Bab 112 Aku juga tidak ingin sehebat ini
Mendengar ucapan gadis gemuk itu, anak-anak tersebut tertegun dan segera terdiam. Wajah para buruh pendatang itu pun menunjukkan rasa bersalah.
“Maaf, ya. Kami sudah mengganggu. Sekarang kami pergi.”
Sambil berkata demikian, mereka hendak membawa anak-anak mereka pergi.
Begitu menyadari bahwa mereka benar-benar akan pergi, anak-anak itu langsung menangis semakin keras.
“Kami mau makan McDonald’s!”
“Orang lain saja boleh makan, kenapa kami tidak boleh? Hiks…”
Wajah para pria itu menunjukkan keraguan, tetapi setelah menggertakkan gigi, salah seorang dari mereka berteriak keras,
“Mau makan apa lagi! Pulang semuanya!”
Sambil berkata demikian, beberapa pria itu memaksa menarik anak-anak mereka untuk pergi.
Tepat saat itu, tiba-tiba seseorang menghalangi jalan mereka.
“...Mau apa?” Beberapa pria itu tertegun ketika melihat Li Nan berdiri di hadapan mereka.
“Saudara, bolehkah saya meminta bantuan?” tanya Li Nan.
“Bantuan... bantuan apa?” Mereka tampak kebingungan.
“Saya punya lebih dari dua puluh paket keluarga yang tidak mungkin saya habiskan. Bisakah kalian membantu menghabiskannya? Tentu saja, gratis.” Wajah Li Nan dihiasi senyum yang sangat ramah.
“Apa?!”
Semua orang yang mendengar ucapan itu tertegun.
Orang-orang di seluruh restoran pun menoleh dan menatap Li Nan dengan tak percaya.
Bahkan wanita kaya di sampingnya membelalakkan mata, mengira dirinya salah dengar.
Bercanda, satu paket keluarga saja harganya lebih dari delapan puluh yuan. Dua puluh paket berarti hampir dua ribu yuan!
Orang ini hendak memberikan semuanya begitu saja kepada para udik itu. Apa dia sudah gila?!
Sementara itu, para buruh pendatang tersebut saling berpandangan setelah mendengar ucapan Li Nan.
“...Serius?” Mereka masih sulit memercayainya.
“Tentu. Dua puluh paket keluarga seharusnya cukup untuk kalian semua. Uangnya sudah saya bayar. Kalian tinggal mengantre untuk mengambilnya,” kata Li Nan sambil tersenyum.
“Wah, ternyata paket keluarga!”
“Ya ampun, kami bisa makan paket keluarga! Hebat sekali!”
Anak-anak itu langsung bersorak kegirangan.
Para buruh pendatang pun menunjukkan wajah penuh kejutan dan kebahagiaan.
“Ini... ini sungguh tidak enak...”
“Tidak apa-apa. Saya tidak sengaja membeli terlalu banyak dan tidak akan sanggup menghabiskannya. Kalian sudah membantu saya menyelesaikan masalah ini, seharusnya saya yang berterima kasih.” Sebagai seseorang yang pernah hidup dalam kemiskinan, Li Nan sangat memahami harga diri mereka. Karena itu, ia berusaha menyampaikannya dengan sehalus mungkin.
“Oh, ya.” Li Nan tiba-tiba teringat sesuatu, lalu menunjuk Shao Xiaotao yang berada tidak jauh dari sana.
“Semua ini ditraktir oleh adik kecil itu,” kata Li Nan sambil tersenyum.
Mendengar ucapan itu, mata Shao Xiaotao langsung menyipit membentuk bulan sabit. Ia melambaikan tangan kepada para buruh pendatang itu sambil tersenyum.
“Cepat ucapkan terima kasih kepada adik itu!” salah seorang pria mengingatkan.
“Terima kasih, Kakak!” Anak-anak itu mengucapkan terima kasih kepada Shao Xiaotao dengan penuh rasa syukur.
Orang-orang lain di dalam McDonald’s pun memuji Shao Xiaotao dan Li Nan.
“Baiklah, kalian mengantre dulu. Saya kembali ke tempat duduk,” kata Li Nan.
Setelah berkata demikian, Li Nan membawa enam paket keluarga miliknya dan kembali ke tempat duduk.
Namun, baru saja hendak duduk, ia dihadang oleh wanita kaya itu.
“Hei, kudengar kau begitu kaya. Kalau begitu, sekalian traktir makanan anakku juga, dong,” kata wanita itu dengan senyum menyebalkan.
Putrinya yang gemuk memang sejak awal sulit dinasihati. Setelah mendengar Li Nan hendak mentraktir para buruh pendatang makan paket keluarga, ia semakin mengamuk.
“Benar! Bukankah kau orang kaya baru? Masa tidak mampu mengeluarkan uang sebanyak itu?” Gadis gemuk itu berusaha memprovokasi Li Nan sambil tersenyum. Ekspresinya benar-benar sama persis dengan ibunya yang kaya.
“Aku memang tidak kekurangan uang sebanyak itu, tetapi aku juga tidak akan mentraktir kalian,” jawab Li Nan sambil tersenyum.
“Kenapa? Kau saja mau mentraktir para udik itu, kenapa tidak mau mentraktir kami?!” Gadis gemuk itu mulai tidak senang.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena... kalian tidak pantas,” jawab Li Nan sambil mencibir.
Setelah mengatakan itu, Li Nan tidak lagi memedulikan mereka dan langsung kembali ke tempat duduknya.
Begitu Li Nan pergi, gadis gemuk itu kembali mengamuk bersama ibunya. Ia menangis dan berteriak-teriak, bersikeras ingin makan paket keluarga, sampai suaranya terdengar di seluruh restoran.
“Di tempat umum dilarang membuat keributan. Apa kalian tidak mengerti? Sepertinya sopan santun kalian juga tidak terlalu baik!” Shao Xiaotao mengembalikan ucapan yang sebelumnya dilontarkan gadis gemuk itu kepada para buruh pendatang.
Setelah berkata demikian, Shao Xiaotao memasang wajah penuh kemenangan, seolah-olah baru saja melampiaskan kekesalannya.
“...” Wanita kaya itu hampir meledak karena marah mendengar ucapan Shao Xiaotao.
Namun, semua orang di sekeliling justru berdiri di pihak Shao Xiaotao, sehingga wanita itu tidak berani membantah.
“Kita pergi!” Wanita kaya itu menarik putrinya yang gemuk menuju pintu.
“Aku tidak mau pergi! Aku mau makan...”
“Makan apa?! Ayo pergi!”
Wanita itu menepuk pantat putrinya, lalu menyeretnya pergi dengan wajah malu dan berantakan.
“Rasain! Lain kali jangan berani-berani meremehkan orang!” Melihat ibu dan anak itu pergi dengan wajah masam, Shao Xiaotao semakin bangga, seperti prajurit kecil yang baru saja memenangkan pertempuran.
“Kak Li Nan, tadi kau benar-benar keren! Apalagi saat mengeluarkan uang, kau sungguh memesona! Sepertinya kalau kelak aku menikah denganmu, hidupku pasti akan sangat bahagia! Hahaha...” Kekaguman Shao Xiaotao terhadap Li Nan kini semakin besar.
Mendengar ucapan Shao Xiaotao, Shao Chen yang baru saja meneguk cola hampir tersedak.
Wang Gendut dan Han Hui juga menatap Li Nan dengan senyum jahil sambil terus mengedipkan alis kepadanya.
Ekspresi cabul di wajah mereka jelas seolah berkata, “Dasar bajingan, berusahalah sebaik mungkin! Anak sekolah dasar saja tidak kau lewatkan. Benar-benar tidak berperikemanusiaan!”
Melihat ekspresi Wang Gendut dan Han Hui, Li Nan hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia benar-benar tidak berdaya.
Bukan karena ia ingin bersikap seperti itu. Bahkan jika ia tidak berusaha tampil mengesankan, di mata gadis kecil ini ia tetap saja terlihat begitu sempurna.
Lalu, apa yang bisa ia lakukan? Ia juga sangat putus asa.
Sementara itu, tatapan Du Shan kepada Li Nan menunjukkan penilaian yang mendalam.
Memang Li Nan hanya menghabiskan sekitar dua ribu yuan untuk membeli lebih dari dua puluh paket keluarga. Namun, sikapnya terhadap uang sepanjang kejadian itu membuat Du Shan memahami banyak hal.
Du Shan adalah gadis yang sangat rasional dan cerdas. Ia bahkan berhasil menjadi mahasiswa pertukaran sekaligus memperoleh beasiswa.
Peristiwa di Taman Jinsu sebelumnya, ditambah kejadian hari ini, membuat Du Shan benar-benar menyadari bahwa Li Nan yang sekarang sudah jauh berbeda dari dahulu.
Setelah kejadian itu, suasana hati Shao Xiaotao justru jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Paket keluarga di hadapannya juga membuat matanya berbinar.
Hanya dalam waktu singkat, satu paket keluarga besar itu telah ia habiskan sampai tak tersisa.
“Kak Li Nan, hari ini aku sangat bahagia. Terima kasih banyak!” kata Shao Xiaotao sambil tersenyum dengan mulut yang masih berminyak.
“Baguslah kalau kau senang,” jawab Li Nan sambil tersenyum.
“Oh, ya, Kak Li Nan, apakah kau ingat hari apa besok?” tanya Shao Xiaotao penuh harap.
“Besok...” Li Nan tertegun. Saat mengalihkan pandangan, ia melihat Shao Chen sedang mengingatkannya dengan gerakan bibir.
“Besok ulang tahunmu, bukan?” kata Li Nan, seolah-olah memang sudah mengetahuinya.
“Wah, Kak Li Nan ternyata ingat hari ulang tahunku!” Shao Xiaotao benar-benar sangat gembira.
“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku melupakan ulang tahun Xiaotao?” Li Nan hanya bisa kembali tampil sempurna di hadapan gadis kecil itu.
“Kalau begitu, besok sore mau datang ke rumahku untuk merayakan ulang tahunku bersamaku?” Shao Xiaotao menatap Li Nan penuh harap.
“Tentu, tidak masalah!” Untuk gadis kecil yang menggemaskan ini, Li Nan selalu sulit menolak.
“Kalau begitu bagus sekali! Kak Li Nan harus datang besok, ya. Jangan ingkar janji!”
“Baik, aku pasti datang!”
Setelah makan, Li Nan juga membungkuskan satu paket keluarga untuk dibawa pulang oleh Shao Xiaotao. Barulah gadis itu pergi dengan hati penuh sukacita.
Sebelum meninggalkan McDonald’s, para buruh pendatang itu masih melambaikan tangan kepada Li Nan sambil tersenyum. Hal itu membuat hati Li Nan terasa hangat dan puas.
Waktu sepanjang siang berlalu dengan cepat.
Sepulang sekolah pada sore hari, ponsel Li Nan tiba-tiba berdering. Ternyata ibunya yang menelepon.
“Ada apa, Bu?”
Namun, begitu mendengar ucapan ibunya pada detik berikutnya, kening Li Nan langsung berkerut!