi dirinya, Li Nan tentu tidak punya alasan untuk menolak.
Setelah menutup telepon, Li Nan mencari nomor kakeknya di ponsel. Sejak pertemuan mereka, Li Nan memang jarang menghubungi kakeknya. Selain karena mereka belum pernah hidup bersama dan merasa seperti orang asing, Li Nan yang agak tertutup merasa canggung untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Selain itu, meski kakeknya tampak ramah, status beliau yang tinggi menciptakan tekanan tak kasatmata bagi Li Nan. Namun, karena ada urusan penting, ia harus meneleponnya.
"Xiao Nan, akhirnya kamu tahu cara menelepon kakek. Kamu tahu betapa kakek merindukanmu?" Suara Chen Beichuan terdengar segera setelah sambungan tersambung, penuh dengan kegembiraan yang tak disembunyikan.
Rasa gugup Li Nan seketika sirna mendengar suara itu. "Kakek, sebenarnya aku juga merindukanmu." Itu adalah kejujuran, bukan sekadar basa-basi. Hatinya selalu perih setiap teringat perjuangan kakeknya mencari dirinya selama dua puluh tahun lebih.
"Bagaimana kabarmu di Kota Naga? Apakah uangmu masih cukup? Kalau kurang, katakan saja pada kantor perwakilan di sana, keluarga akan segera mengirimkan dana," ujar kakeknya bertubi-tubi.
"Aku baik-baik saja, uangku masih cukup. Kakek tidak perlu khawatir," jawab Li Nan terharu.
"Syukurlah."
Setelah itu, Chen Beichuan menanyakan banyak hal, berbincang layaknya keluarga biasa. Hal ini membuat jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Ternyata, terlepas dari statusnya yang agung dan luar biasa, kakeknya tidak berbeda dengan orang tua biasa dalam keseharian. Padahal, Li Nan tidak tahu bahwa sikap ramah Chen Beichuan hanya ditunjukkan kepada cucu kandungnya. Di hadapan bawahan seperti Xue Ting atau pejabat lainnya, Chen Beichuan adalah sosok yang absolut dan sangat disegani.
Sesaat kemudian, topik pembicaraan kembali ke masalah guru bela diri. "Kakek, aku dengar dari Xue Ting bahwa keinginanku untuk mencari guru bela diri ditolak oleh kakek?"
"Tentu saja tidak ditolak. Kamu adalah cucuku, mana mungkin kakek menolak keinginanmu? Aku hanya ingin standarmu sedikit lebih tinggi."
"Lebih tinggi? Maksud kakek?"
"Kamu adalah cucu Chen Beichuan. Jika kamu ingin terjun ke dunia bela diri, aku harus mencarikan guru terbaik. Para pengawal bela diri di keluarga Chen memang hebat, tapi masih jauh dari standarku. Tenang saja, aku sudah mencarikan guru yang pantas untukmu. Kamu hanya perlu menunggu beberapa waktu lagi."
"Sebenarnya, guru yang kucari ini sangat sulit diminta karena statusnya yang sangat terhormat. Beliau punya prinsip dasar: sebelum berguru kepadanya, calon murid tidak boleh memiliki dasar bela diri apa pun atau pernah berguru pada orang lain. Itulah sebabnya aku menunda keinginanmu."
"Begitu rupanya," gumam Li Nan. Ia tidak menyangka kakeknya memberikan perhatian sebesar itu. Rupanya harapan kakek terhadap dirinya sangat besar. Ia pun menjadi penasaran sekaligus menantikan sosok guru tersebut.
Sementara itu, di Restoran Empat Musim, Luo Wanqiong yang melihat Li Nan terus menelepon dari balik jendela kaca merasa tidak sabar. Sebagai seorang primadona kampus, ia merasa sudah cukup terhormat mau meluangkan waktu makan bersama pria rendahan seperti Li Nan. Namun, pria itu justru membiarkannya menunggu dan malah sibuk menelepon di luar. Ia merasa sangat kesal. Jika bukan karena berharap Li Nan bisa membantu keluarganya, ia tidak akan bersikap sesabar ini.
Tepat saat Luo Wanqiong merasa jengkel, ponselnya berdering. Ia mengerutkan kening saat melihat nama ayahnya, Luo Jianzhang, tertera di layar.